Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Keberanian Ayesha.



Sementara itu Ayesha dan Retha tampak sedang berjalan santai, hendak menuju kelas. Brianna tidak tampak bersama mereka karena kebetulan gadis itu sedang ada rapat osis, mengingat dirinya menjabat sebagai sekretaris.


Sepanjang jalan, alis Ayesha bertaut, bingung dengan tatapan aneh yang mengarah padanya dari siswa -siswi yang berpapasan dengannya.


"Retha, kenapa mereka menatapku sama seperti tatapan mereka kemarin ya?" Ayesha menyikut pinggang Retha, lalu berbisik.


"Mana aku tahu?" Retha mengangkat bahunya. "Kamu buat masalah lagi gak di media sosialmu?" sambung Retha lagi.


"Sepertinya tidak. Aku bahkan dari tadi tidak pegang handpone," Ayesha kembali berbisik.


"Jadi gara-gara apa ya?" Ayesha menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Hei, cupu! berhenti kamu!" Ayesha dan Retha menoleh ke arah datangnya suara. Namun, karena tidak merasa kalau dirinyalah yang dimaksud cupu oleh perempuan yang memanggilnya, Ayesha kembali melanjutkan langkahnya.


"Hei, kamu budek ya! kamu tidak dengar kalau aku memanggilmu!" bentak perempuan itu dengan tangan yang sudah mencengkram pundak Ayesha.


Ayesha menepis tangan gadis itu, lalu berbalik.


"Kamu memanggilku? bagaimana aku tahu kalau kamu memanggilku? kalau tidak salah, tadi kamu memanggil cupu dan itu bukan namaku. Jadi tidak salah dong kalau aku tidak berhenti?" ucap Ayesha, dengan berani membalas tatapan gadis yang sama sekali belum dia kenal. Dia hanya melihat nama Dinar tertera di seragam yang dipakainya. "Dinar? sepertinya aku pernah dengar nama itu. Tapi di mana ya?" bisik Ayesha pada dirinya sendiri.


"Hei, jangan belagak tidak tahu deh. Penampilan kamu kan memang cupu, jadi kamu pantas dipanggil cupu. Sok tidak merasa lagi," gadis yang ternyata Dinar itu menatap Ayesha dengan sangat sinis.


Ayesha mengembuskan napasnya dengan perlahan, berusaha untuk menahan diri agar tidak marah. Gadis itu kemudian menerbitkan sebuah senyuman di bibirnya. Senyum yang membuat Dinar semakin kesal.


"Ya udah, kalau kamu menganggap aku cupu, itu terserah kamu. Tapi, aku mau kasih tahu kamu, kalau namaku itu Ayesha. Kamu siapa?". Ayesha mencoba untuk tetap ramah seraya mengulurkan tangannya ke arah gadis di depannya itu.


Melihat uluran tangan Ayesha, membuat Dinar menepis tangan gadis itu dengan kasar.


"Jangan sok baik, dan ramah! aku sama sekali tidak akan terpengaruh!" nada bicara Dinar benar-benar sangat ketus.


"Maaf, kamu kenapa sih? apa aku ada salah ke kamu? sepertinya kita baru ketemu, tapi kenapa kamu terlihat membenciku?" Ayesha akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


"Dia itu Dinar, mantan sahabat Brianna yang tadi malam aku ceritakan ke kamu," bisik Retha.


Mulut Ayesha sontak membulat membentuk huruf 'o' seraya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oh iya, aku ingat. Pantas saja aku seperti pernah mendengar nama itu," Ayesha terkikik geli, seakan tidak menganggap kalau sosok yang sedang dipikirkannya itu sedang berdiri dengan angkuhnya di depannya.


"Apa yang kamu tertawakan? kamu kira ada yang lucu, hah?"bentak Dinar yang semakin marah, karena merasa diremehkan.


"Maaf, maaf, aku sama sekali tidak menertawakanmu. Aku hanya mengingat sesuatu yang lucu tadi. Jangan tersinggung dong!" ucap Ayesha, yang langsung menghentikan tawanya.


"Oh ya, kamu belum jawab pertanyaanku tadi, kamu kenapa marah-marah samaku?" ulang Ayesha.


"Ini kamu kan?" tanpa basa-basi Dinar menunjukkan photo Ayesha dan Brian, yang dipost Brianna di media sosialnya.


Mata Ayesha sontak membesar, benar-benar kaget ketika melihat photo itu, apalagi ketika membaca captionnya. "Haish, kenapa bisa ada photo itu? Kenapa Brianna seusil ini sih?"Ayesha menggerutu dalam hati.


"Ya itu dia, emangnya kenapa? kamu merasa dirugikan ya?" Retha mulai buka suara.


"Itu dulu! bukannya sekarang kamu itu dan Brianna sudah tidak bersahabat lagi? dan aku tahu benar apa alasannya, kalian tidak bersahabat lagi," Retha tersenyum sinis, membuat Dinar menggeram, marah.


