
"Apakah selama ini aku sudah menjadi orang ketiga, Tha?" tanya Ayesha pada Retha.
Ya, setelah Vania pulang dari tokonya, Ayesha yang merasa gundah, memilih untuk pergi ke butik Retha sahabatnya.
"Maksud kamu apa sih? datang-datang kok pasang wajah melow seperti itu? orang ketiga bagaimana yang kamu maksud?" Retha yang tadinya sedang sibuk menggambar design gaun, langsung menghempaskan kegiatannya dan menghampiri Ayesha.
Ayesha kemudian dengan suara lirih menceritakan semua yang dikatakan oleh Vania dan permohonan wanita itu.
"Kamu apa-apaan sih? Kamu itu bukan orang ketiga, Sha. Emang sudah takdir saja kamu dipertemukan dengan Brian dan kalian saling jatuh cinta. Jadi kamu jangan merasa bersalah seperti itu!" ucap Retha, menenangkan sahabatnya itu.
"Tapi, Tha, coba seandainya aku tidak muncul? Bisa jadi kan Brian bisa jatuh cinta pada Vania?"
Retha berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu sih, Sha? Kamu jangan sepolos itu dalam berpikir. Kalai memang Brian bisa jatuh cinta pada Vania, kenapa tidak sebelum kamu muncul? dan ingat ... kami sudah lima tahun tidak bertemu sama sekali dengan Brian, dan Vania selama ini bersama dengannya. Tapi, apa bisa Brian jatuh cinta padanya? Tidak kan?"
Ayesha tercenung, diam seribu bahasa. Jauh di lubuk hatinya wanita itu membenarkan ucapan sahabatnya itu. Namun, dia juga tidak bisa memungkiri kalau dia masih merasa ada sedikit perasaan bersalah karena sudah muncul di antara Vania dan Brian.
"Sha, apa aku penuhi saja ya, permohonan Vania tadi?" ucap Ayesha, membuat Retha mengernyitkan keningnya.
"Sekarang aku mau tanya, sekarang bagaimana status hubungan kamu dengan Brian? Apa kamu sudah bisa memberikan dia kesempatan ke dua?"
Ayesha tidak menjawab, namun wanita itu menggelengkan kepala.
"Belum, tapi setelah kembali dari kantornya tadi, aku sebenarnya sudah ada niat untuk memberikan kesempatan kedua, Tha. Tapi, setelah Vania datang tadi, aku jadi bingung.
"Sekarang coba kamu pikirkan bagaimana perasaanmu kalau kamu merelakan Brian pada Vania? Apa kamu tidak merasa sakit?" tanya Retha kembali.
Ayesha menggigit bibirnya sendiri. Bohong kalau dirinya mengakui tidak merasa sakit.
"Hati kamu pasti sakit kan? Jadi, tolong pikirkan baik-baik, Tha. Stop berpikir untuk mengalah! karena yang ada, nantinya kamu sama saja, membiarkan Vania bahagia dalam kebahagiaan semu. Vania tidak akan pernah bahagia bila bersama dengan Brian, karena bagaimanapun Brian tidak mencintainya. Dia akan selalu makan hati. Jadi, tidak ada gunanya kamu merelakan Vania pada Brian," tutur Retha panjang lebar tanpa jeda
Ayesha terdiam kembali, karena menurutnya yang dikatakan Retha barusan itu benar adanya.
"Sekarang aku mau tahu, kamu tadi kasih jawaban apa ke Vania? Apa kamu sudah menyetujui menjauhi Brian?" tanya Retha lagi, melihat Ayesha yang terdiam.
Ayesha menggelengkan kepalanya. "Aku mengatakan padanya kalau aku tidak bisa. Dan aku mengatakan padanya kalau yang dia rasakan itu bukan cinta melainkan obsesi. Aku juga mengatakan seperti yang kamu katakan tadi,kalau dia akan tidak akan bisa bahagia, walaupun seandainya Brian ada dia sisinya, karena dia tidak mendapatkan cinta Brian. Tapi, entah kenapa aku tiba-tiba merasa bersalah mengatakan itu, Tha,"
Retha mengembuskan napasnya dan tersenyum menenangkan. "Kamu tidak perlu merasa bersalah, Sha. Karena yang kamu katakan itu sudah benar," ucapnya.
