Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
_Assalamualaikum Zahra_



..._Assalamualaikum Zahra_...


..._Secercah Hujan Di Ujung Senja_...


..."sebuah perpisahan tidak pernah terasa mudah,, namun bagaimana pun,, harus tetap menguatkan hati,, dan mengantar yang pergi,, dengan senyuman dan do'a,, meski hanya senja yang mampu pergi dengan keindahan yang tercipta,," ...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...


siang ini,, Yussuf dan Khaliza,, kedua nya kini sudah berada di dalam bandara hendak mengantar kepergian sang suami untuk bekerja,, kedua nya terus berjalan,, dengan terus saling ber genggaman tangan mencari sosok sekretaris yang pernah menghubungi Yussuf


"assalamualaikum Man,, sudah lama menunggu,, maaf,, tadi sedikit macet di jalan,,?" ucap Yussuf saat melihat sekretaris nya kini sedang terduduk menunggu kedatangan kedua nya 


"waalaikum salam warahmatullah,, tidak masalah pak ketu,, saya baru sekitar lima detik menunggu di sini,, eh Masya Allah,, ini siapa pak ketu,, kenal kan lah,," jawab seorang laki laki yang terlihat seusia sang suami yang di ketahui bernama Arman 


mendengar hal itu,, kini hanya membuat nya mengangguk tanda menyapa tanpa bersuara,, namun dengan Yussuf yang menoleh sekilas ke arah Arman dengan berdeham 


"ehm,, iya Man,, perkenalkan,, ini istri saya,, neng,, perkenalkan,, ini Arman,, sekretaris nya aa' yang menghubungi aa' pagi itu,," tutur Yussuf dengan memperkenalkan kedua nya 


"duh Masya Allah,, kalau istri ustadz mah beda ya,, aura nya selalu terlihat anggun,, assalamualaikum,, saya Arman Bu,, sekretaris nya pak ustadz Yussuf,, bisa di bilang teman juga karena seumuran,,?" sapa Arman dengan ramah,, menyatukan kedua telapak tangan di depan dada 


"hmm,, waalaikum salam warahmatullah,, biasa saja kak panggil nya,, saya Khaliza,, kakak nya panggil Liza saja,, karena saya berada lima tahun di bawah usia aa',," jawab nya balas menyapa 


"waah,, begitu kah,, tapi,, he,, saya nggak enak panggil nya kalau langsung nama,, takut nya suami nya nggak kasih saya izin,, takut terancam sama,," canda Arman yang menoleh sekilas ke arah Yussuf yang di tanggapi raut wajah dingin dari sang suami 


"sama suami nya,, ibu nggak tahu saja,, dia itu dingin banget orang nya,, apa lagi jika sudah marah,, beuh,, satu bangunan bisa jadi debu di tangan dia,," lanjut Arman dengan berbisik dan berhasil membuat nya terkekeh 


"Arman,, aku masih bisa mendengar nya dengan jelas,," peringat Yussuf dengan tatapan datar 


"tuh kan Bu,, ibu bisa melihat nya sendiri,, segarang apa diri nya jika sudah mencapai puncak amarah nya,," imbuh Arman lagi 


"hmm,, tidak masalah kak,, jika begitu,, senyaman nya kakak saja panggilan nya,," jawab nya dengan ramah dan tersenyum hangat 


"jangan sesekali kamu memandangi wajah istri saya,, jika kamu berani memandang nya melebihi batas,, saya tidak akan segan untuk mengeluarkan bola mata mu dari tempat nya,," perintah Yussuf


"tuh kan Bu,, saya bilang juga apa,, posesif nya kambuh,, eh tapi,, laki laki sedingin pak ketu punya sikap posesif juga ya,,?" tanya Arman yang membuat nya hanya tersenyum 


"saya juga manusia biasa Arman,, sudah lah,, jangan berusaha akrab dengan istri saya,," imbuh Yussuf yang merasa tak suka,, akh latah,, padahal laki laki ini takut jika sang istri di buat nyaman dengan sekretaris nya ini 


