Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Brian salah paham



"Brian, Arga, tunggu dulu!" Vania menghampiri Brian dan tiga sahabatnya dengan napas yang terengah-engah, karena wanita itu sedikit berlari agar bisa menemui Brian tepat waktu.


"kenapa kamu harus berlari Apa ada yang sedang mengejarmu?" tanya Brian dengan alis yang bertaut tajam.


"Tidak ada, tapi ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada kalian. Khususnya pada kamu dan Arga," sahut Vania.


"Apa itu?" Arga buka suara.


"Aku harap kalian tidak kaget tapi ini memang sangat penting," ucapan Vania semakin membuat Brian dan Arga penasaran.


" Please, jangan berbelit-belit deh cepat katakan, apa yang mau kamu sampaikan?" desak Brian.


Vania, berpura-pura memasang seakan sangat berat untuk menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan,agar aktingnya terlihat sangat natural.


"Vania, kalau kamu tidak ada yang ingin disampaikan, kami pergi saja!". Brian terlihat benar-benar sudah kesal. Ia berbalik dan hendak melanjutkan langkahnya.


"Tunggu!" cegah Vania, membuat langkah Brian dan yang lainnya kembali terhenti.


"Vania, please jangan buang-buang waktu kami! cepat katakan sekarang karena sebentar lagi acara kita akan dimulai," nada bicara Brian terdengar sangat sinis.


"Emm, baiklah. Aku hanya ragu, karena aku tahu kalau apa yang akan aku sampaikan ini, pasti akan menyakitkan hati kalian berdua," Vania masih berbicara ambigu, membuat Brian dan Arga semakin kesal.


"Vania, cepat katakan! jangan banyak basa-basi!" Kali ini Arga yang buka suara dengan nada suara yang tinggi.


"Ini tentang Ayesha dan Retha, mereka ternyata__"


"Kenapa dengan mereka berdua? apa kamu mau menjelek-jelekkan mereka?" potong Arga dengan cepat.


"Arga, bisa diam nggak sih? aku belum selesai bicara, jadi jangan potong dulu!" Vania, menatap sinis ke arah Arga, yang memang selama ini satu-satunya selalu menunjukkan rasa tidak suka padanya.


"Makanya, cepat katakan! kalau tidak, kami akan pergi!" sahut Arga.


"Ok, aku tadinya merasa berat mengatakannya karena aku tahu kalau Brian dan kamu pasti akan sedih, tapi kalau aku sembunyikan, itu sama saja aku membiarkan kalian berdua berhubungan dengan perempuan yang tidak setia. Asal kalian berdua tahu, Ayesha itu selingkuh. Dan aku yakin kalau Retha juga sepertinya akan selingkuh!" tutur Vania dengan cepat, dan berapi-api.


Arga berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Brian hanya diam seribu bahasa.


"Sudah aku duga, kalau kamu pasti akan memfitnah Ayesha. Dan aku yakin kalau kamu melakukannya karena kamu ingin menyingkirkan Ayesha dari sisi Brian. Kamu kira kami akan percaya?" Sudut bibir Arga tersenyum sinis ke arah Vania.


"Terserah, kalau kamu mau percaya atau tidak. Tapi, aku punya buktinya. Ini dia, coba lihat sendiri!" Vania menunjukkan photo-photo, di saat Ayesha memeluk Reza, di saat Ayesha bergelayut manja di lengan pria lain, dan juga di saat gadis itu mencium pipi Reza.


Mata Brian sontak memerah, tangannya terkepal kencang dan rahangnya mengeras melihat photo itu.


"Kamu lihat juga Arga, bahkan pria itu membawa temannya yang pasti disengaja untuk dikenalkan dengan Retha," Vania menunjukkan photo saat Retha tersenyum menjabat tangan Deril.


"Mereka pasti janjian untuk bertemu di sini. Dan, mungkin karena tidak ingin kamu melihat kedatangan dua laki-laki itu,Ayesha tadi meminta mereka untuk pergi secepatnya. Tapi, aku bisa jadikan, kalau mereka janjian untuk ketemu lagi," Vania semakin semangat memprovokasi, ketika melihat raut wajah Brian yang sepertinya sudah mulai terpancing.


"Lihatlah, dia bahkan merubah penampilannya. Jadi menurutku, selama ini, dia berpenampilan kolot hanya agar terlihat kalau dia itu polos. Benar-benar munafik!" Vania masih melanjutkan ocehannya,"


Brian kini sudah tidak bisa menahan diri lagi. Untuk melampiaskan kemarahannya, dia meninju tembok, hingga punggung tangannya itu mengeluarkan darah.


"Brian, Stop!" Kenjo menarik tubuh Brian, agar sahabatnya itu tidak melukai dirinya lagi


"Brengsek! benar-benar penghianat!" umpat Brian, yang kembali ingin meninju tembok.


"Brian, jangan gegabah seperti ini! kamu tanya dulu pada Ayesha, kebenarannya!" Kenjo memberikan saran.


