Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Resepsi



Setelah mengucapkan janji nikah, akhirnya Radit dan Vania sah menjadi suami istri. Sekarang keduanya sedang berada di sebuah ruangan, sementara yang lainnya sedang makan siang di luar ruangan itu, menunggu resepsi pernikahan Radit dan Vania nanti malam. Ini


Suasana di dalam ruangan tampak sangat sunyi, karena baik Radit maupun Vania tidak ada yang bersuara. Sepasang insan yang baru saja menjadi suami istri itu tampak canggung untuk memulai pembicaraan.


"Emm, Van, kamu kenapa diam saja? Kamu tidak ikhlas ya menikah denganku?" akhirnya setelah sekian menit mereka terdiam, Radit akhirnya memberanikan diri untuk buka suara, mencairkan suasana akward di antara mereka berdua


"Bu-bukan seperti itu, Dit. Aku hanya tidak menyangka kalau kamu menyimpan perasaan padaku selama itu. Kamu tidak bohong kan?" sepertinya Vania masih ragu dengan perasaan Radit.


Radit menghampiri Vania dan tiba-tiba menarik pinggang wanita itu hingga tubuh wanita itu menempel ke tubuhnya.


"Coba kamu lihat mataku! Apa kamu melihat ada kebohongan di situ?" Vania mengerjab-erjab kan matanya, saking kagetnya dengan tindakan Radit tadi. Kemudian, ia pun mulai melihat mata pria itu. Vania melihat tampak jelas di mata pria itu menyimpan rasa cinta yang amat besar untuknya.


"Bagaimana?" ulang Radit, karena Vania bel memberikan Jawaban sama sekali.


Vania sama sekali tidak memberikan jawaban. Wanita itu kini justru menundukkan kepalanya, tidak kuat menatap mata Radit. Semburat merah juga kini sudah menghiasi pipi wanita itu.


Melihat reaksi Vania, Radit melukiskan sebuah senyuman di bibirnya, menyadari kalau wanita yang sudah menjadi istrinya itu, sekarang tengah malu. Pria itu kemudian menyentuh dagu Vania dengan lembut dan mengangkatnya agar dia bisa melihat wajah wanita itu.


"Kenapa kamu tidak jawab? Apa kamu masih ragu denganku?" tanya Radit tepat di wajah Vania, hingga wanita itu bisa merasakan embusan napas pria itu.


"A-aku percaya? Ta-tapi kenapa kamu tidak mengatakannya dari dulu?" suara Vania terdengar lirih.


"Karena sebenarnya aku tahu kalau saat itu kamu berusaha mendekati Brian, walaupun kamu selalu mengatakan kalau kamu menganggap dia hanya sebagai sahabat," sahut Radit sembari melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang wanita itu.


"Aku hanya ingin kamu bahagia, Van. Aku juga tidak inginkan kita nanti akan menjadi asing kalau aku mengungkapkan perasaanku padamu," lanjut Radit lagi.


Vania diam seribu bahasa. Seketika ia merasa dirinya semakin buruk dengan dirinya mengingat dulu yang terlalu obsesi pada Brian. Tidak seperti Radit yang berusaha menepis perasaannya hanya demi melihatnya bahagia.


"Kami kenapa diam lagi, Van?" Radit kembali buka suara dengan alis bertaut tajam.


"Oh, tidak apa-apa, Dit!" sahut Vania sembari menggigit bibirnya.


"Van, aku tahu kalau kamu mungkin belum bisa mencintaiku. Tapi, aku akan berusaha untuk membuat kamu bisa mencintaiku, sama seperti kamu mencintai Brian dulu,"


Vania berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu tidak perlu berusaha lagi, Dit. Karena sebenarnya kamu sudah berhasil membuatku jatuh cinta padamu," Mata Radit sontak membesar sempurna, kaget dan rasa bahagia bercampur menjadi satu.


"Ka-kamu serius, Van?" tanya Radit, memastikan.


Bibir Vania melengkung membentuk senyuman manis, seraya menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Sejak kapan?" suara Radit terdengar lirih, masih kurang yakin.


