Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Saling minta maaf



"Ke-kenapa jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Ayesha dengan suara bergetar dan raut wajah kebingungan.


Radit dan Vania saling silang pandang sebentar, kemudian sama-sama menatap ke arah Ayesha dengan bibir tersenyum. Sementara itu, Brian yang juga penasaran, memutuskan untuk meninggalkan tempat dia berdiri untuk mendekat ke arah Ayesha. Bukan hanya Radit, Semua keluarga dan sahabat juga ikut mendekat.


"Ada apa ini Radit?" tanya Brian dengan tatapan menuntut penjelasan.


Radit tersenyum kalem dan menghampiri Brian.


"Brian, maaf kalau kemarin-kemarin kamu merasa kalau aku sudah menusukmu dari belakang. Sebenarnya, aku dan Ayesha sama sekali tidak pernah menjalin hubungan. Ayesha yang__"


"Radit, kamu apa-apaan sih?" sebelum Radit menyelesaikan ucapannya, Ayesha dengan cepat menyela.


"Ayesha, sudahlah. Sekarang sudah saatnya Brian dan yang lainnya tahu," sahut Radit, meyakinkan Ayesha.


"Lanjutkan, Radit!" Brian kembali buka suara.


"Brian, seperti yang aku katakan tadi, kalau aku dan Ayesha sama sekali tidak punya hubungan. Kita sama seperti dulu, hanya sebagai teman," Radit kemudian menceritakan apa yang sebenarnya, tidak menambahi dan juga tidak mengurangi.


Setelah Radit selesai bicara, Brian sontak menoleh ke arah Ayesha yang kini tengah menundukkan kepalanya.


"Jadi, bagaimana dengan yang terjadi sekarang? Aku benar-benar bingung? Bagaimana bisa, kamu dan Vania sama sekali tidak memakai pakaian pengantin?" Arga buka suara.


"Ya, karena memang acara ini didesign untuk Brian dan Ayesha," sahut Vania, dengan senyum merekah. Tentu saja, ekspresi bahagia Vania sekarang membuat semuanya semakin bingung. Kecuali kedua orang tua Brian, orang tua Ayesha dan Retha.


Flash back On


"Aku harap kamu bisa memikirkan apa yang aku katakan tadi. Aku pergi dulu!" ucap Radit, ketika melihat Vania yang berdiri mematung setelah dia memberitahukan yang sebenarnya pada gadis itu.


"Radit, tunggu!"


Baru saja Radit hendak berjalan keluar tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, mendengar Vania yang memanggilnya dengan suara lirih.


"Ada apa?" tanya Radit dengan memasang wajah datarnya.


"Terima kasih sudah mengabarkan hal ini padaku, tapi aku masih ingin tetap maju untuk mendapatkan Brian," ucap Vania.


Radit, tersenyum smirk. "Sudah kuduga, kalau kamu tetap akan egois, hanya memikirkan kebahagiaan dirimu sendiri. Sekarang terserah kamu, tapi jangan salahkan aku kalau nanti aku tidak bisa lagi menyembunyikan ini semua ke Brian," ucap Radit tegas sembari memutar tubuhnya lagi, Hendi pergi.


"Aku belum selesai bicara, Dit. Kamu jangan pergi dulu!" dengan cepat Vania mencegah Radit untuk pergi.


Radit kembali mengurungkan langkahnya dan memutar tubuhnya.


"Apalagi yang mau kamu bicarakan? Bukannya semua sudah jelas?"tatapan Radit terlihat begitu dingin.


"Aku hanya ingin menantang diriku sendiri, agar aku bisa merasa tenang," sahut Vania, ambigu.


"Maksud kamu?" Radit mengernyitkan keningnya.


"Aku mau meminta kamu untuk menyetujui menikah dengan Ayesha, agar Brian mau juga menikah denganku,"


"Kamu benar-benar sudah tidak waras ya? Nggak, aku nggak mau!" tolak Radit dengan tegas.


"Tunggu dulu! Jangan langsung menolak, begitu saja, dan tolong jangan memotong apa yang aku bicarakan sebelum aku selesai bicara!"


"Baiklah, sekarang katakan apa mau kamu?" pungkas Radit, akhirnya memilih untuk mendengar tanpa menyela.


Sebelum melanjutkan bicara, Vania lebih dulu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali, untuk meredam rasa sesak di dadanya. "Belum aku katakan saja, hatiku sudah terasa sesak. Tapi aku harus tetap mengatakannya, setidaknya aku sudah mencoba," bisik Vania pada dirinya sendiri.


" Dit, aku bermaksud ingin berjuang mendapatkan Brian untuk yang terakhir kalinya. Nanti kamu katakan kalau kamu akan menikah bulan depan, dan aku juga akan mengatkan pada Brian hal yang sama. Karena aku yakin, kalau dia mendengar kamu akan menikah dengan Ayesha, dia juga tidak akan mau kalah. Jadi bisa dipastikan dia akan mau. Kalau bisa, aku akan mengatakan kalau kita akan menikah di tanggal dan hari yang sama," Vania berhenti beberapa saat untuk mengambil jeda.


"Aku hanya ingin menantang diriku selama dua minggu ini. Kalau dua minggu ini Brian sama sekali tidak memberikan antusias dan terkesan apatis dalam mengurus pernikahan kami, aku berjanji akan mundur, dan aku akan berhenti berjuang," jelas Vania dengan dada yang terasa semakin sesak


Radit terlihat berpikir beberapa saat. Jujur, apa yang diminta Vania itu cukup berat baginya. "Bagaimana kalau Brian nantinya benar-benar antusias, mau ikut mengurus pernikahan mereka? Itu berarti aku dan Ayesha, akan menikah juga." batin Radit, merasa dilema.


