
Brian mengayunkan kaki berjalan di koridor rumah sakit, menuju ruangan di mana Vania mendapatkan perawatan.
Brian mengernyitkan keningnya, ketika melihat di depan ruangan yang dia tuju tampak tiga sahabatnya sudah ada di sana dan yang paling membuat dia bingung, bahkan Ayesha, Brianna dan Retha juga sudah ada.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini ya?" batin Brian.
"Brian, akhirnya kamu sudah datang, Nak! terima kasih sudah datang!" seorang pria yang bisa dipastikan adalah papanya Vania langsung menghambur ke arah Brian.
"Ada apa ini? Kenapa semuanya jadi berkumpul di sini?" tanya Brian dengan ekor mata yang melirik ke arah Ayesha.
"Tadi Om yang menghubungi Nak Ayesha, karena orang yang terakhir ditemui oleh anak saya tadi dia. Jadi, Om pikir, dia ada sangkut pautnya kenapa Vania bisa berencana bunuh diri," sahut Vino, papanya Vania.
"Hah, Vania menemui Ayesha?" Brian terkesiap kaget.
"I__"
"Yesha, kamu tidak apa-apakan? Kamu tidak diapa-apain sama Vania kan?" belum sempat papanya Vania menjawab, Brian sudah menghampiri Ayesha. Tampak jelas di wajah pria itu rasa khawatirnya.
"Aku tidak apa-apa, kok!" sahut Ayesha.
"Buat apa Vania menemuimu? Dia bicara apa saja?" Brian sama sekali tidak bertanya sedikitpun tentang kondisi Vania sekarang. Justru yang dia khawatirkan adalah Ayesha, gadis yang sudah menempati sudut paling dalam hatinya.
"Nak Brian, aku memintamu datang ke sini, untuk melihat kondisi Vania. Tapi, kenapa sedikitpun dari tadi kamu tidak bertanya sedikitpun tentang anak saya?" celetuk Vino yang seketika merasa diabaikan pemuda yang dia tahu sangat dicintai putrinya itu.
Brian tidak menjawab sama sekali. Pemuda itu seketika tersadar tujuannya datang ke rumah sakit ini.
"Kenapa kamu malah terlihat begitu khawatir dengan Ayesha, setelah tahu dia baru saja bertemu dengan anakku, Nak Brian? Apa kamu kira Vania bisa berbuat jahat pada nak Ayesha? Apa dia seburuk itu di matamu?"
"Maaf, Om!" sahut Brian, singkat.
"Yang mau mati di dalam sana itu anakku, tapi kamu malah khawatir dengan orang lain," lanjut Vino, papanya Vania.
"Hei, Om. Kenapa anda jadi bentak-bentak adikku? Anak anda mau mati itu karena dia sendiri, bukan karena adikku. Makanya ajarin anaknya buat jangan egois, yang berharap apa yang dia mau harus dapatkan. Jadinya begini kan? Begitu dia tidak bisa mendapatkan Brian, dia frustasi dan ingin bunuh diri,"Brianna yang dari tadi diam saja, seketika merasa terpancing amarahnya.
"Sayang, sudah jangan marah-marah! Ini rumah sakit," bisik Kenjo.
"Eh, gak bisa, Ken. Aku gak mau seakan adikku disalahkan. Salah anaknya sendiri yang terobsesi sama orang," Brianna kembali mulai meledak-ledak.
"Aku tahu itu, Nona Brianna! Tapi setidaknya dia punya empati untuk Vania. Bagaimanapun Vania berniat bunuh diri karena Brian yang tidak bisa menerima cintanya," sahut pria paruh baya itu dengan suara yang mulai meninggi.
"Tapi, itu bukan tanggung jawab adikku! salah putrimu sendiri yang tidak bisa menerima penolakan. Harusnya, nasehati putrinya biar bisa menerima apapun yang terjadi. Karena dalam hidup ini tidak melulu semuanya harus bisa kit dapatkan, khususnya urusan perasaan," tutur Brianna.
"Sudah, cukup!" Brian akhirnya buka suara, menghentikan perdebatan antara papanya Vania dengan saudara kembarnya itu.
Kemudian, dia menoleh ke arah Vino papanya Vania.
