
"Selamat ya, Sob. Semoga cepat kasih kami keponakan!" ucap Radit saat sudah berdiri tepat di depan Brian.
"Terima kasih! tapi aku tetap kesal sama kamu," sahut Brian, dengan raut wajah datar.
"Apa-apaan sih, masih kesal saja? Harusnya kamu bersyukur," celetuk Brianna, memasang wajah sewot.
"Bagaimana nggak kesal, coba. Harusnya aku yang melakukan semua ini untuk Ayesha, tapi dia mengambil alih tugasku," Sepertinya Brian belum bisa sepenuhnya lepas dari rasa kesalnya, mengingat betapa sumringahnya wajah sang istri melihat dekorasi yang dibuat pria lain untuk wanita itu.
"Hahahaha, kamu masih bahas itu saja dari tadi? Aku kirain sudah selesai. Ya udah, nanti kamu saja yang ngurus pernikahanku, biar impas," pungkas Radit akhirnya.
"Emangnya kamu mau menikah dengan siapa? Kamu itu jomblo!" sindir Brian yang disambut tawa oleh yang lain.
"Oh iya, seingatku, kamu sama sekali tidak pernah punya pacar, bahkan kamu juga tidak pernah cerita kalau kamu menyukai wanita. Kamu normalkan, Dit?" Arga tiba-tiba buka suara, menatap Radit dengan tatapan aneh.
"Sialan kamu! Aku normal lah! Siap bilang aku tidak pernah menyukai wanita? Buktinya aku suka Ayesha," goda Radit.
"Hei, sialan! Kamu masih mau hidup, atau sudah bosan hidup?" Brian mengunci leher Radit di bawah ketiaknya.
"Iya, iya maaf! Aku kan hanya bercanda!" ucap Radit, sembari tertawa.
"Atau begini saja, bagaimana kalau kamu dan Vania saja jadi pasangan? Kalian kan sama-sama single," Kenjo yang biasanya hanya diam, kini buka suara.
Radit yang tadinya tertawa lepas sontak terdiam dan menoleh ke arah Vania.
"Eh, enak saja! Aku dan Radit kan tidak punya perasaan apapun, iya kan, Dit?" Vania menatap balik ke arah Radit. Suara wanita itu terdengar bergetar, karena sumpah demi apapun, dia kaget sekaligus grogi mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Kenjo barusan.
"Ahh, itu mah gampang. Kalian coba aja! Kasihan Radit sudah lama jadi jomblo. Ibarat besi yang dibiarkan, lama-lama akan jadi karatan," celetuk Arga.
"Sialan kamu! Bisa-bisanya kamu samain aku dengan besi. Bosan hidup kamu ya!" Radit memasang wajah kesal.
"Jadi kamu mau di samain dengan apa? dengan kayu, yang makin lama dibiarkan makin busuk?" ledek Arga lagi, membuat tawa yang lainnya pecah.
"Lihat saja, nanti. Aku yang lama jomblo ini, akan lebih dulu menikah dari kalian berdua," ucap Radit, dengan tegas dan berapi-api.
"Yakin kamu? Kok aku nggak yakin ya? Soalnya pacar saja kamu tidak punya. Jangan hanya karena ingin menikah lebih dulu, kamu malah asal ambil wanita dari mana pun," Arga masih tidak berhenti mengejek.
"Pokoknya lihat saja nanti!" ucap Radit lagi dengan sudut mata yang sedikit melirik ke arah Vania.
Semua yang mendengar ucapan, Radit itu terbahak kecuali Vania, yang seketika merasa sedikit sakit di hatinya.
"Apa dia bertekad seperti itu, karena sudah punya wanita yang dia sukai? Apa aku harus patah hati ke dua kalinya?" bisik Vania pada dirinya sendiri.
Tanpa Radit sadari, lirikan matanya itu dilihat dan disadari oleh Brian dan Ayesha. Sepasang sejoli yang baru saja sah menjadi suami istri itu sontak saling pandang dan tersenyum penuh makna.
Sementara itu, Arga mendekat ke arah Retha, dan senyum-senyum tidak jelas. "Sayang, kamu mau kan menikah secepatnya denganku? biar tekad Radit tadi gagal," ucap Radit yang langsung mendapat tatapan tajam dari kekasihnya itu.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa yang aku katakan salah? Kamu tidak mau ya menikah denganku?" tanya Arga dengan alis bertaut tajam.
