
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Sedangkan acara ramah tamah akan dimulai pukul 7.30, atau setelah siswa yang beragama Islam, menyelesaikan kewajiban, yakni solat maghrib.
Tampak Retha dan Ayesha sudah tampil cantik. Khususnya Ayesha yang malam ini berpenampilan sangat beda dari biasanya. Gadis itu memakai gaun selutut berwarna kuning gading yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Kacamata yang biasa menghiasi matanya, kini tidak terlihat, diganti dengan softlance. Rambut yang biasanya dia kuncir kini dia gerai. Wajahnya dia poles dengan make up tipis, yang semakin menambah kecantikan gadis itu.
"Tha, Brianna dari tadi kemana sih?" tanya Ayesha setelah mengulas, lipstick berwarna baby pink ke bibirnya.
"Entahlah. Tadi setelah dandan dia izin keluar lebih dulu. Dia minta kita menyusulnya," sahut Retha yang berpenampilan tidak kalah cantik dari Ayesha.
"Kamu sudah selesai kan?" Retha menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, ayo kita keluar!" lanjut Ayesha, sembari meraih tas salempang kecilnya.
Kedua gadis itu keluar dari dalam kamar dan dengan cerianya melangkahkan kaki, menuju tempat mereka akan mengadakan ramah tamah antar siswa.
sepanjang jalan, kedua wanita itu benar-benar menjadi pusat perhatian dan berdecak kagum melihat bagaimana perubahan Ayesha yang begitu tampil cantik, walaupun riasannya sangat tipis.
"Hei, bocil, mau kemana kamu?" tiba-tiba sebuah panggilan menghentikan langkah kedua gadis itu.
Mereka berdua sontak menoleh ke arah datangnya suara. Tampak dua sosok pria yang salah satunya memakai kemeja, berwarna putih dan dibalut rompi warna navy berdiri sembari tersenyum ke arah Ayesha.
Mata Ayesha membesar sempurna, terkesiap kaget melihat sosok itu. Sosok yang sangat dirindukannya, karena sudah hampir 3 tahun tidak bertemu.
"Omm Reza!" pekik Ayesha sembari menghambur memeluk pria yang dipanggil om itu.
Ya, dia adalah Reza, pria tampan, bertubuh tinggi tegap, berusia 28 tahun yang merupakan adik dari papanya. Pria itu beda usia 17 tahun dan juga beda ibu dengan papanya. Kakek Ayesha, dulu menikah lagi dengan wanita yang melahirkan Reza, setelah nenek yang melahirkan papanya meninggal dunia.
"Ponakan Om sudah tambah besar sekarang. Tambah cantik lagi!" Reza mengacak-acak rambut Ayesa dengan sayang.
"Om, jangan acak-acak rambut Yesha! nanti kusut," Ayesha menepis tangan Reza dengan bibir yang mengerucut.
Reza sontak saja terkekeh dan kembali ingin mengacak-acak rambut keponakannya itu.
Tentu saja, Ayesha tidak membiarkan hal itu lagi. Ia langsung menghindar dengan memundurkan kepalanya.
"Buat apa Om di sini? dan kenapa tahu Ayesha di sini? dan kapan Om pulang dari Amerika?" tanya Ayesha dengan kening berkerut.
"Om nyampe di sini tadi pagi. Kebetulan Om ada pekerjaan penting. Om tadi menghubungi papamu, dan Kakak bilang kalau kamu ada di Bali. Jadi, sekalian aja, Om nemui kamu. Soalnya Om tidak ke Jakarta, karena Om harus kembali ke America, besok!" terang Reza, dengan lugas.
Mulut Ayesha membulat membentuk huruf 'o' seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oh ya, Om kenalkan ini Retha, sahabatku!"Ayesha kemudian menunjuk ke arah Retha yang dari tadi memilih untuk diam saja.
"Reza!" Reza tersenyum manis sembari mengulurkan tangannya.
"Retha," Retha membalasnya uluran tangan Reza dengan bibir yang tersenyum sangat tipis.
Reza cukup lama menjabat tangan Retha, dan menatap gadis itu dengan intense, sehingga membuat Retha merasa risih.
Dengan cepat Retha menarik tangannya, dan Reza pun seketika langsung merasa kikuk.
"Om, Retha sudah punya pacar, mending Om jauhkan niat Om itu!" celetuk Ayesha yang menyadari kalau adik papanya itu punya ketertarikan dengan sahabatnya itu.