"Bagaimana denganmu? apa sekarang kamu sudah memberikan kesempatan kedua untuk Arga?" tanya Ayesha balik.
"Emm, terpaksa aku kasih. Karena dia benar-benar pemaksa," Retha mengerucutkan bibirnya.
"Tapi yang aku lihat, kamu bukan terpaksa sih, kamu justru ikhlas dan bahagia kan?"
Retha tersenyum dengan semburat merah di pipinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Brian yang masih berada di kantornya tampak berbaring di sofa. Pria itu sudah seperti itu selepas Ayesha pergi. sepertinya tidak punya semangat untuk melanjutkan pekerjaannya. Hatinya merasa perih ketika mengingat kalimat Ayesha yang mengatakan tidak ingin terlalu dekat dengannya lagi dan belum bisa memberikan dia kesempatan kedua untuknya.
Brian mencoba untuk menutup matanya, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi pertanda ada panggilan masuk.
Brian bangun berdiri dan berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil ponselnya.
"Hmm, nomor siapa ini?" batin Brian ketika melihat nomor yang tidak dia kenal sedang menghubunginya.
Brian memilih untuk tidak menjawab sampai panggilan itu berhenti sendiri. Saat panggilan berhenti, Brian kembali meletakkan ponselnya ke atas meja. Namun baru saja dia meletakkan ponselnya itu, lagi-lagi ponsel itu berbunyi dan yang menghubunginya masih orang yang sama.
"Arghh, siapa sih ini?" Brian mulai menggerutu.
"Halo," Brian akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan.
"Halo ... Ini benar Brian kan?" terdengar suara seorang pria dari ujung sana.
"Iya, benar. Kalau boleh tahu ini dari siapa?" tanya Brian dengan kening berkerut.
"Maaf, kalau sudah mengganggu. Aku Vino, papanya Vania," sahut pria di ujung sana yang ternyata papanya Vania.
"Oh, ada apa ya Om, menghubungiku? Apa mau membujukku untuk menerima dia bekerja lagi di kantorku? Kalau untuk itu, maaf Om, aku tidak bisa sama sekali. Bukannya dia bisa bekerja di kantor Om sendiri?" belum sempat pria di sana berkata apa-apa, Brian sudah mengambil kesimpulan sendiri.
"Nak, Brian tunggu dulu! Aku sama sekali tidak ingin memintamu untuk menerima dia bekerja di perusahaanmu lagi. Tapi, aku hanya ingin memohon padamu, agar datang ke rumah sakit."
"Ke rumah sakit? Untuk apa aku ke sana, Om?" alis Brian bertaut tajam.
"Tadi Vania mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya, Nak Brian. Tapi beruntungnya dia masih bisa diselamatkan. Tapi, dari tadi dia memanggil-manggil namamu, Nak. Dia bilang dia tidak mau hidup lagi kalau tidak ada kamu di sampingnya. Om Mohon, Nak Brian untuk datang ke sini, karena Om tidak bisa menenangkannya. Kata dokter, Vania sudah depresi, makanya tadi disuntik penenang," terang Vino, papanya Vania dengan suara bergetar.
"Haish, kenapa bisa jadi serumit ini sih? Kenapa Vania punya pikiran pendek seperti itu?" batin Brian sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Nak Brian, apa kamu masih di sana?" terdengar kembali suara papanya Vania.
"Iya, Om aku masih di sini. Tapi, maaf Om, aku tidak bisa ke sana. Karena kalau aku ke sana, sama saja aku seperti memberikan harapan padanya," ucap Brian.
"Nak, Om Mohon, tolong datang ke sini. Dia itu anak Om satu-satunya, Om benar-benar tidak bisa membayangkan kalau Om akan kehilangannya,Nak. Om mohon, Nak agar kamu datang untuk melihatnya dan membuat dia tenang. Kalau kamu mau, Om berlutut, Om akan bersedia berlutut di depanmu," suara pria di seberang sana, terdengar mulai bergetar, pertanda kalau pria itu sudah menangis.
Brian menggusak rambutnya dengan kasar, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah, aku akan ke sana. Tapi tolong jangan berharap besar padaku!" pungkas Brian, akhirnya.
Tbc