Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Welcome baby Aleena



Brian sontak mengangkat tubuh Ayesha ala bridal style, untuk menuju rumah sakit.


"Nak, nak, kenapa sih kamu mau keluar, tidak kenal waktu? kenapa harus sekarang coba? Besok kan bisa." gumam Brian yang dia kira tidak didengar oleh sang istri.


Mendengar gerutuan Brian membuat, menarik keras rambut suaminya itu. Bagaimana tidak? Ia begitu kesal karena dalam keadaan dirinya yang kesakitan, masih sempat-sempatnya Brian suaminya menyeletuk seperti itu.


"Sakit, Sayang!" rintih Brian.


Ayesha masih ingin memaki, tapi wanita itu seakan tidak memiliki tenaga untuk marah-marah.


Ayesha tidak berhenti berteriak di dalam mobil, yang dikemudikan oleh salah satu anak buah Brian. Dari tadi rambut pria itu jadi sasaran Ayesha. Brian kesakitan tapi dia hanya bisa pasrah. Bukan hanya rambut yang jadi sasaran, tapi juga pakaian yang dikenakan oleh Brian juga jadi korban. Bahkan kancing jas yang pria itu pakai sudah tidak tahu kemana jatuhnya, demikian juga dengan kancing kemeja atasnya sudah copot, hilang entah kemana.


Brian hanya bisa diam karena dia berpikir kesakitan yang dirasakannya tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan sang istri.


"Sabar, ya Sayang! sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." ucapnya di tengah kepanikannya.


"Aku bisa sabar! Anak kamu ini yang tidak mau sabar mau keluar, Brian!" saking sakitnya, Ayesha membentak Brian sambil menyebut nama suaminya itu tanpa embel-embel kata Sayang.


Brian akhirnya memilih untuk diam, karena menurutnya tidak ada gunanya, membalas ucapan istrinya itu dalam keadaan kesakitan seperti itu.


Begitu sampai di depan rumah sakit, dokter yang tidak lain adalah Tisha dan beberapa perawat sudah standby, menunggu karena sudah diperintahkan oleh Bima sebelumnya. Para petugas medis itu segera membantu Brian membaringkan Ayesha di atas brankar dan langsung mendorong brankar itu menuju ke ruang bersalin.


Beruntungnya, acara pernikahan Brianna dan Kenjo benar-benar sudah selesai, sehingga tidak perlu untu menunggu lama, seluruh keluarga kecuali pengantin baru, sudah ada di depan ruang bersalin.


Sementara itu di dalam ruangan bersalin, Ayesha masih tetap merintih kesakitan.


"Tis, aku sudah tidak kuat lagi!" Ayesha memegang perutnya yang memang rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Bahkan napas wanita itu sudah tersengal-sengal, membuat wajah Brian seketika panik.


"Tisha, aku tidak mau tahu, pokoknya sekarang,keluarkan anakku! Segera!" titah Brian dengan tatapan dan ucapan yang mengintimidasi.


"Enak aja, asal main keluarkan! semuanya ada prosedurnya, Kak. Kamu mau kalau anakmu asal dikeluarkan begitu saja, tapi nyawa istrimu terancam?" ucap Tisha yang merasa tidak takut sedikitpun dengan tatapan penuh intimidasi dari kakak sepupunya itu.


"Ya, nggak mau dong," jawab Brian dengan cepat.


"Nah, kalau begitu sebaiknya Kakak diam saja. Biarkan kami para medis yang bekerja!" Brian akhirnya terdiam tidak berani untuk berbicara lagi.


"Kamu baring lagi yuk, Kak Yesha! kita coba cek lagi, sudah pembukaan berapa sekarang." ucap Tisha dengan ekspresi tetap tenang.


"Hmm, sekarang sudah pembukaan delapan. Sabar ya Kak! Kita tinggal nunggu sebentar lagi pembukaannya akan sempurna." senyum Tisha tetap tidak tanggal dari bibirnya, berusaha untuk menenangkan istri dari kakak sepupunya itu.


"Tis, sakit banget, Tis!" rintih Ayesha kembali, sembari mencengkram kuat lengan Brian, hingga lengan pria itu mengeluarkan darah akibat terkena kuku-kukunya yang panjang. Akan tetapi, Brian tidak memperdulikan sama sekali rasa sakit di lengannya itu, karena rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan istrinya saat ini.


"Sabar ya, Kak! justru rasa sakitnya ini yang ditunggu saat mau melahirkan, kalau tidak sakit sama sekali, justru itu yang dikhawatirkan." Tisha, masih dengan sabar memberikan semangat.


