Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Rencana makan siang



Matahari dari ufuk timur terlihat mulai muncul, namun masih terkesan malu-malu.


Cahayanya mulai masuk membias melalui celah-celah jendela kamar Brian dan menerpa langsung ke wajah pemuda itu.


Mata pria sontak terbuka dan langsung merasa silau. Pria itu mengusap-usap matanya sejenak agar matanya bisa cepat beradaptasi dengan cahaya matahari.


"Sudah jam berapa sih?" gumam Brian sembari menoleh ke arah jam di atas nakas.


"Ahh, masih jam setengah tujuh ternyata. Aku tidur lagi ah," Brian hendak merebahkan tubuhnya lagi, karena memang pria itu masih sangat ngantuk mengingat dia kesulitan tidur tadi malam, akibat bayangan wajah Ayesha yang selalu datang mengganggunya.


Baru saja pemuda itu hendak memejamkan matanya, ia kembali tersentak karena tiba-tiba ingat jadwalnya hari ini.


"Haish, jam 8 kan aku harus di kantor, dan jam 9 harus bertemu klien penting? Berarti aku harus cepat-cepat mandi!" Brian melompat dari tempat tidur dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Brian tidak memerlukan waktu yang lama untuk mandi, seperti biasanya. 10 menit, Brian sudah keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan pakaian kerja. Walaupun dia memilih asal, tapi tetap saja pemuda itu terlihat tetap tampan.


Pemuda itu juga tidak berlama-lama, bersiap-siap. Kurang dari 15 menit, dirinya sudah tampak rapi dan langsung turun menuju ruang makan.


"Pagi semua!" sapa Brian sembari memberikan ciuman singkat di pipi sang mama lalu duduk di samping Brianna


"Aku nggak kamu cium, Ian?" seperti biasa, Briana tidak akan pernah mau absen untuk menggoda adiknya itu.


"Ogah!" sahut Brian singkat.


Brianna sontak berdiri dari tempat dia duduk dan langsung memberikan ciuman singkat di pipi adik kembarnya. "Aku saja yang menciummu,kalau kamu tidak mau!" Brianna tersenyum jahil.


"Kakak! geli ah!" protes Brian sembari mengusap bekas ciuman Brianna di pipinya.


"Oh berani ya, main hapus. Nih aku cium lagi!" Brianna kembali mencium pipi sang adik.


"Berani kamu hapus, aku cium lagi!" ancam Brianna ketika melihat tangan Brian yang terangkat siap mengusap pipinya.


Tangan Brian akhirnya berhenti dan kembali dia turunkan. Dia tahu sekali kalau kakaknya itu tidak akan pernah berhenti menciumnya kalau dia berani mengusap bekas ciuman Kakaknya itu.


"Nah gitu dong," ucap Brianna seraya kembali duduk.


Ayunda dan Bima hanya bisa berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan dua anaknya yang walaupun suka saling menjahili, tapi tetap saling menyayangi.


Brian meraih roti dan mulai mengolesinya dengan selai kacang kesukaannya.


"Nak, kamu kenapa makan roti? kan ada nasi goreng," tegur Ayunda.


"Dia mau sok kebarat-baratan, Ma. Sarapan cukup roti dan susu saja," bukan Brian yang menjawab melainkan si usil Brianna.


"Jangan sok tahu deh! Aku hanya buru-buru karena aku ada bertemu klien pertama kali jam 9 nanti. Sedangkan jam 8, Vania sudah membuat acara penyambutan untukku di kantor. Aku hanya tidak ingin karyawan kecewa, karena usaha mereka untuk membuat acara penyambutan, sia-sia," jelas Brian seraya memasukkan roti ke dalam mulutnya.


"Cih, perempuan itu lagi! Sampai kapan sih dia modus dan cari muka?" Brianna memasang wajah tidak suka.


"Brianna, tidak boleh seperti itu ah!" tegor Ayunda. "Belum tentu kan Vania seperti itu," imbuhnya.


Brianna kembali mengerucutkan bibirnya dan memilih untuk diam. Dia sangat tidak ingin berdebat dengan namanya.


Ayunda kemudian menoleh ke arah Brian yang masih mengunyah roti.


"Yan, mama mau tanya, kamu tidak pernah suka Vania gitu?"


Brian seketika langsung tersedak dan buru-buru minum, saking kagetnya mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut mamanya.


"Yaaa, kali aja kan, kamu suka. Soalnya sudah lama dia terus bersama denganmu. Dia juga ikut kuliah di kampus sama denganmu dan selalu memberikan perhatian padamu. Masa hati kamu tidak tergerak sama sekali?" Ayunda tersenyum kalem.


"Ma, aku dan dia hanya teman tidak lebih. Tidak ada sama sekali perasaan khusus padanya. Jadi, Mama jangan berpikir aneh-aneh!" jelas Brian, lugas.


"Mama gak berpikir aneh-aneh, Nak! cuma mama merasa kalau kamu itu sudah terlalu lama sendiri dan sudah saatnya memiliki pasangan. Mama tidak mau kamu terus-terusan, terkungkung pada masa lalumu. Jadi, menurut mama,Vania itu juga bisa kamu pertimbangkan," ucap Ayunda lagi.


"Mama kenapa sih? Mama Seakan-akan mama ingin menjodohkan Brian dengan wanita munafik itu!" Brianna buka suara dengan raut wajah tidak suka.


