
Dua minggu sudah berlalu. Hari ini adalah yang sangat dibenci oleh Radit. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari di mana gadis yang dia cintai selama ini akan benar-benar melangsungkan pernikahan dengan pria yang dijodohkan dengannya.
Ingin sekali dia tidak menghadiri pernikahan itu tapi Vania sendiri datang mengundangnya dan mengatakan kalau dia sangat ingin kalau pria itu datang. Dia sudah mengatakan kalau dia akan usahakan datang di acara resepsi saja, tapi Vania memintanya untuk tetap datang dari awal dia akan disahkan suami istri dengan pria itu.
"Ya, Tuhan apa aku kuat melihat nanti dia jadi istri orang lain?" keluh Radit saat dia sudah masuk ke dalam mobilnya. Pria itu mengenakan pakaian bercorak batik dan siap untuk menuju tempat di mana Vania akan melangsungkan pernikahannya.
"Aku pasti bisa dan memang harus bisa. Toh, selama ini aku juga bisa kan, berpura-pura tidak punya perasaan padanya? Jadi sekarang pasti tetap bisa dong," Radit mulai menyemangati dirinya sendiri. Setelah mengembuskan napas dengan kencang, Radit pun mulai melajukan mobilnya.
Masih 10 menit perjalanan, ponselnya tiba-tiba berbunyi, karena ada panggilan. Radit pun langsung memasang earphonenya dan menekan tombol jawab.
"Kamu sudah di mana, Sob? Kenapa lama sekali? Acara sudah akan dimulai," ternyata yang menghubunginya adalah Brian. Dari suara Sahabatnya, bisa dipastikan kalau dia sedang dalam keadaan kesal.
"Sabar, kenapa sih? sebentar lagi aku juga akan sampai. Paling 15 menit lagi. Lagian, kenapa harus tunggu aku? Kan acaranya tetap bisa dimulai tanpa aku. Jadi, kalau aku tiba-tiba tidak bisa hadir? Tidak mungkin kan acaranya batal?" sahut Radit lugas bercampur kesal.
"Terserah kamu lah! Kamu tidak mau datang juga tidak apa-apa! Masalahnya Vania yang akan kecewa bukan aku," pungkas Brian sembari memutuskan panggilan secara sepihak.
"Sial! Kebiasaan matikan tak bilang-bilang! Mau bilang tidak punya sopan santun, dia sahabatku!" Radit sibuk mengoceh merutuki sikap Brian.
.
.
.
Benar saja, 15 menit kemudian, mobil yang dikemudikan Radit tiba di tempat acara. Dia pun langsung turun dan mengayunkan kaki melangkah menuju tempat acara.
Sebelum masuk, pria itu lebih dulu, mengembuskan napasnya, untuk sekedar meredam kegugupannya sekaligus memberikan dirinya sedikit keberanian untuk melihat apa yang nantinya akan terjadi di dalam sana.
"Wah, kamu akhirnya sampai juga, Dit!" seru Arga sembari menepuk pundak Radit dengan lembut. Tampak jelas ada kelegaan di wajah pria itu melihat datangnya. Bukan hanya di wajah pria itu, tapi juga terlihat di wajah Brian dan Kenjo.
"Yah, bagaimana mungkin tidak datang? Aku tidak mau mengecewakan Vania, Ga. Lagian, bagaimanapun aku harus tetap terlihat tegar melihat dia menjadi milik orang lain," suara Radit terdengar lirih.
Arga tersenyum, tipis dan kembali menepuk-nepuk pundak Radit.
"Aduh bagaimana ini? Pengantin laki-lakinya ternyata kabur!" tiba-tiba Ayesha datang dengan tergesa-gesa dan wajah panik.
"Apa? Kabur? Bagaimana bisa?" pekik Radit tanpa sadar.
"Akupun tidak tahu Dit? Tapi katanya pria itu sebenarnya sudah punya kekasih dan terpaksa mengiyakan permintaan papanya untuk menikah dengan Vania!" jelas Ayesha, panjang lebar.
"Brengsek! Bajingan! benar-benar laki-laki tidak bertanggung jawab! begini saja dia tidak bisa berkomitmen dengan ucapan yang sudah diiyakannya. Kalau aku ketemu dengannya, aku pastikan aku tidak akan segan-segan membunuhnya," dari warna air muka Radit yang memerah dan rahang mengeras bisa dipastikan kalau pria itu benar-benar dipenuhi dengan amarah yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Sudah, sudah! Sekarang yang penting bagaimana sekarang apa yang harus kita lakukan?" Ayesha masih terlihat memasang wajah panik.
