
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Tidak terasa kalender sudah berganti empat kali, yang berarti Aleena putri pertama dari Brian dan Ayesha sudah berusia empat tahun.
Aleena tumbuh menjadi seorang anak yang sangat cantik, cerdas dan menggemaskan. Tingkah balita itu selalu membuat Brian dan Ayesha kewalahan.
"Aleena makan nasinya dong, Sayang. Jangan dibiarkan begitu saja. Kamu tidak kasihan ya, sama Mama, yang sudah capek masak, tapi makanan tidak dihabiskan," Ayesha memasang wajah sedih.
pipi wanita itu terlihat semakin chubby, dan perutnya juga terlihat besar. Bagaimana tidak, Ayesha sekarang sedang mengandung lagi, dan berdasarkan hasil USG, bayi yang dikandungnya sekarang kembar dan dua-duanya berjenis kelamin laki-laki.
"Iya, Ma. Aku makan nasinya. Mama jangan nangis ya! nanti dedek twinnya, ikut nangis," Karena melihat wajah mamanya yang terlihat sedih, Aleena kecil pun langsung menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Melihat tingkah Aleena yang begitu menggemaskan, membuat Ayesha tersenyum manis.
"Nah, gitu dong! Lihat mama sekarang sudah tersenyum. Dedek twinnya juga di dalam pasti tersenyum," sahut Ayesha sembari duduk di samping anak perempuannya itu.
"Dedek twinnya kapan lahirnya si, Ma? Aku udah tidak sabar mau lihat dedeknya," tanya Aleena dengan bahasa khas anak-anak, sembari mengunyah makanannya.
"Emm, sebentar lagi, Nak. Mungkin 3 mingguan lagi. Kamu yang sabar ya!" Ayesha mengelus-elus lembut rambut sang putri.
"Papa, pulang!" seru Brian yang tiba-tiba muncul.
"Yee,Papa pulang!" Aleena melompat dari kursinya dan menghambur ke arah Brian yang merentangkan tangannya.
"Hmm anak Papa yang cantik ini lagi makan ya? kenapa makanannya belum habis?" tanya Brian sembari menggendong Aleena dan berjalan ke arah meja makan.
"Aleena, sudah kenyang, Pah,"
"Yakin sudah kenyang? Kalau Papa yang siapin bagaimana?" tanya Brian dengan lembut.
Mendengar ucapan Brian, Aleena tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, anak Papa yang cantik ini duduk dulu, biar Papa enak nyuapin nya,"
Aleena lagi-lagi menganggukkan kepalanya dan duduk kembali di kursinya. Sementara itu, sebelum Brian duduk, ia lebih dulu mencium puncak kepala sang istri. Kemudian ia duduk di dekat Aleena dan mulai menyuapi putri kecilnya itu.
"Sayang, sebentar lagi Arga dan Retha akan ke sini. Radit dan Vania juga," ucap Brian sembari tetap menyuapkan makanan ke dalam mulut putrinya.
"Aku sudah tahu, Sayang. Tadi Retha dan Vania sudah menghubungiku. Tapi kenapa Kenjo dan Kak Brianna tidak ikut datang?" tanya Ayesha.
"Emm, entah! Katanya Kenjo lagi sibuk sekali, jadi nggak bisa datang," sahut Brian.
Di saat bersamaan, terdengar suara yang datang dari luar. Brian dan Ayesha yakin kalau itu adalah para sahabat mereka yang datang membawa anak- anak masing-masing.
Benar saja, tampak dua pasang suami istri bersama dengan anak masing-masing muncul di ambang pintu. Arga tampak sedang menggendong seorang anak perempuan yang masih berusia 3 tahun. Sedangkan anak keduanya yang berusia satu tahun bersama dengan Retha. Sedangkan Vania tampak sedang hamil anak kedua sama seperti Ayesha. Anak pertamanya laki-laki sekarang sedang digandeng oleh Radit.
"Hai, Aleena!" sapa Radeon, putra dari pasangan Radit dan Vania. Bocah laki-laki itu langsung melepaskan tangan papanya dan menghampiri Aleena.
"Kamu lagi makan ya, Len?" tanya Radeon yang sering dipanggil Deon, sembari duduk di samping Aleena.
"Iya, Deon," sahut Aleena sembari tersenyum manis. "Kamu mau makan juga?" imbuhnya.
Radeon menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menutup mulutnya. "Aku masih kenyang," sahut bocah laki-laki itu.
"Kak Aleena masih disuapin ya makannya? apa Kakak tidak malu, sudah besar masih saja disuap?" Andin putri pertama Retha buka suara dengan nada meledek.