"ish,, pak ketu mah gitu,, jarang ngomong Bu,, sekali nya ngomong,, beuh,, petuah semua yang keluar,, saya harus cosplay jadi manekin hidup di depan kalian nih cerita nya,," imbuh Arman lagi 


tak berselang lama,, kini terdengar suara seorang wanita yang berbicara melalui pengeras suara,, mengumumkan bahwa pesawat yang akan Yussuf naiki akan segera lepas landas,, membuat Yussuf menjadi merasa semakin tidak karuan 


"sini deh duduk dulu neng,," ajak Yussuf dengan menarik lembut kedua tangan nya,, mengarahkan nya untuk sama sama duduk di kursi tunggu 


"ada apa a',,?" tanya nya saat kedua nya sudah sama sama duduk dengan sama sama menyerong,, membuat kedua nya nyaris berhadapan 


"kamu yakin nggak akan ikut aku ke sana sayang,,?" tanya Yussuf dengan tatapan sendu,, mengunci tatapan hanya pada nya 


mendengar hal itu kini berhasil membuat nya tersenyum tipis,, menyadari jika suami nya merasa ragu akan meninggal kan nya untuk dinas di luar kota 


"hmm,, ya,, neng yakin a',, tidak apa,, aa' hati hati di jalan,, jangan lupa kabari neng,, jika aa' sudah sampai di sana,," jawab nya yang membalas genggaman kedua tangan sang suami dengan lembut 


"mengapa kamu bisa berbicara seperti ini sayang,, harus kah aku batal kan saja penerbangan nya,, aku benar benar nggak mau jauh dari kamu,,?" tutur Yussuf yang masih memandangi wajah nya tanpa ingin melihat dan memperhatikan sekitar 


"jangan seperti itu a',, pergi lah,, mereka begitu membutuh kan kehadiran aa' di sana,," tutur nya lagi 


"ini sulit buat aku sayang,, aku,, aku tidak bisa,, aku benar benar tidak bisa,," tutur Yussuf dengan menunduk,, namun hal yang berhasil membuat nya terdiam cukup lama 


tidak menyangka jika sang suami nyata nya akan bertutur demikian pada nya,, tidak bisa di pungkiri,, jika hati nya merasa tersentuh di kala mendengar nya,, hingga pada akhir nya 


"hmm,, iya neng mengerti dengan apa yang aa' rasa kan sekarang,, hanya saja,, semua nya tidak akan selesai jika aa' terus terusan di sini,," setelah sekian lama bersama,, diri nya pun memberanikan diri untuk sekedar mengusap lembut pipi kiri sang suami di hadapan nya,, membuat Yussuf kembali menatap nya saat menyadari hal itu 


"namun kamu juga harus janji satu hal sama aku ya,, kamu ingat tuturan aku di dapur saat kamu mencuci sebelum kita berangkat ke mall bukan,,?" tanya Yussuf yang berhasil membuat nya sedikit berpikir,, dalam hati merasa senang jika sang istri mempunyai inisiatif untuk membangkitkan semangat yang sempat tumpul,, tidak ingin menyia nyiakan momen,, kala menyadari sapuan lembut tangan sang istri akan berakhir,, namun Yussuf tahan dengan segera,, menempelkan telapak tangan sang istri pada pipi kiri,, membuat nya terbungkam 


diri nya yang mendengar hal itu mencoba untuk sedikit berpikir 


"hhh,, baiklah sayang,, tapi,, ku mohon,, jika aku sudah tiba di sana,, kita jangan putus komunikasi ya,, aku benar benar tidak ingin berjauhan sama kamu,,?" tutur sang suami yang di ingat nya kala itu 


merasa mengingat sesuatu,, kini hal itu pun berhasil membuat nya tersenyum dan mengangguk ke arah sang suami sebagai jawaban 


"hmm,, iya a',, neng tidak akan memutuskan komunikasi sama aa',, namun harus aa' ketahui,, neng tidak akan menghubungi aa' duluan karena neng akan merasa takut jika pekerjaan di sana terganggu,, jadi,, aa' saja yang hubungi neng duluan ya,,?" tutur nya 


