Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Kegelisahan Radit.



Pesawat yang ditumpangi oleh Vania akhirnya mendarat dengan selamat di bandara internasional San Francisco California.


Wanita itu pun langsung turun dan melangkah ke tempat pengambilan bagasi.


Tidak perlu menunggu lama, Vania pun mendapatkan kopernya. Ia pun kembali melangkah ke luar.


"Aku sebaiknya langsung ke apartemen Radit Saja. Kan lumayan hemat biaya hotel. Radit pun nanti tidak mungkin mengusirku dari apartemen dan kalaupun aku diminta untuk tetap menginap di hotel, Brian pasti kasih uangnya," Vania bermonolog dengan penuh percaya diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menempuh waktu sekitar 30 menit, Vania pun kini tiba di sebuah gedung tinggi yang merupakan lokasi tempat apartemen Radit berada. Dia tahu, karena dia sudah pernah sekali ke tempat Radit.


Dengan langkah penuh percaya diri, Vania masuk ke dalam lift dan menekan angka 15, yang merupakan lantai tempat apartemen Radit berada.


Vania mengulas sebuah senyuman, setelah dirinya tiba tepat di depan pintu apartemen salah satu sahabat dari Brian itu.


"Kenapa tidak ada yang membukakan pintu? Apa mereka sedang keluar atau bagaimana sih?" Vania mulai menggerutu, karena dia sudah berulang kali menekan bel, namun tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.


"Aku coba telepon aja deh!" Vania pun mulai menghubungi nomor ponsel Brian.


Wanita itu mengernyitkan keningnya, karena nomor Brian sama sekali tidak bisa dia hubungi.


"Kenapa bisa tidak aktif?" bisik Vania pada dirinya sendiri.


"Ah, coba aku hubungi Radit. Mungkin saja batrai handphone Brian habis kan?" Vania masih tetap berpikir positif.


Namun, hasilnya tetap sama. Sahabat Brian itu juga sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Kenapa tidak aktif juga?" perasaan Vania mulai tidak enak.


Tiba-tiba dari unit sebelah, pintunya terbuka dan tampak seorang pemuda yang memiliki manik mata berwarna perak keluar dari dalam.


Pemuda itu, menatap Vania dengan mata yang memicing, menyelidik.


"Sorry, anda cari siapa?" tanya pria itu dengan bahasa Inggris yang fasih.


"Aku ini teman pemilik unit ini. Aku baru datang dan mau menemuinya. Tapi, dari tadi aku tekan bel tidak ada yang buka. Aku juga sudah menghubungi nomornya, tapi tidak aktif. Apa temanku itu sedang keluar ya?" tanya Vania dengan sopan.


"Oh iya, tadi tidak sengaja aku melihat dia dan satu lagi laki-laki, pergi keluar dengan membawa koper. Sepertinya mereka akan bepergian cukup jauh dan tidak akan kembali dalam waktu dekat. Mungkin mereka sedang ingin liburan," sahut pria bule itu.


"Emm, kamu tidak salah lihat kan?" tanya Vania memastikan.


"Tentu saja tidak. Aku bahkan sempat menyapanya," pria bule itu berbicara dengan sangat meyakinkan.


"Apa kamu tahu, kemana mereka pergi?" Vania kini sudah terlihat lemas.


Pria bule itu menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda dia tidak tahu.


"Maaf, Nona. Aku sama sekali tidak tanya, karena kami tidak sedekat itu untuk bertanya dia hendak kemana. Karena itu sama sekali tidak sopan. Oh ya, aku pamit dulu!" pria bule itu pun melangkah, beranjak meninggalkan Vanias yang menghela napas lemas.


"Mereka pergi kemana ya? kenapa mereka tidak mengajakku sama sekali sih?" Vania mulai menggerutu dalam hati.


Vania mengembuskan napasnya dan beranjak meninggalkan apartemen Radit.


"Berarti kedatanganku ke sini sia-sia. Kalaupun aku tahu mereka ke mana, aku juga tidak mungkin menyusul karena uang di rekeningku sudah minim.Kalau aku minta lagi ke papa, bisa dipastikan aku akan kena marah," Vania mengajak hatinya untuk bercengkrama, dengan tetap melanjutkan langkahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu,Dua pemuda yang tidak lain Brian dan Radit kini sudah berada di dalam pesawat, siap menempuh perjalanan lebih kurang 8 jam menuju Paris.


Sebelumnya kedua pria itu sudah mengkonfirmasi pada Arga dan Kenjo untuk berangkat dari Boston.


Pesawat mereka kini sudah terbang selama dua jam berada di atas awan, Radit yang tidak bisa tidur tiba-tiba merasakan sesak di bagian bawah perutnya.


"Ian, aku ke toilet dulu ya!" Brian menganggukkan kepalanya dan Radit pun beranjak dari tempat duduknya.


Ketika hendak mencapai kursi belakang, mata Radit membesar dengan sempurna melihat dua wanita yang sedang tertidur. Dua wanita itu tidak lain adalah Ayesha dan Retha. Perempuan yang ingin dicegah Radit agar tidak bertemu dengan Brian dan Arga.


"Mati aku! Aku ngajak Brian ke Paris untuk mencegah mereka bertemu, eh malah sama-sama pergi ke Paris. Kenapa aku berasa seperti dikejar-kejar setan sih," Radit merutuki kesialannya.


"Ah, aku pelan-pelan saja deh. Tidak mungkin aku menahan pipis sampai 6 jam ke depan," Radit pun melangkah dengan sangat perlahan.


