
"Apa yang sudah aku lakukan? Jadi selama ini aku hidup dengan kebodohanku sendiri?" Brian mulai merutuki kebodohannya sendiri.
"Goblok, aku benar-benar bego!" umpat Brian lagi yang tentunya masih dia ucap dalam hati.
"Bagaimana bisa aku sangat bodoh saat itu? Bisa-bisanya aku langsung percaya melihat photo itu tanpa bertanya lebih dulu. Arghh, aku benar-benar bodoh!" berulang kalia Brian mengumpati dirinya sendiri bodoh.
"Ayesha, apa kabar?" Brianna yang tadinya sudah gregetan langsung menyapa Ayesha dan tanpa sungkan langsung memeluk wanita yang sangat dirindukannya itu.
"Aku baik, Anna," sahut Ayesha, berusaha untuk tersenyum.
"Lho kalian sudah kenal?" celetuk Radit papanya Ayesha dengan alis bertaut.
"Iya, Om. Kami ini teman SMA dan dia dulu sahabatku bersama Retha," sahut Brianna dengan wajah berbinar.
"Wah, benar-benar tidak disangka ya, Bim. Kita bersahabat, ternyata anak kita juga bersahabat," Radit terlihat begitu bahagia.
Bima menerbitkan seulas senyuman, menanggapi kebahagiaan Radit. Lalu, pria itu mengalihkan tatapan ke arah Brian, untuk melihat ekspresi putranya itu. Melihat ekspresi putranya yang terlihat tegang itu, Pria paruh baya itu benar-benar merasa yakin kalau putri dari sahabatnya itu adalah perempuan yang sudah membuat putranya selama ini menutup diri dari wanita manapun dan putri sahabatnya itu juga adalah sosok yang selalu diinginkan Brianna untuk menjadi adik iparnya.
Ternyata bukan hanya Bima yang menyadarinya, Ayunda juga langsung paham dan tersenyum tipis.
"Ternyata dia sangat cantik, pantas saja putraku bisa jatuh cinta," batin Ayunda.
"Emm, jadi Nak Brian, apa kamu juga sudah kenal dengan anak Om ini?" kali ini Amara mamanya Ayesha yang buka suara.
"Tentu saja, Tante. Mereka itu satu kelas dan bahkan mereka pernah__"
"Om, Tante, ini aku ada bawa kue dari tokoku. Semoga Om dan Tante suka," Ayesha yang sudah tahu apa yang akan disampaikan oleh Brianna, langsung berdiri dan memberikan kue bawaannya pada Ayunda. Ia sengaja melakukan itu, untuk menyela ucapan Briana.
"Oh, terima kasih, Nak Ayesha. Tentu saja kami suka, karena Tante juga dulu sudah pernah makan muffin buatanmu. Kamu pintar bikin kuenya, rasanya enak," puji Ayunda tersenyum penuh makna.
"Haish, mamanya Brian ternyata masih ingat muffin itu," bisik Ayesha pada dirinya sendiri dengan wajah yang berubah merah.
"Ah, terima kasih, Tante. Tapi, aku masih perlu banyak belajar," sahut Ayesha merendah.
"Tunggu, tunggu! Kamu pernah makan muffin buatan Ayesha, Yu? kok bisa?" alis Amara bertaut, bingung.
"Itu udah lama banget, Ara. Sudah 5 tahun yang lalu, ketika mereka masih SMA," sahut Ayunda.
Amara mamanya Ayesha, seketika mengernyitkan kening. Ingatannya, ketika putrinya itu hampir tiap hari buat kue seketika berkelebat di pikirannya. Wanita paruh baya itu ingat betul kalau putrinya itu pernah mengatakan kalau dia ingin membuat kue untuk laki-laki yang disukainya.
"Astaga, jangan-jangan ...." mata Amara membesar dan menatap ke arah Brian, berganti ke arah Ayesha.
Ayesha menggigit bibirnya, karena dia tahu arti dari tatapan matanya. Perempuan itu sekarang sibuk berdoa agar mamanya itu tidak sampai keceplosan.
"Sudah, sudah! Kamu panggil pelayan dan pesan makanan untuk kamu, Nak! Tadi mama nggak pesan, karena takut kamu nggak datang," Radit akhirnya buka suara, membuat Ayesha mengembuskan napas, lega.
"Emm, kayanya nggak usah deh, Pa. Karena aku tidak lapar sama sekali. Soalnya tadi kebanyakan makan kue sama Retha," tolak Ayesha dengan halus, terpaksa berbohong karena dirinya sama sekali tidak ingin berlama-lama di ruangan yang ada Brian.
"Oh, ya udah kalau kamu memang tidak mau makan. Ayo semua, kita lanjut makan!"
Semua akhirnya kembali melanjutkan makan dan Ayesha memainkan ponselnya.
