Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Kok bukan Retha?



Vania berjalan dengan anggunnya, masuk ke dalam lobby. Penampilan wanita itu terlihat berbeda dari biasanya. Wajahnya terlihat berbinar dan senyum tidak pernah tanggal dari bibirnya.


"Coba lihat, Mbak Vania terlihat beda hari ini!" bisik salah satu resepsionis ke pada rekan kerjanya.


"Iya ya? Mungkin karena CEO baru itu akan datang. Dia mungkin mau menarik perhatian, CEO baru itu," sahut temannya itu.


Vania terlihat duduk dengan kaki menyilang seraya melirik ke arah pintu masuk yang terbuat dari kaca lalu ke arah jam di tangannya bergantian.


"Brian di mana sih? Kenapa belum nyampe jam segini?" wajah wanita itu mulai terlihat panik, ketika jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Sementara itu para karyawan sudah berkumpul di lobby untuk menyambut CEO baru.


Yang ditunggu-tunggu Vania akhirnya datang juga. Tampak Brian berjalan dengan gagahnya memasuki lobby.


Vania sontak memasang senyum lebar dan termanisnya, lalu memperbaiki penampilannya.


"Wah, CEO baru kita tampan sekali! Bagaimana penampilanku, tidak berantakan kan? Aki terlihat cantik kan?" Vania mendengar bisik-bisik dari para karakter yang berdiri di belakangnya.


Wanita sontak menoleh dan memasang wajah garang sembari menatap dengan sangat tajam. Tatapannya seakan sebagai peringatan kalau tidak ada yang boleh berniat untuk menggoda Brian.


Karyawan wanita yang tadi heboh itu sontak menundukkan kepala, merasa takut melihat tatapan Vania.


"SELAMAT DATANG TUAN BRIAN!" teriak seluruh karyawan begitu Brian masuk.


"Terima kasih semua!" sahut Brian, tersenyum tipis.


Jantung Vania berdebar tidak karuan melihat pria yang sangat dirindukannya setelah lebih dari setahun tidak bertemu. Seandainya Brian sudah menjadi kekasihnya, dia pasti sudah menghambur untuk memeluk pria itu. Namun, sangat disayangkan, status hubungannya dengan putra dari pemilik perusahaan itu, masih sama seperti dulu. Tetap sebagai teman.


Dengan berusaha menahan debaran di jantungnya, Vania mengayunkan kakinya, melangkah dengan anggun menghampiri Brian.


"Selamat datang ke perusahaan, Brian!" ucap Vania.


Brian menganggukkan kepalanya tanpa senyum di bibirnya. Kemudian ia mulai memperkenalkan dirinya pada seluruh karyawan dan menyampaikan pesan singkat agar semua karyawan mau bekerja dengan semangat demi kemajuan perusahaan.


"Sekali lagi terima kasih untuk sambutannya dan kalian semua bisa kembali bekerja!" pungkas Brian, mengkhiri kata sambutannya.


Semua karyawan kini tampak mulai bubar satu persatu, menuju ruangan kerja masing-masing. Kini tinggal hanya Brian dan Vania.


"Vania,kita langsung berangkat saja sekarang. Kamu sudah persiapkan kan semuanya?". Ucap Brian, memastikan.


"Kamu tenang saja. Semuanya sudah siap, Yan!" sahut Vania, masih tetap dengan senyum yang lebar.


"Baiklah, ayo berangkat!" Brian berbalik dan melangkah lebih dulu. Sementara Vania langsung menyusul dari belakang.


"Brian, tolong jangan cepat-cepat melangkah! Aku pakai sepatu heels," ucap Vania yang memang kesulitan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Brian.


Brian sontak berhenti dan menoleh.


"Sudah tidak punya waktu lagi, Vania. Ini sudah hampir setengah sembilan," Brian melirik jam di pergelangan tangannya.


Akhirnya Vania berhasil juga berdiri tepat di samping Brian. Mereka berdua pun akhirnya sama-sama menuju tempat mobil Brian terparkir.


