Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Ini aku, Retha!



"O-Om!" gumam Brian, ketika Radit sudah berdiri tepat di depannya.


"Jadi, pria brengsek yang dimaksud Reza tadi adalah kamu?" tanya Radit dengan dingin.


"Iya, Om. Dan aku tahu kalau aku memang sebodoh itu. Maafkan aku, Om!" ucap Brian, lirih.


Radit mengangkat tangannya, dan Brian sudah siap untuk menerima apapun yang akan dilakukan papanya Ayesha itu.


Namun, perkiraan Brian salah. Justru sekarang pria paruh baya itu menepuk-nepuk pundak Brian dengan lembut.


"Bagaimana, Om bisa marah padamu? Om tidak bisa, Brian. Karena menurut Om, ini bukan mutlak kesalahanmu. Walaupun memang, kamu salah karena sudah menyimpulkan lebih dulu tanpa bertanya lebih dulu kebenarannya. Tapi, Om tadi sudah mendengar semuanya dari kakakmu. Papa dan mamamu juga sudah menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi. Ditambah Om tadi sudah mendengar semua ucapanmu pada wanita tadi, membuat Om tidak bisa marah lagi," tutur Radit membuat sedikit beban di hati Brian, menguap seketika.


"Terima kasih,Om. Terima kasih sudah mengerti!" ucap Brian.


"Tapi, walaupun seperti itu, Om tetap tidak bisa menolongmu, Brian. Karena semua keputusan ada di tangan anak Om. Om tidak bisa memaksa dia untuk menerima kamu kembali. Karena mungkin, bagi Ayesha kesalahanmu yang meragukannya cukup fatal," lanjut Radit lagi.


"Aku cukup mengerti, Om. Tapi aku akan tetap berusaha untuk meluluhkan hati Ayesha lagi. Aku hanya butuh dukungan dari Om dan Tante," Brian berucap dengan tegas.


Radit tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tapi, aku mau kasih tahu kamu ... Ayesha itu keras kepala, jadi kamu pasti sulit untuk meluluhkan hatinya," bisik Radit.


"Tidak masalah, Om. Aku pasti akan tetap berusaha. Aku yakin, kalau kita berusaha keras, sekeras apapun hati seseorang, dia pasti akan luluh, " ucap Brian dengan tegas dan penuh keyakinan.


"Tergantung. Buktinya tadi ... Wanita tadi yang sudah berjuang dari SMA sampai sekarang, kamu tetap tidak bisa membuka hatimu padanya kan? Yakin boleh tapi jangan terlalu percaya diri!" ucap Radit lagi, membuat Brian diam.


"Asal kamu tahu, Ayesha selama ini banyak yang mendekati, jadi kamu butuh ekstra kerja keras untuk meluluhkan hatinya, sebelum didahului orang lain," kali ini Reza yang buka suara. Entah itu memberikan semangat atau ingin menakuti Brian, tergantung pria itu menyimpulkannya


Brian berusaha untuk tersenyum, meskipun sebenarnya ada rasa takut yang timbul mendengar ucapan adik dari papanya wanita yang dicintainya itu.


Sementara itu, Ayesha yang tidak menyangka akan bertemu dengan Brian lagi, memutuskan untuk tidak kembali ke toko kuenya, melainkan pergi ke butik milik Retha.


Setelah menepikan mobilnya, Ia pun melangkah ke dalam dengan sedikit berlari.


"Mbak, Retha ada kan?" tanya Ayesha pada salah satu karyawan sahabatnya itu.


"Ada, Mbak Yesha. Mbak Retha ada di dalam ruangannya,"sahut wanita itu dengan sopan.


"Oh, ya udah. Aku masuk dulu ya, Mbak!" Ayesha beranjak meninggalkan karyawan itu setelah sang karyawan mengiyakan.


Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Ayesha langsung masuk begitu saja, membuat Retha terjangkit kaget.


"Yesha, kamu apa-apaan sih? Buat kaget saja, datang-datang tanpa ketok pintu," omel Retha, memasang wajah garang.


Bukannya takut , Ayesha malah menghempaskan tubuhnya duduk di sofa dengan wajah yang merengut.


"Kenapa kamu? Datang-datang wajahnya kusut. Apa ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi saat makan siang tadi?" tanya Retha dengan tatapan menyelidik.


Ayesha tidak langsung menjawab. Wanita itu justru menghela napas dengan sekali hentakan, seperti membawa beban yang berat, di punggungnya.


"Sha, kenapa kamu diam? Kamu tidak mau cerita ya?" tanya Retha lagi dengan lembut.


Ayesha kembali mengembuskan napas dan mulai membenarkannya posisi duduknya.


"Tha, kamu tahu nggak ... Sahabat papaku itu tenyata papanya Brian. Dan tadi aku begitu kaget, ternyata si brengsek itu ikut makan siang bersama,"


Mata Retha sontak membesar, terkesiap terkesiap kaget mendengar informasi yang terlontar dari mulut sahabatnya itu.


"Serius, Sha?" Tanyanya memastikan.


Retha sontak berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi kamu jawab apa? Apa kamu kegirangan sampai melompat-lompat?" ledek Retha.


"Cih, emangnya kamu melihat di wajahku ini ada kebahagiaan? Tidak kan? Aku justru menolak dengan tegas!" Ayesha mengerucutkan bibirnya.


Retha sontak tertawa renyah melihat ekspresi wajah kesal sahabatnya itu.


