Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Peringatan Brian



"Terima kasih, ya Brian sudah mau mengantarkanku pulang!" ucap Ayesha setelah turun dari motor pria itu.


"Sama-sama," sahut Brian singkat.


"Kamu mau masuk dulu, nggak?" tanya Ayesha, lagi.


Brian tampak berpikir sejenak. Kalau boleh mengikuti kata hati, dia ingin menerimanya tawaran gadis di depannya itu, tapi di sisi lain, dia merasa sungkan juga untuk masuk.


"Emm, aku rasa lain kali saja. Kamu juga butuh istirahat, gitu juga dengan aku," tolak Brian dengan halus.


" Aku pamit pulang ya!" imbuh Brian yang langsung mendapat anggukan kepala dari Ayesha.


"Kamu, hati-hati!" ucap Ayesha, setelah Brian menghidupkan kembali motornya.


Setelah menganggukkan kepalanya, tanpa bicara lagi, Brian pun melajukan motornya meninggalkan kediaman Ayesha.


Pria itu akhirnya memutuskan menunda untuk mengungkapkan perasaannya pada Ayesha, karena merasa waktunya tidak tepat mengingat kejadian yang baru saja terjadi pada gadis itu. Entah kenapa Brian merasa tidak etis untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi kembali datang. Lapangan sekolah SMA tempat Brian sekolah kini sudah terlihat ramai dipenuhi oleh para siswa dan siswi.


Semuanya memang sengaja dikumpulkan untuk memberikan penghargaan pada Brian dan kawan-kawan, karena keberhasilan mereka mempertahankan gelar juara di bidan olahraga basket.


Setelah selesai memberikan penghargaan, semua siswa pun diminta untuk bubar dan masuk ke kelas masing-masing.


"Brian, tunggu sebentar!" Brian sontak menghentikan langkahnya, karena mendengar seseorang memanggil namanya. Bukan hanya Brian, Kenjo, Arga dan Radit juga ikut menghentikan langkah mereka.


"Ada apa, Van?" tanya Brian pada orang yang baru saja memanggilnya, yang ternyata tidak lain adalah Vania.


"Ada sesuatu yang ingin aku kasih tahu ke kamu. Dan aku yakin, kalau ini adalah hal yang sangat ingin kamu tahu," ucap Vania, yang dengan senang membuat pemuda di depannya itu, penasaran.


"Apa itu? tolong jangan berbelit-belit! Kamu tahu kan kalau aku tidak suka yang seperti itu?" tegas Brian.


"Baiklah, maaf. Aku cuma kasih tahu kamu kalau aku sudah tahu siapa yang menyekap Ayesha kemarin,"


"Siapa?" Brian langsung terlihat tidak sabar.


"Emm, dia mantan sahabat kakak kamu. Kamu pasti langsung tahu siapa dia,"


Brian mengrenyitkan keningnya, berusaha mengingat.


" Apa yang kamu maksud itu, Dinar?" tanyanya memastikan.


Vania menganggukkan kepalanya, mengiyakan. "Dan dia tidak sendiri. Dia merencanakannya bersama Aldi," lanjut Vania lagi.


"Kamu tidak bohong kan, Vania?" Arga buka suara.


"Buat apa aku bohong? kalau tidak percaya aku ada buktinya," Vania menunjukkan video hasil rekamannya kemarin.


Brian terlihat mengepalkan tangannya dengan kencang, saat menonton video itu.


"Brengsek! mereka berdua benar-benar sudah keterlaluan. Mereka tidak sadar kalau mereka sudah bermain dengan nyawa," umpat Brian dengan napas memburu.


"Dari mana kamu dapat video itu, Vania?" Sudut mata Arga naik sedikit ke atas, menyelidik.


Vania kemudian menceritakan semuanya, bagaimana dia bisa mendapatkan video itu.


"Terima kasih, Vania!" pertama kalinya Brian berucap dengan tulus.


"Sama-sama Brian. Aku melakukan ini semua, karena aku hanya ingin membuktikan kalau aku dekat dengan kalian murni karena ingin berteman, tidak ada maksud lain," Vania mulai memasang wajah sendu.


"Yes, akhirnya mereka percaya kalau aku tulus. Untuk sekarang, biarlah aku menahan diri, seakan suka kalau Brian jadian dengan Ayesha. Nanti aku tinggal mikirin cara, bagaimana Brian bisa jatuh cinta padaku dan berbalik membenci Ayesha," bisik Vania pada dirinya sendiri, seraya tersenyum licik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dinar, bisa bicara sebentar?" untuk pertama kalinya Brian mengajak wanita itu bicara lebih dulu.


Kalau dulu, Dinar akan bahagia dengan hal itu, sekarang justru perempuan itu merasa takut dan was-was.


