Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Pengakuan Brian



"Retha, aku ke kamar mandi dulu ya, kamu mau ikut?" ucap Ayesha yang sebenarnya dari tadi sudah merasakan sesak pipis.


"Aku nungguin kamu di sini deh, kamu bisa pergi sendiri kan?" tanya Retha, memastikan.


Ayesha menganggukkan kepalanya, kemudian melangkah pergi.


"Jangan lama-lama ya! biar kita samaan pergi ngucapin selamat ke mereka!" lanjut Retha, dan lagi-lagi Ayesha menganggukkan kepala, mengiyakan.


Tanpa mereka sadari sepasang mata, menatap kepergian Ayesha dengan tatapan penuh kebencian dan senyum licik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di bawah sana, Brian. mengrenyitkan keningnya, melihat Ayesha sudah tidak bersama Retha lagi. Namun, dia menahan diri untuk tidak menghampiri gadis itu, untuk bertanya kemana Ayesha.


"Ah, mungkin dia ke toilet," batin Brian.


Bukan hanya Brian yang menatap ke atas, Radit juga menatap ke arah yang sama dengan tatapan Brian mengarah. Tampak Retha, sedang fokus menatap ponselnya sembari duduk dengan bersilang kaki.


"Kalau dilihat-dilihat, Retha cantik juga ya? lama-lama kalau lihat dia, bisa jatuh cinta nih aku," celetuk Radit menatap ke arah Retha dengan mata yang berbinar.


"Kamu mau aku bunuh, kalau berani mendekati, Retha?" sambar Arga dengan tatapan tajam.


"Eits, kamu kok marah?" Radit mengrenyitkan keningnya.


"Ya, marahlah, Retha itu cewekku!" tegas Arga, membuat empat orang tak terkecuali Vania, tersentak kaget.


"Dia pacar kamu? sejak kapan? kok kami gak tahu?" Kali ini Kenjo yang buka suara.


Arga, tersenyum tipis dan duduk.


"Kami sudah pacaran dari dua bulan yang lalu. Retha sendiri yang minta, untuk tidak dipublikasikan dulu, katanya nanti diledekin teman sekelas kalau salah satu dari kita buat kesalahan," jelas Arga dengan bibir yang masih tetap tersenyum.


"Ya, ampun. Kamu diminta untuk tidak dipublikasikan dari teman-teman, tapi gak harus ke kita juga kan?" Kenjo menjitak kepala Arga.


"Tahu tuh. Untung kamu belum sempat dekatin dia. Kalau sempat bagaimana? bisa-bisa kita akan musuhan," sambung Radit menimpali ucapan Kenjo.


"Tapi kalau kamu dan dia putus kabarin aku ya, biar aku maju!" imbuh Radit yang tentu saja langsung mendapat tatapan tajam dari Arga.


"Enak saja!kamu nggak akan pernah putus, karena aku sudah suka dia dari kita kelas satu. Masa sudah lama nunggu, pakai putus ... tidak akan!" ucap Arga dengan tegas.


"Cih, bucin!" Vania berdecih dengan raut wajah, sinis.


Radit terlihat kembali menatap ke arah Retha dan mengrenyitkan keningnya.


"Ayesha kemana ya? kok Retha sendirian?" semua mata sontak menatap ke arah Retha, tidak terkecuali Brian.


"Kenapa dia lama kembalinya?" bisik Brian pada dirinya sendiri, karena tadi dia sempat melihat gadis itu pergi ke arah toilet berada.


"Sepertinya kalau kita masih tetap di sini, kita bakal tidak tahu kemana Ayesha. Jadi, kita tanya langsung aja ke Retha," sebelum beranjak dari tempat itu, Arga lebih dulu meraih sebotol air mineral, baru melangkahkan kakinya. Kemudian, yang lainnya pun menyusul.


"Beb, Ayesha mana?" tanya Arga begitu sudah berdiri di dekat Retha.


