
Brian melangkah masuk ke dalam rumah dengan raut wajah kusut.
"Akhirnya kamu nyampe juga, Nak?" pria itu langsung disambut dengan pelukan oleh wanita yang melahirkannya. Wanita paruh baya itu terlihat sangat merindukan putranya. Itu terlihat dari pelukan erat dan ciuman berkali di pipi putranya itu.
"Mama kenapa menangis?" tanya Brian, melihat sebuah cairan bening yang menetes membasahi pipi mamanya itu.
"Mama sangat merindukanmu. Walaupun kita sering melakukan video call, tapi mama tetap merindukanmu. Mama tadi sempat khawatir, karena kamu lama nyampe," tutur Ayunda sembari menyeka air matanya.
"Ahh, Mama. Aku juga merindukan, Mama!" Brian pun kembali memeluk mamanya.
"Hai, Pa!" setelah pelukannya dengan sang mama terlerai, pria itupun menyapa Bima papanya.
Bima tersenyum dan memeluk tubuh putranya sekilas.
"Si bawel di mana Ma?" Tanya Brian sembari mengedarkan tatapannya, mencari keberadaan si bawel yang tidak lain adalah Brianna kakak kembarnya.
"Hush, jangan panggil si bawel! Bagaimanapun dia itu Kakakmu!" tegur Ayunda. "Tadi, kakakmu nungguin kamu di sini. Tapi, saking lamanya dia bosan dan masuk ke kamarnya," sambung Ayunda lagi.
"Lagian kenapa kamu bisa lama sih, Yan?" Bima buka suara.
"Emmm, tadi aku singgah sebentar untuk makan sate di jalan Pa. Soalnya aku rindu makan sate," Brian terpaksa berbohong.
"Hei, adikku ternyata sudah nyampe!" tiba-tiba terdengar suara berteriak kegirangan dari anak tangga. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Brianna, kembaran Brian.
Wanita yang juga terlihat semakin cantik itu berlari turun dan tanpa basa-basi langsung memeluk adik yang sangat dia rindukan itu. Wanita itu bahkan tanpa sungkan mencium pipi sang adik berkali-kali, seperti yang dilakukan oleh mama mereka tadi.
"Ish, geli, Kak!" Brian mengusap pipinya untuk menghapus bekas ciuman Brianna.
"Wah, adikku makin berisi saja. Kamu pasti rajin olah raga, bentuk badan ya? Bisa aku lihat perutmu? Pasti kotak-kotak kan?" bukan Brianna namanya kalau peduli dengan penolakan sang adik. Wanita itu justru sekarang berusaha mengangkat baju Brian ke atas, untuk melihat bentuk perut sang adik.
"Kak, geli! bisa menjauh gak sih?" Brian memutuskan untuk mundur, menghindari Brianna.
"Kamu kenapa menghindar sih? Kamu tidak merindukanku?" Brianna berpura-pura memasang wajah cemberut.
"Idih, jangan pasang wajah seperti itu! Aku benar-benar geli melihatnya!"
Brianna terkekeh ringan. Wanita itu benar-benar sangat rindu menjahili adiknya itu. Ia sangat merindukan raut wajah kesal sang adik karena sikap usilnya.
"Kamu benar-benar tidak merindukanku. Aku sedih lho Brian," Brianna kembali berpura-pura memasang wajah sedihnya.
"Atau jangan-jangan kamu hanya merindukan Ayesha?" sambung Brianna, sengaja menggoda adiknya itu.
"Bisa tidak, kamu tidak menyebut nama itu lagi? Ini benar-benar tidak lucu tahu nggak!" Brian benar-benar kesal sekarang.
"Apaan sih? Katanya sudah move-on tapi kenapa dengar namanya saja, kamu langsung marah seperti itu? Biasanya kalau masih marah, itu berarti kamu belum berhasil untuk move-on," tutur Brianna
"Sok tahu!" ucap Brian ketus.
"Aku bukan sok tahu, tapi emang tahu. Lagian, apa susahnya sih bilang 'Ayesha I miss you!" Brianna semakin gencar menggoda sang adik.
Wajah Brian kini benar-benar memerah menahan rasa kesalnya.
"Kalau kamu bukan kakakku, sudah aku sumpal tuh mulut!" ucap Brian yang pastinya hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Sudah, sudah! Kalian baru saja bertemu, tapi sudah berantem saja!" Ayunda buka suara, menghentikan perdebatan kedua anaknya.
"Dia duluan yang memulai,Ma!" protes Brian.
"Siapa suruh, munafik?" Brianna sama sekali tidak mau kalah.
Brian mengembuskan napas kesal, dan akhirnya memilih untuk tidak meladeni Kakaknya itu lagi.