"Baiklah, aku setuju!" pungkas Radit Akhirnya menyetujui.


Dua minggu kemudian


"Bagaimana?" tanya Radit


"Hmm seperti itulah," sahut Vania, malas-malasan.


"Jadi?"


"Ya, jadi bagaimana lagi? Sudah sejauh ini, ya seperti yang kita bicarakan, kita harus konsisten dengan apa yang kita ucapkan. Pernikahan harus tetap berlanjut." ucap Vania, tegas.


"Baiklah, kalau begitu. Jadi, seperti yang kita rencanakan, pernikahan akan tetap terlaksana, tapi itu pernikahan Brian dan Ayesha. Kita berdua yang urus, semuanya. Untuk urusan orang tua, nanti biar aku yang urus. Aku akan ke rumah Brian dan membicarakan semuanya pada orangtuanya, biar nanti nggak kaget. Nanti, aku juga akan membiarkan hal ini pada orang tua Ayesha," ucap Radit.


"Baiklah kalau begitu. Kalau untuk urusan papa, nanti aku akan bicara ke papa," pungkas Vania akhirnya.


Flash back end.


"Jadi, undangan memang tercatat nama kalian berdua," ucap Radit mengakhiri ceritanya.


"Jadi, Papa dan mama sudah tahu masalah ini?" Tanya Brian, sembari menatap ke arah Bima dan Ayunda.


Bima dan Ayunda, tersenyum seraya menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Kenapa aku tidak tahu sih?" Brian, menggerutu kesal.


"Salah sendiri, gak mau tahu masalah pernikahan. Tapi, ada bagusnya lah, setidaknya rencana kami buat kejutan, berhasil. Iya kan Van?" Radit menyikut lengan Vania yang dari tadi diam saja.


"Arghh, brengsek kamu Radit! Kamu buat aku tersiksa sebulan ini!" umpat Brian.


"Kamu kira aku nggak tersiksa? Aku sedih melihat kalian bertiga menghabiskan waktu tanpa aku," Radit pura-pura memasang wajah kesal.


"Sorry, Sob. Sebenarnya kami juga sangat merindukanmu. Tapi, kami tidak bisa memungkiri kalau kami masih kesal padamu, kamarin-kemarin. Kami merasa kalau kamu bukan Radit yang kami kenal, ternyata kami salah! Maaf ya, Sob!" Arga buka suara, sembari memeluk Radit. Kemudian, menyusul Kenjo dan Brian yang juga meminta maaf.


"Semua ini karena aku. Jadi yang seharusnya minta maaf itu aku," celetuk Vania dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.


"Maafin aku, Brian, Yesha yang terlalu egois tanpa memikirkan perasaan kalian berdua. Radit benar, kalau aku tetap memaksakan diri untuk tetap bersamamu, itu berarti aku sudah jahat memisahkan dua orang yang saling mencintai, dan bahkan sudah menghancurkan persahabatanmu dengan Radit," Lanjut Vania lagi yang kali ini sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.


"Kamu tidak sepenuhnya salah, Vania. Aku tahu kalau kamu bisa seperti itu karena terlalu cinta. Tapi, aku berharap kalau ke depannya kamu jangan memaksakan kehendak kamu lagi ya. Aku juga minta maaf kalau selama ini ucapanku juga terlalu kasar padamu," Kali ini Brianna yang buka suara.


"Sudah, sudah! Jadi bagaimana ini? Pernikahannya masih mau dilanjut atau tidak? Kalau tidak, aku juga mempersiapkan jas pengantin, aku siap juga menggantikan Brian," celetuk Radit, untuk mencairkan suasana yang sempat berubah melow.


"Enak saja. Ya tetap dilanjutkan dong!" sambar Brian dengan cepat.


"Kamu mau melanjutkan, apa kamu sudah tanya Ayesha dulu? Dia mau nggak menikah denganmu?" celetuk Retha.


Brian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Seketika wajah pria itu memerah saat menoleh ke arah Ayesha.


"Yesha, aku tahu bahwa tidak mungkin tidak ada yang salah dalam hidup kita. Tinggal bagaimana cara kita untuk memperbaikinya, dan apakah kita masih memberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Aku memang tidak bisa menjanjikan kalau kedepannya tidak akan ada kesalahan, tapi, aku bisa berjanji bahwa kita akan berdampingan, menghadapi semua tantangan hidup dan memanfaatkan setiap momen yang kita jalani dengan sebaik-baiknya. Maukah kamu menikah denganku? Aku memintamu untuk menikah denganku, bukan hanya karena aku tahu bahwa kita diciptakan untuk satu sama lain, tetapi yang lebih penting karena aku tahu bahwa aku tidak dapat menjalani satu hari pun dalam hidupku tanpa kamu berada di sisiku," ucap Brian, sembari menatap Ayesha dengan tatapan penuh cinta.


Ayesha yang dari tadi diam saja, menatap ke arah orang tuanya, seakan meminta restu. Ayesha mengukir senyuman ketika melihat kedua orangtuanya itu menganggukkan kepala, yang berati mereka memberikan restu.


Setelah mendapatkan restu dari kedua orangtuanya, Ayesha kembali menatap ke arah Brian dan menganggukkan kepalanya.


"Yes!" saking bahagianya, Brian meraih tubuh Ayesha dan memeluk wanita itu dengan erat.


Semua yang berada di tempat itu sontak bertepuk tangan tak terkecuali Vania. Entah kenapa, tidak ada perasaan sakit sama sekali di hati Vania melihat itu semua. Yang ada dia merasa kalau hatinya sekali merasa plong, seakan terlepas dari himpitan batu yang besar.


Tbc


Maaf, aku telat up, karena ada kesibukan di real life yang tidak bisa aku tinggalkan 🙏🙏