
Ayesha dan Retha baru saja hendak keluar dari ruang pribadi Ayesha. Kebetulan Retha datang dan mau mengajak sahabatnya itu makan siang. Namun, ketika membuka pintu, tiba-tiba di depan pintu sudah berdiri sosok wanita yang tidak lain adalah Vania.
"Van, kamu kenapa ada di sini? kamu sudah sembuh?" tanya Ayesha, beruntun.
"Bisa aku masuk?" tanya Vania, tidak menjawab pertanyaan Ayesha tadi.
Ayesha menatap Retha seakan meminta izin.
"Emm, bolehlah!" pungkas Ayesha setelah melihat Retha mengangguk.
"Ada apa lagi?" tanya Ayesha setelah mereka sudah di dalam.
"Aku sudah tahu kalau kamu dan Radit hanya berpura-pura saja" ucap Vania.
"Jadi? Bukannya ini yang kamu mau? Aku mundur dan mengatakan kalau aku sudah mencintai laki-laki lain?" sahut Ayesha, berusaha untuk tidak bicara dengan nada tinggi.
"Iya, ini memang yang aku inginkan, tapi __"
"Kalau mau mengucapkan terima kasih, aku rasa tidak perlu. Sekarang kamu sudah puaskan bisa bersama dengan Brian?" ucap Ayesha menyela ucapan Vania.
"Tidak sama sekali. Justru aku semakin khawatir setelah aku tahu kamu dan Radit hanya berpura-pura," Ayesha dan Retha saling silang pandang dengan kening berkerut, gagal paham dengan ucapan Vania barusan.
"Kenapa kamu khawatir?" tanya Ayesha.
"Aku khawatir kalau kalau kamu tiba-tiba berubah pikiran dan memberi tahu yang sebenarnya pada Brian." Vania memasang wajah sendunya.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan memberitahukannya,"
"Tapi aku tetap khawatir. Perasaanku tidak tenang, Sha," Vania menggigit bibirnya yang masih pucat. Karena dia tadi langsung dari rumah sakit.
"Jadi mau kamu apa sih?" Ayesha mulai tidak sabar.
"Bagaimana kalau kamu dan Radit menikah, biar aku bisa tenang?"
Mata Ayesha membesar sempurna mendengar permintaan Vania yang sudah di luar nalarnya.
"Kamu gila ya? Permintaan kamu ini benar-benar sudah berlebihan tahu nggak?" pekik Ayesha.
"Iya, aku tahu. Tapi kalau kamu belum benar-benar menikah, bisa saja Brian masih berusaha mendekatimu. Sekarang saja, dia yang katanya sudah menerimaku, tetap tidak bisa memberikan aku perhatian. Dia bahkan tidak pernah menjengukku di rumah sakit," Vania mulai menyampaikan keluh kesahnya.
"Itu bukan urusanku. Sekarang bagianmu yang harus berusaha untuk meyakinkannya kalau kamu memang yang terbaik untuknya,"
"Tapi, akan sulit kalau kamu belum menikah, Sha. Aku takut kalau Brian ujung-ujungnya nanti tidak bisa menahan diri dan berniat merebutmu dari Radit. Kalau kalian menikah, kan dia tidak punya niatan itu lagi," Vania memasang wajah yang memelas berharap Ayesha kasihan.
"Hei, kamu dibaikin lama-lama jadi melunjak ya?" Retha yang dari tadi sudah gregetan tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak bersuara.
"Aku bicara dengan Ayesha, bukan dengan kamu," sambar Vania dengan cepat.
"Ayesha itu sahabatku, jadi apapun tentang dia aku akan ikut campur!" tatapan Retha sudah terlihat begitu tajam sekarang.
"Retha, tahan diri kamu!" bisik Ayesha, sembari menepuk-nepuk dengan lembut pundak Retha, guna menenangkan sahabatnya itu.
"Permintaan dia kelewatan, Sha. Dia kira pernikahan itu mainan? Bisa-bisanya dia memintamu menikah dengan pria yang sama sekali tidak kamu cintai dan juga tidak mencintaimu, demi kebahagiaannya. Benar-benar gila dan egois!" amarah Retha benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Tapi kan mereka berdua bisa belajar saling mencintai? Lagian Radit juga tidak buruk. Dia tampan dan juga mapan kan? Aku yakin Ayesha dan Radit nanti akan mudah untuk saling mencintai,"
Amarah Retha benar-benar sudah sampai ke ubun-ubun. Kalau mungkin tidak ada hukum, ingin rasanya dia mencakar-cakar wajah tidak tahu malu Vania sekarang juga.