"Oh ya, Vania ... Maaf kalau ucapanku menyinggungmu. Tapi, bisa tidak kamu tidak memanggil hanya namaku saja, saat di kantor dan jam kerja? Aku tahu, kita teman, tapi aku tidak mau membawa hubungan pertemanan dengan urusan kantor. Jadi, tolong panggil aku dengan panggilan sewajarnya seorang bawahan pada atasan," ucap Brian dengan sangat hati-hati.


Wajah Vania yang tadinya berbinar sontak berubah masam mendengar ucapan Brian.


"Baiklah, Bri eh Pak!" sahut Vania.


"Ayo naik!" titah Brian ketika sudah sampai di dekat mobil.


Brian masuk ke dalam mobil lebih dulu dan tidak membukakan pintu untuk Vania.


Vania benar-benar merasa kecewa, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk protes saja dia tidak ada hak sama sekali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


setelah 20 menit perjalanan, akhirnya Brian tiba di cafe tempat dirinya dan kliennya akan bertemu untuk membahas kerja sama. Itu berarti masih ada 10 menit lagi, sebelum jam sembilan.


"Dimana kliennya?" tanya Brian, menoleh ke arah Vania.


"Aku juga kurang tahu, Yan. Karena sebenarnya aku juga belum pernah bertemu dengan klien itu. Aku hanya berhubungan via telepon," sahut Vania.


"Tapi, aku akan coba hubungi dulu," Vania merogoh tasnya dan langsung menghubungi klien yang memang merupakan klien cukup besar itu.


"Maaf, Tuan, aku dan atasanku sudah tiba di Cafe tempat kita janjian bertemu. Kalau boleh tahu, apakah anda juga sudah sampai atau masih di jalan?" tanya Vania dengan sopan.


"Kami juga sudah di Cafe. Apa kalian yang berdiri di dekat pintu itu?" sahut suara seorang pria di ujung sana.


"Iya, Tuan!"


Vania menoleh ke arah yang dikatakan pria di telepon, demikian juga dengan Brian. Tampak dua orang pria berpakaian resmi dan salah satu dari dua orang itu berdiri sembari melambaikan tangan.


"Kami di sini!" seru pria itu sembari tersenyum.


Sementara itu, Brian dan Vania sama-sama terkesiap kaget melihat dua pria yang merupakan klien besar mereka. Bagaimana tidak, salah satu dari pria itu adalah pria yang Brian yakini adalah kekasih Ayesha. Ya, dua pria yang merupakan klien besar Brian itu adalah Reza yang ditemani asistennya, Deril.


"Brian, bagaimana ini? Bukannya dia itu kekasih Ayesha yang pernah kita lihat dulu?" tanya Vania.


Brian tidak menjawab sama sekali. Pria itu benar-benar masih belum bisa lepas dari kekagetannya.


"Brian, apa kita tetap akan lanjut, atau kia batalkan saja? Aku tidak mau nanti kalau kamu akan marah-marah saat berbicara dengan mereka," Vania kembali buka suara menyadari kalau pria yang dicintainya diam-diam itu sedang shock.


"Tidak! Kita harus tetap profesional. Tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Lagian, dia juga pasti tidak tahu kelakuan Ayesha dulu di belakang mereka. Ayo kita ke sana!" pungkas Brian, sembari melangkah mendahului Vania


"Selamat pagi, Pak ...."


"Reza, panggil saja aku Reza dan ini asistenku Deril," sambar Reza tahu alasan pemuda di depannya itu, diam.


"Oh, kalau aku panggil saja Brian! Dan ini sekretarisku Vania," sahut Brian, berusaha untuk tetap bersikap profesional.


"Oh, silakan duduk, Pak Brian, Nona Vania!" Reza mempersilahkan dengan sopan.


"Terima kasih!" sahut Brian sembari duduk.


"Reza, Deril? tadi malam, sepertinya Ayesha menyebut nama keduanya. Tapi, aku lupa nama yang mana dia panggil Om dan yang dia panggil Kak. Emm, pasti si Reza ini suaminya dan si Deril ini omnya," Brian mulai bermonolog di dalam hati. Sumpah, dia menyesal tidak terlalu menyimak tadi malam sehingga tidak bisa mengingat jelas.


