Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_...


..._Suara Kerinduan_...


..."meski pun perpisahan menyakiti hati, tapi yakin lah, ini yang akan membawa kebahagiaan, suatu saat nanti"...


..._Khakiza Sulistya Az Zahra_ ...


pagi ini, Yussuf dan Ratih sudah duduk di ruang keluarga kediaman nya, Al Hanand, menjemput dan hendak mengantar kan nya menuju bandara Soekarno Hatta, terlihat dari atas sana sosok yang tengah mengenakan niqab juga gaun muslim moca dengan manset dan hijab yang senada tengah menarik sebuah koper ke arah ruang keluarga yang sedang berkumpul


"Ayah, Izza pamit ke pondok dulu ya, selesai kan urusan Izza di sana?" ucap nya sambil mencium punggung tangan kanan Ayah


"iya sayang, segera selesai kan urusan kakak di sana ya nak, jaga diri juga di sana, do'a Ayah selalu menyertai kakak, hati hati di jalan" jawab Ayah seraya beralih memeluk erat tubuh nya yang memang di balas juga oleh nya


"Bunda,, kakak pamit dulu ya Bund?" ucap nya berhamburan ke dalam pelukan sang Bunda


"iya kak, kakak jaga diri baik baik ya di sana, hati hati saat di jalan, Bunda tunggu kedatangan kakak kembali di rumah ini ya sayang?" jawab Bunda seraya menerima dan membalas pelukan nya juga mendapat kan anggukan dari nya


"iya Bund, insya Allah,, kakak ke sini lagi nanti" jawab nya dan mulai beralih pada


"huhu,, Nenek,, rasa rasa nya Izza baru saja kemarin ya bertemu dengan Nenek, sekarang harus pisah lagi, Izza pamit ya Nek, Nenek baik baik di sini?" ujar nya sambil memeluk Nenek dengan manja


"xixi, sudah lah kak, jangan manja gini sama Nenek,, malu tuh,, di lihat sama calon suami, kamu nya masih manja sama Nenek" goda Nenek dan berhasil membuat semua nya terkekeh dan diri nya pun merona malu


"ih Nenek" tutur nya


"kak, aku pamit dulu ya, jangan kangen sama aku?" ucap nya saat berhadapan dengan kak Nisa


"duh, tapi kok, kakak takut kangen ya sama kamu, jangan lupa untuk memberi kabar selalu, jika sudah sampai di pondok nanti, kakak kangen juga sama Khanaya dan Lia, ajak kedua sahabat kamu itu video call sama kakak nanti ya?" tutur kak Nisa yang memang sudah mengetahui kedua sahabat nya di Tangerang


"hmm,, iya insya Allah,, kak Ahkam,, aku pamit dulu ya, titip kak Nisa, dia suka lupa makan, kalau kebanyakan sibuk?" bisik nya yang membuat kak Ahkam terkekeh, namun masih bisa di dengar oleh kak Nisa sendiri


"masih kakak dengar dek, belum kakak usap usap itu telapak tangan, dan bukan kah itu kebiasaan buruk kamu, bukan malah kebiasaan buruh nya kakak, jangan telat makan ya di sana?" ujar kak Nisa yang tahu kelemahan nya adalah telapak tangan nya di usap, membuat nya terkekeh kecil dalam diam nya


"hmm,, iya kak, insya Allah jika aku nggak lupa" jawab nya dengan berdeham


"jangan lupa terus memberi kabar ke rumah jika ada waktu ya dek?" tutur kak Ahkam, pria itu memang selalu saja irit bicara, namun jika sekali nya bicara, selalu keluar kata yang tidak orang lain ingat


"iya kak, insya Allah Izza kabari lagi nanti" jawab nya yang mendapat senyuman tipis dari kak Ahkam sendiri


"kak,, hari ini hanya Arsen yang bisa mengantar kan kakak sampai di bandara, nggak apa apa kan?" tanya Ayah dengan tatapan sayu nya


"nggak masalah kok Yah, Ayah tenang saja, kakak akan baik baik saja kok di sana" jawab nya mengerti dengan arti tatapan sang Ayah


...°°° ...


semua nya sudah duduk di kursi mobil, dengan Yussuf yang mengendarai mobil, Arsen di samping Yussuf, dan diri nya juga Ratih yang duduk berdampingan di kursi belakang


"huhu, teteh mau ngapain lagi sih di sana, nggak mau istirahat dulu gitu di rumah, fokus banget nimba ilmu nya?" ujar Ratih sambil merengek manja


"hmm,, teteh kan ada orang terdekat juga di sana Ratih, ada kedua sahabat teteh juga, kemarin kan teteh sudah cukup istirahat di rumah, bahkan jalan jalan juga kan sama kamu, lagi pula,, sahabat teteh di sana juga ada yang mau akad, kata nya, teteh harus ikut datang juga, kalau teteh sampai nggak bisa datang juga, teteh di ancam tahu?" jelas nya dengan terjeda jeda