"Hush, jaga bicaramu Anna! Mama tidak bermaksud menjodohkan, tapi mama hanya merasa kalau Vania itu tidak seburuk yang kamu kira. Kalaupun dia menyembunyikan perasaannya di balik kalimat 'menganggap Brian sebagai teman saja', mama cukup memakluminya. Coba kamu lihat sisi positifnya. Dia tidak pernah menyerah, dan tetap setia menunggu sampai Brian membuka hatinya sampai sekarang. Itu berarti cintanya pada adik kamu sangat besar. Bukannya itu lebih dari cukup?" tutur Ayunda panjang lebar tanpa jeda.


"Ma, aku akui itu. Tapi, cinta yang besar dan obsesi itu beda tipis. Aku yakin kalau Vania itu hanya terobsesi dan merasa tertantang,mengingat dia tidak pernah berhasil membuat Brian cinta padanya. Kalau Brian tiba-tiba membuka hatinya, aku yakin kalau wanita itu akan berubah, merasa tidak ada tantangan lagi," tutur Vania, menyampaikan opininya selama ini.


"Intinya satu lagi, dia itu wanita paling munafik yang pernah aku kenal. Dia itu pembohong unggul bagiku. Kalau saja dia mengakui dan tidak selalu bersembunyi di balik kata sahabat, mungkin pandanganku akan berubah padanya. Tapi, apa? Dia sampai sekarang tetap bersembunyi di balik kata sahabat kan?" sambungnya lagi.


Ayunda menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali. Wanita paruh baya itu, akhirnya memilih untuk diam.


"Apa sih yang kalian perdebatkan? emangnya Vania menyukaiku? Kan belum tentu!" celetuk Brian.


Brianna berdecak, lalu mengembuskan napas kesal. "Kamu benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh sih? Kamu tidak bisa ya membaca dan merasakannya?" kesal aku!" Brianna merutuki kebodohan adiknya.


"Sudahlah. Tidak usah berdebat lagi! Yang penting aku hanya menganggap Vania teman saja, tidak lebih. Aku berangkat dulu!" pungkas Brian.


"Brian, tunggu dulu!" Brian yang nyaris melangkah, sontak mengurungkan langkahnya, mendengar panggilan papanya.


"Iya, Pa?" tanya Brian.


"Nanti siang kamu datang ke restoran Mentari ya? Nanti kita akan makan siang dengan keluarga sahabat Papa. Soalnya sahabat Papa itu mau kenal kamu,Kamu bisa kan?" tanya Bima.


"Pa, sepertinya tidak bisa. Soalnya aku sudah janji dengan Arga, Radit dan Kenjo mau makan siang bersama. Kapan-kapan saja, ya Pa!" tolak Brian dengan halus.


"Bisa tidak kamu menundanya, Nak? Kamu bisa makan siang kapanpun dengan sahabat-sahabat kamu itu. Tapi, sangat sulit untuk bisa janjian bertemu dengan Om Radit, karena dia sibuk. Bisa ya?"


"Om Radit? Nama sahabat Papa itu Radit?" tanya Brian sembari mengernyitkan keningnya.


"Iya. Emangnya kamu kira sahabat kamu saja yang namanya Radit. Sahabat Papa juga namanya Radit. Bagaimana? Kamu bisa kan?" ulang Bima.


Brian terdiam untuk beberapa saat, mempertimbangkan permintaan papanya.


"Iya in saja, Nak. Om Radit juga punya anak gadis yang cantik. Kalau tidak salah, seumuran dengan kamu. Nanti kemungkinan putrinya itu akan ikut," Ayunda kembali buka suara.


"Apaan sih, Ma? Mama lagi-lagi mau menjodohkan Brian ya?" celetuk Brianna. Wanita berusia 24 tahun itu, benar-benar menunjukkan rasa tidak sukanya.


"Siapa sih yang mau menjodohkan, Nak? Mama itu menyerahkan semuanya pada Brian. Mama tidak mungkin memaksanya. Tapi, kan tidak ada yang salah kalau seandainya adik kamu justru suka? lagian kamu juga tidak boleh egois dengan terus-terusan memaksakan kehendakmu untuk menyatukan adikmu dengan perempuan pilihanmu itu. Kamu kan tahu sendiri, kalau perempuan itu yang membuat adikmu ini menutup hati pada perempuan lain," tutur Ayunda, panjang lebar.


"Ma, aku yakin Ayesha tidak seperti yang dituduhkan Brian. Brian sendiri yang asal main menyimpulkan saja, tanpa bertanya dulu!" Brianna mengerucutkan bibirnya.


"Anna kamu bisa diam tidak, Nak?" Bima akhirnya buka suara dengan suara lembut.


"Tolong jangan paksakan kehendakmu. Ini hidup adik kamu sendiri. Lagian, pertemuan ini juga bukan untuk menjodohkan adikmu dengan anak sahabat Papa itu. Ini murni hanya silaturahmi." Brianna sontak terdiam, tidak berani membantah ucapan papanya itu.


"Bagaimana, Brian? kamu bisa kan?" Bima kembali bertanya.


"Baiklah, Pa. Nanti aku akan reschedule dengan sahabat-sahabatku. Kebetulan juga aku ketemu dengan klien tidak jauh dari restoran Mentari. Aku berangkat dulu ya, Pa!" Brian kembali melanjutkan langkahnya.


Tbc