
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah lebih dari 5 bulan Ayesha menjadi siswi di sekolah Brian, dan mungkin hanya tinggal sebulan lagi masa putih abu-abu mereka akan berakhir.
Selama itu pula, Brian dan Ayesha semakin dekat, tanpa adanya ungkapan rasa cinta. Semuanya mengalir begitu saja.
Ayesha yang memang mempunyai hobby memasak dan bakery, hampir tiap hari membawa makanan dan kue buatannya untuk Brian. Sebenarnya bukan hanya untuk Brian sih, untuk ketiga sahabat pemuda itu juga. Brian saja yang tidak mau berbagi dengan sahabat-sahabatnya itu.
Seperti biasa Ayesha masuk ke dalam kelas dengan membawa bungkusan di tangannya. Bisa dipastikan kalau bungkusan itu berisi kue buatannya.
Gadis itu seketika tersenyum simpul begitu melihat Brian sudah berada di dalam kelas dan sedang mengobrol dengan Vania dan tiga sahabat Brian lainnya.
"Selamat pagi semua!" sapa Ayesha dengan penuh semangat sembari menaruh bungkusan yang dia bawa di atas meja.
"Selamat pagi juga, Cantik!" seperti biasa Arga selalu membalas sapaan Ayesha dengan sedikit genit. Bisa dipastikan kalau yang dia lakukan itu hanya ingin menggoda Brian, yang bisa dipastikan akan menatapnya dengan sangat tajam.
"Hii, kalian semua merinding gak sih?" Kenjo dan Radit kompak menggelengkan kepalanya. Jangan lupakan Vania yang dari tadi sudah memasang wajah masam, semenjak kedatangan Ayesha. Dia dari tadi berusaha untuk meredam rasa kesalnya, jadi, dia tidak peduli dengan apa yang ditanyakan Arga barusan.
"Aku sih merinding, karena aura ruangan ini jadi seram, karena sepertinya ada yang sedang cemburu padaku," ledek Arga, dengan ekor mata yang melirik ke arah Brian.
Tawa Kenjo dan Radit sontak pecah, karena mereka tahu kepada siapa ucapan Arga barusan. Yang pasti Arga sedang meledek Brian yang selalu tidak suka kalau ada salah satu dari mereka bertiga memanggil Ayesha dengan sebutan cantik.
"Emangnya apa sih yang buat kamu merinding? aku mah biasa-biasa aja," tawa tiga pemuda itu semakin pecah mendengar pertanyaan polos Ayesha.
"Tidak ada sama sekali, Yesha! aku tadi hanya bercanda," sahut Arga akhirnya, karena melihat tatapan Brian yang semakin tajam.
"Oh ya, kamu bawa apa itu?" sambung Arga sembari menunjuk ke arah bungkusan yang Ayesha taruh di atas meja.
"Oh, tadi malam aku buat muffin. Kata Brianna, Brian sangat suka muffin," Ayesha membuka bungkusan dan memberikan kotak yang dipastikan berisi muffin buatannya ke Brian.
"Brian, kamu cobain deh muffin buatanku!" ucapnya dengan bibir yang tersenyum manis.
Seperti biasa, walau tanpa senyum, Brian menerima kotak itu dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
"Ayesha, kenapa sih kamu tidak bawa juga ke kami? kamu kan tahu sendiri kalau Brian tidak mau berbagi? Dia selalu makan sendiri," protes Radit.
Ayesha sedikit terkejut dan langsung ingat kalau kali ini dia juga membawa khusus untuk tiga pemuda itu.
"Oh, kalian tenang saja. Kali ini aku juga bawa untuk kalian bertiga,". Ayesha kembali mengeluarkan tiga kotak dan memberikan pada tiga pemuda itu masing-masing satu kotak.
Wajah Brian terlihat berubah kencang melihat kotak-kotak kue yang berpindah tangan dari tangan Ayesha ke tangan tiga sahabatnya. Entah kenapa hatinya panas melihatnya. Dia merasa, dengan Ayesha, yang juga membawa untuk tiga sahabatnya, menandakan kalau gadis itu, kini juga sudah peduli dengan tiga sahabatnya itu, dan dia kesal dengan pemikirannya itu.
Namun, Brian berusaha untuk tetap bersikap biasa, menahan diri untuk tidak memperlihatkan rasa kesalnya.
Sementara itu, Ayesha, gadis manis bermata indah itu, kemudian menatap ke arah Vania.
