Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Vania ke rumah Brian



1 jam sudah berlalu. Brian kini sudah mengganti seragamnya. Hati pemuda itu kini sudah mulai sedikit tenang. Sudah tenang atau berusaha untuk tenang, hanya dialah yang tahu.


"Brian, di bawah ada temanmu, Nak! kamu turunlah!" terdengar suara Ayunda mamanya dari luar, yang dibarengi dengan ketukan di pintu berkali-kali.


Brian menghela napasnya dan mau tidak mau melangkahkan kakinya untuk membuka pintu pada wanita yang sudah membawanya ada di dunia ini.


"Siapa, Ma?" Brian muncul di balik pintu dengan raut wajah yang masih kusut.


"Katanya, namanya Vania. Dia benar temanmu kan?"


Alis Brian bertaut tajam mendengar nama Vania. "Untuk apa dia ke sini?"


"Ya, mana mama tahu? dia tidak hubungin kamu dulu sebelum ke sini?" tanya balik, Ayunda.


Brian menggelengkan kepalanya


"Tidak ada sama sekali, Ma. Oh ya, aku lagi malas, bisa bilang ke dia kalau aku lagi tidur,Ma?" Brian memasang wajah malas.


"Tidak boleh seperti itu, Nak. Kamu turun temui dia!"


Brian mengembuskan napasnya dengan kesal dan cukup berat. Namun, dia merasa tidak ada gunanya memohon pada mamanya itu. Ia pun kemudian keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya , menuruni undakan anak tangga untuk menemui Vania.


"Hei, untuk apa kamu ke sini?" masih belum sampai di bawah, Brian sudah mendengar suara ketus kakak kembarnya. Siapa lagi kalau bukan Brianna.


"Emm, aku ke sini mau ketemu Brian, Kak! dia ada kan?" Vania menjawab dengan sopan.


"Berapa kali aku harus bilang, jangan panggil aku Kakak! aku bukan anak papa mamamu, atau kamu juga bukan anak papa mamaku!" sahut Brianna ketus.


Vania tampak tertunduk seraya menggigit bibirnya sendiri. Antara malu dan kesal bercampur menjadi satu.


"Kak Anna, bisa tidak sopan sedikit sama temanku?" tegur Brian yang kakinya kini sudah menapak di lantai bawah.


Kehadiran pemuda itu seketika membuat Vania tersenyum lega. Ia seperti terlepas dari himpitan batu yang menyebabkan rasa sesak, ketika dirinya hanya berdua saja dengan Brianna.


"Aku bisa sopan pada siapapun, tapi tidak dengan wanita bermuka dua ini. Sok ngaku hanya teman, tapi ada niat tertentu. Please kalau punya mata itu lihat dengan teliti. Jangan hanya pintar di akademik, tapi pintar jugalah baca pikiran orang!" ujar Brianna, sembari berlalu pergi.


Belum jauh melangkah, Brianna kembali berhenti dan menoleh ke arah Brian.


"Ian, bilang ke wanita yang sok paling berbeda dari perempuan lain, ini untuk tidak berlama-lama di rumah ini!" ucapnya kembali, dan kali ini benar-benar melangkah pergi.


"Brengsek! kalau bukan karena kamu kakaknya Brian, sudah aku cabein mulutmu itu!" umpat Vania, yang tentunya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Kenapa kamu datang ke sini? apa ada yang penting? dan kenapa kamu datang sendiri?" tanya Brian beruntun, sembari mendaratkan tubuhnya duduk di sofa.


"Emm, aku tadi melihat wajahmu muram. Aku hanya merasa kalau kamu sedang bersedih. Jadi aku sengaja datang untuk menghiburmu. saking memikirkan raut wajah sedihmu tadi, aku sampai lupa mengajak Kenjo, Radit dan Arga ke sini," jelas Vania, mulai menunjukkan perhatiannya.


"Kita main ke timezone yuk! kamu nanti pasti akan lupa sama hal yang membuatmu sedih," sambung Vania lagi seakan-akan memang benar dia perhatian pada Brian.


"Yang sedih siapa? aku baik-baik saja. Tapi, walaupun seperti itu terima kasih atas perhatianmu," sahut Brian, yang secara tersirat, menolak ajakan gadis di depannya itu.


"Oh, begitu ya?" Vania memasang wajah kecewa.


