
Malam kini sudah datang menyapa. Brianna terlihat duduk menyendiri di taman belakang rumahnya setelah selesai makan malam.
Makan malam tadi, dia terlihat tidak se cerewet biasanya karena ternyata masih ada Kenjo dan Radit.
"Kenapa sih kamu harus muncul sekarang, Ken? Aku sudah bersusah payah melupakanmu, tapi ternyata belum berhasil juga," batin Brianna sembari menatap kosong ke depan.
"Kenapa kamu sendiri di sini? Kenapa tidak di dalam saja?" Brianna tersentak kaget karena tiba-tiba laki-laki yang sedang ada dipikirannya muncul dan duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa muncul tiba-tiba sih? Buat kaget saja! kalau aku punya penyakit jantung dan tiba-tiba mati, kamu mau tanggung jawab?" protes Brianna mencoba untuk bersikap galak di depan Kenjo, guna meredam detak jantungnya yang sama sekali tidak bisa diajak kerja sama.
"Maaf, kalau aku sudah membuat kamu kaget. Kalau kamu mati, mungkin aku juga akan ikut mati, agar aku bisa menanggung jawabi kamu di dunia lain," sahut Kenjo,ambigu.
"Maksud kamu apa?" Brianna mengernyitkan keningnya, bingung.
Kenjo mengulas sebuah senyuman dan menatap dalam ke arah mata Brianna.
Melihat senyum dan tatapan Kenjo yang baginya sangat memabukkan, membuat Brianna mengalihkan tatapannya ke arah lain, takut dirinya khilaf dan kembali mengungkapkan rasa cintanya.
"Kenapa kamu menatap ke arah sana, Anna? Apa objek di sana lebih indah dibandingkan aku?" tanya Kenjo dengan suara lembut.
Tanpa diundang tiba-tiba cairan bening menetes membasahi pipi Brianna dan dia benar-benar benci dengan dirinya yang ternyata lemah di depan Kenjo.
"Anna, kamu menangis?" Kenjo seketika panik. Ia mencoba membalikkan tubuh Brianna agar menghadap ke arahnya. Namun, Brianna dengan sekuat tenaga berusaha untuk menolak..
"Jangan lihat aku, Ken! Pergilah. Aku tidak mau melihatmu karena kamu pasti akan menertawakanku," ucap Brianna yang dibarengi dengan Isak tangis.
"Anna, kamu coba lihat aku! Apa aku ada menertawakanmu? Tidak sama sekali!" bujuk Kenjo.
"Kenapa kamu muncul saat ini, Ken? Kamu sengaja mau menyiksa hatiku ya? Kamu pasti tahu kan kalau aku masih belum bisa membuang perasaan cintaku padamu makanya kamu muncul lagi?" tukas Brianna dengan punggung yang turun naik, membelakangi Kenjo.
"Anna, kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Aku sama sekali__"
"Pergilah Ken! Please jangan muncul dulu di depanku, sampai aku bisa benar-benar melupakanmu," belum selesai Kenjo bicara, Brianna sudah memotong lebih dulu.
"Aku tidak akan pergi, karena aku juga tidak ingin kamu melupakanku. Aku tidak ingin kamu membuang perasaan cintamu. Aku sangat tidak menginginkan itu terjadi, Anna!"
Tangis Briana sontak berhenti dan langsung berbalik menatap ke arah Kenjo dengan tatapan bingung.
"Apa maksud ucapanmu barusan? Apa kamu bermaksud mau tetap menyiksa batinku? Apa itu merupakan hal menyenangkan bagimu?" tukas Brianna denger air mata yang kembali menetes.
Melihat Brianna yang masih tetap menangis membuat Kenjo meraih tubuh gadis itu ke dalam dekapannya dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Maaf, Anna. Aku tahu kalau kamu pasti sangat sakit hati dengan penolakanku dulu. Sumpah demi apapun, aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menolakmu karena sejujurnya aku juga merasakan hal yang sama sepertimu, tapi aku berusaha memendamnya," tutur Kenjo, akhirnya memberanikan untuk jujur.
Brianna melerai pelukan Kenjo dan langsung menatap ke manik mata pria yang dicintainya itu, untuk mencari kebenaran ucapan pria itu. Benar saja dia melihat pendar cinta di dalam manik mata berwarna hitam kecoklatan milik Kenjo.
