
"Dit, ayo pulang!" Arga menyeret tubuh Radit untuk keluar dari sebuah Club.
Ya, karena patah hati Radit memilih untuk ke club untuk membuat dirinya bisa lupa akan patah hatinya walaupun hanya sebentar.
"Nanti saja, Ga! aku mau minum satu gelas lagi. Jadi singkirkan tanganmu!" Radit berusaha melepaskan diri dari cengkraman Arga. Namun, dia tidak mampu karena dia sudah mulai mabuk.
"Tidak, kamu harus pulang! Ken bantu aku!" Kenjo yang juga ada di tempat itu, ikut membopong tubuh Radit dan membawa pria itu keluar.
"Kamu sudah menghubungi, Brian?" tanya Arga begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
"Sudah! Katanya dia OTW ke apartemenmu," sahut Kenjo sembari menahan tubuh Radit di kursi belakang.
"Yakin kamu kalau dia sudah OTW? Aku kok nggak yakin ya? bisa saja kan dia lagi ehem-ehem sama istrinya," Arga mulai menghidupkan mesin.
"Kalau untuk itu, aku tidak tahu! Yang jelas dia katanya Otw, yang aku percaya saja," sahut Kenjo, lugas.
Arga tidak menjawab lagi. Kini pandangannya mengarah ke arah Radit melalui kaca spion di atas kepalanya.
"Hei, Radit! jangan muntah di mobilku ya! Kalau kamu muntah aku tendang kamu keluar!" Sebelum melajukan mobilnya, Arga lebih dulu memberikan ancaman, walaupun sebenarnya itu tidak akan mungkin dia lakukan.
"Gila ya, patah hati bisa sampai segitunya?" oceh Arga, dari belakang kemudi.
"Kamu lagi membicarakan diri sendiri? Lupa kalau dulu kamu juga pernah begini waktu patah hati?" sindir Kenjo, dengan tersenyum sinis.
"Diamlah! Aku jadi malu mengingatnya! udah sampai mabuk, ternyata hanya salah paham!" umpat Arga, membuat tawa Kenjo pecah.
"Kenapa? Kenapa jadinya begini? kenapa aku sepengecut ini?" Radit mulai meracau.
"Aku mencintaimu sudah cukup lama, aku diam karena aku tahu kalau kamu mencintai Brian. Tapi kenapa sekarang, di saat kita mulai dekat kamu malah dijodohkan dengan pria lain? Hidup ini benar-benar tidak adil!" Radit masih tetap meracau.
Sementara itu, Kenjo yang duduk bersama dengan Radit di belakang, bukannya menenangkan sahabatnya yang sedang patah hati itu, ia justru mengambilkan video apa yang terjadi pada pria itu sekarang.
"Kenjo, gila kamu! Kenapa direkam, woi!" protes Arga sembari melihat dari arah kaca spion.
"Biar saja! Kan lucu nanti kalau diperlihatkan ke dia," Kenjo tertawa geli, membayangkan reaksi Radit nanti kalau sudah sadar.
Arga berdecak dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat sisi lain Kenjo yang di balik sikap tidak banyak bicara, ternyata memiliki sisi usil juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil yang dikemudikan oleh Arga kini berhenti di basement, atau tempat parkir apartemennya. Setelah berhenti dan terparkir dengan sempurna, dia pun turun dan langsung ke belakang untuk membantu Kenjo membopong tubuh Radit ke unit apartemen miliknya.
"Ayo masuk!" ucap Arga setelah pintu apartemennya terbuka.
"Kalian sudah sampai?" celetuk sebuah suara, membuat Arga dan Kenjo terjengkit kaget, hingga membuat mereka tanpa sengaja menjatuhkan tubuh Radit ke lantai.
"Hei, anak orang kenapa dijatuhkan?!" teriak pemilik suara itu yang ternyata adalah Brian.
"Anjir, bangsat! Kamu buat kami kaget saja! Sejak kapan kamu di sini?" mulut Arga melontarkan protes, tapi tangannya berusaha untuk membantu Radit untuk berdiri lagi.
"Woi, bantuin lah!" teriaknya lagi, karena melihat Brian dan Kenjo yang hanya jadi penonton saja.
Brian dan Kenjo sontak saling pandang dan berakhir tertawa lepas. Mereka kemudian membantu Arga untuk mengangkat tubuh Radit ke atas sofa.
"Woi, Dit! Sadar!" Brian mulai menepuk-nepuk pipi Radit.
"Singkirkan tanganmu brengsek!" umpat Radit.
"Wah, keadaan begini masih bisa memaki juga kamu ya!" Brian memukul kepala Radit, namun tidak keras.
"Ken, ambil air dulu, biar kita siram nih anak!" titah Brian.
