
"Pagi banget sih datangnya, Sob? ganggu tidurku aja," protes Radit begitu melihat Brian yang sudah menunggunya di bandara San Francisco, California. Namun, walaupun protes, pria itu tetap memeluk Brian.
"Maaf, begitu selesai teleponan denganmu, aku langsung siap-siap. Aku ambil penerbangan jam 1 tadi, biar aku nyampe di sini gak siangan," sahut Brian dengan enteng.
Jam kini sudah menunjukkan hampir pukul 9 pagi. Sementara Brian tiba pukul 8 mengingat, penerbangan dari Boston ke California membutuhkan 7 jam penerbangan. Itu berarti sudah hampir satu jam pria itu menunggu Radit menjemputnya.
"Kenapa harus sepagi itu kamu berangkat dari sana? aku kirain kamu berangkat minimal jam 5 pagi atau jam 7 an, dan nyampe di sini sorean nanti. Makanya aku begadang tadi malam, karena aku pikir, kalau kamu juga akan nyampe jam dua-an,"
Brian mengembuskan napasnya, mendengar protes yang dilontarkan sahabatnya itu.
"Aku rasa aku tidak perlu menjawabmu, karena kamu sudah tahu jawabannya,"
Tawa Radit sontak pecah, karena sejujurnya dia tahu alasan sahabatnya itu berangkat tengah malam.
"Sudahlah, ayo kita pergi dari sini!" Brian berdiri dari tempat dia duduk dan bersiap hendak pergi. "Oh ya, Nanti kita cari sarapan dulu ya. Kamu pasti tidak menyiapkan sarapan di apartemen kamu," imbuh Brian.
"Menurutmu? begitu bangun tidur aku langsung ke sini. Apa menurutmu aku sempat menyiapkan sarapan? kalau Roti dan selainya ada, itu pun kalau kamu mau," tutur Radit.
"Kita cari sarapan saja lah. Ayo!" Dua pemuda itu, pun mulai mengayun kaki untuk beranjak meninggalkan tempat itu.
Saat hendak mencegat taksi, tiba-tiba ponsel Brian kembali berbunyi.
Brian menghela napas malas, begitu melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Siapa, Ian? Kenapa tidak diangkat?"Radit mengernyitkan keningnya.
Brian tidak menjawab. Namun, ia menunjukkan layar ponselnya agar Radit membaca sendiri siapa yang sedang menghubunginya.
"Oh, Vania?" Radit terkekeh, geli melihat ekspresi malas pada wajah sahabatnya itu.
Brian mencoba mengabaikan sampai akhir panggilan itu berhenti sendiri. Pria itu kemudian hendak memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, tapi lagi-lagi ponsel itu berbunyi. Sepertinya Vania sama sekali tidak menyerah.
"Haish, kenapa telpon lagi sih?" Brian menggerutu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Jawab saja dulu. Kasihan dia, Ian. Setidaknya kamu harus ingat, kalau bukan karena dia, kamu tidak akan pernah tahu kebohongan Ayesha," ujar Radit, mencoba mengingatkan.
Brian mengembuskan napas dengan berat, tidak membantah ucapan Radit sama sekali.
Akhirnya dengan berat hati, Brian menekan tombol jawab.
"Iya, Van?" ucap Brian dengan nada malas
"Kamu baru bangun ya, Ian? Maaf mengganggu!" ucap Vania dari ujung sana.
"Kenapa emangnya, Van?" bukanya menjawab Brian malah balik bertanya.
"Ini aku lagi di depan. Aku bawa sarapan pagi untukmu," sahut Vania.
Brian kembali mengembuskan napasnya. Pria itu benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran gadis di ujung sana.
"Van, maaf sekali lagi. Aku tidak ada di apartemen. Aku sekarang di California di tempat Radit,"
"Kamu di tempat Radit? Bagaimana bisa? Bukannya tadi malam kamu masih di__"
"Aku berangkat jam satu subuh tadi," Brian langsung menyela, sebelum Vania selesai bicara.
"Kenapa kamu tidak memberitahukan padaku?" suara Vania terdengar lirih.
Brian menarik napas lebih dulu, menjaga agar dirinya tidak melontarkan kata-kata pedas yang bisa menyakitkan hati gadis di ujung sana.
"Van, bukannya tadi malam aku sudah mengatakan, kalau aku tidak punya kewajiban untuk melaporkan apapun yang akan aku lakukan padamu? Apa kamu belum paham yang aku maksud?" Brian masih berusaha untuk berbicara lembut.
Untuk beberapa saat, tidak terdengar tanggapan dari Vania. Bisa dipastikan kalau gadis di ujung sana sedang tercenung, karena rasa sakit di hatinya.
"Maaf, Brian! Aku tahu dan paham. Hanya saja, aku merasa diabaikan, karena kamu tidak mengajakku juga ke sana. Aku kan juga ingin liburan, Ian. Kalau kamu ke sana, itu berarti aku akan sendiri di sini. Kan kamu tahu sendiri, kalau temanku itu hanya kamu," akhirnya Vania kembali buka suara setelah dirinya berhasil meredam rasa sakit di hatinya.
"Makanya ini kesempatan kamu untuk mencari teman. Aku sengaja, tidak mengajakmu, karena bagaimana pun kamu itu perempuan. Kamu tidak mungkin tinggal bersama kami di apartemen Radit," Brian berhenti sejenak, untuk mengambil jeda.