"Hei, bawel, kenapa tadi kamu nggak bawa Retha ke sini?" celetuk Reza setelah makanan di piringnya habis.
"Ehem, ehem!" wanita yang merupakan istri dari Reza itu seketika berdeham, mendengar suaminya mencari wanita yang dia tahu pernah menempati hati sang suami.
"Masih berani nanyain Retha ya? Nggak lihat kalau istrimu ini lagi bawa anakmu di perutku?" istri Reza mulai protes sembari pura-pura memasang wajah marah.
"Cuma tanya aja, Sayang. Tidak punya maksud apa-apa. Kamu tenang saja, cintaku itu hanya untukmu," rayu Reza membuat semua yang berada di ruangan itu tertawa, kecuali Brian dan Ayesha.
"Pa, Ma, sepertinya aku harus kembali ke toko. Tadi aku ninggalin Retha sendiri di sana. Aku bisa pergi kan?" celetuk Ayesha terpaksa berbohong. Wanita itu benar-benar sudah merasa tidak nyaman duduk di dekat Brian.
"Kenapa harus terburu-buru, Sayang? lagian kan ada karyawanmu di sana. Kalau masalah Retha, mama yakin kalau dia pasti sudah kembali ke butiknya. Jadi kamu di sini aja." Amara sama sekali terlihat berat untuk memberikan izin pada putrinya itu.
"Tapi, Ma ...."
"Tidak ada tapi-tapi! Lagian bukannya Nak Brian dan Brianna itu teman SMA mu? Kalian sudah lama tidak bertemu kan? harusnya banyak yang bisa kalian obrolin," potong Amara dengan cepat. Sepertinya wanita paruh baya itu, memang sengaja agar anaknya bisa terlibat pembicaraan dengan Brian yang dia yakini pemuda yang selalu diceritakan putrinya dulu.
"Iya, Ayesha. Aku sangat merindukanmu, masa kamu mau main pergi saja? kamu tidak merindukanku ya?" Brianna memasang wajah memelas.
Ayesha kembali menggigil bibirnya, benar-benar merasa dilema sekarang. Ia benar-benar tidak tega pergi, ketika melihat raut wajah Brianna.
"Nak, Brian kenapa makanan kamu tidak dihabiskan? makanannya tidak enak ya?" tanya Amara dengan mata yang menatap ke arah piring Brian yang masih berkurang sedikit.
"Oh, e-enak kok, Tante. Mungkin karena aku belum terlalu lapar," sahut Brian, berusaha untuk tersenyum.
"Emm, Brianna ... Boleh kan aku panggil nama saja?" Reza kembali buka suara.
"Boleh dong,Om. Aku panggil Om juga lah ya, biar tidak terlalu canggung," Briana tersenyum manis.
"Panggi Kakak saja seperti Retha. Soalnya, aku berasa seperti sudah sangat tua kalau dipanggil Om. Seandainya Ayesha bukan keponakanku, aku juga tidak mau dipanggil Om," jawab Reza membuat semua yang ada di tempat itu tertawa. Tentu saja, tidak dengan Brian dan Ayesha. Brian Benar-benar sangat sulit untuk bisa tertawa hari ini. Mungkin kalau ada yang ngelawak, selucu apapun tidak akan bisa membuat pria itu bisa tertawa.
"Oh iya deh, Kak.Oh ya, tadi Kak Reza mau bicara apa?" tanya Brianna yang yakin kalau om dari Ayesha itu tadi memanggilnya karena ada yang ingin disampaikan.
"Bukannya tadi kamu mau menanyakan sesuatu padaku? Kamu tadi mau tanya apa?". Reza kembali mengingatkan.
"Oh, tidak perlu lagi, Kak. Aku sudah tahu jawabannya.Tadinya aku mau tanya, apa hubungan Kakak dengan Ayesha. Soalnya aku pernah melihat Ayesha memeluk Kakak waktu di Bali, ketika sekolah kami mengadakan perpisahan," tutur Brianna.
Reza mengernyitkan keningnya, berusaha mengingat kejadian yang baru saja diingatkan oleh Brianna.
"Oh iya aku ingat!" seru Reza. "Hari itu memang kebetulan aku dan asistenku ada pekerjaan di Bali. Aku tahu dari kakakku kalau Ayesha juga di Bali. Kebetulan hotel tempat kami menginap tidak jauh dari resort yang disewa sekolah kalian. Makanya, aku berniat untuk menemui Ayesha malam itu juga, karena aku sangat merindukannya. Kebetulan juga besoknya kami harus segera kembali ke Amerika," tutur Reza panjang lebar tanpa jeda.
"Oh, jadi seperti itu? bodoh sekali orang yang menganggap Om dan Ayesha ada pasangan kekasih saat itu," sindir Brianna dengan ekor mata yang melirik ke arah Brian.
"Maksudnya?" celetuk Ayesha lirih dengan alis bertaut.
