
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di toko kue milik Ayesha yang baru saja grand opening, tampak dua perempuan yang tidak lain adalah Ayesha dan Retha sedang bercengkerama sembari sesekali tertawa. Sepertinya dua perempuan itu baru saja selesai dengan kesibukan mereka.
"Tha, terima kasih ya sudah bantu!" ucap Ayesha sembari melepas apron yang dia pakai.
"Sama-sama! Kamu ini macam siapa saja pakai terima kasih." sahut Retha.
"Hush, bagaimanapun kita harus tetap ingat untuk berterima kasih, sekalipun kamu itu sahabatku. Bagaimana sih?" Ayesha mengerucutkan bibirnya.
"Iya, iya deh. Gitu aja cemberut. Oh ya, sekarang kamu jadi pergi ke acara makan siang keluargamu itu?" Retha juga ikut melepaskan apron yang menempel di tubuhnya.
"Sebenarnya sih aku malas, Tha. Tapi aku nggak enak sama papa dan mama. Jadi, sepertinya aku memang harus ke sana. Tidak apa-apa kan telat sedikit?" sahut Ayesha dengan wajah yang terlihat lelah.
" Lebih baik telat sedikit, Sha daripada tidak datang sama sekali. Lagian, mereka pasti maklum, kenapa kamu bisa telat." jawab Retha dengan bijaksana.
"Iya sih," Ayesha, tersenyum tipis.
"Ya udah deh, aku pergi sekarang aja ya, Sha. Kamu tidak apa-apakan aku tinggal?" ucap Ayesha sembari mematut dirinya di depan cermin sembari memperbaiki sedikit rambutnya.
"Tidak apa-apa kali, Sha. Lagian, aku juga mau kembali ke butikku. Kamu pergi dulu sana!" Ayesha menganggukkan kepalanya, dan meraih tasnya.
"Sha, kamu nggak mau bawa kue-kue ini sedikit sebagai oleh-oleh?" Retha mencoba menahan sahabatnya itu agar tidak langsung pergi.
Ayesha yang nyaris mencapai pintu, langsung berhenti dan kembali menoleh ke arah sahabatnya.
"Ya, kamu benar juga!" Ayesha kembali masuk sembari cengengesan.
Kemudian, wanita itu mulai mengisi tiga kotak dengan kue-kue yang ada di etalase jualannya.
"Aku rasa ini sudah cukup. Aku pergi dulu ya, Tha. Kamu hati-hati kalau balik ke butik nanti!" Setelah menitipkan toko pada karyawannya, Ayesha pun mengayunkan kakinya, kembali melangkah keluar dari toko kuenya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah cafe, tampak Arga masih tetap fokus menatap ke arah Deril yang tampak mesra dengan istrinya.
"Arghh, aku tidak bisa begini terus. Aku harus tanya dia sekarang juga. Aku tidak mau terus-terusan penasaran," batin Arga, sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Arga kamu mau kemana?" tanya Radit sembari dengan alis bertaut melihat sahabatnya yang tiba-tiba berdiri.
"Aku mau menghampiri pria itu, Dit. Aku tidak bisa begini terus, aku harus tanya, apa yang sudah dia lakukan pada Retha," ucap Arga.
Kenjo sontak berdiri dan meraih tangan Arga agar duduk kembali.
"Please jangan ambil resiko, Ga. Kamu lihat dia bersama istrinya sekarang. Dengan kamu bertanya mengenai Retha di depan istrinya, mereka bisa-bisa bertengkar hebat. Rumah tangga mereka bisa hancur. Kamu tidak kasihan pada istri dan anaknya itu?"Kenjo mencoba untuk menasehati.
"Benar kata Kenjo, Ga. Kamu harus tahan diri kamu!" Radit buka suara menimpali ucapan Kenjo.
Arga menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali untuk meredam keinginannya untuk tetap menghampiri Deril, karena menurutnya yang dikatakan Kenjo dan Radit itu benar.
"Lagian, aku kira kamu sudah tidak mau terlibat lagi dengan hal yang berhubungan tentang Retha. Tapi, kenapa sekarang kamu seolah-olah masih peduli padanya dan jutga seakan tidak rela kalau ada yang menyakitinya? Kamu masih sayang dan belum bisa melupakan Retha ya?" sambung Radit lagi.