"Woi, nanti dia bisa masuk angin!" seru Arga, menimpali perintah Brian.
"Iya, iya! Marah-marah aja tahu mu!"protes Arga sembari berjalan masuk ke dalam kamar.
Di sisi lain, Kenjo muncul dari dapur sembari membawa sebuah baskom berisi air dan di saat bersamaan, Arga juga sudah kembali dengan pakaian di tangannya.
"Nih, airnya!" Kenjo memberikan air ke tangan Brian.
Brian pun menerima air itu den tanpa basa-basi menyiram wajah Radit sampai pria itu megap.
"Sofaku!" pekik Arga melihat miris sofanya sudah basah.
"Kalian apa-apaan sih? Kenapa menyiramku?" sepertinya pengaruh alkohol sudah mulai hilang dari Radit.
"Nanti dulu protesnya. Nih ganti dulu pakaianmu!" Arga melemparkan pakaian yang ada di tangannya ke arah Radit.
Walaupun kesal, Radit tetap melakukan perintah Arga untuk mengganti pakaiannya.
"Sini kamu! Kenapa kamu mabuk?" cecar Brian sembari mendudukkan Radit.
"Apa-apaan sih? Siapa yang mabuk? Aku hanya minum sedikit kok. Lagian dari mana kalian bisa tahu aku ada di klub? Aku kan tidak ada menghubungi kalian satu pun," Radit mengernyitkan keningnya.
"Idih, si bego! Dia sendiri yang kirim pesan ke grup, dia yang lupa!" umpat Arga.
"Masa sih aku kirim pesan?" Radit memasang wajah tidak percaya.
"Coba kamu lihat sendiri deh kalau tidak percaya!" Kenjo buka suara.
Radit pun membuka grup mereka berempat dan tampak jelas dia memang mengirimkan pesan ke grup itu. Ia seketika menyadari kalau dia tanpa sengaja mengirimkan pesan memberitahu keberadaannya.
"Tenyata kamu mencintai Vania ya selama ini?" Arga kembali buka suara.
"Siapa bilang? Jangan asal bicara!" Radit berusaha untuk menyangkal.
"Kami tidak asal bicara. Kamu sendiri yang dari tadi nyebut-nyebut namanya. Kamu bisa sampai mabuk karena patah hati mendengar dia dijodohkan kan?" kali ini Brian yang buka suara.
"Apa aku mengatakan seperti itu?" gumam Radit.
Ting ...
Tiba-tiba ponsel yang dia pegang berbunyi pertanda ada pesan grup yang masuk.
"Lihat saja di group!" ucap Kenjo.
Bukan hanya Radit yang membuka pesan yang ternyata berupa video yang baru saja dikirimkan oleh Kenjo.Brian juga ikutan.
"Sialan kamu, Ken! Hapus video itu!" wajah Radit terlihat memerah sekarang. Sementara Brian tertawa terbahak.
"Ternyata secinta itu kamu sama Vania? Kenapa kamu tidak ngaku aja sih, Dit. Kamu anggap apa kami, sampai kamu merahasiakannya dari kami," Brian kembali bersuara, setelah tawanya reda.
"Aku hanya tidak ingin kalian tertawakan?" ucap Radit, dengan suara lirih.
"Bukannya kita sudah biasa saling menertawakan ya? Tapi walaupun seperti itu, kita semua tetap saling memberikan dukungan kan? dengan kita tahu apa masalah kamu, kita bisa sama-sama cari solusinya," ucap Arga.
"Maaf!" suara Radit terdengar lirih. "Tapi aku rasa masalah kali ini benar-benar sudah tidak ada solusinya lagi. Aku harus benar-benar bisa menerima apa yang terjadi," sambungnya lagi.
"Lagian kenapa kamu tidak berterus terang, Dit? Bisa saja kan Vania justru akan memilihmu karena dia sudah mengenalmu dibandingkan laki-laki yang dijodohkan dengannya itu," Kenjo ikut ambil bagian dalam pembicaraan.
"Aku memang pengecut. Aku ingin mengungkapkannya, tapi aku tiba-tiba ingat kalau yang dijodohkan itu adalah anak dari sahabat papanya Vania. Aku tidak ingin gara-gara aku pernikahan mereka batal dan ujung-ujungnya membuat persahabatan papanya Vania dengan sahabatnya itu hancur. Aku sudah merasakan bagaimana sedihnya ketika kalian sempat memutuskan persahabatan denganku. Sakit, Sob, sakit! Jadi, aku tidak ingin papanya Vania kehilangan sahabatnya karena sudah membatalkan perjodohan," Radit meluapkan semua yang dia rasakan, hingga membuat tiga sahabatnya itu diam seribu bahasa.
Tbc