Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Ada apa dengan Ayesha



Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa sudah banyak para tamu yang sudah pulang. Dari yang terlihat dari ekspresi wajah-wajah dari para tamu, terlihat jelas raut wajah puas saat mereka mulai meninggalkan gedung.


Di dalam gedung, sudah tidak terlihat lagi para tamu. Yang tersisa kini hanya kedua pengantin baru, para sahabat mereka dan juga keluarga besar.


"Sha, kamu kenapa? kamu baik-baik saja kan?" celetuk Retha yang seketika menyadari wajah Ayesha terlihat pucat.


Mendengar pertanyaan Retha, Brian yang asik berbincang dengan ketiga sahabatnya, sontak menoleh ke Arah istrinya. Benar saja, ia melihat kalau wajah istrinya itu sangat pucat seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali. Ia pun langsung menghambur dengan wajah panik. "Sayang, kamu kenapa? kamu sakit?" Brian menyentuh dahi Ayesha. "Hmm, tidak panas, tapi kenapa wajahmu pucat?" Brian terlihat semakin panik.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya merasa pusing saja. Perutku juga tidak enak. Mungkin karena aku hanya makan kue saja dari tadi," sahut Ayesha dengan suara lirih.


"Makanya, tadi aku minta kamu untuk makan, jangan hanya makan kue saja. Udah itu, kuenya juga hanya sedikit kamu makan," ucap Brian dengan suara sedikit ketus,berusaha untuk menahan rasa kesalnya, mengingat bagaimana keras kepalanya istrinya itu tadi.


"Aku benar-benar tidak selera untuk makan, Sayang. Kalau aku paksa, kamu mau aku muntah di sini?" Ayesha seketika merasa emosi, karena merasa disalahkan oleh Brian.


Brian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara agar tidak ikut terpancing emosinya.


"Ya udah, sekarang apa kamu sudah selera mau makan? Kamu mau makan apa, biar aku beli nanti saat kita pulang," akhirnya Brian kembali berbicara dengan lembut.


"Aku mau makan spaghetti, tapi harus kamu yang masak. Aku tidak mau yang dibeli," sahut Ayesha.


"Sayang, kenapa harus aku yang masak sih?buat apa nyusahin diri sendiri kalau ada yang mudah? Kamu tahu sendiri kan kalau seharian ini aku sudah capek mengurus acara ini? Aku itu, mau pulang ke rumah dan istirahat," Brian masih berusaha untuk sabar.


"Aku tahu. Tapi yang ada dibayanganku sekarang, itu kamu masak Spaghetti untukku. Bayanginnya saja aku sudah ngiler, Sayang," Ayesha menyeka setetes cairan yang hampir keluar dari sudut bibirnya.


"Permintaan kamu benar-benar aneh, Sayang. Aku benar-benar__"


"Argh, kamu benar-benar sulit dimengerti. Bisa-bisanya kamu memintaku untuk masak, padahal kamu tahu sendiri kalau aku tidak tahu memasak," keluh Brian sembari menggusak rambutnya dengan kasar.


"Kan kamu bisa buka you*tube, banyak video resep di sana. Kami tinggal niru. Katanya kamu pintar, masa begitu saja nggak bisa?" Ayesha tersenyum miring.


"Sayang, aku tahu itu. Kalau kamu tidak mau makan yang dibeli, bagaimana kalau aku minta bibi saja yang masakin? kan sama aja tuh?" Brian masih berusaha memberikan penawaran, berharap istrinya itu berubah pikiran.


Sementara pasangan sejoli itu sibuk berdebat, yang lainnya hanya bisa saling silang pandang dan saling bertanya lewat tatapan masing-masing.


"Aku maunya kamu yang masakin, Brian! susah amat sih mengerti. Kalau kamu tidak mau, ya udah!" Ayesha berdiri dari tempat duduknya, dengan keadaan sangat kesal. Tiba-tiba dia merasa kepalanya sangat pusing dan penglihatannya buram. Tanpa bisa dicegah, wanita itu pun tersungkur, pingsan.


"Sayang!" beruntungnya Brian dengan sigap langsung menangkap tubuh Ayesha, hingga tidak jatuh ke lantai.


"Sayang, kamu kenapa? Ayo buka matamu! jangan bikin aku panik!" Brian menepuk-nepuk pipi Ayesha dengan lembut.


"Sayang jangan begini dong! Kamu mau aku masak Spaghetti untukmu kan? Baiklah aku akan masakan. Tapi, kamu bangun dulu!" Brian masih berusaha untuk membangunkan istrinya.


"Kamu bawa saja ke dokter, Brian! Biar dia diperiksa. Sepertinya Ayesha sedang ...." Retha menggantung ucapannya, karena dia tidak ingin ada yang kecewa kalau akhirnya nanti tebakannya salah.


"Sedang apa, Sayang? Kenapa kamu berhenti?" tegur Arga dengan alis bertaut.


"Emm, tidak apa-apa! Sebaiknya bawa saja ke dokter dulu! aku tidak pantas untuk menduga-duga, karena ini bukan bidangku," sahut Retha, bijak.


Tbc