
Brianna tidak memerlukan waktu yang lama di dalam toilet. Sekarang dia berjalan hendak kembali ke dalam kelasnya. Namun, tiba-tiba dia ingat sesuatu yang tadi dia niatkan setelah selesai dari toilet.
Entah apa yang akan dilakukan gadis itu, tapi yang jelas dia tidak berjalan lurus melainkan berbelok dan berjalan mengendap-endap ke arah sekelompok siswa yang sedang istirahat habis olah raga.
"Sini kamu sebentar!" Brianna menarik tangan salah satu dari siswa-siswa itu, hingga membuat yang bersangkutan kebingungan.
"Ada apa, Kak? kenapa narik-narik tanganku?" ucap pemuda yang ternyata adik kelas Brianna.
"Sini handpone kamu!" Brianna menengadahkan tangannya ke arah adik kelasnya itu.
"Heh, kenapa Kakak meminta handponeku?" pemuda itu terlihat sedikit gugup.
"Jangan berpura-pura tidak tahu deh! kamu pikir tadi aku nggak lihat, kalau kamu mengambil photo mereka berdua?" Brianna menunjuk ke arah Brian dan Ayesha yang masih berdiri di depan kelas dan terlihat seperti bermusuhan.
Wajah adik kelas Brianna sontak berubah pucat mendengar ucapan Brianna ditambah ketika tatapan kakak kelasnya itu begitu tajam padanya.
"Ka-Kakak salah lihat. Aku sama sekali tidak mengambil photo mereka," Dia masih berusaha untuk menyangkal.
"Kamu kira mataku buta? aku lihat tadi kalau kamu memang mengambil photo mereka. Kamu mau post photo itu di media sosialmu untuk menambah followers mu kan? ingat kalau kamu mempostnya tanpa izin yang bersangkutan, kamu bisa kenapa pasal UU ITE. Kamu mau?" ancam Brianna dengan tatapan yang semakin tajam.
"Ti-tidak mau, Kak!" adik kelas itu terlihat sudah mulai panik.
"Kalau tidak mau, sini handponemu!" Briana kembali menengadahkan tangannya ke arah adik kelasnya.
Pemuda itu dengan tangan yang sedikit bergetar, akhirnya merogoh saku trainingnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam.
"Kak, biar aku saja yang hapus, nih lihat!" baru saja pemuda itu hendak menekan tombol delete, Brianna dengan cepat menahannya.
"Tunggu, jangan dihapus dulu! coba aku lihat!" Brianna merampas handphone itu dari tangan sang adik kelas.
Bibir wanita itu sontak mengukir sebuah senyuman licik penuh muslihat ketika melihat hasil photo yang menurutnya sangat bagus. Di mana tepat di saat Ayesha menyuapkan coklat ke dalam mulut Brian, adiknya.
"Bagus juga nih photo untuk manas-manasin si Vania lampir itu!" bisik Briana pada dirinya sendiri, dengan tetap tersenyum licik.
"Emm, sebelum kamu hapus, kamu kirim dulu photo ini ke nomorku!" titahnya.
"Ta-tapi, Kak, aku tidak punya nomor kakak. Bagaimana aku bisa mengirimkannya?"
"Iya, aku tahu kalau kamu tidak punya nomorku. Aku akan kasih tahu kamu ... emm, bagaimana kamu ambil lagi photo mereka berdua beberapa lagi? baru kamu kirim semua ke nomorku, cepat!" Briana menepuk pundak adik kelasnya itu dengan sedikit keras.
"I-iya, Kak!" pemuda itu pun mulai mengarahkan kamera ponselnya ke arah Brian dan Ayesha, lalu mengambil beberapa photo.
"Nih Kak, hasilnya!" pemuda itu memberikan ponselnya ke tangan Brianna.
Brianna sontak tertawa cekikikan. melihat hasil photo yang Benar-benar sesuai ekspektasinya. Namun selain photo di saat Ayesha menyuapkan coklat ke mulut adiknya, ada satu photo lagi yang membuat dia senang yaitu photo di saat Brian tengah melirik Ayesha.
"Bagus! sekarang kirimkan ke nomor ku!" Brianna kemudian menyebutkan nomor yang dengan semangat diketik sang adik kelas.
