
Brian sudah masuk ke dalam toilet yang beruntungnya sudah sepi. Dari belakang pemuda itu menyusul yang lainnya.
"Ayesha ... Ayesha, apa kamu di dalam?" Brian mencoba memanggil, namun tidak ada jawaban sama sekali.
Brian mencoba mengetuk pintu satu toilet satu persatu dan lagi-lagi tidak ada satupun yang menjawab.
Brian pun tiba di depan pintu yang bertuliskan, 'toilet sedang rusak' itu.
"Toilet ini rusak, jadi tidak mungkinlah Ayesha masuk ke dalam sini," batin Brian, yang mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu itu.
Sementara itu di dalam sana, Ayesha yang menyadari kalau Brian dan yang lainnya datang mencarinya, berusaha untuk bergerak. Ia berharap siapapun di luar sana mendengar pergerakannya.
"Ayesha sepertinya tidak ada di sini. Kita cari lagi dia di luar," ucap Brian yang berbalik dan mengayunkan kakinya hendak melangkah ke luar.
Brakk
Tubuh Ayesha tanpa sengaja menyenggol tempat sampah, hingga menimbulkan suara berisik yang langsung menarik perhatian Brian dan yang lainnya.
"Kalian dengan suara itu nggak?" tanya Brian, memastikan
"Iya. Suaranya sepertinya dari toilet yang rusak itu!" Arga menunjuk ke arah pintu yang tertutup rapat.
"Coba kita lihat ke sana!" Kenjo menimpali ucapan Arga.
"Tapi Ayesha tidak mungkin ada di dalam. Kan toilet itu rusak?" ucap Retha.
"Tidak ada salahnya kita lihat kan, Beb? ayo!"
Brian melangkah lebih dulu Dan mencoba mengetuk pintu.
"Ayesha, apa kamu di dalam?" lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Sepertinya toilet ini memang rusak dan tidak mungkin Ayesha ada di dalam sana," ucap Radit.
Sementara itu, Ayesha di dalam sana kembali menggerakkan tubuhnya dengan cara mengesot. Kemudian, dia menubruk pintu, untuk memberikan tanda kalau memang ada orang di dalam.
Brian dan yang lainnya yang nyaris melangkahkan kakinya, kembali berhenti dan menatap ke arah toilet rusak.
"Itu hantu nggak sih?" Retha mencengkram lengan Arga. Ia terlihat seperti ketakutan.
"Tenang, Beb. Tidak ada hantu sama sekali. Lagian aku ada," Arga mengambil kesempatan untuk memeluk gadis yang dicintainya itu.
Ayesha di dalam sana sudah semakin lemas. Tapi ia tetap berusaha membentur-benturkan tubuhnya, berharap di luar sana yakin kalau ada seseorang di dalam.
"Sepertinya memang ada orang di dalam! dan aku yakin itu Ayesha!" tanpa berpikir lagi, Brian mencoba membuka pintu. Namun, ternyata pintu itu sengaja dikunci.
"Yesha, kalau kamu memang di dalam, tolong mundur, karena aku mau dobrak pintunya!" teriak Brian dari luar.
Ayesha kembali mencoba menyeret tubuhnya untuk menjauh dari pintu. Tapi, ia sama sekali tidak punya energi lagi, sehingga dia hanya mampu bergeser sedikit saja. Bahkan gadis itu semakin sulit untuk bernapas dikarenakan mulutnya yang tersumpal.
"Ayesha, apakah kamu sudah menjauh?" tanya Brian, memastikan. Namun, tidak terdengar jawaban sama sekali.
"Dia kenapa tidak bisa menjawab sih? apa sebenarnya yang terjadi?" bisik Brian pada dirinya sendiri.
"Udah Ian, kita dobrak saja!" Kenjo sudah mengambil ancang-ancang untuk membantu Brian.
"Jangan! aku takut kalau yang di dalam sana, masih dekat dengan pintu. Kalau kita dobrak, yang ada dia nanti akan tertimpa pintu," cegah Brian dengan cepat.
Brian kemudian terlihat berpikir keras. Seakan menemukan ide, pria itu masuk ke dalam toilet yang bersebelahan dengan tempat Ayesha disekap.
"Arga, atau siapa pun kalian, tolong bantu angkat aku, agar bisa melihat ke balik sana!" pinta Brian.
Tanpa berpikir panjang Arga ikut masuk dan langsung berjongkok.
Brian kemudian mencoba menginjak pundak Arga dan berusaha berdiri. Setelah berhasil, Brian langsung mencengkram tembok pembantas dan mengintip ke tempat Ayesha berada.
Mata Brian sontak membesar, melihat Ayesha yang sudah terkulai lemas di lantai dengan kondisi terikat.
"Ayesha, tenang ini aku! aku di sini!" Brian kemudian menarik keluar kain yang ada di mulut Ayesha, membuka penutup mata, lalu membuka ikatan.