"hmm,, neng tahu a',, hanya saja,, neng merasa takut,, tetap saja,, neng akan merasa tidak enak jika itu terjadi,," jawab nya yang membuat Yussuf mengerti jika sang istri memang akan merasa tidak enak meski itu permintaan nya 


"baiklah sayang,, aa' yang akan selalu menghubungi mu nanti nya,, namun satu pesan ku,, jangan tinggal kan ponsel mu di kamar ya,, ponsel mu harus selalu kamu bawa ke mana pun kamu pergi,, ponsel itu harus selalu ada di dalam saku abaya mu,," pesan Yussuf seraya membelai lembut pipi nya di balik niqab 


"iya,, neng akan selalu mengingat pesan aa' ini,," jawab nya dengan mengangguk patuh


"jangan lupa jaga kesehatan ya sayang,, aku akan begitu merindukan kebersamaan kita,, cup,," ucap Yussuf seraya mencium singkat kening nya 


memandangi wajah nya dengan tatapan yang dalam,, rupa nya Yussuf pun terlihat mendekat kan wajah kedua nya,, membuat nya sedikit terancam hingga harus memundurkan wajah nya juga 


"aa' mau apa,,?" tanya nya dengan menutup mulut nya yang masih tertutupi niqab,, menutup nya dengan membalik tangan nya hingga di tutupi dengan punggung tangan nya 


melihat jelas rasa malu sang istri kini berhasil membuat Yussuf tersenyum lantas meraih tangan nya yang masih di depan mulut nya,, menggigit nya dengan pelan namun aneh nya diri nya sendiri merasa seakan tangan nya tersetrum tepat saat suami nya ini menggigit tangan nya dengan lembut 


"a,, apa yang aa' lakukan,,?" tanya nya dengan berbisik,, takut takut jika ada yang memperhatikan kedua nya meski dari jarak yang cukup jauh 


mendengar hal itu,, kini berhasil membuat Yussuf sendiri tersenyum penuh arti "meninggalkan jejak,, agar kamu ingat,, jika aku selama nya akan selalu ada di samping mu,," jawab Yussuf,, dan kembali mengelus pipi kanan nya di balik niqab 


"ehm,, sebenar nya tidak tega memisahkan pasutri baru pak,, hanya saja,, hee,, pesawat nya sudah mau lepas landas,, kita harus cepat,," ucap Arman yang melihat arloji membuat kedua nya menoleh 


"sayang,, kalau begitu,, aa' pamit dulu ya,, kamu jaga kesehatan di sini,, jangan telat makan,," pamit Yussuf seraya berdiri di ikuti juga oleh nya 


"iya a',, aa' juga,, hati hati di jalan,," jawab nya 


dengan berat hati,, Yussuf pun mulai melangkah kan kedua kaki dengan menarik koper bersama dengan Arman,, tidak bisa di pungkiri,, jika laki laki ini benar benar berat dengan meninggalkan nya seorang diri di tengah lautan manusia ini,, terlihat jelas,, Yussuf yang menarik koper sambil berjalan ke depan sana,, namun dengan pandangan yang terus tertuju pada nya,, berat meninggalkan nya di sini,, 


rasa itu kian membesar seiring dengan langkah kaki yang semakin menjauhi sang istri,, berhenti menarik koper,, kemudian berlari ke arah sang istri yang masih berdiri tegak pada posisi nya,, membuat Arman menoleh dan menggeleng geleng kan kepala 


berhenti tepat di hadapan sang istri,, menatap wajah nya sejenak,, padahal sudah jelas sang istri merasa heran mengapa suami nya ini kembali lagi 


"ada apa a',, apa ada barang yang terting,," pertanyaan nya yang terpotong,, di kala Yussuf yang tiba tiba saja berhamburan ke dalam pelukan nya,, memeluk nya dengan begitu erat 


"aku akan sangat sangat sangat merindukan mu sayang,, jaga diri baik baik ya,, tunggu aku pulang dari sana,,?" tutur Yussuf di balik pelukan kedua nya 