"Nggak bermaksud apa-apa, Yesha!" sahut Brianna. "Oh ya, saat itu kenapa kamu tiba-tiba hilang, Yesha?" Brianna mencoba mengalihkan pembicaraan
"Tidak apa-apa, hanya ingin cepat pulang saja," sahut Ayesha.
"Bisa dikatakan, tidak ingin cepat pulang sih
Tapi itu karena dia merasa sakit hati dengan pacar brengseknya, yang saat itu yang ternyata hanya mempermainkannya. Kalau bukan gara-gara dilarang Ayesha, saat itu aku ingin memberikan pelajaran buat laki-laki brengsek yang membuat keponakanku menangis. Dan membuat Ayesha menutup hati pada laki-laki sampai sekarang. Padahal banyak yang berusaha mendekatinya. Bahkan Deril asistenku itu saja, berusaha mendekatinya sampai bertahun-tahun, tetap ditolak juga," tutur Reza dengan mata berkilat-kilat penuh amarah. Jangan lupakan Brian yang langsung menundukkan kepalanya, karena pria brengsek yang dimaksud itu adalah dirinya.
"Aku memang bodoh," ucap Brian yang pasti hanya dia ucapkan dalam hati.
"Om, kenapa sih jadi bahas aku? Tolong hal seperti itu jangan dibahas lagi!" Ayesha buka suara dengan nada ketus.
"Tunggu dulu! Papa nggak salah dengar kan Yesha? Dulu kamu punya pacar? Kok papa nggak tahu? Bukannya Papa dulu melarangmu untuk pacaran sebelum lulus kuliah?" Radit yang dari tadi serius mendengar kembali buka suara.
"Bagaimana kamu bisa tahu?kan gak mungkin Ayesha kasih tahu, sementara kamu melarangnya? Kamu bahkan sampai memintanya untuk berpenampilan culun agar tidak ada yang tertarik padanya. Kamu tidak sadar karena penampilannya itu dia sampai sering di-bully di sekolahnya yang lama," bukan Ayesha yang menjawab, melainkan Amara mamanya.
"Apa? Berpenampilan culun?" celetuk Ayunda.
"Iya, Yu! Suamiku ini memang aneh saat itu. Gak habis pikir aku," Amara menggeleng-gelengkan kepalanya dan disambut dengan tawa dari yang lainnya kecuali Brian dan Ayesha.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk Ayesha. Aku hanya ingin di fokus belajar. Ternyata aku bisa juga kecolongan," Radit menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Jadi, penampilan Ayesha yang dulu, itu karena permintaan Om?" tanya Brianna, dan Radit, mengangguk, mengiyakan.
"Tapi, Reza, tadi kamu bilang kalau laki-laki itu brengsek! Apa itu sebabnya Ayesha langsung minta ikut ke Amerika tanpa menunggu pengumuman kelulusan dulu?" tanya Radit lagi, dan Reza menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Wah, coba aku tahu dulu! Aku pasti akan memberikan pelajaran pada laki-laki itu yang sudah menyakiti anakku," ujar Radit sembari mengepalkan tangannya. Pria paruh baya itu terlihat mulai kesal.
Ayunda dan Bima sontak saling pandang, panik, karena mereka sudah tahu laki-laki yang dikatakan brengsek itu adalah putra mereka sendiri.
"Makanya aku tidak kasih tahu, Kak. Karena aku tahu tempramenmu bagaimana," sambar Reza yang disambut dengan tawa dari yang lain.
"Aku dulu bukan sepenuhnya melarang Ayesha untuk bergaul dengan laki-laki. Tapi dulu aku dan Bima pernah berniat untuk menjodohkan anak kami
Iya kan Bim? Makanya agar tidak ada yang tertarik pada Ayesha, aku memintanya untuk berpenampilan culun." Radit menatap Bima meminta dukungan.
"Hahahaha, kamu masih ingat saja. Tapi, kan saat itu kita juga bilang, kalau anak kita sama-sama mau ya ayo ... Kalau mereka tidak mau, kita kan tidak akan memaksa," sahut Bima.
"Jadi bagaimana kalau kita tanya mereka sekarang, mau atau tidak?" usul Radit.
"Aku tidak mau, Pa!" belum sempat Radit bertanya, Ayesha sudah menjawab lebih dulu sembari berdiri dari tempat duduknya. Semua yang ada ditempat itu seketika menatap Ayesha dengan tatapan bingung.
"Lho, kenapa tidak mau?" Radit mengernyitkan keningnya.
"Pokoknya aku tidak mau!" tegas Ayesha.
"Pa, Ma, Om Tante, semuanya, aku mau pamit dulu!" Tidak ingin dicegah lagi, Ayesha langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ayesha, tunggu!" Brian tiba-tiba berdiri dan mengejar Ayesha.
tbc