
Di lain tempat tampak Radit sedang duduk di balkon kamarnya dengan tatapan yang menerawang ke depan. Tatapan pria itu terlihat kosong. Sudah beberapa hari ini dia sama sekali tidak bertemu dengan tiga sahabatnya. Bohong kalau dia tidak merindukan kebersamaan dengan tiga sahabatnya itu.
Saat sedang melamun, tiba-tiba dia tersentak kaget karena ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Tampak jelas di layar ponselnya ada nama Arga sedang menghubunginya. Sebelum memutuskan untuk menjawab, Radit lebih dulu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara, untuk mengurangi ketegangan. Bagaimanapun dia tahu pasti, kenapa sahabatnya itu menghubunginya.
"Halo, Ga!" sapa Radit
"Apa benar kamu akan menikah dengan Ayesha bulan depan?" sesuai dugaan Radit, Arga menghubunginya pasti bertanya soal rencana pernikahannya dengan Ayesha.
"Iya, Ga!" sahut Radit, singkat.
"Brengsek kamu! Aku tidak menyangka kalau kamu akan tetap melanjutkan hubunganmu dengan Ayesha. Aku kira dengan kita menjauhimu beberapa hari ini, kamu menyadari kesalahanmu dan memilih untuk tidak berhubungan lagi dengan Ayesha. Tapi, sepertinya kamu memang benar-benar tidak ingin bersahabat dengan kita lagi," ucap Arga. Terdengar jelas dari cara pemuda itu bicara, kalau dia benar-benar sangat marah.
"Maaf, tapi aku tidak bisa menahan perasaanku. Harusnya kalian semua bisa maklum," sahut Radit.
"Apa yang bisa dimaklumi, hah! Kamu yang main belakang, begitu?"
"Maaf!" lagi-lagi Radit meminta maaf.
"Maafmu itu benar-benar tidak ada guna, Dit. Semua tidak akan bisa kembali seperti semula. Jangan harap aku dan Kenjo akan hadir di pernikahanmu, karena kami akan menghadiri pernikahan Brian dan Vania," tanpa menunggu jawaban dari Radit, Arga langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah dua Minggu waktu berlalu sejak Brian setuju untuk menikah dengan Vania.
Vania terlihat begitu antusias untuk mengurus pernikahannya, tapi tidak dengan Brian. Buktinya selama dua minggu ini, Brian sama sekali tidak pernah ikut mengurus pernikahan.
"Sayang, coba lihat gaun pengantin yang aku pakai, cantik nggak?" tanya Vania, memamerkan gaun pengantin yang sedang dia coba.
Tidak terdengar jawaban dari pria yang ada di layar ponselnya. Ya, dia memperlihatkan gaunnya lewat panggilan video dengan Brian.
"Sayang, kamu dengar aku nggak sih?" protes Vania, ketika melihat pria di seberang sana sama sekali tidak melihat ke arahnya.
"Ya, bagus," jawab Brian yang hanya melihat sekilas.
"Apanya yang bagus? Kamu bahkan hanya melihat sekilas, bagaimana kamu bisa tahu kalau gaunnya bagus? Lagian harusnya kamu menemaniku fitting baju pengantin, bukannya malah sibuk tidak jelas!" Vania mulai mengoceh, kesal.
"Siapa bilang aku sibuk tidak jelas? Aku sedang sibuk bekerja," sahut Brian, dingin.
"Kamu mau menikah, Brian. Aku yakin Om Bima pasti tidak akan mempermasalahkan kalau kamu tidak bekerja untuk mengurus pernikahan," napas Vania mulai memburu saking kesalnya. "Bahkan kamu belum mencoba pakaian pengantinmu,"imbuhnya.
"Aku gampang dan simpel. Cukup tuxedo saja
Kamu sesuaikan saja dengan ukuran jas yang sering aku pakai. Kamu minta asisten rumah tangga untuk mengambilkan jasku di rumah,"sahut Brian yang seperti menganggap sepele persiapan pernikahan mereka.
"Arghhh, terserah kamu lah!" pungkas Vania, akhirnya pasrah.
Vania kemudian kembali menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali, untuk mengurangi rasa kesal di hatinya.
"Sayang, ayo temani aku untuk memilih jenis undangan!" Vania kembali bersuara mencoba untuk meminta waktu Brian.
"Kamu pilih sendiri saja ya! Aku masih sibuk. Aku akan terima saja, jenis undangan apapun yang kamu pilih. Kamu tinggal kasih tahu berapa biayanya saja, nanti akan aku transfer," lagi-lagi Brian menolak dengan alasan sibuk.
"Sayang, kenapa sih kamu selalu beralasan sibuk? Ingat yang menikah di sini bukan hanya aku, tapi kamu juga. Harusnya kamu ikut andil lah, memilih undangan, dekorasi gedung, masalah katering dan yang lainnya. Aku capek sendirian, Brian!" Vania mulai mengungkapkan uneg-unegnya.
Terdengar helaan napas berat dari ujung sana. Sepertinya Brian sedang berusaha menahan diri untuk tidak marah.
"Vania, tolong jangan meributkan masalah kecil seperti ini. Kalau kamu tidak mau capek, tinggal serahkan semuanya ke WO. Selesai, simple kan?" ucap Brian di sela-sela rasa kesalnya.
