Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Kamu yang harus bertanggung jawab



"Done!" ucap Brian, setelah dia sudah menyelesaikan pekerjaan Ayesha.


Ayesha tersentak kaget, karena dari tadi tatapannya fokus melihat Brian yang terlihat semakin tampan saat sedang serius.


"Hah, sudah selesai?" Ayesha terlihat gugup.


"Iya, sekarang kita bisa makan siang kan?" tanya Brian, dengan memperlihatkan senyum termanisnya. Senyum yang hanya dia tunjukkan pada orang terdekatnya, dan tentu saja wanita yang dicintainya.


"Emangnya, aku pernah setuju bersedia makan siang denganmu? Tidak kan?" sahut Ayesha dengan entengnya.


Brian terdiam dan senyum di bibirnya seketika memudar.


"Begitu ya?" desis pria itu lirih. "Tapi aku kan sudah menyelesaikan pekerjaanmu. Jadi kamu tidak ada alasan untuk menolak ajakanku lagi kan?" Brian terlihat masih berharap Ayesha mau memenuhi ajakannya.


"Aku tidak pernah memintamu menyelesaikan pekerjaanku, kan? Lagian siapa bilang aku tidak punya alasan untuk menolak? Aku punya kok. Mau tahu apa? Alasannya, aku tidak mau dekat -dekat kamu lagi. Jadi, please jangan pernah datang atau berniat sekalipun!" ucap Ayesha dengan lugas dan tegas.


Brian bergeming untuk beberapa saat. Jujur, pemuda itu merasa sakit dan kecewa mendengar penolakan Ayesha yang terlalu eksplisit. Namun, pria itu kembali ingat niat awalnya sehingga dia dengan cepat mengabaikan rasa kecewanya itu.


"Kalau kamu tidak mau dekat denganku, aku sebaliknya. Aku ingin dekat denganmu. Jadi kalaupun kamu tidak mau makan siang denganku, aku akan tetap di sini supaya bisa dekat denganmu," tanpa izin atau belum dipersilakan sama sekali, Brian sudah mendaratkan tubuh duduk di atas sofa.


Ayesha berdecak kesal, lalu berdiri dari tempat ia duduk lalu melangkah menghampiri Brian.


"Brian!"


"Iya, Ay?" sahut Brian, kembali melemparkan senyum manisnya.


Ayesha tercenung untuk sepersekian detik, begitu mendengar panggilan Brian, panggilan yang sangat dirindukannya.


Detik berikutnya, Ayesha tersadar dan kembali memasang wajah garangnya.


"Jangan panggil aku seperti itu! Kamu sama sekali sudah kehilangan hakmu! cepat keluar dari sini!" pekik Ayesha.


"Baiklah, aku tidak akan memanggilmu Ay lagi," sahut Brian, membuat ada perasaan sedih yang timbul di hati Ayesha saat mendengarnya. "Kenapa aku jadi sedih, dia tidak akan memanggilku Ay lagi? Bukannya aku tadi yang memintanya.


Brian berdiri dari tempat duduknya dan berdiri tepat di depan Ayesha. Kemudian, pemuda itu mencondongkan tubuhnya, hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Ayesha. " Tapi aku akan memanggilmu, Sayang," bisik Brian, yang dibarengi dengan kerlingan mata dan senyum smirk di bibirnya.


Ayesha terpana untuk beberapa saat. Namun setelah tersadar, wanita itu refleks mendorong tubuh Brian, hingga pria itu terjungkal dan membentur meja.


"Ouch," Brian meringis kesakitan sembari memegang pinggangnya.


"Ma-maaf, aku tidak sengaja!" Ayesha seketika panik dan membantu pria itu berdiri.


"Di mana sakitnya?" Ayesha refleks memijat-mijat pinggang Brian.


Melihat kepanikan Ayesha, Brian tersenyum licik.


"Au, au saking banget, Sayang!" Brian sengaja mendramatisir rasa sakitnya, padahal sebenarnya tidaklah terlalu sakit.


Wajah Ayesha semakin panik, bahkan mata wanita itu mulai terlihat berkaca-kaca, hampir menangis.


"Sakit banget ya?" tanya Ayesha lirih, dan Brian mengangguk lemah.


"Kamu sih! makanya jangan aneh-aneh!" oceh Ayesha dengan bibir yang mengerucut.


"Jadi bagaimana dong? Atau kita ke dokter saja? takutnya ada tulang yang patah atau retak, di pinggangmu," sambung Ayesha lagi, tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya.


Brian merasa tidak tega melihat wajah Ayesha. Ia pun mulai tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah tidak perlu. Rasa sakitnya sudah jauh berkurang. Kamu tidak perlu sepanik itu," tutur Brian akhirnya.


"Kamu tidak bohong kan?" tanya Ayesha memastikan dan Brian kembali menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Melihat anggukan kepala pemuda itu, Ayesha pun mengembuskan napas lega.


"Aku tidak mengkhawatirkan kamu. Enak saja berpikir seperti itu! Seandainya itu terjadi pada orang lain, aku juga akan melakukan hal yang sama. Jadi, jangan terlalu percaya diri!" ucap Ayesha, ketus.


