
Malam kini sudah kembali menyapa benua Amerika. Di sebuah apartment tampak seorang pemuda berusia 20 tahun yang tidak lain adalah Brian, duduk menatap indahnya suasana malam dari balkon kamarnya.
Pemuda itu menghela napasnya berkali-kali dengan cukup berat. Kalau boleh jujur sebenarnya dia benar-benar merasa hatinya hampa setelah memutuskan hubungan dengan Ayesha.
"Hmm, kenapa sih kamu sangat sulit aku lupakan? padahal kamu sudah menorehkan luka yang amat dalam padaku," gumam Brian dengan lirih.
Brian kemudian meraih ponselnya dari atas meja dan membuka media sosial yang memang sangat jarang dia buka.
Kemudian, dia membuka daftar akun yang dia block. Hatinya kembali tercubit ketika melihat nama perempuan yang berusaha dia lupakan selama ini.
"Emm, apa aku buka ya blokirannya? hanya lihat sebentar saja, habis itu aku block lagi. Gak salah kan?" bisik Brian pada dirinya sendiri.
Dengan mengembuskan napasnya, dan dengan sangat pelan, Brian menekan kata unblock.
"Haish, sudah kepencet, apa aku block lagi aja ya?" entah kenapa hati Brian berdetak dengan kencang.
"Ah, udah terlanjur ini. Gak pa-pa Kali aku lihat-lihat aktivitas dia. Dari pada aku penasaran," dengan detak jantung yang semakin bergemuruh, Brian mulai membuka akun Ayesha.
Tampak sebuah photo gadis itu bersama dengan Retha yang dari tanggal postingannya bisa dilihat dipost dua jam yang lalu. Tampak di photo itu, Ayesha tersenyum lebar dan begitu cantiknya. Bukan hanya photo itu yang menarik perhatian Brian, tapi juga captio yang dituliskan oleh gadia itu.
'Di balik senyum lebarku, ada luka yang belum sembuh karena perbuatanmu'.
Brian mengrenyitkan keningnya, berusaha memahami caption yang dibuat gadis itu.
"Siapa yang melukainya? apa laki-laki itu? apa hubungannya sudah berakhir dengan pria itu?" batin Brian, penasaran.
"Buat apa kamu memikirkannya Brian? kalaupun hubungan mereka berakhir dan pria itu menyakitinya, itu bukan urusanmu kan? itu karma buatnya. Seharusnya kamu senang bukan merasa sedih seperti ini," Brian mengajak hatinya bercengkrama.
Brian kembali melihat photo Ayesha dengan intens. Cukup lama pria itu menatap photo yang tersenyum lebar itu. "Kenapa hatiku kembali bergetar melihatmu lagi, Ayesha? apa yang sudah kamu lakukan, hingga membuatku susah untuk melupakanmu? kamu sudah menyakitiku, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku, kalau aku sangat merindukanmu," Brian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ah, kalau aku terus menatap photomu, aku akan sulit melupakanmu. Lebih baik aku block lagi," Brian memutuskan untuk memblokir kembali akun Ayesha. Tanpa dia sadari, seandainya dia scroll ke bawah sedikit, dia pasti bisa tahu siapa sebenarnya pria yang dia yakini kekasih Ayesha itu.
Brian hendak kembali meletakkan ponselnya ke atas meja, tapi dia urungkan karena ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia melihat, nama perempuan yang tidak pernah absen menghubunginya, yang tidak lain adalah Vania, sedang menghubunginya.
"Kenapa, Van?" tanya Brian tanpa basa-basi.
"Kamu di mana sih, Ian? kamu tidak di apartment kamu ya?" terdengar nada kesal dari suara Vania di ujung sana.
"Emangnya Kenapa?" bukannya menjawab, Brian malah balik bertanya.
"Aku dari tadi di depan pintu apartment kamu, untuk antar makan malam. Aku sudah tekan bel, tapi tidak ada yang membuka pintu. Kamu keluar ya?" tanya Vania dengan nada posesifnya, seakan-akan Brian itu kekasihnya.
"Hah, dia dari tadi mencet bel? kok aku bisa nggak dengar ya?" bisik Brian pada dirinya sendiri dengan alis bertaut.
"Brian kamu masih di sana kan? kenapa diam saja?" terdengar kembali suara Vania.
"Oh maaf Van! Aku memang lagi di luar untuk makan malam," Brian akhirnya berbohong.
"Kenapa harus makan di luar sih, Ian? jadi makan malam yang aku bawa ini gimana dong?" bisa dipastikan kalau gadis di ujung sana pasti memasang wajah kecewa.
"Maaf, banget Vania. Aku tidak tahu kalau kamu akan memasak makan malam untukku,"
"Tidak tahu bagaimana sih? kan hampir tiap malam aku masak makan malam untukmu. Harusnya kamu kabari aku dulu. Mana kamu keluar sendiri lagi, gak ngajak-ngajak," nada bicara Vania benar-benar sudah seperti seorang kekasih yang merajuk.
Brian menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskan napas kesal. Sepertinya pria itu mulai jengah dengan sikap Vania, yang seperti menganggap kalau dirinya ada kewajiban harus melaporkan apapun pada gadis itu.
"Kenapa diam saja Brian? kamu di mana sekarang? aku boleh menyusulmu kan?" lanjut Vania, karena tidak mendapatkan tanggapan dari Brian.
