
"Terima kasih ya, Ian. Kamu sudah banyak membantuku. Harusnya kamu tidak perlu sekejam itu ke mereka,"ucap Ayesha begitu tahu siapa dalang yang sudah menyekapnya dan apa yang sudah dilakukan oleh pemuda itu.
"Apa yang aku lakukan itu tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan, Yesha. Mereka pantas mendapatkannya," sahut Brian dengan raut wajah mengeras.
"Lagian kenapa kamu malah memilih memaafkan mereka sih? harusnya kamu bisa melaporkan mereka. Kamu tahu, kalau semakin lama kamu tidak dilepaskan, kamu bisa kehilangan nyawa kamu!" sambung Brian lagi, tidak puas dengan sikap Ayesha yang memilih memaafkan Dinar dan Aldi.
Ayesha menerbitkan seulas senyuman di kedua sudut bibirnya. Dia bisa melihat jelas kekecewaan di wajah pemuda itu.
"Aku tahu itu, tapi aku rasa mereka berdua masih layak mendapatkan kesempatan. Masa depan mereka masih panjang. Tapi, kalau sekali lagi mereka masih mau mencelakaiku, aku pasti tidak akan mengampuni mereka," jelas Ayesha dengan senyum yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.
"Iya, kalau kamu selamat. Kalau tidak?" Brian masih belum bisa terima alasan Ayesha.
"Sudah, ah. Tidak perlu bahas mereka lagi! kamu tidak capek ya bahas mereka mulu? kita bahas yang lain aja kek," Ayesha mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Emangnya mau bahas apa lagi?" wajah Brian masih benar-benar terlihat kecut.
Ayesha tidak langsung menjawab. Gadis itu terlihat berpikir untuk beberapa saat, sampai akhirnya senyumnya mengembang sempurna, menghiasi bibir tipisnya.
"Bagaimana kalau kita bahas tentang sikap kamu dua hari yang lalu?" ucap Ayesha, dengan binar di manik matanya.
"Sikapku dua hari yang lalu?" Brian mengrenyitkan keningnya. "Emangnya kenapa dengan sikapku dua hari yang lalu?" imbuhnya.
"Emm, dua hari yang lalu kan kamu tiba-tiba diam saja. Kamu bahkan tidak menyapaku, dan bahkan enggan menatapku. Sebenarnya kamu hari itu kenapa?"
Brian sontak mengalihkan tatapannya ke arah lain, menyembunyikan raut wajah kagetnya mendengar pertanyaan Ayesha yang sama sekali tidak dia sangka.
"Brian, kenapa kamu tidak jawab? hari itu kenapa kamu tiba-tiba mendiamkanku?" ulang Ayesha.
"Tidak ada sama sekali. Mungkin itu hanya perasaanmu saja," sahut Brian, membuat Ayesha mengerucutkan bibirnya.
"Aku juga mau tanya kamu, kenapa hari itu kamu bawa kue buatanmu, tapi kamu malah bagi-bagikan ke teman sekelas?" Brian malah balik bertanya.
Ayesha sontak terdiam. Ingin Sekali dia menjawab kalau dia kesal, ketika Vania mengatakan kalau pemuda itu membuang muffin buatannya.
"Aku diam saja deh. Itung-itung balas budiku, karena dia yang sudah membongkar perbuatan Dinar dan Aldi," bisik Ayesha pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu diam, Yesha. Ayo jawab!" desak Brian.
"Em, i-itu karena aku kesal ke kamu lah. Kamu tiba-tiba mendiamkanku tanpa alasan jelas.Siapa coba tidak kesal!" Ayesha kembali memajukan bibirnya.
"Lagian kenapa kamu jadi bertanya balik sih? yang aku tanya tadi saja belum jelas jawabannya. Kamu jawab dulu, kenapa kamu tiba-tiba mendiamkanku?" Ayesha mengulangi pertanyaannya.
"Sialan, kenapa harus ditanya lagi sih?" batin Brian.
"Brian, jawab nggak! kalau kamu nggak jawab, aku bakal tanya terus!"
Brian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Pria itu sekarang benar-benar merasa grogi.
"Kenapa Brian?" Ayesha kembali mendesak, seraya mengguncang-guncang tubuh Brian.
"Iya, iya aku jawab!" sahut Brian, akhirnya.
"Aku mendiamkanmu karena aku kesal ke kamu!"
"Kesal? kenapa kamu bisa kesal ke aku? emangnya aku buat apa sampai kamu kesal?" Ayesha bertanya beruntun, dengan alis yang bertaut.
"Sumpah, aku baru tahu kalau kamu sebawel ini," Brian mulai menggerutu.
"Jawab dulu, Brian. Jangan mengalihkan pembicaraan! kamu kesal kenapa?" seperti biasa, Ayesha tidak akan pernah berhenti sampai dia menemukan jawaban.
Brian berdecak, kemudian mengembuskan napasnya, dengan sekali hentakan. "Aku kesal karena kamu membawakan muffin untuk teman-temanku juga. Aku merasa kalau aku bukan orang yang istimewa lagi bagimu. Aku juga kesal karena mereka lebih dulu mencoba muffin buatanmu dibandingkan aku. Aku benar-benar tidak bisa terima Ayesha!"
Mata Ayesha sontak mengerjab-erjab, mendengar pengakuan Brian barusan. Gadis itu masih berusaha memahami makna ucapan pemuda itu.
