Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Kuliah di beda universitas



Waktu berlalu begitu cepat tidak terasa sudah dua tahun berlalu. Brian sekarang benar-benar kuliah di Amerika, tepatnya di universitas yang sama tempat papanya kuliah dulu. Yang tidak lain Massachusetts Institute Of Technology. Universitas yang berada di Cambridge, Boston, Amerika Serikat dan merupakan kampus terbaik yang selalu masuk 5 besar


Selain itu, Brian juga sekaligus berkuliah di Harvard university, universitas yang memang tidak terlalu jauh jaraknya dari kampus pertamanya. Awalnya pria itu merasa enggan untuk berkuliah di kampus itu, mengingat kalau dulu Ayesha juga berniat melanjutkan pendidikannya di kampus itu juga. Namun, setelah lama berpikir, dia tidak mau hanya karena ada Ayesha di tempat itu, keinginannya untuk kuliah di tempat sama seperti papanya, terhalang.


Namun, dua tahun berkuliah di kampus itu, pria itu sama sekali tidak pernah bertemu dengan Ayesha. Entah di mana gadis itu sekarang, Brian sama sekali tidak tahu. Bohong kalau dirinya tidak penasaran, tapi dia selalu berusaha untuk mengabaikannya.


"Brian, nih aku bawakan makan siangmu. Kamu belum makan kan?" ucap Vania sembari menyerahkan sebuah kotak berisi makanan, yang kata wanita itu dia masak sendiri.


"Ya, gadis itu memang sudah sangat bertekad untuk terus mengikuti Brian kemanapun pria itu pergi, berusaha keras untuk membuat Brian jatuh cinta padanya.Makanya, dia juga memutuskan untuk kuliah di Amerika.


Vania juga rela memasak setiap hari dan membawakan Brian makanan dengan harapan pria itu ketergantungan padanya.


"Terima kasih, Van," Brian menerima kotak makanan dari tangan Vania.


"Bagaimana, tugas kuliahmu sudah selesai?" tanya Brian sembari meletakkan kotak makanan di sampingnya.


"Belum sih, aku kurang paham, Ian. Kamu mau kan bantu aku?" tanya Vania dengan memasang wajah memelasnya.


"Coba bawa ke sini, biar aku lihat dulu!"


"Emm, kamu makan saja dulu. Nanti kan bisa," tolak Vania, yang sebenarnya merasa sedikit kesal karena melihat Brian yang tidak langsung menyentuh makanan yang sudah dia buat. Padahal tadi dia sudah berekspektasi tinggi kalau pria itu akan antusias menerima makanan dari tangannya dan akan memakannya saat itu juga.


"Oh, aku akan makan nanti. Saat ini aku belum lapar," tolak Brian dengan halus.


Kalau Brian sudah menjadi kekasihnya, bisa dipastikan kalau sekarang dirinya pasti akan cemberut dan melemparkan protesnya. Namun sayangnya hubungannya dengan Brian belum sejauh itu,. Karena sampai sekarang putra dari pengusaha terbesar dan terkaya di Indonesia itu, sama sekali masih bersikap sama seperti ketika masih di bangku SMA. Karena itu, Vania berusaha untuk menahan diri agar tidak terlihat kesal dan bahkan masih berusaha bersikap biasa saja.


"Sabar, Vania! Mungkin sebentar lagi, Brian akan merasa kalau kamu sangat penting di hidupnya. Yang penting tetap lanjutkan langkah yang sudah kamu mulai," bisik Vania pada dirinya sendiri.


"Mana tugas kamu Vania? sini aku lihat!" Brian kembali bersuara dengan alis bertaut, melihat gadis itu melamun.


"Oh, i-iya. Tunggu aku ambil dulu!" Vania kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah buku.


Saat sedang serius mempelajari tugas Vania, tiba-tiba ponsel Brian berbunyi. Ia melihat kalau ada panggilan jarak jauh yang tidak lain. adalah Arga dari London.


Ya, sahabatnya itu memutuskan untuk kuliah di London bersama dengan Kenjo. Sementara Radit ada di Amerika juga sama seperti Brian.


Tapi pilihan Radit bukan di Harvard seperti Brian, melainkan jatuh di Stanford university. Lokasi kedua kampus ini terpaut jauh, seperti membelah Amerika Serikat (AS). Harvard berada di bagian paling barat AS sementara Stanford di ujung timur.


Lebih tepatnya, Harvard terletak di Cambridge, Massachusetts dengan pusat kota di Boston. Sementara itu, Stanford berada di California, Sans Francisco. Kedua lokasi ini berjarak 7 jam perjalanan dengan pesawat.


Tidak menunggu lama, Brian kini terlibat pembicaraan dengan Arga, yang dipastikan dengan Kenjo di sampingnya. Dan seperti biasa, kalau Brian sudah mengobrol dengan sahabatnya-sahabatnya, Vania akan terlupakan.


"Huft, menyebalkan!" batin Vania, mengembuskan napas kesal.