"di ancam,, di ancam bagaimana maksud teteh?" tanya Ratih dengan kening mengerut


"kata sahabat nya teteh di sana, kalau teteh nggak bisa datang di acara resepsi nya,, teteh nggak akan lagi di anggap sahabat kata nya?" tutur nya tanpa berbohong


benar, saat sedang asyik berjalan jalan dengan Ratih di taman sehabis pulang dari fighting gaun pengantin, kini diri nya mendapat kan kabar, jika dalam dua hari mendatang, Lia sahabat nya akan resmi menikah dengan Radit, jadi diri nya harus menghadiri acara pernikahan nya


"lagi pula,, sahabat teteh juga juga sudah booking kamar hotel penginapan,, wanti wanti teteh juga sejak awal, agar teteh bisa ikut jadi Bridesmaids di acara nya, jadi nggak bisa teteh tolak" lanjut nya


"ehm, neng yakin, akan berangkat sendirian, nggak akan terjadi apa apa di jalan?" tanya Yussuf dengan pandangan lurus ke arah jalanan di depan


"insya Allah ustadz,, saya sendiri saja,, tidak akan terjadi apa apa di jalan" jawab nya dengan cepat


"ya sudah,, nanti aa' menyusul saja kalau begitu, lusa kan, acara nya?" tanya Yussuf dengan tenang


"u,, ustadz mengetahui nya?" tanya nya yang mendadak gugup lagi


"hmm,, iya neng, mempelai pria nya sahabat aa' juga, asli kota Bandung,, a' juga harus datang kata nya, di tunggu juga di sana" jawab Yussuf


setelah perbincangan singkat itu, kini diri nya pun merogoh saku gaun muslim yang tengah di kenakan nya mengambil ponsel nya yang bergetar dari dalam saku


"assalamualaikum?"


"..."


"aku lagi di jalan nih Nay, kenapa?"


"..."


"hmmmm, kurang tahu juga ya aku, seperti nya sih bisa saja nggak jadi, soal nya urusan nya aku belum selesai juga di sini"


"..."


"ya',, aku juga nggak bisa apa apa Nay, lagi pula,, Ayah aku nggak kasih izin aku untuk ke sana lagi, tolong bilang permintaan maaf aku sama Lia ya?"


"..."


"emm,, iya, bukan nya aku nggak mau Nay, tapi mau bagaimana lagi, sudah dulu ya Nay, nanti aku hubungi kembali, urusan ku masih belum selesai?"


"..."


"..."


"dari siapa teh?" tanya Ratih penasaran dengan sosok orang yang menghubungi nomor nya


"Khanaya,, sahabat teteh di Tangerang Ratih" jawab nya sambil menyimpan ponsel nya kembali


"ooh, eh, apa dia teman teteh yang jago taekwondo juga?" tanya Ratih masih dengan rasa penasaran nya


"hmm,, iya Ratih,, dia juga sama, dia juga cukup menguasai ilmu bela diri taekwondo sama teteh, suka teteh temani jika dia mengajari anak anak silat" jawab nya yang membuat mata Ratih berbinar


"waah, teteh juga bisa silat rupa nya, sejak kapan teh?" tanya Ratih lagi dengan menggebu


"emm,, kurang lebih waktu teteh masih duduk di kelas 11, kalau nggak salah,, sudah cukup lama juga, jadi agak lupa" jawab nya


"akh iya,, waktu itu kan, kita hadiri acara pernikahan nya kak Nisa sama kak Ahkam, kok kita nggak ketemu ya teh?" tanya Ratih kala mengingat sesuatu


"emm,, nggak tahu juga ya teteh, mungkin semesta memang tidak mengizin kan kita untuk bertemu waktu itu" jawab nya yang membuat Ratih mengangguk paham


tanpa di sadari oleh ketiga nya yang saling mengobrol ringan, kini mobil pun sudah terparkir rapi di parkiran bandara Soekarno Hatta, membuat semua nya keluar dari dalam mobil


"kak, aku izin ke kamar kecil bentar ya?" pamit Arsen yang memang sudah tidak tahan ingin buang air kecil sejak tadi


"hmm,, ya sudah,, tapi jangan lama lama ya, sebentar lagi pesawat yang kakak tumpangi lepas landas?" jawab nya yang mendapat anggukan kecil dari sang adik


mereka pun kembali berjalan ke dalam bandara, namun perjalanan kembali terhenti di kala


"aduh,, teteh,, mas, kalian duluan saja masuk nya ya, aku sedikit haus, tenggorokan ku rasa nya begitu kering, mau mencari minum dulu di Titanmart depan sana, hanya sebentar saja kok" ujar Ratih dengan tiba tiba


"tapi Ratih,,,?" ucap nya terhenti, kala Ratih berbicara sambil berlari


"anak itu kebiasaan, ya sudah, neng sama aa' saja nggak masalah" ucap Yussuf meyakinkan dan hanya mendapat anggukan patuh saja dari nya


"sini neng,, biar koper nya,, aa' yang tarik?" tawar Yussuf yang melihat nya menarik koper merah maroon dengan ukuran sedang itu


