Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_...


..._Sebuab Keheningan Malam_...


..."celah mu akan di anggap sempurna,, oleh hati yang memang di takdir kan untuk mu,,"...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...


membuka lemari pakaian minimalis meski dengan perasaan yang masih ragu, mengambil salah satu gantungan yang sudah tergantung pakaian tidur yang sebelum nya sangat di hindari nya


kimono Jepang berwarna merah maroon berbahan satin yang di lengkapi dengan dress pendek dengan lengan hanya seutas tali pita itu terpampang jelas di hadapan nya, jujur,, jika hanya dengan melihat nya saja sudah cukup membuat nya merasa malu, apa lagi jika diri nya benar benar mengenakan nya malam ini,,


pakaian tidur dengan pemberian dari Arsen,, adik yang benar benar gemar menjahili nya, mulai menelisik gantungan dengan tatapan ragu juga dengan bibir bagian bawah yang tanpa sadar di gigit nya sendiri,, merasa sangsi jika diri nya harus benar benar memakai atau tidak pakaian tidak biasa ini


bukan diri nya bermaksud menyinggung atau bagaimana, jika saja hadiah pemberian dari Arsen berupa piyama lengan pendek mungkin diri nya bisa saja memakai nya kapan saja, tapi jika pakaian seperti ini yang menjadi hadiah nya,, bukan kah itu akan sangat memalukan jika di kenakan oleh nya sendiri?


hingga pada akhir nya, meski dengan tangan dan hati yang terasa bergetar, kedua kaki nya pun melangkah menuju ruang ganti dan benar benar mengganti pakaian nya


rasa geli dan malu sendiri mendominasi saat diri nya melihat dan memandangi bayangan nya di cermin panjang ini, memantulkan jelas bentuk tubuh nya yang sudah jelas begitu malu hanya dengan diri sendiri saja, apa lagi jika diri nya benar benar mengenakan nya di hadapan Yussuf? akh sudah lah, hanya membayangkan nya saja sudah membuat nya meringis kecil, namun meski ini hanya tantangan, tapi tetap saja,, itu berhasil membuat nya malu setengah mati


hingga diri nya membuka lemari yang tersimpan di dalam ruang ganti ini, mengeluar kan kimono outer Hoodie pemberian dari Ayah yang belum pernah di kenakan nya, mengenakan nya agar bisa menutupi tubuh nya, tidak akan jadi masalah, bukan kah yang Arsen bilang hanya mengenakan pakaian tidur ini di hadapan suami nya saja, bukan di hadapan seluruh keluarga nya, senyuman manis itu terbit di saat diri nya memandangi pantulan tubuh nya yang mengenakan pakaian serba merah maroon, warna kesukaan nya, tidak apa,, ini bahkan terlihat lebih baik dari yang sebelum nya


memilih keluar dari ruang ganti dan juga kamar, tak lupa untuk kembali menutup pintu kamar nya, lantas menuruni anak tangga dengan perlahan


...***...


pukul 21.20, diri nya terduduk di sofa ruang keluarga sendiri, menanti kedatangan suami dengan tenang dan damai, latah,, diri nya namun berusaha untuk merasa tenang dan damai, karena hati nya kian berdegup kencang, meski sudah di tutupi oleh kimono outer Hoodie, tapi tetap saja, rasa nya terasa begitu aneh


"lho,, kakak mau ke mana sayang,, maksud nya,, kakak sedang apa duduk di sini sendiri,,?" tanya Bunda yang kebetulan sedang melewati ruang keluarga dan melihat nya duduk di sofa sendirian


"hmm,, di sini saja Bund,, tunggu aa' pulang,," jawab nya yang mengundang senyuman manis dari Bunda juga ke arah nya


"tidak kah kakak menunggu menantu kedua nya Bunda itu di dalam kamar saja,, jika di sini,, pasti tidak akan terasa nyaman nak,,?" tutur Bunda yang menyadari ketidak nyamanan nya


ya,, sebenar nya Bunda sudah menyadari jika putri nya ini memakai pakaian yang berbeda,, hanya saja,, Bunda tidak ingin menyinggung nya perihal ini


"mm,, tidak masalah Bunda,, kakak akan menunggu di sini saja,," jawab nya yang membuat Bunda mengangguk mengerti


"baiklah sayang,, jika memang itu mau nya kakak,, tapi kakak juga jangan lupa istirahat ya,, malam ini sudah banyak melakukan banyak hal,, jika lelah,, tidur saja,," tutur Bunda yang membuat nya mengangguk dengan tersenyum


"Bunda tinggal ke kamar dulu ya nak,,?" pamit Bunda yang seraya berdiri setelah mendapati anggukan dari nya


"iya Bund, Bunda segera lah istirahat,, pasti Bunda capek juga,," jawab nya


setelah kepergian Bunda ke kamar,, kini hingga menyisakan nya seorang diri di ruang keluarga ini,, menunduk sambil bershalawat dalam hati untuk menenangkan hati yang kian berkecamuk


...***...


waktu terus berlalu,, detik demi detik,, menit demi menit,, bahkan waktu sudah berganti, mulai dari mengubah posisi duduk dengan mengangkat dan menyilang kedua kaki di atas sofa,, selonjoran,, sampai kembali ke posisi semula,, tetap memangku bantal sofa di atas kaki nya


