Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Tidak mau lagi



"Bagaimana, Nak? Apa Ayesha benar-benar hamil?" begitu Brian dan Ayesha keluar dari dalam ruangan, mereka berdua langsung dicecar dengan pertanyaan dari orang tua masing-masing. Sementara para sahabat hanya diam menunggu salah satu dari mereka buka suara. Hanya, Radit dan Vania yang tidak ada di tempat itu. Karena Retha berjanji akan segera memberi kabar, kalau kondisi Ayesha benar-benar sudah diketahui.


"Iya, Kak Ayesha memang hamil, dan usia kandungannya sudah 4 minggu," bukan Ayesha maupun Brian yang menjawab melainkan Tisha yang baru saja keluar dari dalam ruangannya.


"Hei, kenapa kamu yang jawab? Yang ditanya kan kami?" protes Brian dengan ekspresi tidak senang.


"Kakak kelamaan jawabnya. Orang cape menunggu," sahut Tisha tidak merasa takut dengan tatapan kakak sepupunya.


"Jadi, Ayesha benar-benar hamil?" sorak Ayunda dan Amara hampir bersamaan. Seakan tidak peduli siapapun yang menjawab pertanyaan mereka tadi.


"Selamat ya, Nak! Sebentar lagi akan jadi seorang ibu! Jangan terlalu kecapean!" Ayunda memeluk Ayesha lalu mengelus perut menantunya itu.


"Terima kasih, Ma!" sahut Ayesha, dengan seulas senyuman di bibirnya.


Setelah Ayunda selesai memberikan selamat, semua yang ada di tempat itupun juga mengucapkan selamat pada Ayesha dan Brian.


"Hebat juga kamu, Sob! Kecebong kamu lagi jadi," ucap Arga yang langsung mendapat gelak tawa dari yang lain.


"Iya, Dong!" Brian terlihat sangat bangga.


"Akhirnya kita sebentar lagi akan jadi kakek ya, Bim. Waktu benar-benar cepat berlalu!" celetuk Radit sembari merangkul pundak sahabatnya itu.


"Iya sih, Dit. Tapi nanti aku tidak mau dipanggil Kakek. Kesannya aku kaya udah sangat tua,"sahut Bima, yang disambut tawa oleh orang-orang yang ada di tempat itu.


"Kalau tidak mau, dipanggil Kakek, kamu maunya dipanggil apa? Opa? Sama saja kan? Atau kamu mau dipanggil Kakak? kalau itu sangat tidak cocok. Kamu harus ingat usia!" celetuk Ayunda dengan sudut bibir yang sedikit terangkat ke atas.


"Lah, walaupun usiaku sudah tua, tapi jiwa dan wajahku tetap muda. Aku yakin, masih banyak gadis yang tertarik denganku," goda Bima, sembari mengerlingkan matanya.


"Awas saja kamu, kalau sampai cari daun muda! Siap-siap saja perkakas kamu itu aku potong dan cincang sampai tidak berbentuk," sahut Ayunda dengan mata yang menatap tajam ke arah suaminya.


Bima seketika bergidik melihat tatapan sang istri. Melihat ekspresi Bima, yang biasanya datar dan berwibawa, ternyata takut istri juga, membuat yang lainnya kembali tertawa. Hanya Radit papanya Ayesha yang sama sekali tidak tertawa. Pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Bim, aku sudah punya nama untuk calon cucu kita nanti. Baik itu kalau perempuan maupun laki-laki!" seru Radit tiba-tiba. Ternyata yang membuat pria itu dari tadi diam, dia tengah berpikir keras nama calon cucu mereka.


"Kenapa jadi kamu yang memikirkan nama? harusnya aku lah. Dia kan nanti penerus keluarga kami. Kan papanya anakku," sahut Bima, tidak terima.


"Kan yang mengandung putriku. Kalau tidak ada putriku, emangnya cucu kamu akan lahir? Tidak kan?" Radit tidak mau kalah.


"Ahh, pokoknya tidak bisa. Nama calon cucu kita, harus aku yang pilihkan!" sama halnya dengan Radit, Bima juga tidak mau kalah.


"Hei, kenapa jadi kalian berdua yang berdebat. Emangnya siapa yang kasih kalian hak untuk memberikan nama?" Amara mamanya Ayesha yang dari tadi sudah sangat kesal melihat perdebatan dua pria paruh baya yang unfaedah itu akhirnya buka suara.


"Belum lahir saja, kalian sudah berdebat begini. Lagian calon cucu kita, itu punya orang tua, jadi harusnya kalian tidak boleh mengambil hak mereka untuk kasih nama. Kecuali, kalau mereka yang meminta kalian untuk memilih nama, baru boleh!" sambungnya kembali.


"Nah, benar tuh!" Ayunda menimpali ucapan Amara.


Radit dan Bima akhirnya terdiam tidak berani untuk membantah lagi.