Cukup lama mereka membahas kerja sama. Brian benar-benar memenuhi ucapan, yaitu tidak mencampur adukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Apalagi ketika melihat kemampuan pria yang dia kira suami Ayesha itu.


"Selamat bekerja sama, Pak Reza!" ucap Brian sembari menjabat tangan Reza dengan erat.


"Selamat bekerja sama juga Pak Brian!" Reza menyambut tangan Brian dengan erat.


"Kalau begitu, kami pamit pergi dulu, Pak Brian. Kalau tidak ada pertemuan keluarga, mungkin aku akan mengajak anda makan siang bersama," ucap Reza basa-basi.


"Oh, tidak apa-apa, Pak Reza. Kebetulan juga hari ini,papaku mengajak makan siang dengan keluarga sahabatnya. Mungkin lain kali bisa dijadwalkan," Brian juga menyambut basa-basi Reza.


Mendengar ucapan Brian, membuat Vania menatap ke arah Brian dengan tatapan penuh tanya.


"Dia ada janji makan siang dengan keluarga sahabat Om Bima? Kenapa dia tidak memberitahukan padaku? Itu berarti aku tidak akan makan siang dengannya," batin Vania, dengan mimik kecewa.


"Deril, kamu bisa pulang ke kantor sendiri kan?" tanya Reza menatap ke arah asistennya itu.


"Emm, aku juga kebetulan ada janji makan siang dengan istriku di sini, Za. Mungkin sebentar lagi dia akan datang. Kamu pergi saja!" sahut Deril sembari tersenyum.


"Ya udah, aku pergi dulu ya! Mungkin istriku juga sudah di sana. Nanti dia akan memasang wajah cemberut kalau kelamaan menunggu. Kamu kan tahu bagaimana cerewetnya dia," ucap Reza sembari terkekeh. Ya ... Sama seperti Deril, Reza juga sudah menikah 6 bulan yang lalu dan kini sedang mengandung.


Mendengar ucapan Reza, tanpa disadari Brian mengepalkan tangannya dengan kencang, karena yakin wanita cerewet yang dimaksud oleh Reza itu adalah Ayesha. Apa yang dilakukan oleh Brian itu tentu saja tidak luput dari perhatian Vania.


"Ya udah, kamu pergi sana!" Reza menganggap kepalanya lalu menoleh kembali ke arah Brian.


"Ya, udah aku izin dulu ya, Pak Brian!" Dengan berusaha bersikap biasa, Brian menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Setelah diiyakan, Reza pun mengayunkan kakinya, beranjak pergi.


Di saat bersamaan Arga, Radit dan Kenjo terlihat masuk dan hampir bertabrakan dengan Reza.


"Maaf!" ucap Arga dan Reza hampir bersamaan.


Mata Arga membesar, terkesiap kaget melihat pria yang hampir bertabrakan dengannya itu.


"Arga, ayo masuk!" Radit yang menyadari hal itu, langsung menarik tangan Arga, karena takut ada keributan.


Sebelum beranjak pergi, Reza kembali melemparkan senyum ke arah Arga.


Arga kemudian menoleh ke arah Brian dan semakin kaget melihat pria yang sedang berdiri di dekat sahabatnya itu. Dia ingat benar kalau pria itu adalah pria yang dia yakini adalah pria selingkuhan Retha.


Dengan rahang mengeras, Arga melangkahkan kakinya, berniat untuk memberikan bogem mentah pada Deril.


"Emm, Pak Brian, aku pamit juga ya, itu istriku dan anakku sudah datang!" Arga yang sudah hampir dekat dengan Deril sontak menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pintu. Tampak di sana berdiri seorang wanita dengan memegang gagang stroller yang berisi bayi sekitar satu tahunan. Wanita itu tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Deril.


Ke empat pemuda ditambah Vania saling silang pandang dengan wajah bingung.


"Lho, istrinya kok bukan Retha?" celetuk Radit dan Kenjo hampir bersamaan.


Tbc