
"Coba aku lihat dulu!" tiba-tiba seorang wanita berparas cantik datang menghampiri. Wanita yang merupakan sepupu Brian, anak kedua dari Tristan, kakak papanya, Bima. Wanita itu mengikuti jejak almarhumah Omanya yang tidak lain adalah Arumi, yaitu menjadi seorang dokter kandungan. Sedangkan putra pertama pamannya itu, memilih untuk mengikuti jejak papanya.
"Emangnya bisa, Tis?" tanya Brian memastikan.
"Lho, kamu lupa kalau aku itu dokter?" wanita bernama Tisha itu, menatap sengit ke arah Brian.
"Iya, aku tahu kalau kamu dokter tapi setahuku kamu kan dokter kandungan?" ucap Brian yang sepertinya meragukan kemampuan Tisha.
"Sudahlah, sana minggir! Kak Brian kalau tidak tahu apa-apa, gak usah banyak cerita!" Tisha mendorong Brian dan dia pun mendekati Ayesha.
Wanita itu, menyentuh pergelangan tangan Ayesha seperti tengah memeriksa denyut nadinya.
"Emm, Kak Brian tidak perlu khawatir. Karena Kak Ayesha tidak apa-apa! itu biasa terjadi pada__"
"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu lihat sendiri kan kalau istri kakak, pingsan? Kamu benaran bisa gak sih meriksanya?" Brian benar-benar kesal melihat Tisha bersikap biasa saja, padahal Istrinya belum sadarkan diri.
"Kak Brian, bisa berhenti nggak ngomongnya? Tadi aku belum selesai bicara kakak sudah main potong saja," Tisha mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Kak Ayasha memang tidak apa-apa. Ini biasa' terjadi pada awal-awal kehamilan. Karena __"
"Ha-hamil?" seru Brian, dengan mata membesar.
"Iya, hamil, Kak. Kenapa bisa pingsan, ya karena perubahan hormon. Perubahan hormon ini, membuat pembuluh darah melebar untuk meningkatkan aliran darah ke janin. Atau mungkin saja, tadi Kak Ayesha berdiri tiba-tiba makanya langsung pusing dan pingsan. Kalau tidak, percaya malam ini juga kita bawa Kak Ayesha ke rumah sakit tempatku bekerja. Kita langsung cek USG saja," tutur Tisha menjelaskan panjang lebar
"Iya, bawa saja, Nak. Mungkin apa yang dikatakan Tisha itu benar," Ayunda buka suara.
"Baiklah. Mudah-mudahan apa yang kamu katakan benar, Tis," pungkas Brian, penuh harap.
"Cih, Kakak meragukanku?" Tisha kembali mengerucutkan bibirnya.
"Aku tidak meragukanmu, karena aku tahu, ku dididik almarhumah nenek Arumi, bukan __"
"Bukan apa, Hah? Kamu mau bilang bukan seperti Tante Salena, gitu?" Salena mamanya Tisha, langsung menyambar menatap keponakannya dengan tajam.
"Sudah-sudah berhenti berdebat! Sekarang bawa istrimu ke Rumah Sakit, Brian!" Tristan suami Salena buka suara, menghentikan perdebatan istri dan keponakannya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"A-aku di mana?" Ayesha akhirnya siuman dan langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
"Kamu akhirnya bangun juga, Sayang! Kamu benar-benar membuatku, khawatir!" seru Brian sembari mengembuskan napas lega.
"Kenapa aku ada di rumah sakit, Sayang? Emangnya aku kenapa?" sepertinya Ayesha belum ingat apa yang terjadi padanya.
"Kamu tadi pingsan dan kata Tisha, itu karena kamu sedang hamil. Apa itu benar, Sayang?" tanya Brian memastikan.
"Hamil? Aku hamil? masa sih? Kenapa bisa secepat itu?" cecar Ayesha beruntun dengan kerutan yang muncul di dahinya.
"Emm ... Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu juga belum tahu kalau kamu sedang hamil?" Ayesha menggelengkan kepalanya, pertanda kalau wanita itu memang tidak tahu.
"Hai, Kak Ayesha! Kakak sudah bangun rupanya," Tisha yang tadinya meninggalkan Brian dan Ayesha di ruangannya, tiba-tiba masuk dan langsung menyapa Ayesha dengan senyum manis di bibirnya.