Mendengar Arga memanggilnya dengan panggilan Sayang di antara mereka, wajah Retha sontak berubah pucat dan mengedip-ngedipkan mata seakan memberikan peringatan pada pemuda yang sudah menjalin hubungan dengannya dua bulan belakangan ini.


"Tenang saja, mereka semua sudah tahu," ujar Arga santai sembari duduk di samping sang kekasih.


"Hah, sudah tahu?" Retha mengrenyitkan keningnya.


"Iya ... aku sudah tidak bisa nyembunyiin lagi. Nih si Radit berniat mau dekatin kamu, ya ... aku nggak relalah!" cetus Arga.


Retha sontak menatap ke arah Radit yang sedang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Jangan lihat-lihat dia, Beb!" Arga mengalihkan tatapan Retha dari Radit.


"Apaan sih, Ga ... gak salah kan Retha lihat aku, kali aja dia sadar kalau ternyata aku lebih tampan dari kamu," ledek Radit, membuat wajah Arga memerah, menahan kesal.


"Becanda, Sob. Yaelah, tuh muka langsung tegang," Radit dengan cepat langsung meralat ucapannya, melihat tatapan tajam Arga.


"Sudah, sudah jangan bercanda lagi! Sekarang, Ayesha di mana?" untuk pertama kalinya Brian buka suara. Pemuda itu sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang tiba-tiba merasa tidak nyaman. Jangan lupakan wajah Vania yang langsung memasang raut wajah kesal, melihat kepedulian Brian pada Ayesha.


"Ayesha tadi izin ke toilet, tapi kenapa lama ya?" Retha melirik ke arah Ayesha pergi tadi.


"Coba kamu hubungi dia, Beb!" Arga memberikan saran.


"Retha aku ikut!" ujar Brian.


"Tidak perlu! itu kan toilet wanita. Kamu mau kalau nanti kamu dituduh mengintip?" tolak Retha, yang kemudian kemabali melanjutkan langkahnya.


Brian menyurutkan langkahnya, karena bagaimanapun yang dikatakan Retha barusan benar. Tapi, sumpah demi apapun, perasaan pemuda itu benar-benar tidak nyaman sekarang.


"Ian, kamu kenapa gelisah sih?" Kenjo ternyata menyadari sikap Brian.


"Entahlah! aku merasa tidak tenang. Aku merasa kalau ada sesuatu yang terjadi pada Ayesha," jawab Brian yang tidak bisa menyembunyikan lagi apa yang dia rasakan dari tadi.


Arga, Radit dan Kenjo sontak saling silang pandang, lalu bersamaan menatap ke arah Brian.


"Kamu tenang saja, Ian. Itu hanya perasaanmu! Dia kan hanya ke toilet," Arga mencoba menenangkan sahabatnya itu dengan tangan yang menepuk-nepuk pundaknya.


"Apaan sih, Brian! kenapa dia harus khawatir sama gadis kolot itu?" sementara Vania sibuk mengumpat dalam hati.


"Kamu suka ya sama Ayesha?" celetuk Radit tiba-tiba.


Brian tidak menjawab sama sekali.


"Kenapa sih kalian bertanya tentang itu? tidak mungkin Brian suka dengan perempuan bergaya kolot seperti Ayesha. Dia itu pasti bukan tipe Brian," justru Vania yang buka suara dengan nada yang kesal.


"Oh, jadi menurutmu tipe Brian itu emangnya seperti apa? seperti kamu maksudmu?" sambar Arga dengan ketus.


"A-aku tidak bilang seperti itu. Aku hanya yakin saja, kalau tipe Brian tidak mungkin seperti Ayesha," suara Vania terdengar gugup.


"Kamu jangan sok tahu!" sambar Arga dengan cepat.