"Sudahlah jangan marah-marah seperti itu! Tapi kamu serius menolak? Bukannya selama ini kamu belum bisa membuka hati pada laki-laki lain, karena masih menyimpan cinta pada Brian," selidik Retha.


"Aku memang masih mencintainya, Tha. Tapi tidak semudah itu mm untuk menerimanya kembali. Dan asal kamu tahu, tenyata yang dikatakannya dulu, kalau dia punya hubungan dengan Vania dan menerimaku karena hanya ingin membantuku, itu tidak benar. Dia__"


"Serius, Sha? Jadi apa alasannya bilang seperti itu dulu?" belum selesai Ayesha bicara, Retha sudah lebih dulu menyela.


"Kamu bisa sabar nggak sih, Tha? Aku belum selesai bicara, kamu dan baru mau menjelaskan alasannya, kamu sudah main potong saja," protes Ayesha yang lagi-lagi mengerucutkan bibirnya.


"Ya, Maaf. Itu saja kamu marah. Aku kan tidak sabar, Sha!" Retha nyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Makanya sekarang kamu dengarkan dan jangan potong sampai aku selesai bicara!" ucap Ayesha dengan tegas, sementara Retha menganggukkan kepalanya, menyanggupi permintaan sahabatnya itu.


"Sebenarnya, Brian bicara seperti itu, hanya karena salah paham, Tha. Dia mengira kalau aku sudah menghianatinya dengan punya hubungan dengan laki-laki lain. Asal kamu tahu, laki-laki yang dia kira kekasihku itu Om Reza, Tha. Dan yang paling membuatku tidak habis pikir, tenyata dia hanya melihat photo yang sengaja diambil oleh Vania. Aku kesal dia main percaya saja sama Vania tanpa bertanya ke aku lebih dulu,"tutur Ayesha dengan napas memburu.


"Apa? Jadi kisah kita sama, Sha? Diputusin karena salah paham?" tanpa sadar Retha membongkar sendiri hal yang dia rahasiakan selama ini.


"Maksud kamu, apa Tha? Kamu juga diputusin?" sudut alis Ayesha naik ke atas, menatap Retha penuh selidik.


Retha sontak terdiam dan merutuki mulutnya yang keceplosan.


"Tha, kenapa kamu diam? Jawab, Tha!" desak Ayesha, tidak sabar.


Retha mengembuskan napasnya, berdiri dari kursi kerjanya, lalu berjalan menghampiri Ayesha. Kemudian ia pun mendarat tubuhnya duduk di samping sahabatnya itu.


"Iya, Sha. Sebenarnya aku juga sudah putus dengan Arga. Dan alasan putusnya juga karena salah paham. Dia mengirimkan photo saat kita masuk ke dalam mobil Om kamu saat itu. Aku sudah berusaha menjelaskan tapi, saat aku mengirimkan pesan, ternyata dia sudah memblokir nomorku. Aku juga coba ke Radit dan Kenjo, tapi tenyata mereka juga sudah memblokir nomorku. Bukan hanya nomorku tapi juga media sosial. Aku kecewa, Sha. Aku benar-benar kecewa karena Arga tega menuduhku tanpa bertanya lebih dulu," akhirnya Retha memilih untuk berterus terang.


"Kenapa kamu merahasiakannya dariku, Tha? Mungkin kalau kamu kasih tahu saat itu, kesalahpahaman kita tidak akan berlarut-larut sampai selama itu," ujar Ayesha dengan lirih.


"Saat itu, aku hanya tidak ingin membuatmu merasa bersalah, Sha. Aku tidak ingin menambah kesedihanmu karena merasa menjadi penyebab hancurnya hubunganku dan Arga. Jadi, aku memilih diam. Lagian, aku juga saat itu kecewa dengan Arga yang mudah mengambil kesimpulan tanpa bertanya lebih dulu," terang Retha dengan lugas.


"Tha, hatimu terbuat dari apa sih? Bagaimana kamu bisa menyimpan rasa sakit kamu sendiri,hanya karena tidak ingin aku semakin sedih. Aku selalu mencurahkan kesedihanku padamu dan bisa-bisanya kamu selalu memberikan aku semangat. Padahal, sebenarnya kami juga butuh disemangati. Kamu justru membuatku jadi sahabat yang tidak berguna sekarang, Tha!" tutur Ayesha, panjang lebar tanpa jeda dan dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca ingin menangis.


Retha kemudian menarik tubuh Ayesha dan memeluk sahabatnya itu.


"Sudah, ah! Kamu jangan beranggapan seperti itu. Bagaimanapun kamu itu tetap sahabat yang terbaik bagiku. Sekarang, kamu tidak perlu merasa bersalah, ya," bujuk Retha sembari mengelus-elus rambut lurus sahabatnya itu.


Retha kemudian melerai pelukannya, karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Ayesha pun dengan cepat menyeka air matanya.


"Masuk!" titah Retha.


"Mbak, ada tamu yang mencarimu di luar. Apa dia bisa masuk?" tanya karyawan itu.


"Siapa, Rin?" tanya Retha dengan kening berkerut, karena seingatnya dia tidak ada janji dengan siapapun hari ini.


"Aku tidak tahu, Mbak. Tapi dia itu laki-laki,"


"Laki-laki? Siapa ya?" Kening Retha semakin bertaut.


"Ini aku, Retha!" mata Retha membesar sempurna, terkesiap kaget ketika melihat sosok laki-laki yang sudah berdiri di ambang pintu. Siapa lagi laki-laki itu kalau bukan Arga, pria yang baru saja dia bicarakan dengan Ayesha.


Tbc