"astaghfirullah,, ini sudah pukul 00.15,, namun aa' belum juga menunjukkan tanda tanda sampai di rumah,, aa' tidak mungkin lupa untuk pulang bukan,,?" gumam nya sendiri saat melihat jam dinding


diri nya kembali menunduk,, menunggu sang suami yang belum juga sampai di rumah,, campur aduk adalah gambaran perasaan nya sekarang,, belum lagi makan malam yang sudah sempat di siap kan nya tadi,, diri nya bahkan sudah tidak peduli dengan makanan itu,, jika saja makanan itu dingin,,


"assalamualaikum,,?" ucap Yussuf seraya berjalan memasuki rumah dengan menarik koper


"waalaikum salam warahmatullah,," jawab Bunda yang membuat Yussuf menunduk,, rupa nya Bunda juga baru saja keluar dari dalam kamar dan kebetulan melihat menantu kedua baru datang


"selamat malam Bunda,,?" ucap Yussuf menyalami tangan Bunda dengan tersenyum


"ini sudah pagi Yussuf,," peringat Bunda di kala melirik jam dinding, membuat Yussuf mengikuti arah pandang Bunda


"hmm,, maaf Bund,, aku banyak kerjaan di kantor,, jadi lembur malam ini,, tadi nya nggak mau,," jawab Yussuf dengan lembut


"tidak masalah,," jawab Bunda yang selalu mengerti


"astaghfirullah Bund,, istri aku di sini Bund,,?" tanya Yussuf saat kedua nya hendak duduk di sofa, namun melihat nya tertidur dengan menyandar kan punggung ke sandaran sofa kini berhasil membuat Yussuf terkejut lantas menoleh ke arah Bunda yang terdiam


"lho,, dia masih di sini rupa nya,,?" tanya Bunda balik yang ikut terkejut


"memang nya istri aku sejak kapan di sini Bund,,?" tanya Yussuf dengan berbisik


"tadi,, sekitar,, pukul 21.00 atau lebih gitu,, dia di sini,, selesai makan malam dia langsung cuci piring,, kupas buah untuk kak Nisa,, se tahu Bunda dia langsung ganti pakaian ke kamar sehabis itu langsung ke sini, nunggu kamu tiba di rumah,," jelas Bunda yang membuat Yussuf tersenyum


"makasih banyak ya Bund,, Bunda sudah melahirkan wanita lugu nan mandiri ini ke dunia ini,, sudah izin kan aku untuk memperistri nya juga?" ucap Yussuf yang merasa terharu


"tidak masalah,, kamu cepat lah bawa istri mu segera ke kamar,, Bunda mau ambil minum terlebih dahulu untuk Ayah,," usul Bunda yang membuat Yussuf mengangguk patuh


"baiklah Bund,, aku bawa neng Zahra ke kamar,, tapi,, aku titip neng Zahra nya bentar ya Bund,, aku bawa koper,, jadi antar dulu sebentar?" izin Yussuf yang membuat Bunda menganggu


tepat saat Yussuf berdiri di anak tangga terakhir, kini melihat Arsen yang rupa nya keluar dari kamar dengan menguap,, menutup mulut yang terbuka


"Sen,," panggil Yussuf seraya melambai ke arah Arsen,, membuat Arsen menuruni anak tangga menghampiri Yussuf


"tunggu sebentar,," ucap Yussuf seraya meninggalkan koper dengan Arsen,, mengangkat pelan tubuh nya ala bridal style dan kembali menghampiri Arsen


"Sen,, kakak boleh minta tolong bawa kan koper kakak ke kamar nggak,, kakak bawa istri nya kakak,, jadi sedikit susah,,?" tutur Yussuf yang melihat arah pandang Yussuf ke arah nya yang sudah tertidur pulas


mengulas senyuman tipis di kala melihat sang kakak yang sudah tertidur dengan pulas di gendongan kakak ipar, membuat Arsen mengerti


"baiklah kak,, koper nya aku bawa ke kamar,, kakak hati hati bawa kakak aku,, dia berat lho,," jawab Arsen seraya mengambil koper dan mengangkat nya kemudian berjalan meletakkan koper Yussuf di dalam kamar kedua nya


"makasih ya,,?" ucap Yussuf yang membuat Arsen tersenyum dan mengangguk


"selamat bobo cantik kakak cantik nya aku,, bobo yang nyenyak ya,, jangan gelisah bobo nya,, kan,, ada yang nemenin,," bisik Arsen di samping telinga nya, membuat tidur nya terusik


"aish,, kamu ini ya,, masih saja berusaha menjahili kakak kamu yang padahal sedang tidur juga,," tutur Yussuf seraya menjauh kan nya dari Arsen takut tidur nya benar terusik


"hehe,, biasa kak,, nggak enak banget kalau nggak jahili kakak walau hanya sekali,, aku masuk dulu ya kak,, eh,, aku lupa mau ambil minuman kaleng di dapur,," jawab Arsen dengan cengengesan, membuat Yussuf menggeleng tak heran


_Assalamualaikum Zahra_


Senin, 18 September 2023