"Maaf sekali lagi, aku tidak ada mood untuk keluar. Aku hanya ingin istirahat dan belajar, karena pertandingan dan ujian kelulusan jaraknya terlalu dekat. Jadi, tidak waktunya untuk mencari hiburan sekarang. Nanti ada saatnya," Kali ini Brian secara terus terang menolak ajakan gadis itu.


"Oh, berarti kamu tidak mau ya? padahal aku ke sini murni hanya ingin menghiburmu, tapi ... ya sudahlah kalau kamu tidak mau, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi," Vania memasang wajah memelas, berharap Brian berubah pikiran, karena melihat raut wajah sedihnya.


"Maaf sekali lagi, Vania!" namun, apa yang diharapkan Vania, sama sekali tidak sesuai dengan yang diharapkan, karena sepertinya Brian sama sekali tidak tergugah dengan ekpresi wajah yang dipasang Vania.


"Oh ya, kamu sudah minum? mau aku ambilkan?" Brian sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Tadi udah kok. Aku tadi ambil sendiri ke dapur, karena gak enak kalau mamamu yang ambil minum untukku," sahut Vania, tersenyum. Menunjukkan kembali kalau dirinya adalah gadis baik, yang sangat menghormati orang tua, bukan gadis yang hanya ingin dilayani saja.


"Oh, begitu?" Brian tersenyum kalem sembari mengangguk-anggukan kepalanya. "Baguslah kalau begitu," imbuhnya.


Keheningan tercipta untuk sepersekian detik, karena Vania bingung mau bicara apa lagi .


"Emm, jadi bagaimana sekarang? apa kamu masih mau di sini? kalau iya, tidak apa-apa. Tapi, maaf dengan terpaksa aku harus kembali ke kamar," Brian buka suara kembali, memecah keheningan yang sempat tercipta.


"Oh, a-aku pulang saja, Brian. Aku juga mau belajar," Vania yang merasa kalau secara tidak langsung Brian tengah mengusirnya, langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Oh iya, hati-hati ya!" Brian juga ikut berdiri dan berniat mengantarkan Vania keluar.


Baru saja hendak melangkah, tiba-tiba ada tiga pemuda yang tidak lain tiga sahabat Brian masuk.


"Lho, kok ada Vania di sini?" celetuk Arga dengan mata yang memicing, curiga.


"Kenapa? apa tidak boleh?" sahut Vania ketus.


"Bukannya tidak boleh, cuma heran saja, kamu datang ke sini, kenapa sendiri tidak ngajak kita? kan aneh?" kali ini Radit yang buka suara.


"Apanya yang aneh? kalian sendiri ke sini, tidak ajak aku juga kan? atau selama ini, kalian bertiga sudah sering ke sini tanpa aku?"


"Iya, kami sudah sering ke sini. Kami tidak ajak kamu, karena bagaimanapun kamu itu perempuan," Sahut Arga.


"Apa hubungannya?" Vania mengrenyitkan keningnya.


" Ya adalah hubungannya. Setiap kami ke sini, kami akan main di kamar Brian, jadi tidak mungkin kan kamu juga ikut masuk ke kamar Brian? gak etis kalau dilihat dan kami pasti tidak akan nyaman kalau kamu ada," sahut Arga lagi. Jangan lupakan Kenjo yang diam saja, karena memang sikapnya mirip dengan Brian.


"Eits, jangan bilang lagi kalau kamu berbeda dengan perempuan-perempuan lain! yang jelas kamu ini tetap perempuan!" Radit buka suara lagi, ketika melihat gadis itu hendak membantah.


Wajah Vania berubah memerah, antara malu dan kesal bercampur adik, menjadi satu.


"Oh ya, tadi kamu mau pulang kan? tidak apa-apa ya? tidak apa-apa kan kalau kamu pulang sendiri? soalnya kami ada yang mau dibicarakan di kamar Brian. Tidak mungkin kan kamu ikut masuk?" Arga kembali buka suara.


"Iya, soalnya Tante Ayunda, pasti tidak akan suka. Yang ada Brian nanti kena marah," untuk pertama kalinya, Kenjo buka suara.


"Aku pulang saja! aku pamit!" Vania berbalik dan melangkah keluar.


Vania benar-benar kesal, selain gagal mengajak Brian keluar dengannya, kedatangan tiga pemuda itu juga membuat dia tahu kalau selama ini ke tiga pemuda itu sering ke rumah Brian tanpa dirinya. Jadi, secara tidak langsung, mereka tidak menganggap dirinya sahabat.


tbc