"Aku malas debat denganmu. Aku mau ke kamar dulu. Aku capek mau istirahat. Besok aku ada pertemuan langsung dengan klien pertamaku," pungkas Brian sembari mengayunkan kakinya beranjak pergi.
Brian yang nyaris pergi, menghentikan langkahnya dan menatap ke arah papanya.
"Aku tidak apa-apa, Pa! nanti kalau sudah tidur, aku pasti fresh besok. Aku ke kamar dulu ya, Pa, Ma," Ayunda dan Bima menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Setelah berpamitan, Brian pun kembali melanjutkan langkahnya menaiki undakan anak tangga menuju kamar yang sangat dia rindukan.
"Brian, nanti di kamar jangan lupa teriak Ayesha I miss you, ya!" Brianna nasib tetap berusaha untuk menggoda adiknya itu.
Walaupun kesal, Brian memilih untuk tidak meladeni Kakaknya itu. Pria itu memilih untuk tetap melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Brianna, jangan goda adik kamu lagi! Sekarang kamu juga sudah bisa tidur. Sana kamu tidur!" titah Ayunda membuat Brianna mengerucutkan bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di kamar, Brian memilih untuk menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dari pada masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Kenapa sih aku harus bertemu dengannya lagi? Aku sudah berusaha untuk melupakanmu selama lima tahun ini, tapi kenapa kamu muncul lagi di depanku Ayesha?" ucap Brian dengan mata yang menerawang menatap langit-langit kamarnya
"Kenapa juga jantung ini harus bergetar kembali, ketika melihatmu? Kenapa sih tidak bisa biasa saja? Apa sih maumu jantung?" Brian mulai menggerutu.
Brian mencoba untuk memejamkan matanya. Namun bayangan wajah Ayesha kembali berkelebat, membuat Brian kembali membuka matanya.
"Arghh, benar-benar pengganggu! Bisa tidak kamu berhenti membayangiku?" umpat Brian kesal.
"Sepertinya aku harus mandi dulu, biar pikiranku segar kembali," Brian akhirnya memilih untuk duduk. Ketika dia hendak berdiri, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tampak nama Vania berkedip-kedip di layar ponselnya.
"Kenapa sih dia meneleponku malam-malam begini? Kurang kerjaan aja!" Brian mencoba untuk mengabaikan. Namun, tiba-tiba pria itu merasa tidak tega dan akhirnya memutuskan untuk menjawabnya panggilan Vania.
"Kenapa, Van?" tanya Brian, tanpa basa-basi.
"Brian, kamu sudah sampai rumah ya?" terdengar suara Vania dari ujung sana. Dari nada bicaranya terdengar seperti gadis itu tengah khawatir.
"Aku sudah di rumah," sahut Brian, singkat.
"Kenapa kamu tidak memberitahukan padaku kalau kamu sudah di rumah?" pertanyaan Vania seakan-akan penuh tuntutan.
"Buat apa? Kenapa aku harus menginformasikan kalau aku sudah sampai di rumah?" Brian mengernyitkan keningnya, walaupun wanita di ujung sana tidak melihat kernyitan di dahinya.
"Emm, i-itu ... Aku hanya khawatir saja!" sahut Vania, gugup.
"Kamu tidak perlu khawatirin aku!" ujar Brian, singkat. Bisa dipastikan kalau wajah Vania sekarang pasti memerah, menahan malu.
"Jam berapa besok ketemu kliennya?" tanya Brian sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Jam 9 nan. Kenapa?"
"Di mana? mereka datang ke kantor atau bertemu di tempat lain?" tanay Brian lagi.
"Mereka meminta di cafe, Ian!" jawab Vania lagi.
"Baiklah! kamu kirimkan saja alamatnya, biar aku langsung ke sana!"
"Ta-tapi, Ian. Tadi sudah ada pengumuman, kalau kamu selaku CEO baru akan dikenalkan ke semua karyawan. Mereka pasti kecewa kalau kamu tidak ke kantor lebih dulu," Vania berbicara dengan sangat hati-hati. Dia sengaja membawa-bawa nama Karyawan, padahal dia lah yang sangat menginginkan Brian datang ke kantor lebih dulu, agar dia bisa menunjukkan pada karyawan seberapa dekat dirinya dengan anak pemilik dari perusahan itu. Selain itu, dia juga ingin karyawan melihat dirinya berangkat di dalam mobil yang sama dengan Brian untuk menemui klien.
"Baiklah, aku akan kantor lebih dulu besok. Sebelum menemui klien. Kamu persiapkan saja segala hal yang penting untuk pertemuan itu!" pungkas Brian, akhirnya.
"Siap, Ian!" suara Vania terdengar sangat riang di ujung sana.
Tbc