"Sabar, Sayang! ingat sebentar lagi, kita akan bertemu dengan anak kita. Kamu Pasti kuat, Sayang," Brian, ikut memberikan semangat.


Tidak berselang lama, Tisha kembali mengecek pembukaan Ayesha, dan senyum wanita itu langsung mengembang ketika pembukaannya sudah sempurna.


Setelah ketubannya pecah, Ayesha semakin meraung-raung karena, rasa sakitnya semakin bertambah, di mana bayinya sekarang benar-benar ingin menerobos jalan lahir dengan paksa.


"Ayo, kak dorong kuat! kepala bayinya sudah terlihat, ayo semangat!" Tisha a berkali-kali memberikan semangat.


"Ayo, Sayang, kamu pasti bisa! kamu wanita yang kuat. I love you, Sayang! Brian juga tidak berhenti untuk memberikan semangat.


Di saat mendengar kata I love you dari suaminya dan juga mendengar kalau kepala anaknya sudah terlihat, saat itu pula kekuatan Ayesha serasa berkumpul menjadi satu. Dengan semangat, dia berteriak dengan keras sambil mendorong bayinya. Suara tangisan bayi perempuan langsung terdengar mengisi ruangan itu. Dengan tersenyum bahagia, Tisha pun menyerahkan bayi perempuan itu pada perawat agar segera dibersihkan.


Pipi Brian kini sudah basah dengan air mata, melihat perjuangan sang istri saat melahirkan anaknya.


"Terima kasih, Sayang! kamu sangat hebat!" Brian memberikan kecupan di kening Ayesha yang juga tersenyum bahagia.


Sementara itu, keluarga yang sudah berkumpul di luar seketika menarik nafas lega, begitu mendengar tangisan bayi dari dalam.


"Selamat ya, Kak Brian, Kak Yesha, akhirnya kalian sudah sah menjadi seorang ayah dan ibu," ucap Tisha sembari membersihkan Ayesha.


"Terima kasih, Tis," sahut pasangan suami-istri istri itu hampir bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah Ayesha selesai dibersihkan, Ayesha pun dipindahkan ke ruangan perawatan, dan rentetan ucapan selamat langsung diterima oleh wanita itu dari semua keluarga dan sahabat. Bahkan sekarang pengantin baru Kenjo dan Briana juga tampak sudah hadir. Karena mereka langsung menyusul setelah berganti pakaian


"Ih, cantik sekali cucu Oma," ucap Ayunda sambil mengambil alih baby girl itu dari tangan perawat yang baru saja masuk dengan membawa bayi Brian dan Ayesha di tangannya.


"Siapa nama cucuku ini Brian? Kalian yang kasih nama atau papa yang kasih nama? Kalau kalian yang kasih, jangan susah-susah, biar papa, gampang mengingatnya." Bima buka suara dan tentu saja dibalas dengan tawa oleh semua yang ada di ruangan itu.


"Tentu saja kami yang kasih nama, Pa. Tenang saja, namanya gak susah. Namanya Aleena Damara. Aleena itu cantik dan Damara itu, perempuan kuat. Karena aku yakin kalau dia akan cantik dan kuat seperti mamanya," ucap Brian tegas dengan senyum yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.


"Emm, nama yang bagus. Welcome to the world Baby Aleena!"


Di sisi lain, tampak Arga menatap dengan tatapan penuh makna, saat bayi Aleena kini ada di gendongan Brian sahabatnya. Entah apa yang dipikirkan pria itu, tapi yang jelas, Retha tahu kalau suaminya itu sangat ingin memiliki seorang anak.


"Sayang, kamu benar-benar ingin punya anak ya?" bisik Retha tepat di telinga Arga.


Mendapat pertanyaan yang tiba-tiba dari sang istri, Arga sontak tersadar dan seketika merasa tidak enak hati. Dia yakin, kalau istri itu pasti merasa sedih dan merasa bersalah karena belum hamil.


"Emm, kenapa bertanya seperti itu? Sudahlah, kamu jangan berpikir yang macam-macam! Aku tidak akan pernah menuntutmu. Jodoh, rejeki dan anak itu di tangan Tuhan!" Arga kembali berbisik sembari mengelus-elus pundak sang istri.


"Aku tahu itu, Sayang. Tapi, Tuhan lagi baik ke kita, karena sebentar lagi, kamu juga akan jadi seorang ayah!" Retha kembali berbisik, dibarengi dengan senyum lebar di bibirnya.


"APA?" tanpa sadar Arga berteriak, sakit terkejutnya.


Teriakan Arga sontak membuat semua yang berada di ruangan itu tersentak kaget. Beruntungnya teriakan Arga tidak membuat baby Aleena tidak merasa terganggu.


Tbc