Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Pertemuan sahabat lama



Arga tercenung, benar-benar tidak bisa bicara apapun melihat kemesraan Deril dan sang istri. "Apa dia menghianati Retha?" bisik Arga pada dirinya sendiri.


"Arghh, bodo amat! Kalaupun dia menghianati Retha, itu bukan urusanku. Bisa aja ini karma buat wanita itu, karena sudah menghianati laki-laki yang tulus mencintainya," batin Arga lagi.


"Kalian udah bengongnya?" celetuk Radit, menyadarkan Brian dan Arga.


"Bukannya tadi kamu bilang kalau akan makan siang dengan keluarga sahabat papamu ya, Brian? Kenapa masih di sini?" kali ini Kenjo yang buka suara.


"Jadi kalian semua sudah tahu kalau Brian tidak jadi makan siang dengan kita?" sambar Vania dengan cepat. Kemudian, gadis itu menoleh ke arah Brian.


"Kenapa aku tidak kamu kasih tahu , Brian? Padahal dari tadi kita bersama di sini," protes gadis itu dengan memasang wajah cemberut.


"Justru karena kamu bersama denganku makanya aku nggak kasih tahu. Aku pikir, toh kamu juga bakal tahu," sahut Brian, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Lagian, bukan keharusan Brian kan, harus kasih tahu kamu?" kembali Radit buka suara menimpali ucapan Brian.


"Ya, memang bukan keharusan, tapi tahu nggak? ini bukan sebatas karena aku bersama dengan Brian yang ujung-ujungnya akan tahu tanpa diberitahu. Tapi, ini sama saja aku seperti tidak dianggap ada. Segitu sulitnya ya, menganggapku ada?" ucap Vania yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Udah dulu ya. Aku harus pergi sekarang. Mungkin semuanya sudah menungguku!" Brian mengayunkan kakinya beranjak pergi.


Baru lima langkah, Brian mengurungkan langkahnya dan kembali berbalik, lalu menatap Vania.


"Van, nanti kamu kembali ke kantor duluan ya! Aku tidak tahu berapa lama nanti acara makan siang kami. Bisa juga kemungkinan nanti kami bahas bisnis. Kamu bisa makan siang dulu dengan mereka bertiga, karena mereka sengaja aku minta datang untuk menemanimu. Aku pergi!" tanpa menunggu jawaban dari Vania, Brian kembali melanjutkan langkahnya.


"Yang aku inginkan itu,bisa berduaan denganmu walaupun hanya sekedar makan siang Brian. Bukan dengan tiga sahabatmu ini. Aku tidak butuh mereka, aku butuh kamu, karena aku sangat merindukanmu. Tidakkah ada sedikit rasa rindu di hatimu untukku?" batin Vania, dengan mata yang menatap nanar ke arah tubuh Brian, sampai tubuh pria itu menghilang dari pandangannya.


"Sakit ya? Aku sudah sarankan, agar kamu menyerah saja," bisik Radit tepat di telinga Vania.


Vania memilih untuk tidak meladeni ucapan Radit. Namun, dia melemparkan tatapan tajam dan sinis ke arah salah satu sahabat dari Brian itu.


Sementara itu, Arga dari tadi terlihat tidak tertarik sama sekali dengan pembicaraan sahabat-sahabatnya, karena pikirannya masih mengambang ke pada satu nama yang tidak lain adalah Retha. Bahkan ia sama sekali tidak menyadari kalau Brian sudah beranjak pergi meninggalkan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Selamat siang semua, maaf aku terlambat!" sapa Brian begitu sudah berada di sebuah ruangan VIP restoran tempat keluarganya akan makan siang dengan keluarga sahabat papanya.


Meja bulat yang ada di ruangan itu tampak sudah dipenuhi dua keluarga. Hanya sisa 4 kursi saja yang kosong.


"Eh, Brian akhirnya kamu datang juga,Nak." Bima berdiri, menyambut putranya itu.


Kemudian, ia menoleh ke arah Radit yang merupakan sahabatnya dulu. "Dit, kenalkan ini putraku, Brian!"


Brian tersenyum ke arah pria paruh baya itu dan langsung menghampiri.


"Aku Brian, Om!" ucap Brian ramah sembari mencium punggung tangan sahabat papanya itu.


"Wah, dia mirip sekali denganmu, Bim. Apa karakter kalian juga mirip?" Radit mulai bercanda.


"Bukan hanya sekedar mirip Om. Semuanya sama persis. Bahkan sampai nama Om dan sahabatnya juga mirip," Brianna yang juga ikut, buka suara.


Radit dan Bima serta istri masing-masing sontak tertawa mendengar ucapan Brianna.


"Om Radit ini dulu sahabat sekaligus orang kepercayaan Papa, sewaktu Papa masih kuliah di luar negri. Dia yang mengurus perusahaan papa di Indonesia. Eh, ternyata dia tidak mau hanya jadi asisten saja, dia malah mendirikan perusahaan juga dan sekarang sudah sangat maju, bahkan juga ada di Amerika," tutur Bima menjelaskan panjang lebar tanpa jeda.


"Ah kamu terlalu berlebihan memujiku, Bim. Kamu juga punya kan di luar negri. Bahkan aplikasi game buatanmu sudah dipakai di seluruh negara," sahut Radit merendahkan diri.


"Eh, kamu bilang kalau adik kamu yang mengelola perusahaanmu di Amerika juga akan ikut makan siang dengan kita. Dia ada di mana?" Bima mengalihkan pembicaraan.