"Kamu benar-benar tidak tahu malu ya! Sekarang kamu pergi dari sini atau nanti kesabaranku habis dan aku bisa hubungi Brian sekarang dan kasih tahu yang sebenarnya. Aku tidak peduli, kamu mau bunuh diri atau tidak. Itu derita kamu bukan kami! Enak saja kamu yang mau bahagia, orang lain yang menderita!" ucap Retha dengan berapi-api dan napas yang memburu.
"Kalian tega! Kalian sangat tega.Permintaan sederhana seperti itu saja, sulit kalian penuhi. Kalau begitu, aku mati saja di depan kalian sekarang!" Vania mengambil pisau dari tasnya.
"Vania, jangan gila kamu! Sekarang lepaskan pisaunya. Ingat papamu yang sangat menyayangimu!" pekik Ayesha, mencoba menahan Vania.
"Aku tidak peduli! sampaikan salam ku pada papaku, selamat tinggal!" Vania mengangkat tangannya dan siap menghujam perutnya dengan pisau di tangannya.
Ayesha dan Retha yang panik menutup wajah mereka dengan kedua tangan mereka, tidak sanggup untuk melihat apa yang akan dilakukan Vania.
Brakk
Belum sempat pisau tertancap di perut Vania, pintu langsung terbuka, membuat Vania kaget hingga pisang di tangannya terjatuh ke lantai.
"Vania! Apa yang kamu lakukan!" tenyata yang baru muncul itu adalah Radit. Pria itu dengan sigap langsung mengambil pisau dari lantai.
"Kembalikan pisau itu, Dit! Aku mau mati saja! Tidak ada yang bisa mengerti aku!" Vania berusaha merampas pisau dari tangan Radit.
"Diam! Apa mau kamu lagi? Kenapa kamu tidak sadar-sadar, Hah!" bentak Radit dengan suara tinggi.
"Aku hanya meminta Ayesha menikah denganmu, agar perasaanku tenang. Tapi dia menolak dan mengatakan permintaanku berlebihan!"
"Baiklah, kalau itu mau kamu! Aku akan menikah dengan Ayesha!" ucap Radit, dengan tegas.
"Radit! Jangan gila!" pekik Ayesha.
"Tolong Yesha. Kali ini aku yang memohon padamu dan tolong mau! kalau nanti dia mati, dan seandainya kamu dan Brian bersama, kehidupan rumah tanggamu dan Brian juga tidak akan bahagia karena akan selalu dihantui rasa bersalah," tutur Radit.
...******************...
"Apa, Om? menikah dengan Vania?" seru Brian dengan mata membesar, saat Vino dan Vania datang ke rumahnya dan membicarakan pernikahan.
"Iya, Nak Brian. Lagian usia kalian sudah pas untuk menikah. Iya kan Pak Bima?" Vino menoleh ke arah Bima.
"Aku serahkan semua ke anakku. Kalau dia mau, ya silakan!" sahut Bima, bijaksana.
"Tapi bukannya kita sudah membicarakan hal ini kalau ...." Brian menggantung ucapannya, karena takut terjadi apa-apa pada Vania, begitu mendengar apa yang dikatakannya.
"Lagian kenapa kamu tidak mau menikah denganku, Sayang? jangan-jangan kamu masih berharap pada Ayesha, ya?"
"Jangan bicara yang aneh-aneh! Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya merasa kalau menikah itu terlalu cepat," sangkal Brian.
"Kenapa terlalu cepat? Kita sudah kenal 8 tahun lebih dan sudah sering bersama. Lagian sebentar lagi Ayesha dan Radit juga akan menikah apa kamu kalah dari mereka?" ucap Vania.
"Mereka akan menikah?" gumam Brian. Dadanya tiba-tiba merasa sesak mendengar kabar yang terlontar dari mulut Vania.
"Iya. Kalau kamu tidak percaya, coba kamu tanya Retha. Mereka akan menikah bulan depan. Kalau kamu mau, kita bisa menikah di hari yang sama dengan pernikahan mereka. Kita buat acara pernikahan kita lebih meriah dari pernikahan mereka," ucap Vania dengan berapi-api dan senyum sinis di bibirnya.
Brian bergeming, diam seribu bahasa. Hatinya benar-benar mendidih sekarang.
"Kamu benar-benar brengsek, Radit! padahal kamu tahu kalau perasaan cintaku pada Ayesha selama ini belum hilang, tapi kamu tega menusukku dari belakang!" batin Brian dengan wajah memerah menahan marah.
"Brian, kenapa kamu diam, Nak?" Ayunda buka suara. "Mama rasa usia kamu juga sudah pantas menikah. Nak Vania ini mama lihat benar-benar mencintaimu," sambung Ayunda lagi.
"Baiklah,kita menikah. Dan seperti yang kamu katakan, kita menikah di tanggal dan hari yang sama, dengan pernikahan mereka!" pungkas Brian, memutuskan.
Tbc