"Ya, Tuhan, semuanya aku serahkan padamu. Kalaupun mereka tiba-tiba terbangun dan melihatku, aku sudah pasrah," batin Radit, ketika dirinya hendak melewati kursi dua wanita yang tertidur itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu kenapa sih? Kenapa seperti melihat setan?" tanya Brian ketika melihat raut wajah Radit yang tegang, ketika baru saja kembali dari toilet.


"Iya, tadi aku digoda sama pramugarinya. Lihatlah tanganku sampai Tremor begini," Radit menunjukkan tangannya yang sengaja dia buat bergetar.


Brian sontak terkekeh, merasa geli melihat ekspresi sahabatnya itu.


"Kenapa bisa sampai tremor sih? masa pria tampan kaya kamu bisa grogi digoda perempuan?" ujar Brian, berusaha menahan tawanya agar tidak pecah mengingat sudah banyak penumpang yang tidur.


"Bisa berhenti gak tertawanya? Aku tahu kalau kamu tidak akan grogi karena sudah biasa," Radit masih berpura-pura, memasang wajah kesal.


"Sudah ah, sekarang giliranku mau ke toilet," Brian membuka seatbealtnya dan berdiri dari tempat duduknya.


"Apa? mau ke toilet?" pekik Radit, tidak sadar di mana posisi mereka sekarang.


"Sttt,kecilin suara kamu! Untung tidak ada yang terganggu. Lagian kenapa kamu kaget, mendengar aku mau ke toilet? emangnya ada yang salah?" Brian mengernyitkan keningnya.


"Ti-tidak ada yang salah sih. Tapi, saranku jangan ke toilet. Nanti kamu digoda. Mereka itu beringas, Sob!" Radit berusaha menakut-nakuti Brian.


"Apaan sih kamu? jadi maksud kamu, aku harus menahan pipis sampai ke Paris nanti? Kamu mau aku kena penyakit? Sana minggir, aku mau ke toilet!"


Radit kini terlihat pasrah, sudah tidak bisa mencegah sahabatnya itu lagi. "Ahh, bodo amatlah!" batinnya sembari menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursinya.


Sementara itu Brian tidak mengindahkan ucapan sahabatnya sama sekali. Ia tetap mengayunkan kakinya, melangkah menuju toilet.


Mata pria itu memicing saat melihat dua sosok wanita yang satu di antaranya wajahnya ditutup dengan majalah, dan satu lagi dengan wajah yang menghadap ke jendela pesawat.


"Kenapa aku merasa penasaran ingin tahu gadis itu? Padahal aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.Perasaan apa ini?" Brian memutuskan untuk tetap melanjutkan langkahnya, tapi dengan mata yang masih tetap menatap ke arah gadis yang wajahnya ke jendela itu, Sampai dia hampir menubruk seorang pramugari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kami sudah kembali?" tanya Radit dengan kening berkerut.


"Menurutmu? Apa kamu berharap aku tidak kembali dan digarap sama pramugari-pramugari itu? Lagian mereka sama sekali tidak seganas seperti yang kamu bilang tadi. Kamu bohong ya masalah yang tadi?" tukas Brian, dengan alis bertaut.


Radit tidak menjawab sekali, karena dia benar-benar masih kebingungan dengan sikap Brian, yang seperti tidak melihat Ayesha.


"Kenapa Brian bersikap biasa seperti tidak melihat Ayesha ya? Atau jangan-jangan dia memang sudah move on, sehingga dia tetap bisa bersikap biasa walaupun sudah melihat Ayesha?" batin Radit.


"Hei, kenapa kamu bengong sih? Kamu tidak kesambet apa-apa kan, Dit?" Brian menepuk pundak Radit hingga membuat sahabatnya itu terjangkit saking kagetnya.


"Haish, kamu ngagetin aja Brian! Sudah ah, aku ngantuk!" Radit memutuskan untuk menutup matanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Brian.


"Nggak jelas kamu!" Brian juga akhirnya memutuskan untuk menutup matanya. Namun, walaupun matanya tertutup, pikiran pemuda itu benar-benar masih penasaran dengan gadis yang duduk di belakang sana.


Radit yang sebenarnya juga sangat penasaran, membuka matanya perlahan dan menoleh ke arah Brian.


"Apa aku salah lihat ya tadi? Mungkin dua gadis tadi bukan Ayesha dan Retha, makanya tidak ada perubahan di wajah Brian. Tapi, coba aku lihat lagi deh, untuk memastikan," Dengan perlahan dan sangat hati-hati pria itupun berdiri dan hendak melangkah ke belakang.


"Mau kemana lagi kamu?" celetuk Brian yang ternyata tidak sepenuhnya tidur.


"A-ku sepertinya mau buang air kecil lagi, Ian. Aku ke belakang dulu ya!"


Radit mengayun kakinya, melangkah ke belakang. Begitu sampai di belakang, Radit sontak tersenyum dan akhirnya mengetahui kenapa wajah Brian masih terlihat biasa aj sekembalinya dari toilet.


"Ternyata wajah keduanya tidak terlihat, syukurlah!" Radit berbalik dan kembali ke tempat duduknya.


"Bagaimana nanti ketika pesawat ini sudah mendarat ya?" apa nanti mereka akan bertemu? Argh, bodo amatlah!" Radit akhirnya memutuskan untuk menutup matanya kembali.


Tbc