Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Memberanikan diri



"Pak, sekarang antarkan kami ke bandara!" titah Brian pada supir taksi, membuat Arga terkesiap kaget.


"Kenapa ke bandara? Jangan bilang kamu mau pulang ke Jakarta?" tanya Arga.


"Menurutmu bagaimana? Apa kamu mengira dengan aku kembali ke resort itu, aku akan menikmati acaranya? Aku justru akan semakin muak berada di sana. Kamu tahu jelaskan, kalau aku ikut karena ada dia?" Brian terlihat sangat frustasi sekarang. Kondisinya benar-benar sangat berantakan.


Arga terdiam. Sejujurnya, dirinya pun sama sekali tidak yakin kalau dirinya bisa menikmati acara demi acara perpisahan sekolah mereka itu.


"Jadi bagaimana dek? Mau diantarkan ke bandara atau ke tempat tadi?" supir taksi, kembali bertanya, memastikan.


"Ke bandara saja, Pak!" pungkas Arga akhirnya.


Taksi yang membawa Brian dan Arga pun akhirnya melaju kembali menuju bandara.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di tepi pantai, tampak Brianna dan Kenjo sedang berjalan tanpa alas kaki.


"Tadi kamu mengatakan kalau ada yang ingin kamu sampaikan padaku. Tapi, kenapa kamu belum bicara juga?" Kenjo mulai buka suara, memecah keheningan yang dari tadi tercipta di antara mereka berdua.


Brianna tidak langsung menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya karena dirinya benar-benar sangat grogi berhadapan dengan laki-laki yang tidak kalah dingin dari adiknya itu.


"Emm, bagaimana ya? Kamu janji dulu, kalau aku katakan kamu tidak akan menertawakanku!" ucap Brianna dengan suara bergetar.


Kenjo mengrenyitkan keningnya, merasa sikap Briana sedikit aneh.


"Baiklah, aku janji!" Kenjo mencoba untuk mengabaikan rasa bingungnya atas sikap kembaran dari sahabatnya itu.


Brianna kembali menggigit bibirnya. Sumpah demi apapun, dirinya benar-benar sangat grogi. Tadinya dia ingin membatalkan niatnya, tapi dorongan dari hatinya lebih kuat untuk menyuruh dia untuk memberanikan diri.


"Kamu harus ungkapkan, Brianna. Tidak salah kok kalau seorang wanita itu mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Kalau kamu tidak ungkapkan, bagaimana kamu bisa tahu bagaimana perasaan. Kenjo padamu? Apapun jawabannya nanti, kamu harus siap!" Brianna mulai bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Emm, Kenjo ... Aku mau ...." Brianna menggantung ucapannya, karena tiba-tiba ponsel Kenjo berbunyi.


"Tunggu sebentar! Aku jawab dulu telephonenya!" ucap Kenjo dan Brianna menganggukkan kepalanya.


"Ya, kenapa lagi, Ga? Aku sudah block nomornya, block media sosialnya, seperti yang kamu minta. Apa ada yang lain lagi?" tanya Kenjo to the point.


"Aku hanya mau minta, tolong kamu dan Radit nanti bawakan koper kami kalau pulang ke Jakarta ya!" terdengar suara Arga dari ujung sana.


"Lho, kalian emangnya kemana? Kenapa kami yang harus bawa koper kalian? Jangan bilang kalau kalian berdua pulang ke Jakarta malam ini juga?"tukas Kenjo.


"Iya, kami pulang ke Jakarta malam ini juga. Sekarang kami dalam perjalanan ke Bandara. Please, ngertiin kami!" sahut Arga lagi.


"Haish, kalian berdua memang merepotkan. Kalian yang patah hati, aku dan Radit yang repot," Oceh Kenjo sembari menghela napasnya dengan sangat berat.


"Kamu mau apa nggak sih? kalau mau jawab iya kalau tidak biarkan saja di situ!" suara Arga terdengar sangat kesal.


"Iya, iya, nanti kami bawakan! udah ya, safe flight buat kalian berdua!" panggilan akhirnya terputus dan Kenjo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Siapa yang pulang ke Jakarta? Siapa yang patah hati?" cecar Brianna yang sama sekali belum tahu apa yang terjadi.


"Kamu belum tahu ya?" tanya Kenjo balik dan Brianna menggelengkan kepalanya.


Mata Brianna membesar terkesiap kaget mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Kenjo. Gadis itu kemudian berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin! Brian mungkin salah lihat. Aku tidak percaya kalau Ayesha seperti itu!" ucap Brianna.


