Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Kegugupan Vania



Sepasang sejoli yang baru saja sah menjadi suami istri, terlihat memasuki ballroom hotel milik keluarga Brian, tempat diadakannya resepsi.


Mata Ayesha membola, karena kagum melihat dekorasi resepsinya yang sangat indah, dan sesuai dengan pernikahan impiannya.


"Indah sekali!" gumam Ayesha, yang kini mengerjab-erjabkan matanya, saking terpesona.


"Kamu suka ya?" bisik Brian.


"Tentu saja aku suka. Tahu nggak, ini pernikahan impianku," Ayesha balik berbisik.


Wajah Brian tiba-tiba berubah sendu. Tentu saja perubahan raut wajah itu membuat Ayesha, bingung.


"Kamu kenapa?" tanya Ayesha dengan dahi yang mengernyit.


"Aku sedih, bercampur kesal, karena bukan aku yang melakukan ini untukmu. Aku merasa jadi laki-laki yang tidak berguna," ujar Brian, dengan lirih.


Ayesha menggigit bibirnya, dan tiba-tiba mengecup pipi Brian.


"Sayang, kamu ...."


"Biar kami tidak sedih," ucap Ayesha, disertai dengan senyum manis.


Brian akhirnya tersenyum lebar dan tanpa izin balik mengecup pipi wanita sudah menjadi istrinya itu.


Apa yang dilakukan pasangan pengantin itu, tidak luput dari pandangan Vania yang duduk bersebelahan dengan Radit.


"Begini ya rasanya melihat orang yang kita cintai bahagia? Kenapa rasanya bahagia sekali ya?" celetuk Vania, tersenyum tulus menatap ke arah pelaminan.


"Ya, memang seperti itu rasanya," sahut Radit yang juga tersenyum dengan tatapan yang lurus ke depan.


"Aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya aku tetap stay dengan keegoisanku. Bisa dipastikan aku adalah wanita paling jahat," desis Vania, lirih.


"Sudahlah, yang berlalu sudah berlalu! Sekarang yang harus kamu lihat ke depannya. Aku yakin kalau kamu nantinya akan mendapatkan pasangan yang terbaik," hibur Radit kali ini menoleh ke arah Vania sembari tersenyum manis.


Vania yang kebetulan juga menoleh ke arah Radit, tiba-tiba terpaku menatap senyum Radit.


"Vania, kamu kenapa?" Radit mengibaskan-ngibaskan tangannya tepat di wajah Vania


"I-iya, Dit? Kamu bilang apa?" Vania seketika tersadar dari alam bawah sadarnya.


"Aku tanya kamu kenapa? Kamu terpesona ya, melihat ketampananku? Kamu baru menyadari kalau aku ini tampan?" Radit mencoba untuk menggoda Vania.


"Apaan sih? kamu terlalu percaya diri!" Vania mengalihkan tatapannya ke arah lain,. agar Radit tidak melihat wajahnya yang sudah memerah.


"Cih, ngaku aja kenapa sih? Ngakuin orang itu tampan, nggak dosa kok. Kamu dapat pahala malah. Pahala buat orag lain bahagia," ucap Radit.


"Iya deh, kamu tampan. Puas!" ucap Vania, tapi dengan mata yang masih menatap ke arah lain.


"Yang dipuji di mana, yang dilihat kemana?" keluh Radit sembari menggusak rambutnya.


Vania sontak menoleh ke arah Radit dan berusaha memasang wajah sangar. Namun, bukannya terlihat sangar, justru wajah Vania sekarang terlihat lucu di mata Radit.


"Kenapa kamu tertawa? emangnya ada yang lucu ya?" Vania mengerucutkan bibirnya, kesal.


"Kami tidak perlu buat wajahmu sangar seperti itu! Siapapun tidak akan takut, justru akan tertawa. Kamu gak seram sama sekali, justru jadi imut," ucap Radit yang tanpa sengaja menyelipkan sebuah pujian.


"Hmm, kenapa diam lagi? jadi patung itu sudah jadi hobi barumu ya? Hobi kok jadi patung?" ledek Radit yang langsung mendapatkan pukulan dari Vania.


"Apa an sih. Kamu kok jadi menyebalkan begini? Buat aku kesal aja," protes Vania dengan bibir yang maju ke depan.