"Kapan sih aku jadi prioritas pertama bagimu Brian? Harus bagaimana lagi caranya, agar kamu bisa menyadari isi hatiku?" Vania mulai bermonolog.


"Atau, aku coba hilang dulu dari sisi Brian, agar dia bisa menyadari bagaimana dia akan merasakan kehilangan dengan perginya aku? Tapi apa itu akan bekerja? Karena aku sudah pernah mencobanya, dia tetap tidak pernah mencariku kan? Dia malah tidak merasa kehilangan sama sekali. Ujung-ujungnya aku juga yang kembali menemuinya. Ahh, benar-benar menyebalkan!" Vania menggerutu dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ya, keduanya memutuskan melanjutkan pendidikan di Stanford university, kampus yang juga masuk nominasi kampus terbaik di dunia.


Bukan tanpa alasan Ayesha, memilih di kampus itu. Ia, akhirnya memilih Stanford karena dia takut kalau Brian jadi kuliah di Harvard.


tin tin!


klakson sebuah mobil yang tiba-tiba muncul di depan ke dia gadis itu, membuat kedua gadis itu terjengkit kaget.


"Hahaha, kaget ya! makanya jangan terlalu serius kalau ngegosip. Ayo masuk!" seru seseorang yang tidak lain adalah Reza dari dalam mobil.


Ayesha mengerucutkan bibirnya, dan masuk ke dalam Mobil disusul oleh Retha.


"Om apa-apaan sih? senang banget ngegetin. Kalau salah satu dari kami punya sakit jantung, bagaimana? Om mau tanggung jawab!" protes Ayesha yang keceriaannya sudah mulai kembali beberapa bulan ini.


"Maaf. Kalau untuk bertanggung jawab dengan kamu, sepertinya Om mikir dulu. Om bisa serahkan sama Deril. Tapi, kalau menanggung jawabi, Retha ... Om mah ikhlas," sahut Reza sembari cengengesan.


Ayesha sontak berdecih, sementara Retha hanya tersenyum tipis. Memang, Om dari sahabatnya itu, sudah berkali-kali menunjukkan kalau dia sangat tertarik padanya, tapi sumpah demi apapun, dirinya sama sekali belum bisa atau mungkin tidak akan bisa jatuh cinta pada pria mapan dan tampan itu.


"Om, Om. Kok gak sadar-sadar sih? Cintanya Retha itu sudah habis di Arga. Jadi, Om berhenti deh berharap!" Ya, sampai sekarang Ayesha belum tahu kalau hubungan sahabatnya itu sudah berakhir dengan Arga, bersamaan dengan berakhirnya hubungannya dengan Brian. Karena sampai sekarang Retha masih merahasiakannya.


Reza tersenyum kecut dan melirik Retha dari kaca spionnya.


"Ya, kali aja kan Retha khilaf dan tiba-tiba jatuh cinta denganku. Kita kan mana tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Iya kan Retha?" goda Reza, dan seperti biasa Retha hanya membalas dengan senyuman tipisnya.


"Udahlah, Om, jangan berharap terlalu tinggi! Retha itu cinta mati ke Arga, dan juga sebaliknya. Iya kak. Tha?" Ayesha menoleh ke arah Retha meminta dukungan.


"Iya, Sha. Kamu memang paling tahu aku," sahut Retha, sembari tersenyum lebar.


Di belakang kemudi, Reza mengembuskan napasnya dengan berat, lagi-lagi merasa ada yang mencubit hatinya mendengar jawaban Retha, gadis yang sebenarnya sudah mencuri hatinya saat pertama kali bertemu.


"Om, kok bengong sih? Kita sampai kapan di sini?Kita tidak jadi pulang?" tegur Ayesha, membuat Reza tersentak sadar dari lamunannya.


"Iya, iya, kita jalan nih!" Reza pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan kawasan kampus.


Tanpa mereka sadari, dari tadi ada sepasang mata melihat mereka dengan mata yang memicing. Pemilik mata itu tidak lain adalah Radit.


"Itu Ayesha dan Retha kan? Ya aku yakin kalau yang aku lihat tadi, itu mereka berdua. Ternyata mereka kuliah di sini. Tapi, kenapa aku baru lihat mereka ya? Padahal kan aku sudah kuliah dua tahun di sini?" bisik Radit pada dirinya sendiri.


"Ya iyalah, benar-benar bodoh,Kampus ini sangat luas, dengan ribuan mahasiswa dari berbagai mancanegara. Bisa saja aku tidak pernah lihat mereka," Radit berdecak, sembari merutuki kebodohannya sendiri.


Radit kemudian merogoh ponselnya hendak menghubungi Brian.


"Ah, sebaiknya aku tidak perlu kasih tahu dia kalau aku melihat Ayesha. Itu sama saja, aku membuka kembali luka yang selama ini berusaha ditutup oleh Brian," Radit mengurungkan niatnya, seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


"Ternyata, Ayesha masih memiliki hubungan dengan pria itu," sambung Radit kembali sembari beranjak meninggalkan tempat itu.


Tbc