"Tenang Dinar, tenang! dia pasti belum tahu, kalau kamu yang berniat mencelakai Ayesha. Tetaplah bersikap biasa!" Dinar berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Emm, mau bicara apa ya, Ian? kamu bisa bicara saja di sini," Dinar berusia berbicara seperti biasa. Namun dia tidak menyadari kalau suaranya sedikit bergetar, pertanda kalau dirinya sedang panik.


Sudut bibir Brian melengkung membentuk senyuman smirk, yang membuat jantung Dinar semakin tidak tenang.


"Baiklah kalau kamu ingin aku bicara langsung di sini. Mungkin teman-teman sekelasmu ini juga perlu tahu," ucap Brian yang membuat wajah Dinar semakin pucat.


"Oh, ka-kalau penting kita bicara di luar saja," Dengan kaki yang sedikit bergetar, Dinar melangkahkan kakinya keluar dari kelas.


Saat keluar dari kelas, dari arah yang tidak terlalu jauh, perempuan itu melihat ketiga sahabat Brian, datang sembari membawa Aldi bersama dengan mereka.


"Ada apa ini? apa mungkin Brian sudah tahu? tapi bagaimana dia bisa tahu?" jantung Dinar semakin berdetak cepat dan tidak karuan.


"Nih dia, Sob!" Arga mendorong tubuh Aldi ke arah Brian.


"Ada apa ini, kenapa kalian dari tadi memaksaku menemui Brian sih?". Aldi masih berusaha bersikap tenang. Walaupun sebenarnya perasaannya tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Dinar.


"Aku rasa dengan kalian berdua ada di sini, kalian sudah tahu apa yang akan aku katakan," Ucapan Brian terdengar sangat dingin.


"Ma-maksudmu apa? aku tidak mengerti?" suara Aldi terdengar bergetar.


"Jadi, kamu benar-benar tidak mengerti? baiklah ... aku akan kasih tahu kalian berdua," Brian menusuk-nusuk dada Aldi dengan jari telunjuknya.


"Kalian coba lihat ini! dan jelaskan!" Brian memperlihatkan video rekaman yang tadi sudah dikirimkan oleh Vania.


Baik wajah Aldi maupun Dinar sontak berubah pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.


"Br-Brian, da-dari mana kamu mendapatkan video itu?" suara Aldi sudah terbata-bata.


"Tidak perlu kamu tahu dari mana, tapi yang jelas video ini sudah bisa dijadikan bukti ke polisi kalau kalian hampir saja menghilangkan satu nyawa. Kalian tahu pasti kan kalau Ayesha semakin lama di dalam toilet itu? dia akan kekurangan oksigen, yang bisa membuat nyawanya melayang," Brian terlihat menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan, mengingat tempat mereka berada adalah sekolah.


"Ma-maaf, Brian! tapi sumpah demi apapun, kami tidak berniat untuk menghilangkan nyawa Ayesha. Kami berencana hanya sebentar saja menyekapnya. Tapi orang suruhan kami itu yang lalai. Tolong jangan laporkan kami, ke polisi!" Aldi mulai memohon.


"I-iya, Brian. Tolong jangan laporkan kami!"Dinar ikut buka suara.


"Diam!" kali ini suara Brian sudah meninggi, hingga mengundang perhatian dari siswa lainnya.


"Kalian masih berani membela diri? dasar manusia tidak punya malu!" bentak Brian lagi.


"Aku mungkin tidak akan melaporkan kalian ke polisi, tapi asal kalian tahu, aku sudah meminta semua investasi dan kerja sama akan ditarik oleh papaku dari perusahaan papa kalian. Dan kamu Dinar ... sekolah yang katanya milik pamanmu itu juga, akan kehilangan papaku sebagai donatur besar. Jadi, sekarang urusan kalian menjelaskan itu semua ke orang tua kalian," ucap Brian sembari beranjak pergi, meninggalkan Dinar dan Aldi yang terkulai lemas.


Baru saja beberapa langkah, Brian kembali menghentikan langkahnya dan berbalik kembali.


"Oh ya, aku mengingatkan kalian, kalau kalian masih berani mengusik Ayesha, aku tidak akan segan-segan lagi. Kalian akan lihat, akibat yang lebih parah dari sini!" tegas Brian.


"Satu lagi ... aku mungkin tidak melaporkan kalian ke polisi, karena bukan aku yang kalian sekap. Tapi aku tidak tahu dengan Ayesha ataupun orang tuanya, bisa saja dia melaporkan kalian, Dan aku tidak akan bisa mencegah, karena itu haknya. Kalian berdua berdoa sajalah!" pungkas Brian seraya kembali melanjutkan langkahnya.


Sementara itu, Aldi dan Dinar kini tampak berdebat, karena saling menyalahkan.


tbc