"Emm, tadi dia sudah sempat datang ke sini. Tapi, tadi istrinya minta dijemput di bakery putriku. Kebetulan hari ini grand opening toko kue putriku Bim,"


"Oh ya? Jadi kenapa kalian semua ada di sini bukannya menghadiri grand opening toko kue putrimu? Untuk urusan makan siang kan kita bisa jadwal ulang," Ayunda yang dari tadi diam saja, buka suara dengan alis bertaut.


"Acaranya sudah dari tadi pagi, Yu. Kami duluan saja ke sini, dan anakku di sana karena ada yang harus diurus. Nanti kalau urusannya sudah selesai, katanya dia akan berusaha untuk datang ke sini," Amara, istri Radit buka suara. Jangan lupakan Brian dan Brianna yang hanya diam saja mendengarkan pembicaraan dua pasangan paruh baya itu.


Pintu ruangan itu berdecit, dan terlihat dibuka oleh seseorang.


"Nah, itu adikku, Bim!" seru Radit dengan senyum lebar.


Sementara itu mata Brian membesar sempurna terkesiap kaget melihat siapa sosok pria yang baru saja masuk itu. Bagaimana tidak ...pria itu adalah Reza, pria yang bari saja menandatangani kontrak pekerjaan dengannya. Bukan hanya Brian, Brianna juga ikut kaget karena dia ingat betul kalau dia adalah pria yang dipeluk Ayesha di photo.


"Ini kesempatanku. Aku akan tanya, apa hubungannya dengan Ayesha, biar jelas," batin Brianna, penuh tekad.


"Reza, kenalkan ini Bima, sahabat yang pernah Kakak ceritakan?" Radit kembali buka suara, memperkenalkan Bima.


"Halo, Pak Bima! Aku Reza," Reza menjabat tangan Bima dengan erat, lalu beralih ke arah wanita yang duduk di samping pria itu yang tidak lain adalah Ayunda.


"Za, ini anak-anak dari Bima," Radit menunjuk ke arah Brian dan Brianna.


"Lho, Pak Brian! Jadi anda ini anak dari Pak Bima?" sapa Reza yang tidak kalah kagetnya dari Brian.


"Lho kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Bima dengan kening berkerut.


"Kami baru saja kenal tadi, Pa. Pak Reza ini klien yang aku temui tadi," jelas Brian.


"Oh, seperti itu? Jadi bagaimana? Apa kalian sudah setuju bekerja sama?" tanya Bima memastikan.


"Sudah, Pak Bima. Aku merasa putra Pak Bima ini sangat berkompeten dan visioner. Aku semakin yakin dengan keputusanku setelah mengetahui kalau dia adalah putra Pak Bima," sahut Reza.


"Reza, bukannya tadi kamu bilang mau jemput istrimu? Tapi di mana dia?" tanya Amara sembari melihat ke arah pintu.


"Sebentar lagi mungkin dia akan masuk, Kak. Dia tadi izin ke toilet sebentar," sahut Reza sembari mendaratkan tubuhnya duduk di kursi.


Jantung Brian sontak berdetak kencang. Telapak tangannya seketika langsung berkeringat dingin, karena yakin kalau istri dari Reza adalah Ayesha.


"Ya, Tuhan. Apakah aku akan kuat nanti melihat kebersamaan mereka?" bisik Brian pada dirinya sendiri.


"Tenang, Brian! Kamu harus kuat. Kamu tetaplah bersikap biasa, tunjukkan kalau kamu itu baik-baik saja!" Brian memberikan semangat pada dirinya sendiri.


Brianna yang dari tadi sudah merasa gregetan ingin bertanya ke Reza, menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya kembali ke udara, guna meredam kegugupan dirinya sendiri.


"Emm, Pak Reza ...aku sebaiknya panggil apa ya?" Brianna menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Terserah kamu mau panggil apa. Tapi tolong jangan panggil Om, walaupun aku adik dari Kak Radit. Aku masih muda soalnya, belum jadi Om-om!" Reza mulai bercanda.


"Oh, jadi aku panggil Pak Aja deh ya ... begini Om aku mau tanya__"


"Selamat siang!" belum sempat Brianna menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba pintu kembali terbuka dan seorang wanita yang sedang hamil masuk ke dalam ruangan dengan senyum lebar di bibirnya.


Reza terlihat dengan sigap langsung berdiri dan menarik kursi kursi kosong di sebelahnya.


"Ayo duduk, Sayang!" ucap Reza, membuat Brian dan Brianna langsung saling silang pandang dengan ekspresi kebingungan.


"Sayang? Dia panggil wanita itu dengan Sayang? Itu berarti istirinya. Jadi ... Istrinya bukan Ayesha? Apa Ayesha ditinggalkan pria ini?" bisik Bria pada dirinya sendiri.


"Oh ya, Sayang, kenalkan ini Pak Bima dan Ini istrinya. Lalu yang dua itu anak mereka," Wanita hamil itu kembali berdiri, lalu menjabat tangan Bima, Ayunda dan tersenyum manis ke arah Brian dan Brianna.


"Lho, putrimu di mana, Dit? Dia tidak jadidatang?" tanya Ayunda memastikan.


"Tadi keponakanku bilang, kalau sempat dia akan menyusul, Pak Bima. Tadi ada sedikit masalah, makanya dia tidak ikut kami," buka. Radit yang menjawab melainkan Reza.


"Oh ya, maaf. Tadi sempat terpotong! Tadi, kamu mau bertanya apa, Briana?" tanya Reza kembali menatap ke arah Brianna.


"Oh tadi aku__"


"Nanti saja tanyanya. Kita pesan makan saja dulu!" potong Bima, membuat Brianna langsung mengurungkan ucapannya.


Tbc