"Kamu serius melamarku di pernikahan orang?" tanya Retha, ambigu.
"Ya, seriuslah! Emangnya ada yang salah?" sumpah, Arga benar-benar bingung.
Retha berdecak, kesal sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Arga terjengkit kaget, ketika kepalanya mendapatkan pukulan yang berasal dari Briana.
"Anna! kenapa kamu memukulku? Sakit tahu!" protes Arga, sembari mengelus-elus kepala bekas pukulan Brianna
"Kamu bodoh atau pura-pura bodoh sih, Ga? bisa-bisanya kamu melamar di pernikahan sahabat kamu sendiri," ucap Brianna, ketus.
"Emangnya salah ya? Salahnya di mana?" tanya Radit dengan wajah polosnya.
"Oke, bukan masalah kamu melamar wanita di pernikahan sahabatmu, karena banyak juga yang melamar kekasih di acara pernikahan, tapi sudah direncanakan dan sudah prepare lebih dulu. Minimal bunga dan cincin. Lah ini, kamu apa? Hanya modal kata-kata saja?" ucap Brianna panjang lebar tanpa jeda.
"Astaga, aku lupa! Maaf, Sayang!" Arga cengengesan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Bukan hanya itu saja, Ga. Kamu bahkan belum pernah menemui orang tuaku. Enak saja mau asal ambil putrinya begitu saja," sambung Retha lagi dengan memasang wajah kesal.
"Wah, bahaya kamu, Ga! Benar-benar tidak gentle! Udah Tha, tinggalin aja laki-laki seperti ini.Karena sepertinya dia tidak serius makanya tidak pernah memperkenalkan dirinya pada orang tuamu," Radit mulai memanas-manasi, karena menemukan cara untuk membalas ledekan dari Arga sebelumnya padanya.
"Enak saja. Aku cabein juga nanti mulutmu! Siapa bilang aku tidak serius?Aku bukannya tidak mau menemui calon mertuaku, hanya saja, belakangan ini aku sibuk, dan kamu tahu juga tentang itu," sanggah Arga.
"Kalau begitu, temuin dong sekarang! Orang tua Retha kan hadir juga di sini," tantang Radit.
"Siapa takut? Ayo, Sayang!" Arga meraih tangan Retha dan mengajak kekasihnya itu turun.
"Bagaimana dengan kalian semua? Kalian juga sebaiknya turun dari sini. Kalian tahu nggak, kalian sudah menguasai panggung ini dari tadi. Orang yang mau datang mengucapkan selamat, jadi segan," Cetus Brian, dengan raut wajah datar.
"Iya, iya kami turun!" tanpa sadar Radit meraih tangan Vania dan menggenggam erat tangan wanita itu saat turun.
"Apa kami juga kalian usir?" tanya Brianna, setelah hanya dia dan Kenjo yang tinggal.
"Ya, iyalah! Kalau kalian tidak diusir juga, jadi kalian berdua mau jadi apa di sini? Mau jadi dayang-dayang? Kami tidak butuh!"cetus Brian.
"Sayang, tidak boleh begitu! Dia kan kakakmu," tegur Ayesha.
"Entah tuh. Jahat banget dengan kakak sendiri," Brianna pura-pura memasang wajah memelas.
"Sudah, nggak usah drama deh, gak mempan!" sambar Brian.
"Cih, dasar adik laknat. Untuk adik iparku baik," Brianna mengerucutkan bibirnya.
Brianna tiba-tiba memeluk Ayesha dan tanpa bisa dicegah, dari mata wanita itu mengalir cairan bening membasahi pipinya.
"Yesha, aku titip adikku ya, jaga dia! Aku bahagia banget karena kamu benar-benar jadi adik iparku," ucap Brianna di sela-sela tangisnya.
"Sayang, apa nggak kebalik ya? Harusnya yang jaga Ayesha kan Brian, bukan malah Ayesha yang jaga Brian," bisik Kenjo, yang merasa janggal dengan ucapan kekasihnya barusan.
"Diam kamu! ayo turun!" Brianna seketika merasa malu, dan langsung turun tanpa melihat ke arah Brian dan Ayesha lagi.
"Heh, aku salah apa? Bukannya yang aku katakan tadi benar?" gumam Kenjo, sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Tbc