"Kesalnya jangan lama-lama ya! Takutnya nanti karena keseringan kesal, kamu jadi jatuh cinta padaku," Radit terus saja menggoda Vania. Karena menggodaku wanita itu menjadi kesenangan baru untuknya.


"Cih, percaya diri sekali kamu!" ucap Vania yang lagi-lagi memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Salah ya, berharap, Van? Kamu tidak tahu saja, kalau aku sudah menyukaimu dari kita SMA, tapi karena kamu hanya menginginkan Brian, aku berusaha untuk bersikap biasa saja. Makanya, aku mau diajak Ayesha kerja sama saat itu. Itu semua demi kamu," ucap Radit yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Ada apa dengan diriku, kenapa jantungku berdebar saat Radit menggodaku? Padahal aku tahu, kalau itu tidak benar. Apa aku sudah mulai menyukainya?" bisik Vania pada dirinya sendiri.


"Tidak! Tidak mungkin aku menyukainya. Masa bisa semudah itu langsung menyukai Radit? T-tapi, kenapa selama ini aku bisa merasakan nyaman di dekatnya?" Vania, lanjut bermonolog dalam hatinya.


"Van, ayo ke depan. Kita harus kasih selamat ke mereka!" Radit berdiri dari tempat duduknya.


Pria itu mengernyitkan dahinya melihat tidak ada pergerakan dari Vania. Justru ia melihat wanita itu menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"Van, Vania! Kenapa kamu bengong?" Radit menyentuh pundak Vania, hingga membuat wanita itu terjengkit kaget.


"Eh, i-iya, Dit? Kenapa?" suara Vania tersentak gugup saking kagetnya.


"Kenapa kamu melamun? Aku mengajakmu ke depan untuk mengucapkan selamat pada mereka. Apa kamu enggan, karena merasa tidak akan sanggup? Apa kamu belum benar-benar mengiklaskan mereka berdua?" tukas Radit dengan sudut alis yang terangkat ke atas, menatap dengan curiga.


"Ti-tidak sama sekali! Aku benar-benar sudah ikhlas! Bahkan aku merasa tidak ada rasa sakit sedikitpun di hatiku melihat mereka berdua, Dit. Aku berani bersumpah untuk itu!" sahut Vania dengan tegas.


"Jadi, kenapa tadi kamu melamun?" tanya Radit, yang tidak mudah percaya begitu saja.


"Aku tadi hanya berpikir, kapan aku bisa menemukan pria yang akan mencintaiku sama seperti Brian mencintai Ayesha, itu saja," sahut Vania, tersenyum tipis.


"Sudah ada, dan dia ada di depanmu sekarang!" ucap Radit yang lagi-lagi hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Eh, tadi kamu mengajakku ke depan kan? Ayo!" Vania bangu berdiri dari tempat duduknya dan tanpa sadar bergelayut di lengan Radit.


"Eh, ma-maaf! Aku tidak sengaja!" Vania sontak melepaskan tangannya dari lengan Radit. Wajah wanita itu juga tampak semakin memerah.


"Tidak apa-apa! Ayo!" Radit meraih tangan Vania dan meletakkan tangan wanita kembali ke lengannya.


"Haish, perasaan apa ini Tuhan? Kenapa aku bisa jadi grogi seperti ini?" batin Vania, sembari berjalan dengan tangan yang sekarang berada di genggaman Radit.


"Sepertinya aku memang sudah jatuh cinta pada Radit. Tapi, aku sudah berjanji, kalau aku tidak akan pernah memaksakan kehendakku lagi. Kalaupun nantinya perasaanku tidak berbalas," bisik Vania berjanji pada dirinya sendiri, sembari mengembuskan napasnya dengan cukup keras.


"Kamu kenapa?" tanya Radit menoleh ke arah Vania dengan kening yang berkrenyit.


"Ti-tidak apa-apa!" sahut Vania, dengan gugup.


"Apa dia merasa gugup saat berhadapan dengan Brian nanti?" Radit mulai menduga-duga.


"Jangan gugup di depan Brian! Tenang saja ada aku!" bisik Radit, mencoba memberikan rasa nyaman pada Vania.


"Heh? Kenapa jadi bawa-bawa Brian lagi?" batin Vania.


tbc