"Apa lagi yang harus ditanyakan hah? apa photo-photo itu masih kurang jelas? Sepupu? Ayesha tidak punya sepupu!" nada suara Brian terdengar sangat tinggi.


Kenjo tidak bisa berbicara lagi. Karena ia pun tidak bisa membantah bukti photo-photo yang ditunjukkan oleh Vania tadi.


"Jadi, sekarang apa rencanamu? kamu mau mengakhiri hubunganmu dengannya? bukannya kamu sangat mencintainya?" Radit yang dari tadi diam saja akhirnya buka suara.


Brian terduduk bersandar ke tembok dengan kepala tertunduk. Pria itu mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Jujur dia sangat mencintai Ayesha, karena tidak bisa dipungkiri kalau gadis itu adalah wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Namun, dia juga tidak bisa berbohong, kalau dia benar-benar sangat sakit hati, merasa dikhianati oleh gadis itu. Kalau hatinya bisa dilihat, mungkin sekarang hatinya itu benar-benar sudah hancur berkeping-keping.


Setelah berdiam beberapa saat, menahan rasa sesak di dadanya, Brian mengangkat wajahnya dengan mata yang memerah, penuh amarah.


"Bukan hanya dia yang bisa membuatku sakit hati. Aku akan pastikan kalau dia juga akan merasakan sakit hati yang kurasakan. Aku tidak perlu menanyakan kejelasan siapa pria itu, tapi aku akan membuat kalau aku lah yang sudah menghianatinya. Aku akan mengakhiri hubunganku dengannya dengan membuat harga dirinya jatuh!" Brian terlihat sangat berapi-api.


Kemudian, pria itu menoleh ke arah Vania, yang memasang wajahnya sendu, seakan-akan dirinya benar-benar simpati pada Brian.


"Vania, aku minta kamu agar bisa membantuku," ucap Brian ambigu.


"Membantumu? apa yang bisa aku bantu?" Vania mengrenyitkan keningnya.


Brian kemudian menjelaskan bantuan yang dia mau pada Vania.


Mendengar ucapan Brian, batin Vania bersorak bahagia, tapi dia berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.


"Emm, untuk saat ini, tidak apa-apa kamu menggunakanku, untuk membuat Ayesha sakit hati dan merasa terhianati. Tapi, aku pastikan kalau suatu saat aku akan benar-benar menjadi satu-satunya wanita yang kamu cinta, Brian!" bisik Vania, pada dirinya sendiri. Sudut bibir wanita itu membentuk senyum licik yang samar.


Sementara itu di sebuah tampan, tempat akan diadakannya acara ramah tamah, tampak Ayesha yang dari tadi mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, untuk melihat keberadaan Brian sang kekasih. Bukan hanya Ayesha, Retha juga melakukan hal yang sama.


"Brian kemana sih? kenapa belum datang juga?" tanya Ayesha, sembari berdecak kesal.


"Ya, mana aku tahu. Sekarang coba kamu hubungi dia!" sahut Retha.


Ayesha merogoh ponsel dari tas kecilnya dan bersiap untuk menghubungi Brian. Namun, belum sempat menekan tombol panggil, sebuah pesan langsung masuk ke handponenya.


"Baru saja mau ditelepon sudah kirim pesan saja," senyum Ayesa mengembang saat hendak membuka pesan itu.


Namun, senyum gadis itu menyurut begitu membaca pesan yang benar-benar sangat menyakitkan hatinya.


"Ayesha, maaf ya! aku harap hubungan kita berakhir sampai di sini. Sebenarnya aku dan Vania selama ini sudah menjalin hubungan. Dia sudah rela membiarkanku menjalin hubungan denganmu, agar kamu tidak terlihat berbohong dengan postinganmu. Kami berdua membohongi mu untuk membuat kamu tidak malu dan jadi bahan olok-olokan di sekolah. Tapi, sebentar lagi kita akan lulus, aku rasa sudah cukup aku membantumu. Aku tidak mau Vania selalu sakit hati melihat kita berdua bersama. Sudah cukup, membuat dia menahan semuanya selama ini. Yang aku cinta itu Vania, bukan kamu. Aku tidak mau kehilangan Vania, hanya karena masih membantumu. Jadi jangan berharap lebih padaku lagi! dan jangan menemuiku lagi!" tanpa sadar cairan bening menetes membasahi pipi Ayesha, membaca pesan panjang Brian yang isinya benar-benar sangat menyakitkan.


Ayesha, berniat untuk menghubungi Brian, untuk mendengar secara langsung, tapi ternyata, nomornya sudah diblokir oleh pria itu.


Ayesha kemudian tersungkur, sembari menangis sesunggukan.


"Yesha, kamu kenapa?" Retha mengrenyitkan keningnya, bingung melihat Ayesha yang tiba-tiba menangis.


"Brian jahat, Tha. Dia sangat jahat!"


tbc


Maaf ya, kalau updatenya lama. Dua hari ini aku sakit. Demam tinggi 🙏🏻