"Kenapa hanya gara-gara itu, kamu bisa beranggapan kalau kamu bukan orang yang istimewa lagi? dan kenapa kamu bisa kesal, mereka makan lebih dulu dibandingkan kamu? Lagian salah sendiri yang tidak langsung makan. padahal kan, kamu duluan yang aku kasih," tutur Ayesha, panjang lebar.
"Haish, kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh sih? aku bisa kesal seperti itu karena aku SUKA KAMU, PAHAM NGGAK! Aku kesal karena mereka lebih dulu mencoba buatan kamu, harusnya kan mereka harus nunggu aku dulu?" Brian terlihat sangat berapi-api.
"Ayesha, kenapa kamu diam? kamu dengar aku nggak sih?" Brian terlihat mulai kesal.
"Kamu bilang apa barusan? kamu apa?" ulang Ayesha, memastikan.
"Kamu jangan pura-pura tidak dengar, Ayesha! aku yakin kamu dengar," wajah Brian mulai memerah.
"Aku ingin dengar sekali lagi, Brian. Kali aja aku salah dengar tadi,"
"Haish, kamu benar-benar menguji kesabaranku, Yesha. Untung aku cinta, makanya aku masih bisa bersabar," celetuk Brian, berusaha menahan rasa kesalnya.
"Apa? kamu mencintaiku?" tanya Ayesha, memastikan.
"Iya. Kenapa? kamu tidak percaya?"
"Ini benaran kan? kamu tidak lagi bercanda kan?" pertanyaan Ayesha barusan benar-benar membuat Brian semakin kesal.
"Iya, Ayesha, aku mencintaimu! puas? kamu sudah dengar kan?" Brian mempertegas pengakuannya.
"Terus, bagaimana?" tanya Ayesha ambigu.
"Terus apaan lagi? jangan buat aku bingung deh," Brian mengrenyitkan keningnya.
"Tadi kamu bilang, kalau kamu menyukaiku, bahkan mencintaiku, terus mau kamu apa?" tanya Ayesha lagi.
"Apaan sih? kamu benar-benar tidak jelas, Ayesha. Ya mau aku, kamu itu jadi pacarku lah!" Brian sudah mulai kesal lagi.
"Apaan sih? masa begitu caranya? harusnya kamu bisa lebih romantis ngungkapinnya. Cara kamu tadi itu sama saja seperti pemaksaan," ucapan Ayesha semakin membingungkan Brian.
"Maksud kamu apa sih? harus romantis yang bagaimana? apa aku harus bawa bunga?" tanya Brian.
"Emm,nggak harus, sih. Tapi kamu itu seharusnya ngungkapinnya dengan cara romantis bukan meledak-ledak seperti tadi. Apa kamu merasa kalau sudah ngungkapin semuanya beres dan yakin kalau aku mau jadi pacarmu? harusnya kamu tanya, apakah aku mau jadi pacarmu atau tidak," tutur Ayesha.
"Harus ya, ditanya dulu?" Brian kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Ya haruslah! kalau kamu tidak tanya, bagaimana kamu bisa tahu, kalau aku mau atau tidak?"
"Ya udah, kamu mau nggak jadi pacarku?" tanya Brian. Sumpah demi apapun, pria itu benar-benar malu sekarang.
"Masa begitu sih cara tanyanya? yang romantis dong!" Ayesha mengerucutkan bibirnya.
"Mau kamu apa sih Ayesha? tadi suruh tanya, sekarang aku sudah tanya, bukannya memberikan jawaban, kamu malah minta yang aneh-aneh!" Brian mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu benar-benar geram sekarang.
"Siapa yang minta aneh-aneh? aku hanya ingin kamu meminta aku jadi pacarmu dengan cara romantis, itu saja kok. Apa aku salah?" lagi-lagi bibir Ayesha mengerucut ke depan.
"Masalahnya aku tidak tahu cara romantis, Ayesha. Kamu bisa kasih aku contohnya?"
"Emm oke. Kamu dengar dan pahami ya!" Ayesha berdehem untuk beberapa saat, siap untuk memberikan contoh.
"Yesha, aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukaimu, mungkin sejak pertama aku melihatmu, tapi yang pasti sekarang aku tidak mau mencari tahu lagi kapan aku mulai mencintaimu, karena yang jelas dan aku sadari dengan sepenuh hati, aku yakin kalau aku memang benar-benar mencintaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?" Ayesha mulai merangkai kata-kata romantis, memberikan contoh pada Brian.
"Iya, aku mau!"sahut Brian.
"Hei, aku tadi kasih contoh. Kamu bilang seperti yang aku katakan, Dan yang jawab 'ya aku mau' itu harusnya aku, bukan kamu!" protes Ayesha.
"Ahh, ribet. Intinya kamu sudah tanya, dan aku jawab, 'ya aku mau'. Itu berarti kita sudah pacaran sekarang. Titik tidak pakai koma!" tegas Brian.
"Kenapa jadi begini ya? Kok sepertinya yang ngungkapin perasaan itu aku bukan kamu?" Ayesha menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Tawa Brian pecah melihat ekspresi wajah bingung Ayesha yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Ihh, Brian! kamu benar-benar menyebalkan!" pekik Ayesha sembari memukul-mukul pundak pemuda yang sekarang sudah benar-benar jadi kekasihnya itu.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap ke arah mereka dengan tatapan yang sangat kesal. Siapa lagi pemilik mata itu kalau bukan, Vania.
tbc