"I-iya, Tis," sahut Ayesha. "Tis, aku kenapa ya? Kata Brian kalau aku ini hamil, Apa itu benar?" tanpa berbasa-basi dan karena memang sangat penasaran, Ayesha pun langsung bertanya dan berekspresi layaknya seseorang yang tidak sabar menunggu jawaban.
Tisha tidak langsung menjawab. Gadis itu melemparkan tersenyum termanisnya seraya menganggukkan kepalanya
"Iya, Kak. Menurut prediksiku, kakak memang lagi hamil. Tapi, kalau untuk benar atau tidaknya, baiknya sekarang kita langsung cek USG dulu biar kita tahu," pungkas Tisha.
Sementara Tisha sedang bersiap-siap, tampak kekhawatiran di raut wajah Ayasha. Bagaimana tidak? Ia melihat jelas, binar bahagia terpancar di mata Brian suaminya. Aozora benar-benar takut kalau nantinya hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Tisha.
"Rileks, Kak. Kita mulai sekarang ya!" Tisha meminta izin lebih dulu, sebelum melakukan USG.
Tidak perlu menunggu lama, sebuah probe kini sudah menempel di perut Ayesha.
"Benarkan? Seperti dugaanku tadi, Kak Ayesha sedang hamil. Lihat, ini dia janinnya," ucap Tisha sembari berhenti menggerakkan probe di perut .
Tanpa bisa dicegah oleh Brian, cairan bening yang dari tadi sudah dia tahan kini sudah akhirnya keluar membasahi pipinya. Bukan karena sedih, tapi air mata yang keluar adalah air mata kebahagiaan.
"Jadi, aku benar-benar hamil, Tis?" Ayesha merasa masih belum sepenuhnya bisa percaya.
"Iya Kak. Dan usia kandungan Kakak baru memasuki 4 minggu artinya satu bulan. Seperti yang terlihat di layar, janin kakak, berada di tempat yang tepat , masih sangat kecil dan berkembang dengan baik. Saranku, tolong Kakak, jangan terlalu Capek, dan jaga mood agar keponakanku itu bisa berkembang dengan sempurna," Ucap Tisha lagi.
"Selamat, Sayang! Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu," ucap Brian sembari mengecup puncak kepala Dania.
"Selamat juga untuk, mu Sayang." Ayesha tersenyum lebar ke arah Brian.
"Ya udah, karena semuanya sudah selesai ... Kak Brian bisa bawa kak Ayesha pulang. Ingat, untuk tetap menjaga mood dan jangan membicarakan Kak Ayesha kecapean," ucap Tisha lagi.
"Sipp! Tentu saja, Tisha. Tanpa kamu suruh pun aku akan tetap selalu jadi siaga," pungkas Brian, tegas.
"Iyalah tu!" Tisha mendengkus sinis.
"Nggak sia-sia aku punya sepupu seorang dokter," Brian berucap sembari menggusak rambut Arsenio, saking gemasnya
"Cih, giliran begini, aku, Kakak puji," Tisha mengerucutkan bibirnya.
Tawa Brian pecah dan kembali mengacak-acak rambut adik sepupunya itu.
"Sudah, sudah! Sebaiknya kita pulang sekarang, karena malam sudah semakin larut," pungkas Tisha mencoba mengakhiri pembicaraan.
"Baiklah, ayo kita pulang!" sahut Brian.
"Tapi, nanti sampai di rumah, kamu tetap akan memasak Spaghetti kan untukku?" celetuk Ayesha lagi. Sepertinya wanita itu masih belum lupa dengan keinginannya dimasakin spaghetti oleh suaminya.
"Bisa besok, nggak, Sayang?" Brian memberikan penawaran.
"Tidak mau! Aku maunya sekarang!" tajuk Ayesha dibarengi dengan bibir yang mengerucut.
"Masakin aja, Kak. Apa susahnya sih? Itu bukan maunya Kak Ayesha, tapi maunya anak yang dikandungan Kak Ayesha," Tisha kembali buka suara menimpali ucapan istri dari kakak sepupunya itu.
"Iya deh!" sahut Brian akhirnya pasrah.
"Kalau kamu tidak ikhlas masaknya, mending gak usah!" ucap Ayesha, karena merasa Brian sedang terpaksa.
"Nggak kok, Sayang. Aku ikhlas kok! nanti aku masakin yang enak ya?" Brian mencoba membujuk.
"Benar kan?" tanya Ayesha memastikan.
"Iya, Sayang," Brian tersenyum manis.
Mendengar jawaban Brian, akhirnya senyum Ayesha pun bertengger indah di bibirnya.
tbc