"Pengennya sih tidak percaya, tapi itu jelas-jelas Ayesha. Dan yang buat Arga juga marah, pria itu membawa temannya dan mengenalkan pada Retha. Retha mau-mau aja lagi dikenalin dan bahkan tersenyum manis ke laki-laki itu," terang Kenjo.


"Brian sudah tanya langsung belum. pada Brian, siapa pria itu? Kali aja, Brian salah paham. Karena benar-benar sangat tidak mungkin. Ayesha yang polos bisa seperti itu," Brianna sama sekali tetap tidak percaya.


"Kenapa tidak mungkin? Zaman sekarang penampilan polos tidak bisa jadi acuan kalau dia itu baik. Bisa saja, dia menyembunyikan sifat aslinya di balik wajah polosnya. Siapa tahu kan?"


Brianna terdiam, tidak membantah ucapan Kenjo yang menurutnya memang ada benarnya.


"Tapi, sumpah demi apapun, aku tetap sulit untuk percaya. Kalian dapat photo itu dari siapa?" tanya Brianna menyelidik.


"Dari Vania. Tadi dia yang melihat sendiri dan akhirnya mengambil photonya untuk dikasih lihat ke Brian dan Arga sebagai bukti,"


Briana kemudian berdecak, kemudian mengembuskan napasnya dengan cukup keras.


"Bagaimana kalian bisa percaya pada Vania? Kalian kan tahu sendiri kalau Vania tidak menyukai Ayesha? Atau jangan-jangan kalian tetap percaya kalau dia dekat dengan kalian semua, murni karena ingin berteman? Asal kalian tahu, dia itu sama sekali tidak seperti itu. Aku yakin kalau dia itu punya maksud lain pada Brian," tutur Briana panjang lebar tanpa jeda dan penuh keyakinan.


"Tapi, masalahnya setelah Brian memutuskan Ayesha ... Ayesha bukannya menemui Brian, untuk minta kejelasan, dia malah langsung menghubungi laki-laki tadi dan pergi bersama dengan mereka. Retha juga malah ikut pergi,"


Brianna seketika terdiam, tidak bisa bisa berkata-kata lagi.


"Emangnya Brian, memutuskan Ayesha tidak langsung di depan Yesha?"


"Tidak! Tapi melalui pesan. Brian sengaja, mengatakan kalau dia dan Vania sudah punya hubungan sebelum punya hubungan dengan Ayesha. Adikmu itu bilang ke Ayesha, kalau dia menjalin hubungan dengannya hanya ingin membantu saja, agar postingannya dulu terlihat nyata," terang Kenjo.


"Astaga, kenapa Brian bisa tega berbicara seperti itu?" Brianna berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya adiknya bisa melakukan hal Kejam seperti itu.


Kenjo mengangkat bahunya.


"Brian bilang, kalau dia tidak mau Ayesha merasa sudah berhasil membohonginya di belakang, tapi dia ingin Ayeshalah yang merasakan kalau sudah dibohongi oleh Brian. Intinya, dia tidak mau terlihat kalah dan pecundang di depan Ayesha dan ingin membuat perempuan itu merasakan sakit hati seperti yang dia rasakan."


Brianna bergeming, diam seribu bahasa. Sulit baginya untuk percaya. Tapi, mendengar cerita Kenjo, yang Ayesha dan Retha, malah pergi dengan pria lain ketika baru saja putus, membuat gadis itu sulit untuk tidak percaya ucapan Kenjo.


"Oh ya, maaf tadi sempat tertunda. Tadi kamu mau mengatakan apa?" celetuk Kenjo, mengingatkan Brianna.


Jantung Brianna kembali berdetak cepat. Rasa grogi kembali datang menghampirinya, mendengar pertanyaan Kenjo.


"Anna, kenapa diam saja? kamu mau bilang apa tadi?" ulang Kenjo lagi.


"Emm, Ken ... aku tahu kalau memang ini sangat jarang terjadi. Tapi, aku tahu kalau aku tidak katakan sekarang, aku mungkin akan selamanya penasaran dan mungkin akan ada penyesalan bagiku nantinya. " Brianna berhenti berucap untuk sebentar. Ia mengambil kesempatan untuk menarik napas dalam-dalam di waktu jeda yang dia ambil. Sementara Kenjo dengan sabar menunggu gadis itu kembali bicara.


Brianna menutup matanya sejenak, menggigit bibirnya, lalu mengembuskan napasnya dengan keras. "Aku menyukaimu, Kenjo!" pungkasnya, seiring dengan embusan napasnya.


Tbc