"Emm, maaf ya, aku lupa bawa ke kamu. Tinggal dua kotak lagi, Dan itu untuk Retha dan Brianna," ujar Ayesha, pura-pura memasang wajah memelas. Padahal memang dari awal, ia tidak punya niat untuk membawakan untuk gadis yang selalu menganggap dirinya sahabat Brian itu.
"Aku juga tidak butuh, karena aku tidak suka muffin!" sahut Vania ketus.
"Wah Sayang sekali, ya. Padahal Brian sangat suka muffin, berarti selera makanan kalian beda," ucap Ayesha, implisit, yang bisa dipastikan sedikit menyindir Vania yang selama ini memang selalu berkoar-koar kalau dia dan Brian memiliki hobby yang sama dan selera yang sama.
Kalau tidak karena ada Brian, Vania sebenarnya ingin menarik rambut Ayesha atau menyumpal mulut gadis itu. Namun, seperti biasa, dia tetap berusaha untuk menahan diri.
"Wah, tapi sumpah Ayesha, muffin buatan kamu ini sangat enak!" celetuk Arga tiba-tiba dengan mulut yang sibuk mengunyah muffin.
"Iya, ini enak banget. Kamu pintar sekali buatnya," Radit ikut buka suara, menimpali ucapan Arga.
"Terima kasih!" wajah Ayesha berbinar, senang mendapat pujian dari dua pemuda itu. "Aku memang punya cita-cita, ingin punya restoran sendiri dan bakery," imbuhnya.
"Wah, mudah-mudahan tercapai deh," sahut Arga dengan mulut yang sama sekali tidak berhenti mengunyah. Sahabat Brian yang selalu straight to the point itu, sepertinya sangat menikmati muffin buatan Ayesha.
Sementara itu, raut wajah kesal terpancar di wajah Brian, sehingga dari tadi pemuda itu memilih untuk diam saja. "Sialan, beraninya mereka mencoba muffin itu lebih dulu dibanding aku. Harusnya mereka makan setelah aku makan lebih dulu!" Brian mengumpat dalam hati. Rasa kesal yang merasukinya, membuat pemuda itu tidak punya selera lagi untuk membuka kotak muffin miliknya.
"Emm, Ayesha ... boleh gak lain kali aku minta kamu buatin lagi!" lanjut Arga lagi.
Brakk ...
Belum sempat Ayesha menjawab, tiba-tiba semua yang ada di tempat itu, tersentak kaget, dikarenakan Brian tiba-tiba menendang kursi tempat Arga duduk, hingga membuat sahabatnya itu tersedak.
"Brian, kamu kenapa sih? buat kaget saja!" Pekik Arga setelah selesai minum.
"Maaf, aku tadi tidak sengaja!" sahut Brian dengan wajah datar, tanpa senyum sedikitpun.
Arga sebenarnya tahu kalau Brian itu sengaja. Tapi, dia memilih untuk tidak mau berdebat dengan sahabatnya, yang dia yakini pasti sedang panas hati.
"Iya, tidak apa-apa!" sahut Arga akhirnya.
"Brian, kenapa dari tadi muffin nya kamu anggurin? punya kami sudah mau habis lho," tegur Rendi dengan kening berkerut, karena biasanya sahabatnya itu jarang sekali menolak yang namanya muffin.
"Aku tidak selera!" sahut Brian, singkat dan sangat dingin.
Tiga pemuda itu sontak saja saling silang pandang, dengan tatapan penuh tanya. Kemudian, tanpa bertanya lagi, mereka seketika mengerti dengan sikap dingin yang ditunjukkan Brian barusan. Tiga pemuda itu pun, tanpa dikomando,kompak menutup kotak yang masih ada sisa muffinnya.
"Yesha, gak jadi deh aku minta kamu buatin muffin lagi padaku," ucap Arga dengan ekor mata yang melirik ke arah Brian.
"Kenapa?" Ayesha mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Emm, karena ...."
"Selamat pagi semua!" semua mata sontak menoleh ke arah pintu, untuk melihat siapa yang baru saja datang.
Arga pun mengembuskan napas lega, karena dia tidak perlu lagi mengungkapkan alasannya pada Ayesha, karena kemunculan Retha.
"Terima kasih,Retha! kamu sudah menyelamatkanku?" bisik Arga ketika sahabat Ayesha itu, lewat di dekatnya.
"Heh, maksudnya?" gumam Retha dengan alis bertaut.
"Tidak ada!" sahut Arga,yang memutuskan untuk pergi keluar,untuk menghindari pertanyaaa lagi.
tbc