"Itu gak sesimpel yang kamu pikirkan, Brian. Mereka melakukan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita maunya dekorasinya seperti ini, ya mereka buat seperti yang kita minta, kita maunya makanan eropa, atau Nusantara, mereka juga akan buat. Jadi, kita tidak boleh meyerahkan begitu saja!" Vania mulai mengoceh. Jujur, dia benar-benar mulai capek menghadapi sikap apatis yang selalu ditunjukkan oleh Brian.
"Pokoknya aku tidak bisa. Apapun yang kamu inginkan, kasih tahu ke WOnya. Tenang saja aku tidak akan protes! Sudah ya, aku kerja dulu!" tanpa menunggu Jawaban dari Vania, Brian sudah memutuskan panggilan.
"Arghh, benar-benar menyebalkan!" umpat Vania sembari mengacak-acak rambutnya.
"Iya, ada apa?"tanya Vania ketus.
"Bagaimana?" tanya Radit yang mungkin terasa ambigu buat yang baru mendengar. Namun bagi Vania, dia tahu ke arah mana pertanyaan pria di ujung sana itu.
"Hmm seperti itulah," sahut Vania, malas-malasan.
"Jadi?"
"Ya, jadi bagaimana lagi? Sudah sejauh ini, ya seperti yang kita bicarakan, kita harus konsisten dengan apa yang kita ucapkan. Pernikahan harus tetap berlanjut." ucap Vania, tegas.
"Apa Ayesha juga menyerahkan semua kamu yang urus?" tukas, Vania.
"Hmm, seperti itulah! Aku memberikan beberapa sample dekorasi pernikahan, dia jawab yang mana saja. Aku juga mengirimkan sample bentuk undangan, jawabannya juga tetap sama," terang Radit.
"Bahkan, dia juga tidak mencoba gaun pengantin yang dibuat oleh Retha. Katanya, dia sudah yakin kalau gaun itu pas untuk tubuhnya mengingat yang membuat adalah sahabatnya sendiri," sambung Radit lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak terasa hari ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh Vania, namun hari yang sangat tidak diinginkan oleh Brian. Apalagi hari itu kalau bukan hari pernikahan.
Tampak pemuda itu sudah siap dengan tuxedo pengantinnya. Kalau biasanya wajah calon pengantin akan selalu terlihat bahagia di hari pernikahannya, beda dengan Brian yang terlihat muram.
"Kami sudah siap, Nak?" tiba-tiba di ambang pintu Ayunda mamanya sudah berdiri.
"Sudah, Ma." sahut tanpa senyum sedikitpun di bibirnya.
"Nak, kamu kenapa murung? harusnya kamu bahagia dong. Ini kan hari bahagiamu." ucap Ayunda, sembari melemparkan senyum kepada putranya itu.
"Dia tidak murung, Sayang. Dia hanya merasa tegang saja. Karena sebentar lagi dia akan berganti status," ledek Bima yang juga berada di tempat itu.
Brian mencoba untuk tersenyum mendengar ledekan papanya. Namun, mungkin karena tidak ada niat untuk tersenyum, senyum Brian bukan terlihat seperti sebuah senyuman, namun terlihat seperti seringai.
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi dari sini karena acaranya akan mulai," Bima melirik ke arah jam di pergelangan tangannya.
Ayunda menganggukkan kepalanya, kemudian meraih tangan Brian lalu mengandeng putranya itu melangkahkan kaki menuju tempat di mana Brian akan mengucapkan janji nikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya.
"Aku tidak menyangka kalau aku akan menjadi seorang suami dari wanita yang sama sekali tidak aku cintai. Sekarang aku benar-benar sudah tidak bisa mundur lagi!" batin Brian, nelangsa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brian kini sudah duduk dengan wajah ditekuk. Kursi di sampingnya masih terlihat kosong, karena calon pengantin wanita masih belum datang.
"Kenapa Vania belum juga datang?" tanya Arga pada Kenjo.
"Aku juga tidak tahu," Kenjo mengangkat bahunya. "Atau mungkin dia ingin terlihat sangat sempurna, makanya butuh waktu lama untuk berdandan, sambung Kenjo lagi.
"Pengantin wanita sudah datang dan akan masuk. Pengantin pria harap berdiri!" Brian menghela napas dengan berat kemudian berdiri, begitu mendengar pengumuman.
Kemudian ia, menatap ke arah pintu, menunggu Vania masuk.
Mata pria itu sontak membesar, terkesiap kaget ketika melihat sosok wanita yang berjalan masuk dengan tangan yang menggandeng papanya. Bukan hanya Brian, Arga, Kenjo dan bahkan Brianna sama kagetnya dengan Brian. Bagaimana tidak, pengantin wanita itu bukan Vania melainkan Ayesha.
Sama dengan Brian, wanita yang terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin itu juga tidak kalah kaget dari Brian.
"Ki-kita kenapa ke sini, Pa? Sepertinya kita salah tempat," bisik Ayesha, sembari berbalik hendak beranjak pergi.
"Kamu mau kemana, Sha? Kamu sama sekali tidak salah tempat," Ayesha semakin kaget ketika melihat sosok Radit dan Vania berdiri sambil tersenyum di ambang pintu.
Yang paling membuat kaget, dua orang itu sama sekali tidak mengenakan pakaian pengantin.
Tbc
Ahhh, Sumpah, aku sebagai Author, ikut kaget sumpah. Kok bisa ya? 😁