Brian lagi-lagi mengembuskan napasnya.
"Vania, aku tahu kalau kamu sudah baik padaku selama ini. Tapi, satu yang harus kamu mengerti, kalau aku tidak punya kewajiban untuk melaporkan apapun yang akan aku lakukan padamu. Kita itu hanya sebatas teman, tidak lebih. Maaf, kalau ucapanku ini menyakitkan, tapi, aku harus tetap mengatakan padamu, supaya tidak ada salah paham," tutur Brian panjang lebar. Pria itu mengambil jeda sebentar, kemudian kembali bersuara.
Tidak terdengar jawaban apapun dari ujung sana. Bisa dipastikan kalau gadis di ujung sana pasti sedang merasakan sakit yang amat sangat di hatinya.
"Vania, kenapa kamu diam? kamu paham kan maksudku? Brian kembali bersuara.
"I-iya, aku paham,"bisa terdengar jelas kalau suara Vania sedang bergetar. Sepertinya gadis itu sedang menahan tangis.
"Terima kasih kalau kamu paham. Maaf sekali lagi!"
"Emmm, Brian ... aku sudah terlanjur memasak makanan untukmu, bisa tidak aku tahu password apartment kamu? aku ingin meletakkan makanan ini di dalam? a-aku tadi sudah coba tanggal lahirmu, mama kamu, papa kamu, tapi semuanya salah,"
Brian menggeram. Pria itu lagi-lagi menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk meredam rasa kesalnya.
"Vania, apa kamu belum mengerti? password itu adalah sebuah privasi. Maaf, aku tidak bisa memberikan padamu. Untuk masalah makanan, bukannya aku tidak mau memakannya, tapi aku mau bilang, kalau aku malam ini kemungkinan akan pulang larut malam. Jadi, kemungkinan makanan itu tidak kemakan. Jadi, aku minta maaf sekali lagi, agar kamu membawanya pulang, dari pada mubazir terbuang nanti," Brian masih berusaha menolak dengan lembut karena masih menjaga perasaan wanita itu.
"Oh, be-begitu ya? baiklah kalau begitu. Maaf, kalau aku mengganggumu. Teleponnya aku tutup dulu ya?"
Brian dengan cepat memutuskan panggilan, sampai lupa untuk menjawab iya pada gadis di ujung sana.
Brian mengembuskan napas lega, setelah panggilan terputus.
"Seminggu ini aku akan libur, malas juga kalau menghabiskan waktu di apartment tiap hari. Emm, sebaiknya besok aku main ke tempat Radit saja," gumam Brian.
Kemudian pria itu meraih kembali ponselnya dan menghubungi sahabatnya itu.
"Ada apa, Sob?" terdengar suara Radit dari ujung sana.
"Dit, besok aku mau ke tempatmu.Kamu jemput aku ya?" ucap Brian, tanpa basa-basi.
"Eh, ti-tidak perlu, Sob. Biar Aku saja yang ke sana!" suara Radit terdengar gugup dari ujung sana.
Brian mengrenyitkan keningnya, merasa ada sesuatu yang janggal.
"Kenapa kamu seperti gugup? dan kenapa kamu tidak mengizinkanku ke sana?" tanya Brian, menyelidik.
"Ti-tidak apa-apa. Hanya saja, aku memang ingin ke sana," sahut Radit memberikan alasan.
"Emm, biar aku saja yang ke sana, Sob. Karena aku ingin bebas dulu dari Vania,"
terdengar suara cekikikan dari ujung sana. Bisa dipastikan kalau Radit sedang tertawa geli sekarang.
"Dia nempel terus ya ke kamu?" tukas Radit di sela-sela tawanya.
"Emm, apa perlu aku jawab? sepertinya kamu sudah tahu kan?" sahut Brian.
Radit kembali tertawa dan Kali ini tawanya lebih keras dibandingkan tadi.
"Sepertinya dia memang benar-benar menyukaimu, Brian. Ucapan dia selama ini, yang mengatakan kalau dia hanya menganggapmu sebagai sahabat, hanya alibi dia saja, agar kamu tidak menghindarinya," tutur Radit, lugas.
Brian berdecak, kemudian menghela napasnya dengan sekali hentakan.
"Sudah, jangan bahas itu lagi! intinya besok kamu jemput aku di bandara. Aku akan berangkat pagi-pagi sekali," tanpa menunggu jawaban dari Radit, Brian langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Bisa dipastikan kalau sahabatnya itu di sana pasti sedang panik dan sibuk mengumpati Brian.
Sementara itu, Vania yang baru sampai di apartment yang dia sewa, langsung menghamburkan benda-benda di atas meja, meluapkan kemarahan yang dari tadi berusaha dia tahan.
"Brengsek kamu Brian! tega sekali kamu mengatakan hal menyakitkan itu padaku. Sakit, Brian, sakit! sampai kapan kamu bisa menganggapku orang yang spesial di hatimu hah? Sekeras apapun usahaku, sama sekali tidak pernah berarti padamu. Kamu tidak pernah memandangku. Apa sih kurangnya aku?" teriak Vania, sembari tersungkur duduk menyenderkan di bawah sofa.
"Tapi, aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan tetap berjuang lebih keras lagi. Aku yakin, suatu saat hatimu akan luluh dan menyadari ketulusanku," manik mata Vania kembali berkilat-kilat, penuh ambisi.
tbc