"Tapi kenapa kamu menolakku kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?" tanya, Brianna.
"Itu karena aku merasa belum cukup pantas untuk berdampingan denganmu. Kamu tahu sendiri kalau aku ini bukan putra seorang pengusaha. Sedangkan kamu ....kamu adalah putri seorang pengusaha besar di negara ini. Aku tidak mau, Anna kalau aku nantinya dianggap mau bersamamu demi mendapatkan harta keluargamu. Jadi, aku terpaksa menolakmu, walaupun sebenarnya aku sangat tersiksa dan merasa bersalah saat itu," jelas Kenjo panjang lebar dan wajah sendu.
"Kenapa kamu bisa berpikir sampai sejauh itu, Ken? Kamu tahu sendiri kalau keluargaku tidak pernah memandang status seseorang,"
"Untuk apa kamu memikirkan apa kata orang lain? Kalau kita memikirkan semua itu, tidak akan ada selesainya kan? Ucap Brianna yang tidak habis pikir dengan pemikiran pria yang dicintainya itu.
"Anna, mungkin untuk satu dua kali kita bisa tahan dan tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain, tapi kalau terus-terusan pasti ada saatnya kita muak dan ujung-ujungnya membuat aku merasa rendah diri dan pastinya akan mempengaruhi hubungan kita. Kita pasti akan selalu ribut, Anna!" terang Kenjo.
Brianna akhirnya diam, karena merasa yang diucapkan oleh pria itu benar adanya.
"Jadi, kenapa sekarang kamu malah memilih mengakui perasaanmu yang sebenarnya?" tanya Brianna dengan alis bertaut.
"Itu karena aku cemburu. Aku tidak suka saat Radit memujimu dan berusaha menggodamu. Aku benar-benar ingin meninjunya dan menyumpal mulutnya saat itu juga," ucap Kenjo dengan mata yang berkilat-kilat dan berapi-api.
Brianna sontak tertawa renyah, melihat ekspresi wajah kesal dari sahabat adiknya itu.
"Berarti nanti aku harus berterima kasih pada Radit, karena dia sudah berhasil membuatmu cemburu dan akhirnya berani mengungkapkan cintamu," ucapan Briana.
Kenjo pun akhirnya ikut tertawa dan lagi-lagi meraih tubuh Brianna ke dalam pelukannya.
"Anna aku mau bilang, apa kamu mau tetap sabar menungguku berhasil? Sejujurnya demi bisa pantas bersanding denganmu, aku berusaha bekerja keras, dan sekarang sedang merintis usahaku," ucap Kenjo dengan tatapan sendu.
Brianna kemudian tersenyum penuh makna dan menganggukkan kepalanya.
"Tanpa kamu minta pun aku akan tetap menunggumu, Ken. Kita berusaha bersama ya!" ucap Brianna dengan senyum tulus.
"Terima kasih, Anna!" sahut Kenjo, membalas senyum Brianna.
"Jadi, bagaimana sekarang?" tanya Brianna ambigu.
"Bagaimanapun apa?" tanya Kenjo, bingung.
"Bagaimana status kita sekarang? Apa hubungan tanpa status dan menunggu sampai kamu berhasil atau kita berpacaran?" tanya Brianna.
"Kamu maunya bagaimana?" Kenjo balik bertanya.
"Kenapa malah tanya balik sih?" Brianna memukul pundak Kenjo dengan bibir yang mengerucut.
Kenjo seketika gemas dan tanpa sadar mengecup bibir gadis yang dicintainya itu.
"Ka-kamu menciumku?" tanya Brianna, gugup dan dengan wajah yang memerah.
"Itu sebagai tanda kalau kamu itu milikku Brianna!" ucap Kenjo tegas, membuat Brianna kembali tersipu malu.
Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka didengar oleh Bima.
Pria paruh baya itu tersenyum dan beranjak meninggalkan dua sejoli yang baru saja meresmikan hubungan mereka sebagai pasangan kekasih.
Setelah cukup jauh, Bima merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Lalu ia terlihat menghubungi seseorang.
"Tolong kamu pantau perusahaan milik Kenjo sahabat anakku. Setelah itu, kamu bantu diam-diam. Jangan biarkan ada orang yang tahu!" titah Bima yang ternyata memerintahkan anak buahnya untuk membantu perusahaan Kenjo diam-diam.
tbc