"Brian, terima kasih!" Ayesha masih sempat mengucapkan terima kasih, sebelum gadis itu akhirnya pingsan.
"Ayesha bangun!Ayesha, bangun!" Brian mencoba menepuk-nepuk pipi Ayesha.
"Kenjo, tolong dobrak pintunya, buruan. Ayesha pingsan!" teriak Brian, setelah mengangkat tubuh gadis itu.
Tidak menunggu lama, pintu akhirnya berhasil dibuka, karena ditendang keras oleh Kenjo, Arga dan Radit.
"Ayesha! pekik Retha, menghambur ke arah Ayesha yang ada di gendongan Brian.
"Minggir dulu, jangan kerubungi dia!" Brian dengan sigap membawa keluar dari toilet itu, mencari tempat yang aman dan nyaman, tepatnya di bawah sebuah pohon yang rindang.
"Ayesha, bangun! Ayesha jangan buat aku takut!" Brian mencoba menepuk-nepuk pipi gadis yang dicintainya itu dengan lembut. Jangan lupakan Vania yang terlihat sangat kesal melihat Brian yang begitu panik.
"Pakai ini dulu!" Retha memberikan minyak kayu putih untuk ditaruh di hidung Ayesha.
"Sepertinya kita harus bawa dia ke rumah sakit. Takutnya dia kehabisan oksigen," Arga buka suara.
Brian menganggukkan kepalanya dan kembali ingin mengangkat tubuh Ayesha. Namun, belum berhasil dia angkat, Ayesha terlihat mulai membuka matanya dan terbatuk-batuk.
"Ayesha, kamu sudah sadar!" pekik Brian. Terlihat perasaan lega dan panik masih bercampur menjadi satu di wajah pria tampan itu.
Ayesha tidak menjawab sama sekali. Wanita itu justru menangis dan tanpa berpikir panjang, memeluk pemuda itu.
"Aku kira aku akan mati di dalam sana. Aku takut, Brian!" Ayesha mulai buka suara sembari sesunggukan.
"Tenang ... tenang, Ayesha! ada aku di sini! kamu sekarang aman!" Brian mengeratkan pelukannya dan mengelus-elus punggung Ayesha dengan lembut. Pemandangan itu benar-benar membuat hati Vania semakin panas.
"Iya, Ayesha, kami juga ada di sini. Kamu tidak perlu takut lagi!" Arga menimpali ucapan Brian.
Cukup lama Ayesha berada di pelukan Brian, karena sumpah demi apapun, Ayesha benar-benar merasa aman ada di pelukan pria itu. Setelah Ayesha mulai sedikit tenang, Brian secara perlahan mulai melerai pelukannya, dan menatap wajah sembab Ayesha.
"Sekarang, kamu kasih tahu aku, siapa yang melakukan ini padamu," tanya Brian, sembari menyeka lembut air mata Ayesha.
Ayesha menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu, tadi aku mau kembali ke tempat bertanding, tapi begitu keluar, dari belakangku, ada yang tiba-tiba menutup mataku dan menyumpal mulutku," terang Ayesha yang masih terlihat ketakutan.
"Apa kamu tidak tahu sedikitpun ciri-ciri orang itu?" tanya Brian lagi.
Ayesha kembali menggelengkan kepalanya.
"Yang aku tahu ada dua pria. Tapi, aku yakin mereka diperintahkan seseorang, karena ketika aku sudah disekap di dalam, aku dengar ada suara perempuan di luar. Dia memuji dua pria itu dan memberikan uang ke mereka. Lalu ia memintaku untuk menjauhimu, dan apa yang terjadi padaku sekarang adalah peringatan pertama. Kalau aku masih dekat denganmu, lebih dari ini akan dia lakukan!" terang Ayesha lagi.
"Brengsek, beraninya dia!" umpat Brian dengan rahang mengeras, dan tangan yang terkepal kencang.
"Apa ini semua perbuatanmu?" tukas Arga, seraya menatap Vania dengan tatapan menyelidik.
"Hei, kenapa kamu menuduhku, sialan! aku dari tadi dengan kalian kan?" suara Vania meninggi.
"Jadi kalau kamu siapa lagi? bukannya selama ini hanya kamu yang tidak suka pada Ayesha?kan bisa saja kamu diam-diam menyuruh orang," Arga tidak mudah percaya begitu saja.
"Aku berani bersumpah kalau itu bukan aku. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Kamu dengar sendiri tadi kan, kalau perempuan itu sempat mengancam Ayesha? sedangkan aku ada bersama dengan kalian. Apa menurutmu, aku bisa ada di dua tempat, dengan waktu bersamaan?"
Arga terdiam, karena apa yang dikatakan wanita itu benar.
"Kalau bukan kamu, siapa ya?" gumam Arga.
"Aku akan menyelidikinya. lihat saja nanti, aku tidak akan mengampuninya!" ucap Brian dengan tegas. Raut wajah pemuda itu benar-benar menakutkan, membuat Vania bergidik takut.
tbc
tbc