Sementara itu, Brianna berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah para orang tua itu. Namun, ia memilih untuk tidak protes. Wanita itu justru melangkah menghampiri Ayesha.


"Selamat ya, akhirnya sebentar lagi aku akan jadi Aunty juga." Brianna meraih tubuh Ayesha dan memeluk sahabat yang sudah menjadi adik iparnya itu.


"Jaga kesehatan kamu ya Yesha. Benar kata mama tadi, jangan sampai kecapean. Dan kalau kamu butuh sesuatu, langsung katakan saja pada Brian. Kalau dia tidak mau, kamu lapor ke aku, biar aku kasih pelajaran dia!" lanjut Brianna.


"Dan kamu Brian, ingat ... Kamu harus baik-baik sama Yesha! Paham kamu!" Saat berbicara dengan Ayesha, suara Briana terdengar sangat lembut. Giliran bicara dengan Brian, Brianna berbicara dengan penuh tekanan.


"Kalian apa-apaan sih? dari tadi, semuanya mengintimidasi aku! Ayo, Sayang kita pulang sekarang! Katanya mau aku masakin Spaghetti," Brian meraih tangan Ayesha, lalu menuntun istrinya itu untuk beranjak pergi.


"Ma, Pa semuanya, kami pamit ya?" Ayesha masih sempat berbalik ke arah yang lainnya, di tengah Brian yang masih menarik tangannya.


"Kamu Kenjo, kapan mau melamar Brianna? Arga dan Retha tidak lama lagi menikah, kamu tunggu apa lagi?" tiba-tiba Bima bersuara. Kali ini Bima sudah kembali ke mode tegasnya.


"Emm, doakan secepatnya, Om!" sahut Kenjo dengan sedikit gugup.


"Om tunggu kabar baiknya!" tegas Bima.


"Sekarang, ayo pulang semua!" titahnya sembari meraih tangan Ayunda, lalu beranjak pergi diikuti oleh yang lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayesha dan Brian kini sudah tiba di rumah mereka. Sesuai janji Brian tadi, ia pun langsung beranjak ke dapur untuk memasak permintaan Istrinya.


Ia pun mulai memasang Apron, lalu melihat cara pembuatannya di Video. Pria itu benar-benar terlihat sangat serius saat mencoba untuk memasak. Keseriusan pria itu benar-benar membuat Ayesha melihat suaminya itu terlihat semakin tampan di matanya.


"Jangan melihatku seperti itu, Sayang! aku jadi tidak konsentrasi," Di balik keseriusannya, ternyata pria itu tetap tahu kalau sang istri sedang menatapnya dengan tatapan intens dan dalam.


"Bagaimana aku bisa berhenti melihatmu? Kamu sekarang terlihat dua kali lebih tampan, Sayang," puji Ayesha, membuat Brian tersenyum lebar. Pria itu terlihat bersikap biasa saja, mendengar pujian sang istri, namun kalau saja Ayesha bisa melihat hati pria itu, bisa dipastikan kalau dia akan melihat hati suaminya itu sedang berdisko di dalam sana.


"Akhirnya selesai juga! Mudah-mudahan enak!" seru Brian, tersenyum puas melihat hasil masakannya yang dari penampilannya terlihat tidak buruk. Baru saja Brian hendak memberikan hasil masakannya ke Ayesha, ternyata istirinya itu sudah tertidur dengan kepala di atas meja. Mungkin karena baru belajar, Brian memakan waktu cukup lama hanya untuk membuat seporsi spaghetti saja, sehingga membuat sang istri tidak bisa menahan kantuknya.


"Sayang, Spaghettinya sudah jadi. Ayo makan, mumpung masih hangat," Brian mencoba membangunkan sang istri.


Merasa ada yang membangunkannya, Ayesha pun membuka matanya perlahan-lahan.


"Ayo, Sayang dimakan spaghettinya!" Brian tersenyum bahagia, melihat Ayesha yang sudah bangun.


"Emm, aku sudah tidak ingin makan spaghetti lagi! Aku mengantuk, mau tidur. Aku ke kamar dulu ya, Sayang!" dengan mata kantuknya, Ayesha berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Brian yang mematung.


"Sayang, jadi spaghetti ini bagaimana?" teriak Brian.


"Kamu makan saja! Aku mau tidur!" sahut Ayesha tanpa menoleh dan tetap melanjutkan langkahnya.


"Arghhh, padahal sudah capek-capek masaknya. Ujung-ujungnya tidak di makan!" umpat Brian, kesal.


"Aku makan saja deh! Sayang kalau dibuang!" batin Brian. Ia pun mulai menyendokkan spaghetti ke dalam mulutnya. Namun kunyahan pertama, pria itu langsung memuntahkannya. "Astaga kenapa bisa asin Sekali? Untung Ayesha tidak jadi makan. Aku harus cepat-cepat buang, takut dia tiba-tiba datang lagi!" Brian pun buru-buru membuang spaghetti buatannya ke dalam tempat sampah.


Tbc


Tbc