"Sejak selama sebulan kita selalu bersama mempersiapkan pernikahan Brian dan Ayesha. Saat itu, aku merasa nyaman di dekatmu, dan bahkan tidak merasa sedih sama sekali saat mempersiapkan pernikahan Brian," tutur Vania dengan wajah yang memerah, malu.


"Yes!" Radit tiba-tiba meraih tubuh Vania dan memeluk wanita itu sangat erat, seakan tidak mau melepaskan wanita itu.


.


.


.


Di sebuah ruangan tampak Vania sudah terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin yang mewah, buatan Retha.


"Wah, cantik sekali kamu, Van! Radit pasti akan semakin jatuh cinta padamu," puji Ayesha, jujur.


"Terima kasih, Sha! Kamu juga cantik," Vania balik memuji.


"Tidak Nyangka ya, kalau jodoh kamu ternyata Radit? Tahu gitu, mending dari dulu menikahnya? iya kan?" celetuk Retha dengan nada meledek.


"Apa-an sih, Tha?" Vania tersipu malu. "Terima kasih ya buat kalan bertiga. Kalian sudah memberikan saran seperti itu," imbuh Vania.


.


.


.


Radit terdiam terpaku saat pertama kali melihat penampilan Vania yang sekarang terlihat sangat cantik, dengan gaun mengembang dan mahkota di kepalanya.


"Hei, kenapa bengong? Gandeng istrimu ke depan!" Arga menyikut lengan Radit, menyadarkan pria itu dari kekagumannya.


"Eh, i-iya!" suara Radit terdengar gugup. Ia pun melangkah menghampiri Vania, lalu mengeluarkan tangannya.


"Ayo, Sayang!" panggilan Radit kini sudah berganti menjadi sayang.


Vania tersenyum manis lalu menyambut uluran tangan dari Radit. Selepas itu, mereka berdua pun bersama-sama melangkah masuk ke dalam gedung tempat acara resepsi mereka dilaksanakan.


Saat sudah berdiri di ambang pintu, Mata Vania berbinar bahagia, terkagum-kagum dengan dekorasi pernikahan yang sudah disiapkan oleh Brian dan Vania. Ekspresi wajah bahagia Vania, tentu saja tidak lepas dari pandangan pria yang berdiri di sampingnya.


"Ternyata begini rasanya melihat wanita yang kita cintai bahagia melihat sesuatu yang bukan kita yang melakukannya. Rasanya, sakit bercampur kesal. Berarti inilah yang dirasakan Brian saat itu," batin Radit sembari menghela napasnya dengan kesal.


"Bagaimana rasanya? Kesal kan?" bisik Brian yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.


Radit tidak memberikan jawaban. Pria itu hanya melirik kesal ke arah Brian.


"Selain pada Brian, kamu harus berterima kasih padaku, karena aku sudah rela mengundurkan pernikahanku dengan Retha, demi mendahulukan pernikahanmu," kini gantian Arga yang berbisik.


"Iya, iya terima kasih! Kalian sudah selesai bicara kan? Aku mau jalan ke pelaminan sekarang!" sahut Radit, membuat Arga berdecak kesal.


"Cih, dasar belagu! Sombong dia, karena lebih dulu menikah!" umpat Arga kesal.


"Sabar, Ga! sebentar lagi juga kan giliranmu," ucap Kenjo.


Suara tepuk tangan yang meriah kini terdengar bersahut-sahutan menyambut dua sejoli saat berjalan menuju pelaminan. Langkah mereka berdua juga diiringi dengan lagu ' I wanna grow old with you'.


Tampak dari barisan depan, seorang pria paruh baya, menatap dengan mata berkaca-kaca ke arah pengantin. Pria itu tidak lain adalah Vino, papanya Vania. Ia tidak menyangka kalau waktu berlalu begitu cepat. Anak perempuan yang dia besarkan dari usia 8 tahun tanpa hadirnya seorang istri di sampingnya ternyata sudah dewasa dan bahkan sekarang sudah menjadi milik pria lain.


"Semoga kamu bahagia selalu, Nak!" batin pria paruh baya itu dalam hati.


Tbc