"Ih, Andin, kamu tidak idak boleh seperti itu! tidak apa-apa kalau makan masih disuapin, kan masih kecil. Aku aja, masih disuapin kok kalau makan," Radeon kembali buka suara.
"Idih, cari muka!" cetus Andin, yang memang apa adanya.
"Sob, kita ke taman belakang aja yuk! aku sudah pesan makanan untuk kita. Mungkin sebentar lagi akan datang," ucap Brian yang sepertinya sudah selesai memberikan Aleena makan.
"Boleh juga! Ayolah!" sahut Arga.
"Anak-anak, ayo ikut ke belakang!" kali ini Retha yang buka suara.
Baru saja mereka hendak beranjak pergi, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang wanita yang sangat familiar di telinga mereka. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Brianna.
"Hai, we are coming!" seru kakak kembar Brian itu dengan wajah semringah. Di samping kanannya berdiri seorang bocah laki-laki berusia dua tahun, yang tidak lain adalah putra pertamanya dengan Kenjo. Sedangkan di samping kirinya berdiri seorang bocah perempuan, berusia sama dengan bocah laki-laki tadi. Ya, Brianna memiliki anak kembar laki-laki dan perempuan sama seperti mama dan papanya.
"Lho, Kak ... katanya nggak bisa datang, tapi kok tiba-tiba sudah datang saja," sapa Ayesha.
"Tahu tuh. Demen banget buat kejutan," Retha buka suara menimpali ucapan Ayesha.
"Kenapa harus heran sih? Bukannya dia memang sudah biasa seperti ini?" kali ini Vania yang buka suara. Wanita yang pernah terobsesi sekali dengan Brian itu, benar-benar bersyukur sudah bisa menjadi diri sendiri dan punya sahabat yang tulus seperti Ayesha, Retha dan Briana.
Briana sama sekali tidak menjawab. Ia hanya tertawa kecil menanggapi ocehan ke tiga sahabatnya itu.
"Kenjo di mana? Dia tidak ikut?" Brian buka suara.
Brianna sontak terkesiap kaget, baru menyadari kalau suaminya belum ada di sampingnya.
"Astaga, tadi dia ikut kok. Aku memintanya untuk membawa bahan-bahan untuk kita berbecue an. Karena aku yakin, kalau Ayesha tidak akan sempat melihat perutnya yang sudah sangat besar," Brianna menoleh ke belakangnya, untuk mencari keberadaan suaminya.
Tidak menunggu lama, tampak Kenjo datang sembari menenteng dia kantongan di kedua tangannya.
"Tega kamu ya, Sayang. Bukannya aku tadi memintamu untuk memindahkan tolong pada salah satu dari mereka untuk membantuku?" protes Kenjo, membuat semua yang ada di ruangan itu terbahak.
"Maaf, Sayang. Aku lupa!" Brianna cengengesan.
"Sudahlah, ayo ke belakang!" Brian kembali buka suara setelah tawa mereka reda.
Sementara anak-anak sedang bermain, para orang tua yang merupakan sahabat itu saling bercengkrama, bersenda gurau sembari melakukan berbecue. Sesekali mereka tetap memperhatikan anak-anak mereka.
Mereka semuanya tampak sangat bahagia. Semua rintangan, mulai dari kesalahpahaman, gengsi obsesi kini sudah berhasil mereka lewati berganti dengan kebahagiaan yang diharapkan bisa berlanjut sampai selamanya.
Tamat
Akhirnya Karya ini tamat juga. Terima kasih buat yang sudah berkenan mendukungku selama ini. Baik yang sudah memberikan vote,like, hadiah serta komentar.Tanpa kalian semua, novel ini tidak ada apa-apanya. Kalianlah yang memberikan semangat buatku selama ini. Send hug virtual dan love-love di udara buat kalian semua.
Kenapa sudah tamat Thor?
Ya, karena mereka semua sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing. Kalau dilanjutpun paling cuma akan menceritakan kehidupan mereka sehari-hari dan pastinya akan membosankan.
Aku Sadar kalau novel ini masih jauh dari kata bagus, tapi aku berharap karya yang tidak seberapa bagus ini bisa memberikan hiburan buat kalian semua. Sekali lagi, aku mau mengucapkan beribu terima kasih buat kalian semua. Maaf, kalau aku tidak membalas komentar kalian satu persatu bukan tidak menghargai, tapi jujur aku tetap baca dan sangat bersyukur melihat antusiasme kalian semua. Semoga kalian semua sehat selalu, dan ditambahkan rejeki.
See you in the next story 🥰💞💞