Wajah Reza seketika berubah kecewa. Untungnya hanya beberapa saat. Setelah itu, pria itu berhasil meredam rasa kecewanya dan menoleh ke arah pria yang sedang menemaninya.
Deril tersenyum manis dan mengulurkan tangannya ke arah Ayesha dan Retha sembari menyebut namanya.
"Om dengar dari papamu, kamu sudah punya pacar ya?"Reza seketika mengalihkan pembicaraan.
Raut wajah Ayesha seketika berbinar dan mengangukkan kepalanya, membenarkan.
"Hahaha, ternyata keponakan Om ada juga yang mau," ledek Reza, membuat Ayesha kembali mengerucutkan bibirnya.
"Jadi menurut Om aku ini jelek, makanya tidak ada yang mau. Tega amat Om. Sadar gak, Om sudah membully keponakan sendiri," protes Ayesha yang lagi-lagi membuat Reza tertawa.
"Iya, iya. Maaf deh. Siapa bilang keponakan Om ini jelek. Kamu cantik kok. Makanya teman Om ini kecewa tahu kamu sudah punya pacar. Padahal tadi Om mau sengaja bawa Deril untuk mengenalkan ke kamu," terang Reza sembari melirik ke arah Deril yang seketika merasa grogi.
"Apaan sih Om?" Ayesha memasang wajah tidak suka.
Reza kembali tertawa, dan seperti biasa tangannya tidak akan bisa dicegah untuk mengacak-acak rambut keponakannya itu.
"Om, sudah deh! rambutku nanti rusak! aku malas lagi ke kamar untuk merapikannya," ujar Ayesha, memasang wajah kesal.
"Om menginap di sini ya?" lanjut Ayesha sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Tidak. Om menginap di hotel yang dekat dari resort ini. Tadinya Om mau menginap di sini, tapi Om merasa ngeri membayangkan akan banyak remaja-remaja perempuan seperti kamu. Sedangkan Om butuh ketenangan," sahut Reza, lugas.
"Udah ya, sahabatmu sepertinya sudah tidak betah di sini. Sebaiknya kami pergi saja," Reza melirik Retha melalui ekor matanya.
"Iya, Om, kebetulan sebentar lagi acara kami juga akan dimulai," sahut Ayesha.
"Oh ya, Om. Apa Om tidak bisa nunggin sampai acara kami selesai? biar nanti, aku kenalkan Om dengan pacarku," sambung Ayesha lagi.
Reza tidak langsung menjawab. Pemuda itu melirik ke arah pergelangan tangannya untuk melihat sudah pukul berapa.
"Sepertinya besok saja, setelah Om selesai rapat, Yesha. Soalnya Om dan Deril belum makan malam. Kalian tiga hari kan di sini?" Ayesha menganggukkan kepalanya,. mengiyakan.
"Ya udah, Om pergi dulu ya!"
"Iya, Om. Bye, bye!" sebelum Reza pergi, Ayesha lebih dulu mengecup pipi adik papanya itu.
Kedua pria tampan itu, berbalik dan melangkah pergi setelah sebelumnya pamit dengan Retha.
Tanpa mereka sadari, dari jarak yang tidak terlalu jauh, tampak Vania tersenyum licik melihat interaksi antara Ayesa, Retha dan dengan dua pria itu.
"Sepertinya menarik. Aku akan menunjukkan photo-photo ini pada Brian. Dia pasti akan merasa murka dan merasa dikhianati," rencana-rencana licik sontak berkelebat memenuhi pikiran Vania.
"Lihat saja kamu Ayesha. Hari ini, aku bisa pastikan, kalau hubunganmu dan Brian akan hancur. Aku yakin, Brianna juga pasti akan membencimu, karena merasa kamu sudah menyakiti adiknya. Dan Briana pasti akan berterima kasih padaku, dan tidak membenciku lagi," bisik Vania pada dirinya sendiri.
Wanita benar-benar merasa puas, memikirkan rencananya yang dia yakin pasti akan berhasil.
"Dan kamu Retha, aku juga pastikan kalau hubunganmu dan Arga juga akan berakhir malam ini. Dan dengan begitu Arga akan sangat berterima kasih padaku. Setelah itu, dia tidak akan ketus lagi padaku,"Vania kembali bermonolog.
"Sebaiknya, sekarang juga aku harus menemui Brian dan Arga," Dengan senyum penuh kelicikan, Vania melangkahkan kakinya meninggalkan tempat dia berdiri.
tbc