Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Kamu bukan sahabat kami lagi!



"Tidak, aku tidak percaya, Yesha! Kamu mengatakan ini, karena diminta sama Vania kan? Kamu pasti merasa tidak tega sama dia, makanya kamu mengatakan ini. Kamu kira aku tidak bisa tebak," Brian masih menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas, aku tidak bohong. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!" tegas Ayesha.


Brian tersenyum smirk, masih tetap tidak percaya. "Coba sekarang kamu lihat mataku dan katakan kalau kamu memang sudah tidak mencintaiku!" tantang Brian. Pria itu benar-benar yakin kalau wanita di depannya itu sedang berbohong.


"Kenapa? Kamu tidak berani menatap mataku kan? Berarti kamu masih mencintaiku, sama sepertiku yang masih mencintaimu," lanjut Brian lagi, ketika Ayesha sama sekali tidak berani menatapnya.


"Siapa bilang aku tidak berani menatapmu. Sekarang kamu lihat jelas-jelas, kalau aku benar-benar serius dengan ucapanku tadi!" Merasa tertantang dan merasa sudah terlanjur, Ayesha akhirnya memberanikan diri untuk menatap mata Brian, sembari berusaha menekan perasaannya yang bergejolak.


"Yang kuat, Yesha! kamu pasti bisa!" bisik wanita itu pada dirinya sendiri.


"Brian, sekali lagi aku katakan, aku sudah tidak mencintaimu lagi! Perasaanku sudah berubah dan sekarang sudah dimiliki oleh orang lain!" tegas Ayesha, dengan sorot mata yang meyakinkan.


Brian bergeming, diam seribu bahasa. Ia bisa melihat jelas sorot mata Ayesha yang sepertinya benar-benar tidak berbohong, tapi ia juba bisa melihat kalau kebohongan wanita itu tidak seratus persen.


Brian kembali tersenyum smirk dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau memang benar, sekarang coba kamu tunjukkan siapa pria itu. Aku yakin kamu pasti tidak akan bisa menunjukkannya, karena memang tidak ada, iya kan?" tantang Brian yang masih benar-benar merasa yakin kalau wanita yang dicintainya itu berbohong.


Ayesha memejamkan matanya sekilas, lalu membukanya kembali. Kemudian ia mengembuskan napas dengan sekali hentakan dan terasa berat.


"Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan menunjukkann siapa dia, tapi aku harap kamu jangan kaget dan marah. Pria itu sahabatmy sendiri, Radit." Ayesha meraih tangan Radit dan menggandeng pria itu.


Semua mata yang ada di tempat itu membesar dengan sempurna, terkesiap kaget melihat dengan kepala mata sendiri, Ayesha yang menggandeng tangan Radit, dan tidak ada penolakan sama sekali dari pria itu.


"Tidak, aku tidak percaya, karena ini sama sekali tidak mungkin. Kamu bahkan juga baru bertemu dengan Radit sama sepertiku. Ini tidak benar kan, Dit?" Brian menatap Radit dengan tatapan meminta penjelasan.


Radit menghela napasnya dengan cukup berat dan memasang wajah sendu. "Sayangnya ini benar, Brian. Maaf!" ucap Radit.


Brian kembali bergeming, sulit untuk berbicara. Pria itu benar-benar kaget, hingga jantungnya terasa benar-benar sakit.


"Radit, jangan bohong kamu!" Arga yang dari tadi diam saja, tidak bisa diam lagi ketika melihat wajah Brian yang benar-benar shock.


"Aku tidak berbohong. Sebenarnya aku dan Ayesha kuliah di universitas yang sama di Amerika. Aku selalu memperhatikan dia dan akhirnya aku tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta padanya. Kami sering bertemu diam-diam, bahkan Retha saja tidak tahu," tutur Radit, membuat semua yang ada di tempat itu semakin kaget, tidak terkecuali Retha.


"Jadi selama ini kamu tahu di mana Ayesha, tapi kenapa kamu tidak memberitahukanku, bangsat!" pekik Brian dengan napas memburu.


"Maaf! Awalnya, aku hanya berpikir ini demi kebaikanmu. Karena saat itu aku tahu kalau kamu masih berusaha untuk melupakan Ayesha. Aku memilih untuk tidak memberitahukan kamu, agar kamu benar-benar bisa melupakan dia! Di saat kita liburan ke Paris, Ayesha dan Retha juga liburan ke sana," terang Radit, panjang lebar.


"Biadab kamu! Jangan pernah bilang demi kebaikanku. Ini murni demi kebaikanmu, bangsat!" wajah Brian terlihat semakin memerah. Rahang pria itu bahkan sudah mengeras dengan tangan yang terkepal kencang.


"Kamu benar-benar kelewatan, Radit. Kamu tahu kalau Ayesha itu wanita yang dicintai Brian, tapi kenapa kamu berusaha untuk mendekatinya, hah! Sahabat macam apa kamu!" Arga juga terlihat sudah dipenuhi dengan amarah.


"Atau kamu juga sudah tahu sebelumnya, kalau pria yang disalahpahami Brian dan aku itu Omnya Ayesha?" tukas Arga lagi.


Radit terlihat melirik Ayesha yang sekarang terlihat menggigit bibirnya. Tampaknya wanita itu sedang gugup sekarang.