"Bagaimana keadaan Vania sekarang?" tanya Radit. Amarah yang tadinya terlihat di wajah pria itu kini berganti dengan raut wajah khawatir.
"Dia benar-benar terpukul, Dit. Sekarang Retha dan Brianna berusaha menenangkannya. Dia sampai bertanya-tanya, 'apa dia tidak pantas bahagia', ' apa dia memang sangat buruk sampai tidak ada satupun yang bisa tulus menerimanya? Aku takut dia akan terpuruk nantinya," terang Ayesha sembari mengalihkan tatapannya ke arah lain. Yang jelas, setelah dia kembali menatap Radit, cairan bening sudah keluar dari matanya.
"A-aku?" Radit seketika gugup.
"Iya, kamu! Tidak mungkin kan aku? Aku sudah beristri. Tidak mungkin juga Arga yang jelas-jelas sudah punya Retha. Apalagi Kenjo yang juga sudah akan menikah dengan Anna," Brian buka suara menimpali.
"Tapi, apa Vania mau menikah denganku?" Radit terlihat ragu.
"Pasti mau! Lagian ini kesempatan kamu untuk bisa memiliki Vania. Anggap saja ini rejeki untukmu?" kini giliran Kenjo yang buka suara.
"Tapi, pakaianku seperti ini!" Radit melirik ke arah pakaian yang dia kenakan.
"Kalau untuk masalah pakaian, kamu tenang saja,pasti ada solusinya," Brian kembali buka suara.
"Baiklah. Tapi aku ingin menemui Vania dulu!" pungkas Radit memutuskan.
"Kalau begitu, ayo ikut aku!" Ayesha berbalik, lalu melangkah dan Radit menyusulnya dari belakang dengan jantung yang berdetak tidak karuan sekarang. Dari belakang pria itu, tiga sahabatnya juga ikut menyusul.
.
.
.
Ayesha masuk ke dalam sebuah ruangan, yang bisa diketahui kalau itu adalah ruangan tempat calon pengantin mempersiapkan diri sebelum acara di mulai.
Tampak di dalam ruangan itu, ada Vania yang sudah terlihat cantik dan anggun dengan kebaya yang membalut tubuhnya, ditambah dengan riasan yang semakin menambah kecantikan wanita itu. Penampilan wanita itu benar-benar membuat Radit terpesona, sampai dia susah untuk berkedip.
Mata pria itu juga seketika membesar setelah menyadari ada kedua orang tuanya dia tempat itu dan sudah berpakaian sangat rapi layaknya orang tua sedang menikahkan anak.
"Kamu lah pengantin pria sebenarnya, Sob. Bagaimana senang kan?" Radit terjengkit kaget karena tiba-tiba Brian berbisik di telinganya.
"A-aku? Maksudnya?" Radit mengernyitkan keningnya.
Brian kemudian menceritakan kalau acara pernikahan hari ini memang dirancang untuk sahabatnya itu dan Vania. Brian juga tidak lupa mengatakan kalau sebenarnya tidak ada perjodohan apapun antara Vania dengan pria lain.
"Sh*it! Bagaimana kalian bisa Setega ini padaku?"
"Radit, jaga bicaramu, Nak. Yang sopan kalau bicara, jangan mengumpat seperti itu!" tegur seorang wanita yang bisa dipastikan adalah mamanya Radit.
"Jadi bagaimana? Apa benar kamu mencintai anakku dan mau menikahinya seperti yang diyakinkan teman-teman kamu ini?" Vino papa nya Vania akhirnya buka suara. Sementara Vania menundukkan kepalanya seraya menggigit bibirnya. Dia benar-benar merasa takut mendengar kalau nantinya Radit menjawab tidak.
"Iya, Om. Apa yang dikatakan teman-temanku ini benar. Aku mencintai putri Om Vania. Bukan baru-baru ini tapi sudah sangat lama, semenjak kami masih SMA!" tutur Radit dengan dan tegas.
Vania sontak mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Radit, tepat bersamaan saat pria itu juga menatapnya.
Tbc