Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Izinkan aku untuk tetap memperjuangkanmu



"A-Arga!" gumam Retha, dengan suara lirih.


Kedua sejoli itu sama-sama mematung. Tatapan keduanya jga terkunci untuk beberapa saat. Tampak jelas ada ketiduran yang amat sangat di manik mata kedua insan itu.


"Untuk apa kamu ke sini?" akhirnya Retha berhasil mengeluarkan suaranya walaupun masih terdengar jelas kalau suara wanita itu bergetar.


Bukannya menjawab, Arga justru menghambur dan tanpa basa-basi, langsung meraih tubuh Retha ke dalam dekapannya.


Pria itu mendekap wanita yang sangat dirindukannya itu dengan sangat erat, seperti tidak ingin melepaskannya lagi.


Sementara itu, Retha tersentak kaget mendapat pelukan Arga yang tiba-tiba.


"Arga, lepaskan!" Retha berusaha untuk melepaskan diri.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu! aku sangat merindukanmu, Retha!" ucap Arga, semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepaskan, Arga! kamu mau membunuhku!" teriak Retha, masih berusaha melepaskan dirinya dari pelukan pria itu.


Namun Arga seakan tidak mau mendengar permintaan Retha. Pria itu tetap saja memeluk wanita yang memang sangat dirindukannya itu.


Merasa sia-sia dan tidak cukup tenaga, akhirnya Retha pasrah dan membiarkan dirinya dipeluk Arga, dan tentu saja tanpa membalas pelukan pria itu.


Kalau boleh jujur, sebenarnya dia ingin membalas pelukan pria itu, karena dia tidak bisa menampik kalau dirinya juga sangat merindukan pelukan hangat pria yang masih dicintainya itu.


"Arga, aku mohon,lepaskan pelukanmu please! Karena aku kesulitan untuk bernapas!" suara Retha terdengar sangat lirih.


"Ma-maaf!" Arga akhirnya tersadar dan langsung melepaskan pelukannya.


"Untuk apa kamu ke sini?" setelah pelukan Arga terlepas, Retha kembali mengulangi pertanyaannya. Tidak tampak sedikit pun senyum di bibir wanita itu.


"Aku datang karena aku merindukanmu, Tha. Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Arga menatap Retha dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan. Sumpah demi apapun, wanita yang dicintainya itu, benar-benar terlihat sangat cantik dan anggun sekarang di matanya.


"Tidak. Aku sama sekali tidak merindukanmu. Jadi, tolong pergi dari sini dan jangan muncul lagi di depanku!" ucap Retha dengan sinis.


"Tha, apa kamu sangat membenciku sampai kamu tidak ingin melihatku lagi?" suara Arga terdengar sangat lirih dan wajah pria itu terlihat sangat sendu.


"Menurutmu?" tanya Retha, singkat, tanpa menatap ke arah Arga.


"Ya, kamu sangat membenciku Dan aku cukup maklum dengan itu, karena aku sudah menuduhmu tanpa bertanya kebenarannya lebih dulu. Maafkan juga aku yang telat membaca pesan kamu dulu, Tha!" ucap Arga.


"Ehem, sepertinya kalian perlu bicara berdua. Aku pamit pergi dulu!" Ayesha yang dari tadi merasa dianggap tidak ada akhirnya buka suara seraya berdiri dari tempat dia duduk.


"Kamu mau kemana, Sha? kamu di sini saja. Yang seharusnya pergi itu dia karena tidak ada hal yang mau dibicarakan lagi!" Retha mencekal tangan Ayesha, berusaha mencegah agar sahabatnya itu tidak pergi.


Ayesha, tersenyum kalem dan melepaskan tangan Retha dengan lembut.


"Tha, kalian itu memang perlu bicara. Aku pergi dulu!" Ayesha melangkah melewati tubuh Arga.


"Bye, Arga! bicarakan dengan baik-baik! tapi jangan pernah memaksanya kalau dia tidak mau memaafkanmu lagi!" bisik Ayesha ketika hendak melewati Arga.


"Tha, apa boleh aku duduk?" tanya Arga, setelah tubuh Ayesha menghilang di balik pintu.


"Tidak boleh! kamu itu sebaiknya cepat pergi dari sini!" sahut Retha dengan ketus.


Arga mengembuskan napas dengan cukup berat melihat respon wanita yang merupakan cinta pertamanya itu. Dia tidak bisa marah, karena dia maklum kenapa gadis itu sangat ketus ke arahnya.


"Baiklah, kalau kamu tidak menginginkanku untuk duduk, aku akan berdiri saja. Tapi, tolong jangan minta aku untuk pergi," pungkas Arga akhirnya memilih untuk tetap berdiri.


"Terserah!" sahut Retha, masih dengan nada ketus dan dingin.


"Tha, aku minta maaf, walaupun mungkin sudah terlambat aku menyadari kesalahanku. Tapi, aku tidak akan pernah bisa tenang kalau belum minta maaf padamu." Arga kembali buka suara, menghentikan kesunyian yang sempat tercipta.