"Jawab, Radit!" bentak Arga, tidak sabar.


"Iya!" sahut Radit akhirnya.


"Brengsek!" umpat Brian dengan tangan yang melayang meninju wajah Radit.


Bugh ....


Tanpa bisa dihindari oleh Radit, pukulan Brian, mendarat telak di pipinya, hingga membuat tubuh pria itu tersungkur ke lantai.


Napas Brian semakin memburu, rahangnya kembali mengeras ditambah wajahnya semakin yang memerah melihat pemandangan di mana Ayesha membantu Radit berdiri.


"Beraninya kamu memukulnya! Dia tidak salah. Ingat, kita itu sudah tidak punya hubungan apapun, jadi dia sama sekali tidak merebutku darimu!" ucap Ayesha dengan tegas.


Dada Brian semakin terasa sesak, mendengar Ayesha yang membela Radit.


"Dia tetap salah, Ayesha! Seandainya dia memberitahukan yang sebenarnya, mungkin kesalahpahaman Brian padamu, juga aku ke Retha tidak akan selama ini. Tapi, apa? Dia menyembunyikannya demi keuntungan pribadi. Apa dia masih bisa dikatakan sahabat?" kali ini Arga yang buka suara, dengan tatapan membunuh ke arah Radit.


"Kami benar-benar kecewa padamu, Radit!" kali ini Kenjo yang buka suara. Kamu tahu, tanganku juga ingin sekali meninju wajahmu!" sambungnya lagi.


"Maaf!" desis Radit, lirih.


"Maafmu tidak bisa merubah keadaan. Sekarang kamu bukan sahabat kami lagi!" pergi kamu dari sini!" Arga kembali buka suara.


"Kalian tidak boleh seperti itu! Ini bukan salah Radit!" Ayesha kembali bersuara.


"Kamu jangan membelanya lagi, Yesha. Aku juga kecewa dengan kamu. Aku menyesal sudah membela kamu selama ini," kali Brianna yang buka suara.


"Kenapa sih kalian bisa seperti ini? Perasaan cinta, itu bisa timbul kapan saja, dan kita tidak bisa mencegahnya. Termasuk kami berdua,"


"Kamu memang mungkin bisa tidak salah, karena kamu tidak tahu kalau aku itu hanya salah paham padamu. Tapi, bagaimana dengan Radit? Dia itu sudah tahu tapi dia malah memilih untuk diam. Jadi, dia memang sengaja dari awal. Seandainya dia kasih tahu, Bisa dipastikan aku akan menemuimu dan punya kesempatan untuk mendapatkan hatimu lagi, Yesha. Tapi, apa yang dia lakukan? dia diam saja dan malah mengambil kesempatan untuk mendekatimu," Brian kembali buka suara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, Brian. Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bisa mencegah perasaanku," sahut Radit, dengan lirih.


"Aku tidak akan memaafkanmu! Sekarang pergi dari sini. Persahabatan kita berakhir sampai di sini! Aku tidak mau punya sahabat penghianat sepertimu!" tegas Brian dengan mata yang berkilau penuh amarah dan kebencian.


"Ada apa ini? Maaf, tolong jangan berisik karena ini rumah sakit!" tiba-tiba seorang perawat keluar dari dalam ruangan Vania.


"Maaf,Sus!" sahut Vino papanya Vania.


"Oh ya, pasien sepertinya sudah siuman dan dia menyebut nama Brian, apa yang namanya Brian ada di sini?" lanjut perawat itu lagi.


Vino kemudian menatap ke arah Brian, dengan tatapan memohon.


"Nak Brian, mau kan kamu menemui anakku dan mau menerima perasaannya?" Vino kembali memohon.


Ekor mata Brian melirik ke arah Ayesha yang sama sekali belum beranjak dari tempatnya.


"Baiklah, Om. Aku akan coba menerimanya. Karena ternyata tidak ada yang setulus anak Om," ucap Brian, tegas.


"Terima kasih, Nak Brian!" pria paruh baya itu tersenyum dengan wajah berbinar.


"Kalau begitu, ayo kita masuk!" Vino melangkah masuk, disusul oleh Brian. Bukan hanya Brian, Arga, Kenjo, Briana dan Retha juga ikut masuk, tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Ayesha dan Radit. Hanya Retha yang menatap sendu ke arah Ayesha, yang terlihat jelas sedang menahan air mata.


"Maaf ya Radit, sudah membuat kamu terlibat dengan masalah ini! Aku juga sudah membuat kamu kehilangan sahabat-sahabat kamu, dan bahkan membencimu. Kalau tahu akan seperti itu, aku tidak akan memohon padamu agar berpura-pura menjadi pacarku," ucap Ayesha dengan tatapan sendu dan penuh rasa bersalah.


"Tidak perlu minta maaf, Sha. Semuanya sudah terlanjur. Lagian aku juga mau melakukannya demi kebahagiaan Vania.Jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah. Justru aku berterima kasih padamu sudah mau berkorban merelakan Brian, demi Vania," ucap Radit.


tbc


Sekarang pasti semuanya semakin kesal pada Ayesha dan Radit. Bukan hanya itu, pasti juga kalian ingin nimpuk Author. Iya kan? 😁😁😁. Sabar ya guys, akan indah pada waktunya kok.