"hmm,, iya a',, neng akan mengingat semua pesan aa' ini,," jawab nya yang seraya mengangkat kedua tangan nya,, membalas pelukan sang suami 


"hmm,, sudah a',, pergi lah,, kak Arman sudah menunggu,, takut terlambat untuk terbang,," tutur nya lagi 


"nanti dulu,, aku mau menikmati momen kebersamaan kita ini,," tutur Yussuf yang masih enggan melepaskan pelukan kedua nya 


Yussuf mulai merogoh saku jas,, mencari sesuatu dan kembali mengeluarkan tangan saat sudah menemukan apa yang di cari 


"sayang,, aku sengaja membeli walkie talkie ini,, satu untuk mu,, dan satu untuk ku,, jangan tinggalkan dia,, jika ponsel mu kehabisan daya,, kita bisa tetap berkomunikasi lewat ini,, 


dan gunakan lah kartu ini,, jika sewaktu waktu kamu ingin membeli sesuatu,, isi nya memang tidak banyak,, namun ku yakin,, jika ini akan membantu mu membeli barang yang kamu butuh kan,, jika mau kamu habis kan juga tidak masalah,, aku bisa mengisi nya kembali,," tutur Yussuf seraya menyerahkan walkie talkie,, dan juga black card pada nya,, kedua tangan beralih memeluk pinggang nya dengan lembut 


"t,, tapi a',, neng bisa membeli sendiri apa yang neng butuh kan,, lagi pula,, bukan kah aa' sudah sering transfer tunai ke dalam rekening pribadi neng,, itu sudah cukup banyak bagi neng,,?" tanya nya 


"hmm,, tidak apa sayang,, ingin saja aku kasih yang lebih,, untuk perempuan sesempurna diri mu,," jawab Yussuf 


"hmm,, baiklah a',, terima kasih,,?" ucap nya yang di angguki oleh Yussuf sendiri sebagai jawaban 


"baiklah sayang,, jaga diri baik baik ya sayang,, cup,, aku titip salam untuk keluarga di rumah,, aku pamit,, maaf,, aku tidak mengabari dulu,, karena ini begitu mendadak,,?" tutur Yussuf panjang lebar saat merasa sudah waktu nya untuk pergi meski dengan berat hati 


"hmm,, semua nya pasti mengerti a',, aa' juga,, jaga kesehatan di sana,, jangan bekerja terlalu lelah,," jawab nya yang membuat Yussuf mau tak mau harus mengangguk 


"iya,, aku akan selalu mengingat nya,, oh iya,, tadi kita naik grab ke sini,, sekarang kamu pulang naik taksi saja ya,, takut nya lama jika harus menunggu sampai grab nya tiba,, kamu harus segera istirahat di rumah,, aku pamit dulu ya sayang,, nanti aku kabari jika sudah mendarat,, cup,, cup,, assalamualaikum,,?" ucap Yussuf sambil mencium sepasang mata nya bergantian 


...*** ...


di sini lah diri nya terduduk di dalam taksi dengan perjalanan pulang menuju rumah nya dan sang suami,, tidak bisa di pungkiri diri nya memang merasa sedikit sedih saat melihat kepergian suami nya di bandara tadi namun apa lah daya,, nyata nya sikap kedewasaan nya memilih bertakhta dalam diri nya,, hingg mau tidak mau,, diri nya pun mengizinkan sang suami pergi ke kota yang jauh di sana,, dan bahkan menunjukkan sikap seolah diri nya tak sedih dengan kepergian sang suami,, padahal rasa sedih itu di rasa kan nya juga saat suami nya telah lepas landas,,


tidak ingin pulang ke rumah nya,, karena takut teringat akan sang suami,, juga hari sudah semakin sore seiring dengan berjalan nya waktu,, kini membuat nya mengganti tujuan nya menjadi menuju ke tempat yang mampu mendamaikan hati nya,, laut,, ya,, ingin melihat sunset di laut,, hanya itu keinginan nya sekarang,, bukan yang lain,, 


_Assalamualaikum Zahra_


Kamis,, 2 November 2023