"Asal kalian tahu, aku yang meminta Retha membujuk Ayesha untuk datang. Itu karena aku yakin kalau semangat Brian ada pada Ayesha. Akhirnya terbuktikan? kamu bisa lihat sendiri tadi, Brian kembali semangat ketika Ayesha datang. Bukannya itu berarti Brian suka dengan Ayesha?" lanjut Arga lagi panjang lebar tanpa jeda.


Sementara itu, Brian terlihat tidak peduli dengan perdebatan sahabat-sahabatnya itu. Pikirkannya sama sekali belum tenang, karena belum ada tanda-tanda Ayesha dan Retha muncul.


"Iya, aku juga sama dengan Arga. Aku juga yakin kalau Brian menyukai Ayesha, iya kan, Sob?" celetuk Kenjo.


"Eh, a-aku ...." Brian terlihat gugup.


"Jujur deh sob! kalau kamu bilang tidak suka, biar aku yang mendekatinya," pancing Kenjo.


Darah Brian sontak mendidih mendengar niat Kenjo barusan. Pemuda itu sontak menatap tajam ke arah Kenjo.


"Kamu tidak boleh mendekatinya, karena aku tidak akan pernah membiarkanmu!" bentak Brian dengan napas memburu.


"Hahaha, dari sikapmu ini, kamu tidak bisa lagi menyangkal kalau kamu itu benar-benar menyukai Ayesha!" ucap Arga yang dibarengi dengan tawa lepas.


Brian sontak terdiam dengan wajah memerah malu. Dia baru menyadari kalau tadi reaksinya benar-benar sudah berlebihan.


"Kalau kamu suka, ungkapkan, Sob! jangan disimpan! nanti kalau diembat orang bagaimana?" Kenjo buka suara lagi.


Lagi-lagi, Brian diam seribu bahasa. "Sebenarnya, aku juga sudah yakin kalau aku menyukai Ayesha, tapi kalau aku ungkapkan, aku takut ditolak, karena aku tidak tahu apakah Ayesha memiliki hubungan dengan Aldi atau tidak," bisik Brian pada dirinya sendiri, begitu mengingat kembali yang Aldi ketua osis di sekolah mereka pernah mengungkapkan perasaannya ke Ayesha.


"Kenapa kamu diam, Brian? kamu jatuh cinta padamu Ayesha atau nggak sih? kalau tidak, biar aku yang maju," pancing Kenjo lagi.


"Iya, iya, aku akui aku jatuh cinta padanya, puas kalian!" sahut Brian dengan tegas. Pengakuan yang baru terlontar dari mulut Brian sontak membuat hati Vania seketika merasa dongkol yang amat sangat.


"Nah gitu dong! harus gentle mengakui perasaan sendiri. Jadi, mumpung dia ada di sini, kamu ungkapin. Urusan ditolak atau tidak, urusan belakangan. Tapi, aku yakin kalau Ayesha pasti tidak akan menolakmu. Percaya deh padaku!" tutur Arga dengan penuh percaya diri.


Brian diam untuk beberapa saat, terlihat seperti tengah berpikir. Detik berikutnya, pemuda itu tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kalian benar. Aku tidak akan tahu jawabannya kalau aku tidak coba. Aku tidak mau nantinya aku menyesal di kemudian hari," pungkas Brian dengan tegas.


Bersamaan dengan tekadnya yang bulat, tiba-tiba terlihat Retha datang berlari dengan raut wajah pucat dan panik.


"Ayesha tidak ada di toilet. Aku sudah mencarinya, tapi tidak ketemu!" pekik Retha dengan panik dan napas yang terengah-engah.


Brian sontak berdiri dari tempat duduknya dan langsung berlari untuk mencari gadis yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.


Sementara itu, di dalam sebuah toilet, tampak Ayesha yang terkulai dengan tangan dan kaki yang terikat. Matanya juga ditutup serta mulutnya disumpal dengan kain. Di depan pintu toilet itu, tertulis 'toilet sedang rusak'.


tbc