Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Pertandingan basket



Hari ini adalah hari di mana pertandingan final sekolah Brian melawan sekolah SMA Tunas Bangsa, yang kebetulan diadakan di sekolah Brian, sebagai pemenang berturut-turut beberapa tahun terakhir ini.


"Ingat, ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk mengharumkan nama sekolah. Setelah itu, kalian akan lulus dan meninggalkan sekolah. Bapak harap kalian memberikan sebuah kebanggaan lagi di saat kalian meninggalkan sekolah ini," guru olah raga sekaligus pelatih team basket, mulai memberikan wejangan.


"Bapak sebenarnya tidak terlalu memaksakan kalian untuk menang, karena menang atau kalah di setiap pertandingan itu biasa. Tapi, Bapak tetap berharap agar kalian tetap punya semangat untuk menang. Ingat saja, kalau hari ini pertandingan terakhir kalian, jadi berusahalah memberikan yang terbaik!" lanjut pelatih itu lagi, yang disambut dengan annggukan kepala dari para anggota team basket.


Pelatih itu kemudian mengalihkan tatapannya khusus ke arah Brian yang dari raut wajahnya terlihat tidak semangat.


"Brian, Bapak lihat kamu kurang semangat hari ini. Tapi, Bapak mohon apapun masalah yang kamu alami, tolong sebagai kapten kamu tetap bisa melupakan sejenak masalah kamu dan fokus pada pertandingan,"


"Baik, Pak!" sahut Brian dengan suara yang sangat pelan.


"Baiklah, sekarang kalian letakkan tangan kalian semua di atas tangan Bapak," Pelatih itu mengulurkan tangannya ke tengah dan semua anggota team, dengan kompak meletakkan tangan ke atas punggung tangan pelatih itu lalu bersorak, sebagai bentuk untuk penyemangat mereka.


Peluit tanda pertandingan akan dimulai akhirnya berbunyi. Brian dan empat orang lainnya, termasuk Kenjo, Radit dan Arga pun masuk ke lapangan.


Pertandingan berlangsung dengan sengit. Sekolah Brian sudah banyak tertinggal jauh karena kurang konsentrasinya Brian. Setiap shooting yang dilakukannya selalu gagal.


"Brian, fokus dong! kamu bagaimana sih!" bentak Radit yang benar-benar sudah mulai kesal.


"Brian kalau begini caranya, kita pasti akan kalah. Dan kamu tahu artinya apa? itu berarti kita akan menjadi sejarah buruk untuk sekolah kita," Kenjo ikut buka suara.


Brian tidak menjawab sama sekali. Pemuda itu hanya mengembuskan napas kesal.


30 menit berlalu pertanda babak ke tiga pertandingan sudah selesai. Pertandingan hanya tinggal 10 menit terakhir di babak ke empat, dan hasilnya akan menentukan pemenang.


Sekolah Brian sudah terlihat sangat pesimis, melihat banyaknya point ketertinggalan. Rasanya sangat mustahil untuk menang.


"Lihat apa yang kamu lakukan? kita akan kalah, dan ini gara-gara kamu yang mainnya tidak becus!" umpat Kenjo.


Lagi-lagi Brian tidak menjawab, karena dia tahu kalau ini semua memang kesalahannya. Sebenarnya dia juga ingin memaki dirinya sendiri yang sama sekali tidak bisa fokus, padahal dia sudah berusaha keras untuk itu. Tapi setiap dia melihat ke tribun dan tidak melihat sosok yang dia inginkan ada di sana, konsentrasinya kembali buyar.


"Kamu jangan marah terus ke Brian bisa nggak sih? ini juga bukan keinginannya, kan?" Vania buka suara, mulai menunjukkan kalau dirinya membela pemuda itu.


"Kamu diam saja, kalau tidak apapun!" bentak Kenjo balik.


"Apaan sih? yang aku katakan kan benar?" Vania mengerucutkan bibirnya. Kemudian ia, meraih sebotol air mineral dan memberikannya pada Brian.


"Brian, nih kamu minum dulu! kamu tidak usah pedulikan ocehan Kenjo! kan masih ada waktu 10 menit lagi. Kamu pasti bisa!" ucap Vania sembari tersenyum manis. "


"BRIAN, SEMANGAT! KAMU PASTI BISA!" tiba-tiba dari tribun terdengar suara teriakan, yang membuat pandangan semua orang mengarah ke arah datangnya suara, tidak terkecuali Brian.


Tampak jelas di sana berdiri Ayesha sembari memegang sebuah karton yang bertuliskan semangat Brian. Di samping wanita itu juga berdiri Retha sang sahabat.


Sebuah senyuman tipis, terbit di bibir Brian. Rasa lelahnya seketika menguap entah kemana.