Vino menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara, lalu memasang wajah sendu.
"Untuk sekarang dia masih bisa diselamatkan, Nak Brian. Dia lagi tidur karena baru disuntik obat penenang oleh dokter. Tapi, aku tidak tahu nanti kalau dia sudah bangun, dia pasti akan teriak-teriak lagi!" terang pria paruh baya itu.
"Turut bersimpati, Om," sahut Brian.
"Nak Brian, boleh tidak kamu mempertimbangkan untuk menerima perasaan cinta putriku?"
"Maaf, tidak bisa Om," tanpa berpikir panjang, Brian langsung menolak dengan tegas.
"Om, mohon Nak Brian! Om tidak mau kehilangan anak Om satu-satunya. Hanya kamu yang bisa membuatnya semangat kembali untuk hidup. Tolong kasihani dia!" Pria paruh baya itu menangkupkan kedua tangannya di depan Brian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sekali lagi, maaf Om! Om tahu kalau aku punya wanita yang aku cintai sendiri. Aku tidak bisa mencintai anak Om," Brian masih menolak secara halus.
Pria paruh baya itu kemudian menghampiri Ayesha. Begitu ia berdiri persis di depan wanita itu, tiba-tiba papanya Vania itu berlutut di kaki Ayesha.
"Eh, Om ... Kenapa jadi begini? Ayo berdiri Om!" Ayesha seketika gelagapan dan berusaha membantu pria paruh baya itu untuk berdiri.
"Aku tidak akan berdiri, Nak sampai kamu mau merelakan Nak Brian untuk Vania. Maaf kalau Om terkesan egois. Tapi, Om tidak tahu lagi mau melakukan apa," pria paruh baya itu tetap berlutut di depan Ayesha.
"Om, ayo berdiri dulu! Om tidak perlu berlutut seperti ini, karena tanpa Om berlutut pun, aku dan Brian memang sudah tidak ada hubungan lagi. Kami sudah selesai 5 tahun yang lalu," ucap Ayesha sembari membantu papanya Vania berdiri dan kali ini pria paruh baya itu benar-benar bersedia untuk berdiri.
"Ayesha, kamu bilang apa sih? jangan bilang kamu mau memenuhi permintaan papanya Vania?" ucap Brian.
"Lho, emangnya kenapa? kan memang kenyataannya kita sudah tidak punya hubungan lagi? Lagian kamu kenapa sih tidak menerima Vania saja? Dia itu sudah mencintaimu dari dulu. Cintanya tulus padamu," ucap Ayesha, yang terlihat jelas berusaha untuk tegar.
"Tidak! Aku tidak mau! Yang aku cintai itu kamu, bukan Vania. Tolong jangan minta aku untuk bisa menerimanya dan tolong jangan katakan lagi kalau hubungan kita sudah berakhir," Ujar Brian sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf, Brian. Aku sudah bilang ke kamu kan, kalau aku tidak mau dekat denganmu lagi? Jadi, tolong hargai keputusanku!" tegas Ayesha.
"Yesha, ini benaran kamu yang bicara?" celetuk Brianna terkesiap kaget.
"Iya, Anna. Ini benaran aku yang bicara. Maaf, kalau tidak sesuai dengan yang kamu inginkan," sahut Ayesha dengan nada lirih.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa menerimaku lagi, Sha? Apa kamu benar-benar sudah tidak bisa memaafkanku? Kalau belum bisa sekarang, aku tetap bisa sabar menunggu, sampai kamu bisa membuka hatimu lagi. Tapi, jangan pernah memintaku untuk menerima gadis lain karena itu tidak akan mungkin," ucap Brian.
"Bukannya aku sudah mengatakan kalau aku sudah memaafkanmu? Aku tidak bohong, Brian. Aku memang sudah memaafkanmu, tapi untuk bersama lagi, aku rasa sudah tidak bisa, karena aku sudah punya laki-laki yang aku cintai dan dia tentu saja bukan kamu," ucap Ayesha dengan suara yang bergetar.
"Maafkan aku Brian," lanjut Ayesha dan kali ini dia ucapkan dalam hati.
Tbc
Kesal sama Ayesha? Sama ... Aku pun kesam sama Ayesha, guys. 😁😁