"Udah semua, Kak!" pemuda itu menunjukkan bukti yang dia sudah melakukan hal yang diminta Brianna.
"Terima kasih! ingat hapus semua photo-photo itu! kalau ada yang post selain aku, aku bisa pastikan kalau itu kamu! seandainya kamu pakai akun lain pun, jangan lupa kalau papaku pasti akan tahu!" bisik Brianna, yang dengan cepat langsung diiyakan oleh adik kelasnya itu.
"Kenapa kamu kegirangan seperti itu? tadi Kak Brianna ngomong apa sama kamu?" cecar salah satu temannya.
"Kalian tahu nggak, aku punya nomor Kak Brianna. Serasa mimpi, aku punya nomor gadis idola di sekolah ini!" seru pemuda itu dengan ekspresi wajah yang benar-benar bahagia.
"Serius kamu? kok bisa?"
"Bisalah! Dan asal kalian semua tahu, bahkan Kak Brianna sendiri yang kasih nomornya tanpa aku minta. Aku benar-benar kaya mendapat durian runtuh deh!" dengan bangganya pemuda itu bercerita, bahkan sampai melebih-lebihkan.
"Ihh, beruntung banget kamu. Bagi kita-kita dong!"
"Maaf, tidak bisa!" dengan sombongnya pemuda itu beranjak meninggalkan teman-temannya yang tentu saja langsung menyorakinya.
Sementara itu di tempat lain, seorang pria paruh baya yang merupakan supir pribadi keluarga Brian, merogoh ponselnya karena dari tadi ponselnya itu berbunyi pertanda ada pesan yang masuk.
Pria itu memicingkan matanya saat pesan itu datang dari nomor yang tidak dikenal dan berisi photo-photo Tuan mudanya dengan seorang gadis yang dia tahu kemarin dia antar pulang ke rumahnya.
"Aneh, kenapa photo-photo ini dikirim ke nomorku? apa orang ini punya maksud jahat?"batin pria paruh baya itu yang mulai overthinking.
Baru saja dia hendak menelepon si pengirim, sebuah pesan kembali masuk dan kali ini dari Brianna, non
a mudanya.
"Pak, tadi ada kiriman photo Brian dan Ayesha kan? jangan dihapus ya! kirimkan ke nomorku sekarang, baru nanti Bapak bisa hapus!"
Pria paruh baya itu sontak berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia langsung paham kenapa Nona mudanya itu memberikan nomornya ke orang asing. Yang pasti itu karena Nona mudanya itu tidak mau orang lain tahu nomornya kecuali orang-orang dekat.
Kembali ke ruangan kelas Brianna, terlihat gadis itu senyum-senyum geli, membayangkan photo-photo yang dia dapat barusan.
"Kenapa kamu senyum-senyum, Anna? apa ada sesuatu yang lucu?" bisik seorang perempuan yang duduk satu meja dengannya.
"Bukan urusanmu!" sahut Brianna ketus.
"Anna, kamu kenapa sih seketus itu ke aku? apa kita tidak bisa bersahabat seperti dulu lagi?" bisik perempuan itu lagi sembari memasang wajah memelas.
" Tidak bisa lagi, Nar! karena aku sudah sangat kecewa ke kamu, begitu tahu niatmu mau berteman denganku selama ini hanya karena tahu siapa orang tuaku dan ingin mendekati adikku. Kamu itu sama sekali tidak tulus!" cetus Brianna.
"Anna, itu dulu. Kalau sekarang aku itu tulus," gadis bernama Dinar itu lagi-lagi memasang wajah memelas.
"Yakin, tulus? kamu kira aku tidak dengar pembicaraan kamu dengan Rosa kemarin? ingat Nar, itu masih kemarin, masa sekarang langsung tulus lagi?" sindir Brianna dengan senyum sinis.
Wajah Dinar sontak berubah pucat, tidak menyangka kalau Brianna, mendengar pembicaraannya dengan salah satu teman mereka kemarin.
"Ka-kamu mendengarnya?" ulang Dinar, gugup.
"Tidak! angin yang membisikkannya ke telingaku. Intinya aku tidak mau punya sahabat bermuka dua sepertimu! dan bisa aku pastikan, kalau kamu tidak akan bisa mendekati adikku, karena aku sudah punya calon adik ipar!" pungkas Brianna, lugas dan tegas.
tbc