
"Nggak jadi, Pak!" Ayesha turun dan menutup pintu mobil.
Kemudian, wanita itu ke belakang dan mengambil kopernya kembali.
"Ya udah, sekarang jalan, Pak!" titah Brian, tidak peduli dengan turunnya Ayesha.
"Tapi, Den ...." supir itu masih ragu untuk menjalankan mobilnya.
"Aku bilang jalan ya jalan! Bukannya dia yang tidak mau? Ayo jalan sekarang!" titah Brian dengan rahang mengeras.
Supir itu tidak bisa membantah lagi perintah tuan mudanya itu. Dengan sangat berat hati, akhirnya supir itu menjalankan mobilnya, meninggalkan Ayesha yang terlihat berjalan sembari menggeret kopernya.
Akhirnya supir itu benar-benar ingat siapa wanita yang baru saja keluar dari mobil yang dia kemudikan.
"Den, kasihan dia! sudah malam dan tempat ini sangat sepi. Dia itu perempuan soalnya. Dia juga cantik, jadi sangat rawan bahaya," supir itu sengaja menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat lamban.
Brian tidak menggubris ucapan supirnya itu sama sekali. Pria itu juga berusaha untuk tidak menoleh ke belakang.
"Den, kita balik lagi ya?" supir itu kembali bersuara.
"Pak, jalan aja terus! Yang penting bukan kita yang memintanya keluar, tapi dia sendiri," sahut Brian dengan raut wajah datar.
Supir itu akhirnya hanya bisa mengembuskan napasnya, dengan berat. Tidak bisa membantah lagi.
Supir itupun akhirnya mulai menginjak gas, untuk mempercepat laju mobil.
"Berhenti!" tiba-tiba Brian memekik dari belakang.
"Mundurkan!" titah Brian membuat kening pria paruh baya yang duduk di bangku kemudi itu, berkerut, bingung.
"Mundur, Den?" ulang supir itu memastikan.
"Aku rasa pendengaran Bapak masih bagus kan?" bukannya mengiyakan, Brian malah balik bertanya.
"Iya, Den. Dan aku dengarnya, den memintaku untuk memundurkan mobilnya," sahut supir itu dengan polosnya.
"Jadi, kalau sudah dengar kenapa masih bertanya?" Brian berusaha menahan amarahnya.
"Ba-baik, Den!" tidak mau kena semprot lagi, supir itu pun langsung memundurkan mobilnya.
"Padahal, kan aku tadi hanya mau memastikan saja. Kali aja aku salah dengar kan?" ucap pria paruh baya itu, yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Stop!" titah Brian kembali, tepat di samping Ayesha yang sudah terlihat ngos-ngosan.
Brian kemudian keluar dari dalam mobil dan tanpa bicara langsung meraih koper milik Ayesha, dan memasukkannya ke dalam bagasi.
Ayesha diam mematung dengan mulut terbuka, saking shocknya mendapat perlakuan Brian yang tiba-tiba.
"Masuk!" titah Brian, dengan tangan yang membuka pintu mobil.
"Tidak mau! Kembalikan koperku!" tolak Ayesha, dengan tegas.
"Aku bilang masuk, ya masuk! cepat, mumpung aku masih baik!" nada bicara Brian terdengar sangat dingin
Bahkan pria itu berbicara tanpa menatap ke arah Ayesha.
"Aku tidak butuh kebaikanmu! Kembalikan koperku!" sahut Ayesha ketus. Wanita itu pun melangkah ke belakang mobil, hendak mengambil kembali kopernya.
"Argh, dasar keras kepala!" umpat Brian, tidak sabar.
Sebelum Ayesha berhasil mengambil kopernya, Brian menarik tangan Ayesha dan mendorong gadis itu masuk ke dalam mobil.
"Hei, kamu mau menculikku ya!" teriak Ayesha tidak terima.
Brian tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru memasang sabuk pengamannya dan duduk menyender.
"Jalan, Pak!" titahnya.
"Turunkan aku, Pak. Aku lebih baik jalan dari pada berdekatan dengan laki-laki brengsek ini!" teriak Ayesha.
"DIAM! Kamu bisa diam nggak?" bentak Brian. Suara pria itu benar-benar mengelegar, sampai membuat Ayesha ciut.
Namun, itu hanya bertahan beberapa detik. Detik berikutnya, Ayesha kembali meminta untuk diturunkan.
"Pak, hentikan mobilnya dan turunkan dia!" titah Brian akhirnya. Pria itu sengaja meminta supirnya menurunkan Ayesha tepat di tempat di mana banyak para pemuda yang sepertinya hendak melakukan balapan liar.
Ayesha mengerjab-erjabkan matanya, merasa dilema antara mau turun atau tidak.
"Masa dia tega nyuruh aku turun di sini sih?" bisik Ayesha pada dirinya sendiri. Nyali wanita itu benar-benar ciut melihat gerombolan pemuda itu.
"Non Ayesha, jadi turun nggak?" supir Brian akhirnya buka suara.
Ayesha menggigit bibirnya dan ekor matanya melirik ke arah Brian yang tatapannya masih tetap mengarah lurus ke depan.
"Emm, sudah tanggung Pak. Jalan aja lagi!" dengan menahan rasa malu, akhirnya Ayesha menolak untuk turun. Wanita itu kini justru malah mengambil posisi enak sembari menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.