"Retha tidak menjawab sama sekali. Dia masih berpura-pura tetap fokus melakukan pekerjaannya. Padahal wanita itu hanya asal mengetik saja di keyboard laptop miliknya.


"Tha, kamu tidak mau memaafkanku ya? bagaimana caranya agar kamu bisa memaafkanku?" tanya Arga, yang merasa kalau wanita itu benar-benar mengabaikannya.


"Caranya, kamu jangan muncul lagi di depanku, itu sudah lebih dari cukup!" cetus Retha.


"Tha, aku bisa melakukan apapun agar kamu mau memaafkanku, tapi please jangan memintaku untuk tidak menemuimu lagi. Sumpah demi apapun, aku tidak mau kehilangan kamu lagi, Tha. Aku benar-benar mencintaimu!"


"Kalau kamu memang mencintaiku, kenapa kamu meragukanku dan menuduhku menghianatimu, Hah! jangankan bertanya apa yang terjadi sebenarnya, tapi kamu juga langsung menutup semua akses dan tidak memberikan aku kesempatan untuk sekedar menjelaskan. Jadi, sekarang buat apa juga kamu memintaku untuk mendengarkan penjelasanmu?" Retha mulai meninggikan suaranya. Bahkan tanpa bisa dicegah, dari sudut Maya wanita itu sudah mengalir cairan bening dan langsung buru-buru dia seka.


"Maaf, Maaf! aku memang bodoh, Tha."


"Kamu memang bodoh! sangat-sangat bodoh!" maki Retha dengan sangat berapi-api.


"Sekarang, tolong kamu pergi dari sini dan jangan ganggu aku lagi! aku tidak mau melihat laki-laki yang bisa-bisanya lebih percaya dengan ucapan orang lain dibandingkan pacarnya sendiri! aku benci kamu!" sambung Retha lagi dengan napas yang sudah memburu.


"Tidak, Tha! please jangan memintaku untuk pergi. Aku tahu aku salah, tapi aku mohon agar kamu mau memberikan aku kesempatan sekali lagi," ucap Arga dengan wajah memelas.


" Selama lima tahun ini, walaupun aku masih mengira kamu sudah menghianatiku, tapi aku tetap tidak bisa membohongi perasaanku, kalau di hatiku masih sangat mencintaimu. Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk mencari wanita lain, walaupun aku aku akui selalu ada yang berusaha mendekatiku. Tolong kasih aku kesempatan lagi, Tha!" lanjut Arga lagi, dengan ekspresi wajah yang masih memelas.


"Untuk apa kamu mengatakan itu semua? kamu kira kalau kamu sudah mengatakan seperti itu, aku akan merasa terharu dan langsung memaafkanmu? tidak sama sekali, Ga. Hatiku benar-benar sudah tertutup untukmu!" ucap Retha yang sama sekali tidak menatap Arga. Karena dia tidak mau kalau pria itu melihat kalau dirinya sedang berbohong.


Arga memejamkan matanya sekilas dan mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan.


"Tha, ternyata kamu sudah sangat membenciku. Aku benar-benar sakit mengetahui itu. Tapi, mungkin ini tidak sebanding dengan rasa sakit dengan tuduhanku padamu dulu. Tapi, aku benar-benar memohon Tha, please maafkan aku! kalau kamu memintaku berlutut, aku akan melakukannya demi mendapatkan maaf darimu," tanpa Retha sangka, Arga tiba-tiba berlutut.


"Arga, please pergi dari sini. Karena kamu berlutut sekalipun aku tidak akan memaafkanmu," pekik Retha di sela kekagetannya melihat pria itu tiba-tiba berlutut.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu kamu memaafkanku, Tha," Arga tetap bersikeras berlutut di lantai.


"Terserah kamu. Aku tidak peduli sama sekali!" pungkas Retha akhirnya pasrah.


Wanita itupun berpura-pura kembali fokus melihat ke layar laptopnya dan bersikap seakan tidak peduli dengan Arga yang sedang berlutut.


Cukup lama Arga tetap pada posisinya, membuat Retha akhirnya tidak tega juga.


Wanita itu kemudian berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menghampiri Arga.


"Ga, tolong kamu berdiri. Aku memaafkanmu!" pungkas Retha akhirnya.


Wajah Arga sontak berbinar dan langsung berdiri. Saking lamanya berlutut, lutut pria itu bergetar dan hampir terjatuh. Namun dengan sigap Retha menahan tubuh pria itu agar tidak oleng.


"Kamu benar-benar sudah memaafkanku, Tha?" tanya Arga memastikan.


"Iya, tapi maaf, walaupun aku sudah memaafkanmu, bukan berarti aku


bisa menerimamu kembali. Aku masih butuh waktu untuk memikirkannya, Ga. Karena sumpah demi apapun aku benar-benar kecewa padamu," tutur Retha.


Senyum di bibir Arga seketika menyurut mendengar ucapan yang terlontar dari mulut wanita yang dicintainya itu. Pria itupun kemudian menghela napasnya dengan sekali hentakan.


"Baiklah, Tha. Aku akan menerima keputusanmu sekarang. Tapi, tolong izinkan aku untuk tetap memperjuangkanmu," pungkas Arga dengan tegas.


tbc