"Kamu diam saja, aku tidak sedang bicara denganmu! aku bicara sama si cupu ini!" Dinar kemudian kembali menatap ke arah Ayesha.


"Kamu memang pacaran dengan Brian ya? atau hanya gimmick?" Dinar menatap Ayesha dengan penuh intimidasi.


Retha terlihat hendak menjawab, tapi Ayesha menahannya dan memberikan tanda agar diam saja. Kemudian, dia kembali tersenyum smirk ke arah Dinar.


"Kalau iya kenapa? kamu keberatan?" Dinar menggeram dengan tangan terkepal. mendengar jawaban Ayesha yang menurutnya seperti tengah mengancamnya.


"Cih, aku hanya heran saja, kenapa Brian bisa suka dengan gadis yang penampilannya nggak banget seperti kamu? mata dia buta kali ya?" ejek Dinar, sembari menatap jijik Ayesha dari atas sampai ke bawah.


"Iya, mata Brian memang buta tapi hatinya tidak. Karena cinta dari hati itu lebih baik dari cinta dari mata," ujar Ayesha.


"Penampilanku memang tidak semodis kamu, tapi asal kamu tahu, dengan penampilan sederhanaku saja, bisa mengalahkanmu. Kamu tahu kenapa?" Ayesha kembali tersenyum smirk. "Itu karena kecantikan itu terpancar dari dalam bukan dari luar. Percuma cantik di luar tapi di dalamnya busuk," sambung Ayesha lagi.


"Kamu!" tangan Dinar terayun hendak menampar pipi Ayesha, tapi tertahan karena tangannya ditangkap oleh Ayesha.


"Ini salah satunya ciri-ciri cantik di luar tapi busuk di dalam. Tanpa aku kasih cotohnya, kamu sendiri yang langsung menunjukkannya," sindir Ayesha lagi, sembari menghempaskan tangan Dinar.


"Jangan kira dengan penampilanku yang begini, aku mudah untuk ditindas. Kamu salah besar, Nona Dinar! aku bukan gadis lemah seperti yang kamu pikirkan!" Kali ini tatapan Ayesha sangat tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung.


Melihat tatapan tajam itu sontak membuat Dinar sedikit merasa gentar. Namun, dia tetap berusaha bersikap biasa saja. Untuk menutupi rasa gentarnya, ia balas menatap tajam Ayesha.


"Cih dasar wanita licik! kamu kira aku tidak tahu kalau sebenarnya kamu sengaja mendekati Brian, karena tahu dia siapa kan? kamu juga mendekati Brianna, karena hanya ingin mempermudah tujuanmu demi bisa mendapatkan Brian, iya kan? dasar munafik!" tukas Dinar.


Ayesha lagi-lagi tersenyum sinis, mendengar tuduhan yang dialamatkan Dinar padanya.


"Wah, kamu sedang membicarakan dirimu sendiri ya?" ledek Ayesha.


"Jangan karena itu yang kamu lakukan selama ini, jadinya membuat kamu beranggapan semua wanita yang dekat dengan Brian, sama sepertimu. Tidak sama sekali, Dinar!" Ayesha berhenti berbicara sejenak untuk mengambil jeda sekaligus meraup oksigen guna mengisi kembali rongga paru-parunya.


"Oh ya, Dinar ... otak kamu masih berfungsi dengan baik kan? kalau berfungsi dengan baik, seharusnya kamu bisa mikir, kalau aku sama sekali tidak pernah mendekati Brianna. Dia sendiri yang ingin berteman denganku. Beda dengan kamu yang menyodorkan diri dan berteman dengan penuh kepalsuan dengannya. Jadi yang licik dan munafik itu kamu!" pungkas Ayesha seraya berbalik dan berlalu pergi.


Sekarang Dinar benar-benar tidak berkutik. Wanita itu tampak hanya bisa menggeram, dan menatap kepergian Ayesha dengan penuh amarah dan kebencian. "Awas kamu ya!" umpat Dinar.


Wah, kamu benar-benar keren, Yesha!" sorak Retha dengan wajah berbinar. "Tapi, kamu berani bukan karena ada aku kan?" imbuhnya.


"Tidak sama sekali, Ta! Asal kamu tahu, aku bahkan lupa kalau tadi kamu itu ada di sampingku, makanya aku main pergi saja tanpa ajak kamu,"ungkap Ayesha sembari tertawa geli.


"Sialan kamu!" umpat Retha, memasang wajah kesal.


"Maaf, maaf, jangan ngambek gitu dong!" Ayesha masih terkikik geli.


"Ta, asal kamu tahu, kenapa aku bisa seberani tadi, itu karena, di saat aku memutuskan untuk pindah ke sekolah ini, aku sudah berjanji dalam hati kalau aku akan melawan orang-orang yang menindasku. Karena aku yakin, ketika aku tampak lemah, pasti aku akan jadi sasaran empuk untuk dijadikan bulan-bulanan. Jadi, aku tidak mau itu terjadi," ucap Ayesha dengan penuh semangat.


tbc