Supir itu pun akhirnya kembali menjalankan mobil, sembari berusaha menahan rasa geli di hatinya.
Kondisi di dalam mobil, sekarang benar-benar terasa awkward. Ke dua insan yang masih berseteru itu, asik dengan kesibukan masing-masing. Tidak ada yang mau memulai pembicaraan lebih dulu.
Ayesha memilih untuk melihat ke luar, menyusuri jalanan yang semakin sepi. Sementara Brian sibuk dengan ponselnya.
Namun, tidak ada yang tahu, apa yang dirasakan oleh kedua orang itu sekarang, kecuali mereka sendiri.
Walaupun Brian terlihat fokus dengan ponselnya, tapi justru jantungnya sekarang berdetak sangat kencang. Ingin rasanya dia bertanya, kenapa Ayesha dulu tega mengkhianatinya dengan menduakan cintanya. Namun, bibir pria itu terasa kelu, tidak sanggup untuk mengeluarkan suara.
Sementara Ayesha juga mengalami hal yang sama. Ia juga ingin bertanya, kenapa laki-laki yang duduk di sampingnya itu, tega membohonginya dulu. Namun,bibir wanita itu juga terasa kelu.
"Non Ayesha, berubah ya? Makin cantik saja!" puji supir Brian, mencairkan keheningan yang sempat tercipta.
Ayesha tidak menjawab sama sekali. Akan tetapi wanita itu menanggapi dengan seulas senyuman manis.
"Non Ayesha sudah punya pacar atau sudah menikah?" tanya supir itu lagi seraya menatap Ayesha dari kaca spion di kepalanya.
"Emm __"
"Jalan saja, Pak, tidak usah banyak tanya!" belum sempat Ayesha menjawab, Brian sudah buka suara dengan tatapan membunuh ke arah supir itu. Entah kenapa, meskipun penasaran dengan jawaban Ayesha, Brian merasa seperti tidak siap mendengar jawaban gadis itu.
Sementara itu, supir yang melihat tatapan tajam Brian dari kaca spion sontak bergidik takut. Ia pun kembali fokus mengemudikan mobilnya, menuju kediaman Ayesha yang masih tetap dia ingat di mana alamatnya.
Mendengar ucapan Brian barusan, Ayesha berdecih dan kembali menatap ke luar jendela.
"Ya, Tuhan kenapa mobil ini jalannya lelet kaya siput ya? Atau cuma perasaanku saja?" bisik Ayesha pada dirinya sendiri.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Brian. Pria itu berusaha untuk tetap terlihat tenang. Padahal sebenarnya pria itu sedang menahan siksaan jantungnya yang semakin berdetak dengan cepat.
"Haish, kenapa perasaan mobil ini jalannya sangat lambat ya? Kapan sih nyampenya?" batin Brian.
Keheningan yang tercipta, sontak mencair ketika terdengar ponsel Ayesha berbunyi.
"Iya, halo, Kak Deril!" jawab Ayesha. Sementara Brian terlihat cuek, tapi siapa kira dia tetap memasang telinganya.
"Deril? Apa itu nama kekasihnya itu?" batin Brian.
"Kamu di mana? Om kamu minta aku jemput kamu. Katanya mobil yang menjemput kamu mogok. Aku sudah mencari di mana-mana, tapi kamu tidak ada," terdengar suara Deril yang panik dari ujung sana.
Ya, Reza dan Derill sudah kembali dan menetap di Indonesia sejak satu tahun yang lalu.
"Kakak pulang saja. Aku mungkin sebentar lagi nyampe di rumah papa, Kak. Lagian, papa nggak kasih tahu ke Om Reza ya, kalau aku sudah di jalan menuju rumah? Tadi aku kan sudah kirim pesan ke papa," sahut Ayesha.
"Reza sama sekali tidak kasih tahu aku. Itu berarti papa kamu juga tidak mengabari ke Reza. Udah ah, kamu benar-benar bikin panik saja! Aku lagi enak-enak eh malah jadi nanggung tahu nggak sih!" protes Deril.
Ayesha terkikik geli, membayangkan raut wajah kesal sahabat Omnya itu. Bisa dibayangkan ketika pria itu sedang romantisan dengan sang istri malah mendapat gangguan.Ya, akhirnya Derill memutuskan untuk menyerah mengejar cinta Ayesha. Dan dua tahun yang lalu, pria itu pun menemukan tambatan hatinya, dan langsung menikahi wanita itu.
"Udahlah Kak, tidak perlu khawatirin aku. Aku bisa jaga diri. Sekarang, Kakak pulang aja ya!" ucap Ayesha dengan sangat lembut.
Mendengar nada suara Ayesha yang sangat lembut, Brian tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan kencang. Dia semakin yakin kalau pria yang baru saja menghubungi Ayesha itu adalah kekasih wanita itu.
"Non Ayesha, sudah sampai, Non!" mobil yang membawa Ayesha dan Brian kini sudah berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sama sekali belum berubah.
"Oh, terima kasih, Pak!" Ayesha turun dari dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun ke Brian.
Setelah mendapatkan kopernya, wanita itu juga langsung masuk tanpa menoleh lagi.
"Jalan, Pak!" titah Brian masih dengan amarahnya.
Tbc