Jangan lupakan ekspresi Vania yang hanya diam saja. Wanita itu terkesan tidak tertarik sama sekali dengan apa yang dibicarakan oleh tiga pria itu. Karena pikirannya masih tentang Brian yang masih belum bisa membuka hati untuknya.
"Kenapa kamu tidak jawab, Ga? Apa dugaanku benar?" ulang Radit, tidak puas karena belum mendapatkan jawaban dari Arga.
"Sudahlah, tidak perlu bahas lagi!" pungkas Arga sembari mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia sengaja menghindar untuk menjawab pertanyaan Radit.
"Fix, kamu masih belum bisa melupakan Retha!" pungkas Radit menyimpulkan sendiri dan Arga tetap memilih untuk tidak menanggapi.
Entah bisikan dari malaikat mana, Arga tiba-tiba memiliki niat untuk membuka blokiran nomor Retha yang sempat dia blokir dulu.
Ting .. Ting
Begitu terbuka, langsung terdengar bunyi notifikasi pesan masuk.
Mata pria itu sontak membesar membaca pesan yang belum sempat dia baca dulu.
"Beb, kamu salah paham! Aku tidak ada hubungan sama sekali dengan salah satu dari pria-pria itu. Aku hanya tidak tega membiarkan Ayesha sendiri, Beb. Dia sedang patah hati karena ulah sahabatmu yang brengsek itu. Lagian salah satu pria itu omnya Ayesha. Adik dari papanya Ayesha yang baru tiba dari Amerika dan kebetulan ada pekerjaan di Bali. Dan yang satu lagi itu asisten Om nya. Aku aja baru bertemu mereka hari ini,"
"Goblok! Bego!" pekik Arga dengan suara tinggi setelah membaca pesan yang terkirim lima tahun yang lalu itu. Teriakan pria itu tentu saja membuat Kenjo, Radit dan Vania tersentak kaget.
Bukan hanya tiga orang itu yang kaget, bahkan seisi kafe juga ikut kaget, tidak terkecuali Deril dan istrinya.
"Arga, kamu kenapa teriak?" Kenjo mengernyitkan keningnya.
"Arghh, aku benar-benar goblok!" bukannya menjawab pertanyaan Kenjo, Arga justru menggusak rambutnya dengan kasar.
"Dan ini semua gara-gara kamu, brengsek!" pekik Arga lagi sembari menggebrak meja dan menatap Vania dengan tatapan tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung.
"Ka-kamu kenapa? apa maksud ucapanmu tadi? Emangnya aku ada buat salah apa?" wajah Vania terlihat begitu pucat bercampur bingung.
"Kamu masih mau berpura-pura tidak tahu, Hah? Kamu yang menyebabkan aku salah paham pada Retha. Begitu juga Brian ke Ayesha!" Kemarahan Arga terlihat berapi-api sampai napas pria itu terlihat memburu.
"Ma-maksud kamu apa? Aku benar-benar tidak mengerti," Vania terlihat semakin bingung dan ketakutan.
"Arga, kamu tenang dulu! Ini tempat umum, jangan buat keributan!" Radit menarik tangan Arga agar sedikit menjauh dari Vania.
"Tolong jelaskan apa sebenarnya yang terjadi? Salah paham apa yang kamu maksud?" tanya Radit lagi.
Arga sama sekali tidak menjawab. Pria itu masih menatap Vania dengan tatapan penuh kebencian.
Kenjo yang menyadari kalau, Arga tiba-tiba seperti itu setelah membaca sesuatu di ponsel, langsung meraih ponsel Arga untuk mencari tahu sendiri.
Pria itupun sontak mengembuskan napas dengan sekali hentakan, langsung paham kenapa Arga bisa semarah itu.
"Arga, kamu juga tidak boleh menyalahkan Vania. Kamu juga salah, tidak mencari tahu lebih dulu tapi sudah langsung menyimpulkan. Kamu bahkan meminta kami untuk ikut-ikutan memblokir nomor Retha," ucap Kenjo.
Radit terlihat semakin bingung, benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan Kenjo.
"Ini sebenarnya ada apa sih?" tanya Radit dengan tautan di alisnya.
Tbc