"ehm,, nggak masalah ustadz,, saya bisa sendiri,, terima kasih?" ucap nya dengan cepat


"ya sudah, tapi jika neng keberatan biar aa' saja yang bawa,, nggak masalah, takut nya tangan nya makin sakit itu?" tutur Yussuf penuh dengan rasa perhatian terhadap nya


"hmmm,,, nggak masalah ustadz" jawab nya


kedua nya memilih duduk sambil menunggu keberangkatan tiba, namun Arsen dan Ratih,, akh,, kedua anak itu seakan bersekongkol jika pergi, tidak terlihat sama sekali batang hidung masing masing


"neng,, sesampai nya neng di sana,, neng harus memberi kabar sama keluarga di rumah ya,, a' khawatir,, seandainya a' nggak ada jadwal di sini, mungkin a' yang akan mengantar kan neng sampai ke sana?" tutur Yussuf penuh dengan rasa khawatir


"nggak masalah ustadz,, saya sudah terbiasa pulang pergi sendirian ke sana" jawab nya cepat


tak lama kemudian, terdengar suara yang cukup nyaring memenuhi area bandara, yang mengatakan penerbangan dengan tujuan Tangerang akan segera lepas landas


dengan begitu,, terlihat Ratih dan Arsen datang dari arah yang berbeda dan berlawanan dengan senyuman tanpa dosa dari kedua nya


"assalamualaikum kak, huuh,, maaf pasti nunggu lama ya huuh, kamar kecil nya antri tadi huuh, aku kira huuh, nggak bakalan bisa huuh, ketemu dulu sama kakak huuh, tapi huuh, syukur alhamdulillaah jika masih bisa huuh?" ucap Arsen dengan nafas yang terdengar memburu karena berlari


"sudah lah,, sebaik nya kamu minum air mineral ini terlebih dahulu,, harus nya kamu nggak perlu lari Arsen, ayo duduk dulu, nggak baik minum sambil berdiri?" tutur Yussuf sambil menepuk kursi di samping nya dan kedua nya pun kembali duduk


"maaf ya teh,, aku juga pasti lama ya tadi,, soal nya nyari Snack pringles kesukaan aku nya nggak ada, nyari good mood juga nggak ada, jadi terpaksa aku nyari yang lain dulu, habis itu lagi padat juga pelanggan di Titanmart sana tadi?" ucap Ratih yang merasa tak enak hati juga


"nggak masalah Ratih,, yang penting kalian sudah ke sini sekarang, pesawat yang akan kakak tumpangi juga akan segera lepas landas sebentar lagi, ya sudah,, kakak pamit ya, seperti nya sudah wkatu nya?" pamit nya seraya melihat arloji di pergelangan tangan kiri nya


"yaah,, baru juga sebentar teh, harus check out lagi, aku takut kangen sama teteh, teteh jaga diri di sana ya teh, terus kabari aku jika teteh ada waktu luang?" tutur Ratih berhamburan ke dalam pelukan nya


"hmm,, iya Ratih,, insya Allah,, nanti teteh hubungi jika ada waktu" jawab nya mengusap lembut punggung Ratih


"Arsen,, kakak pamit dulu ya, jaga Ayah Bunda di sini, kamu jangan nakal nakal, dengar kan apa yang kedua nya kata kan sama kamu, kabari kakak jika ada apa apa?" tutur nya memandangi wajah Arsen di samping nya


"iya kak, hehe,, kak,, aku mau kuota dong, isi sama kakak di sana ya?" ucap Arsen dengan terkekeh juga kedua jari telunjuk yang saling bertautan


"iya nanti akan kakak isi jika kakak tidak lupa, kamu jaga Nenek juga di sini ya, jangan berbicara lebih lantang dari orang tua, kakak berangkat?" ucap nya


"lho kak,, kakak nggak pamitan sama kak Yussuf juga, dia calon suami kakak lho?" ujar Arsen yang membuat nya malu meski di tutupi


"sudah lah Sen,, nggak apa apa,, kakak mengerti kok" tutur Yussuf dengan lembut, di kala menyadari jika sang calon istri kini tengah berusaha menyembunyi kan ras amalu nya


"sssttt,, nggak apa apa kak, kita lihat reaksi nya gimana" bisik Arsen yang tidak di dengar oleh nya


"emm,, ustadz,, saya pamit,, assalamualaikum?" ucap nya seraya berlalu dengan koper di genggaman tangan kanan nya


ustadz Yussuf terus memandangi kepergian nya yang semakin lama semakin menjauh menjadi titik kecil dan kemudian menghilang dari pandangan nya


"sampai jumpa teteh Izza,, aku akan selalu menanti kan kedatangan teteh kembali ke sini?" ucap Ratih yang sudah tidak bisa di dengar oleh nya sendiri


"kak, seperti nya dia nggak terima ya, dengan keberangkatan kak Izza?" tanya Arsen


_**Assalamualaikum Zahra_


Sabtu, 5 Agustus 2023**