"Oh, begitu ya? Yah ... ternyata aku yang terlalu percaya diri!" ucap Brian, kecewa.


Kemudian, Brian kembali mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.


"Hei, ngapain kamu duduk lagi? Kamu itu seharusnya pergi!" pekik Ayesha lagi. Ingin dia menarik tangan Brian dan menyeret keluar. Tapi, mengingat pria itu baru saja kesakitan di pinggangnya, ia pun mengurungkan niatnya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukannya tadi aku sudah mengatakan kalau aku ingin selalu dekatmu? Kamu tidak mau aku ajak makan siang, jadi aku di sini saja menemanimu. Yang penting aku bisa dekat denganmu," sahut Brian sembari menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa, lalu menyilangkan kakinya.


Ayesha, menggeram. Ingin dia memaki pemudanya itu, tapi dia tahu kalau pemuda itu pasti tidak akan peduli. Akhirnya Ayesha pun memutuskan untuk tidak peduli lagi.


"Terserah kamu deh! Capek aku meladenimu," pungkas Ayesha, sembari beranjak kembali ke kursinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cukup lama Brian ada di ruangan Ayesha dan sekarang jam bahkan sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kalau boleh jujur, perut Ayesha sudah menjerit-jerit minta makan, tapi dia berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. Dan sekarang justru memainkan game di laptopnya.


Sementara itu, Brian juga mengalami hal yang sama. Pria itu juga sudah sangat lapar. Bukan hanya lapar, pria itu juga sedikit haus karena Ayesha dari tadi tidak menawarkan minum sedikitpun. Bahkan wanita itu juga sepertinya tidak berniat menawarkan kue yang ada di tokonya. Kedua insan itu terlihat sama-sama bertahan dengan ego masing-masing.


"Haish, kapan sih ni orang pergi? Aku benar-benar lapar!" Ayesha mulai menggerutu dalam hati, dengan ekor mata yang melirik ke arah Brian.


"Gak usah lirik-lirik! Aku tahu kalau aku tampan," celetuk Brian.


Ayesha sontak berdecih seraya menatap sinis ke arah Brian.


"Cih, percaya diri sekali kamu!" ucapnya.


"Sekarang sebaiknya kamu pergi deh, aku benar-benar malas lihat mukamu!" sambung Ayesha lagi.


"Tapi, aku tidak ...." Brian menggantung ucapannya, karena tiba-tiba ponselnya berbunyi. Brian berdecak kesal melihat panggilan yang ternyata dari Dion, asistennya.


"Iya, ada apa?" tanya Brian.


"Aku hanya mau mengingatkan Pak, kalau jam 3 kita harus bertemu klien,"


Brian melirik ke jam di tangannya. Mata Brian sontak membesar karena sudah hampir setengah tiga. Berarti sisa waktunya hanya 30 menit lagi.


"Kenapa kamu tidak mengingatkanku dari tadi!" bentak Brian. Jangan lupakan Ayesha yang bingung melihat Brian yang tiba-tiba marah.


"Bukannya sebelum keluar dari kantor tadi, aku sudah mengingatkan bapak ya?"


"Ya, harusnya sejam sebelum, kamu ingatkan aku lagi! Kamu bagaimana sih? Ya udah, aku segera ke sana!" Brian memutuskan panggilan secara sepihak, lalu buru-buru beranjak pergi.


"Haish, mana perut lapar lagi, bagaimana aku bisa konsentrasi membahas kerja sama nanti!" tanpa sadar Brian mengeluh, dan keluhannya masih sempat terdengar oleh Ayesha. Brian bahkan sampai lupa untuk pamit pada Ayesha.


Ayesha terlihat terpaku melihat perginya Brian. Ia tiba-tiba merasa bersalah.


"Kenapa aku, jadi merasa gak enak begini ya? kalau dia gagal mendapatkan kerja sama, bagaimana?" monolog Ayesha.


"Kalau gagal, dia pasti merasa sedih karena merasa mengecewakan Om Bima. Haish, bahkan tadi aku juga tidak menawarkan kue, atau minuman apapun. Apa aku terlalu kejam ya tadi?" Ayesha masih setia mengajak hatinya bicara.


"Ah, bodo amatlah. Ini bukan salahku, kan aku tidak meminta dia untuk tetap di sini? Salah dia sendiri yang masih tetap bertahan di sini!" batin Ayesha lagi.


Ayesha baru saja hendak meraih tas dan ponselnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi pertanda ada pesan yang masuk.


"Maaf, aku tadi lupa pamit, karena aku buru-buru. Aku ada pertemuan dengan klien jam 3 ini. Nanti kalau kerja sama dengan klien gagal, kamu harus bertanggung jawab. Karena aku lapar gara-gara kamu," begitulah pesan yang baru saja dibaca oleh Ayesha. Bisa dipastikan kalau si pengirim pesan itu adalah Brian.


"Heh, kok jadi aku yang bertanggung jawab? lagian dia dapat nomorku dari mana?" bisik Ayesha pada dirinya sendiri.


Tbc