Jauh di sana, Vania kembali terdiam seribuan bahasa. Cairan bening tiba-tiba mengalir membasahi pipinya.
"Yang aku inginkan itu kamu Brian? Tidakkah kamu bisa melihat dan mengerti isi hatiku? Apakah yang aku lakukan selama ini tidak cukup membuat kamu bisa jatuh cinta padaku? Kenapa sulit bagimu untuk membuka hati padaku, sementara begitu mudahnya kamu bisa jatuh cinta pada Ayesha? Apa kurangnya aku?" ucap Vania yang tentu saja dia ucapkan dalam hati.
"Vania, kamu masih di sana?" suara Brian, kembali menyadarkan Vania. Gadis itu pun menyeka air matanya dan tersenyum tipis.
"Iya, aku masih di sini, Brian." sahut Vania, lirih.
"Oh, kalau begitu teleponnya aku tutup ya? Soalnya aku mau cari sarapan dengan Radit. Sampai jumpa lagi!"
"Brian, jangan tutup dulu!" Brian yang nyaris memutuskan panggilan, tiba-tiba mengurungkan niatnya, mendengar suara Vania.
"Iya, apa lagi, Vania? Apa ada yang ingin kamu bicarakan lagi?" Suara Brian kini terdengar ketus. Sepertinya pria itu sudah mulai tidak bisa menahan rasa kesalnya.
"Emm, apa aku benar-benar tidak bisa menyusulmu ke sana? Aku tidak punya niat mencari kekasih untuk saat ini, Brian. Jadi, aku akan ke sana."
Brian menghela napasnya dengan sekali hentakan. "Bukannya aku sudah bilang kalau tidak mungkin kamu tinggal di apartemen Radit bersama dengan kami? Apa kamu belum paham juga?" Brian mulai hilang sabar.
"Untuk masalah itu, kamu tenang saja. Aku kan bisa menginap di hotel," ujar Vania, tetap kekeuh ingin menyusul Brian.
"Vania, maaf ...aku terpaksa mengatakan ini padamu. Aku butuh privasi Vania. Jadi tolong jangan mengikutiku terus!" setelah selesai dengan ucapannya, Brian langsung memutuskan panggilan secara sepihak, tanpa izin lagi pada wanita di ujung sana. Bisa dipastikan kalau sekarang Vania pasti semakin kesal.
"Menyebalkan!" umpat Brian sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Sabar, Sob!" Radit menepuk-nepuk pundak Brian dengan lembut.
Brian kemudian menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan perlahan-lahan, guna mengurangi rasa kesal di hatinya. Ia melakukan hal itu berkali-kali sampai rasa kesalnya berangsur-angsur berkurang.
"Dit, ayolah! aku sudah lapar!" Brian kembali buka suara setelah rasa kesalnya berkurang.
Radit kemudian mencegat taksi yang memang kebetulan lewat.
"Ayo naik, Sob!" Radit membuka pintu taksi. Ia pun masuk lebih dulu, setelah itu Brian pun menyusul.
Taksi pun mulai melaju dengan kecepatan sedang. Sementara Brian dan Radit sibuk dengan ponsel masing-masing.
Setelah 20 menit di dalam taksi, Radit melihat sebuah food court, yang dia tahu banyak menyediakan makanan enak.
"Pak, kita berhenti di dekat food court itu ya!" titah Radit, menggunakan bahasa Inggris yang fasih.
Taksi itu pun memperlambat laju taksinya dan berhenti tepat di depan food court.
"Ayo Brian kita turun!" Radit membuka pintu taksi dan turun. Sementara Brian membuka pintu dari arah yang berbeda.
Mata Radit sontak membesar dengan sempurna, begitu melihat ada ada 4 orang sedang duduk menikmati makanan. 4 orang itu tidak lain adalah Ayesha, Retha dan dua pria yang Radit sama sekali tidak tahu namanya.
Radit kemudian masuk kembali ke dalam taksi, lalu menarik tangan Brian untuk masuk juga.
"Ada apa sih, Dit? Kenapa kamu tarik tanganku masuk lagi? Bukannya kita akan makan di sini?" Brian mengernyitkan keningnya, menyelidik.
"Emm, aku baru ingat kalau makan di sini sama sekali tidak enak. Kita cari tempat makan lain saja!" ucap Radit memberikan alasan.
"Tidak enak? Tapi kenapa bisa rame?" Sudut alis Brian semakin naik. Pria itu terlihat semakin curiga dengan sikap Radit yang tiba-tiba gugup.
"Ya, mungki orang-orang itu tidak punya pilihan lain. Kamu harus percaya padaku. Makanan di situ tidak enak," Radit berusaha meyakinkan Brian.
Brian kemudian memilih untuk tidak bertanya lagi. Dia pun kembali memasang sabuk pengamannya.
"Pak, Maaf! Tolong jalan lagi!" titah Radit yang diakhiri dengan helaan napas lega.
"Gawat ini.Untuk sekarang bisa saja aku mencegah Brian bertemu dengan Ayesha, tapi bagaimana hari berikutnya? Apa aku masih bisa mencegah mereka bertemu?" batin Radit .
Tbc