
Brianna mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari keberadaan Kenjo. Akan tetapi, dia tidak melihat lagi, di mana keberadaan pria itu.
"Aneh, kenapa cepat sekali menghilangnya? kemana dia pergi? Apa dia langsung pulang?" batin Brianna, merasa sedikit sesak di hatinya.
Brianna mengayunkan kakinya kakinya melangkah menuju depan rumah, untuk memastikan pria yang dicintainya itu benar-benar sudah pergi atau belum.
"Emm, mobilnya masih ada di sini, itu berarti dia masih ada sekitar sini. Tapi, kemana dia pergi?" batin, Anin sambil mengelus-elus mobil Kenjo.
"Non, apa Nona mencari, Tuan Kenjo?" ucap salah satu ART di rumahnya, tiba-tiba, menghampiri.
"Iya, Mbok. Apa Mbok ada lihat, dia?"
"Tuan Kenjonya, pergi ke arah kolam renang, Non."
"Hah, kolam renang? ngapain dia di sana?" Brianna menautkan kedua alisnya, dan wanita yang dipanggil mbok itu hanya mengangkat bahunya, sebagai jawaban.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sementara itu, Bima, Ayu dan, Radit dan Amara terlihat berdiri ke tengah-tengah para tamu. Bima tiba-tiba mengangkat tangannya seperti meminta agar perhatian mengarah ke arah mereka.
"Para undangan sekalian, terima kasih buat kehadiran dan doa-doanya di acara syukuran tujuh bulanan menantu kami Ayesha! mudah-mudahan menantu kami sehat demikian juga dengan calon cucu kami yang ada di kandungannya. Semoga semuanya baik-baik saja dan lancar sampai persalinan!" ucap Bima yang disambut dengan tepuk tangan oleh para tamu undangan.
"Sekarang, sebagai tuan rumah, aku juga ingin mengajak anda semua, untuk berpindah ke area kolam renang, karena di sana ada kebahagiaan lain yang juga butuh doa dan dukungan dari kalian semua!"selesai mengucapkan kalimatnya, Bima menggandeng tangan Ayunda, lalu mengayunkan kaki, melangkah menuju ke area kolam renang, diikuti dengan para tamu, yang merasa penasaran ada apa di sana.
"Sayang, emang ada acara apa lagi di kolam renang?" tanya Vania sembari menggandeng tangan Radit suaminya.
"Entahlah! Aku juga tidak tahu. Kita ikut aja ke sana!" ucap Radit, sembari tersenyum mesra ke istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brianna melangkah semakin perlahan begitu hampir sampai di area kolam renang. Begitu tiba di tempat itu, kedua mata Brianna membesar dengan sempurna tercengang melihat pemandangan di depannya. Bagaimana tidak, area kolam renang kini tampak begitu indah dengan cahaya berkilauan yang berasal dari lampu- lampu kecil yang dipasang di sekeliling kolam, hingga membuat suasana kolam renang itu sangat terang benderang.
"Will you marry me?" sebuah suara, yang sangat dikenalnya terdengar dari arah belakang. Brianna sontak berputar dan tiba-tiba meneteskan air mata, begitu melihat Kenjo yang bersujud di depannya dengan tangan yang terulur, sambil memegang sebuah cincin yang harganya sangat fantastis.
Brianna semakin kaget, begitu mendengar suara-suara yang berteriak,' terima' dari orang-orang
Dengan menutup mulutnya, Brianna menganggukkan kepalanya, sambil mengulurkan jarinya, untuk dimasuki cincin, oleh Kenjo.
Brianna langsung menghambur memeluk Kenjo, begitu cincinnya sudah masuk ke dalam jari, manisnya. Semua orang yang ada di sana, bertepuk tangan dengan meriah, melihat pemandangan romantis itu.
"Maaf, kalau selama ini aku terkesan menggantungmu, sebenarnya aku sudah lama merancang ini, dan terima kasih juga, sudah mau menerimaku," bisik Kenjo di telinga Brianna
"Kamu, jahat!" Brianna, memukul pelan dada, Kenjo dengan air mata kebahagiaan yang masih menetes di pipinya.
"Sejak kapan, tempat ini didekorasi? Tadi sore masih seperti biasa?" tanya Brianna, bingung.
"Sejak acara syukuran dimulai. Karena aku sudah menyewa, tim WO untuk mendekor tempat ini sebelumnya. Jadi, ketika semua orang sibuk di acara syukuran, tim mereka mulai bekerja di sini. Aku juga sudah izin pada Om Bima dan Tante Ayunda sebelumnya." jawab, Kenjo yang membuat Brianna mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa aku tidak kamu kasih tahu?"
"Kalau kamu dikasihtahu, bukan kejutan dong namanya," sahut Kenjo.
"Tapi bukannya kamu ...." Briana menggantung ucapannya, karena dia yakin Kenjo pasti tahu apa yang dia maksud.
"Awalnya iya. Tapi, Om Bima menyakinkanku, kalau dia membantuku bukan karena aku kekasihmu, dan juga bukan karena tidak percaya kalau aku bisa membahagiakanmu nantinya. Tapi, Om Bima menyadarkanku, kalau Om Bima membantuku, justru karena percaya padaku. Jadi, aku tidak perlu minder," Tutur Kenjo panjang lebar, tanpa jeda.
Brianna kembali tersenyum manis dan refleks memeluk pria yang dicintainya itu.
"Sekarang, kamu bukan lagi pacarku, tapi kamu itu calon istri, dari Kenjo Wijaya!" Brianna tersipu malu, mendengar kalimat, 'calon istri' yang baru saja dilontarkan oleh Kenjo.
Tbc