Arga yang dari tadi diam saja, akhirnya ikut tersenyum dan mengacungkan jempol ke arah Retha.


Satu-satunya orang yang tidak suka dengan kehadiran dua gadis itu adalah Vania. Wajah wanita itu seketika ditekuk. "Kenapa dia mesti datang sih? dan kenapa Brian langsung tersenyum, ketika Ayesha datang? benar-benar menyebalkan!" umpat Vania dalam hati.


Bunyi peluit pertandingan babak terakhir akhirnya kembali berbunyi. Semua pemain kembali ke lapangan untuk melakukan pertandingan.


Vania memanfaatkan kesempatan itu untuk menghampiri Ayesha dan Retha, yang asik berteriak menyemangati para pemain.


"Kenapa sih kalian berdua selalu buat heboh dan bertingkah berlebihan? please berhenti berteriak, karena itu akan membuat konsentrasi mereka terganggu!" ucap Vania dengan memasang wajah sinis.


"Apaan sih? kamu lihat sendiri noh, Brian sudah berhasil memasukkan bola berkali-kali. Jadi jangan sok tahu!" sahut Retha dengan ketus.


Vania melihat ke arah lapangan, dan betul saja, Brian kini terlihat semangat. Kehebatan Brian terlihat sudah kembali seperti dulu. Hal itu benar-benar membuat Vania kesal. Padahal sebenarnya dia senang kalau seandainya sekolah mereka kalah. Kenapa? karena dengan demikian, Vania berharap Brian akan dijauhi ketiga sahabatnya. Jadi, di saat itu dia akan menunjukkan pada Brian, walaupun semua menjauhi pria itu, dia akan tetap selalu ada untuk mendukung pria itu.


Lima menit sudah berlalu, Brian dan yang lainnya sudah mulai mengejar ketertinggalan. Bahkan mulai dari lima menit yang lalu tim lawan sama sekali tidak dikasih kesempatan untuk menambah poin. Sedangkan Brian selalu memberikan tambahan 3 point setiap lemparannya. Dan setiap dia berhasil, ia selalu menyempatkan diri untuk melihat ke arah Ayesha yang bersorak bahagia.


"Kamu benar-benar tidak tahu malu ya. Padahal, jelas-jelas kamu tahu kalau Brian risih denganmu, tapi kamu masih sok-sok-an datang mendukungnya. Kamu kira dia akan senang melihatmu di sini?" Vania kembali buka suara.


"Kamu bisa diam nggak sih? dari tadi ngoceh saja, kaya mulut ikan! tidak capek apa!" Ayesha yang dari tadi berusaha tidak menanggapi ocehan Vania, akhirnya buka suara.


"Iya tuh. Kamu merasa kesal ya, melihat Brian yang tadinya lemas, begitu Ayesha datang dia langsung semangat. Padahal kamu tadinya berharap kalau Brian semangat karena ada kamu. Kasihan, tidak dianggap," timpal Retha, yang dibarengi dengan senyum mengejek.


"Hei, kalian terlalu percaya diri. Brian tidak semangat tadi, karena Brianna sakit jadi tidak bisa menonton dia bertanding. Kalau sekarang dia semangat, itu karena dia tidak ingin mengecewakan timnya. Jadi, jangan merasa sok penting di sini!" balas Vania, ketus.


"Yakin?" Retha tersenyum smirk.


"Asal kamu tahu, kami datang ke sini, karena Arga yang memohon. Dan asal kamu tahu juga, kami sudah tahu kalau Brian sama sekali tidak pernah membuang muffin pemberian Ayesha. Yang kamu photo itu, kotak punya Brianna dan itu sudah habis," sambungnya kembali.


Wajah Vania sontak berubah pucat.


"Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana marahnya Brian nanti, kalau tahu kamu sudah memfitnahnya. Dia pasti menyadari betapa bermuka duanya kamu." Vania semakin pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.


"Tapi, kamu tenang saja, kami masih berbaik hati untuk tidak memberitahukan pada Brian, mengingat kita sebentar lagi akan lulus. Tapi, aku sarankan, jangan sesekali kamu mengusikku lagi!" Ayesha ikut buka suara, menimpali ucapan Retha.


Peluit panjang tanda pertandingan berakhir yang hasil akhir dimenangkan oleh tim sekolah Brian.


Pria itu melirik ke arah Ayesha, dan Ayesha melemparkan senyumnya ke arah pemuda itu.


"Ternyata, hanya Ayesha yang bisa buat kamu semangat lagi," bisik Kenjo.


"Tapi, kenapa dia bisa berubah pikiran ya? bukannya kemarin dia bilang tidak akan datang?" Radit buka suara.


Tidak ada yang menjawab sama sekali. Hanya Arga yang tersenyum penuh makna.


tbc