
..._Assalamualaikum Zahra_...
..._Sebuah Kebenaran_...
..."sebuah pernikahan selalu membuat seseorang jauh lebih dewasa,, membuat orang tahu bahwa hidup itu tidak hanya satu warna,, tetapi dia warna,,"...
..._Khakiza Sulistya Az Zahra_...
menatap kepergian sang istri yang mulai berlalu sambil terus tersenyum,, tidak menyangka pernikahan yang di jalani akan indah,, benar apa kata Ayah dan Abi,, pacaran setelah menikah,, itu lebih baik,, namun diri nya yang bersikap seolah selalu menghindar dari apa yang suami nya lakukan,, kini berhasil membuat pikiran Yussuf di penuhi akan hal itu,, pikiran dan hati Yussuf saling bertanya dan berusaha mencari jawaban,, namun sampai sekarang,, belum menemukan jawaban yang tepat dan masuk akal,,
merasa hati yang belum tenang,, dan kini pikiran Yussuf pun tertuju pada seseorang yang mungkin saja bisa di tanya perihal sang istri,, kini Yussuf pun mulai merogoh saku,, mencari kontak seseorang,, lantas menghubungi nya
"assalamualaikum lia,,?" ucap Yussuf saat panggilan telpon sudah terhubung
"waalaikum salam warahmatullah, kak yussuf, ada apa,,?" jawab Lia yang memang sudah akrab dengan Yussuf sendiri
"kamu apa kabar Li,,?" tanya Yussuf hanya untuk sekedar berbasa basi
"alhamdulillaah kak,, kabar aku baik,, kakak sendiri bagaimana,,?" jawab Lia dengan balik bertanya
"syukur lah,, alhamdulillaah,, kakak juga baik, bagaimana Radit,,?" tanya Yussuf lagi di kala mengingat sahabat seperjuangan
"alhamdulillaah, mas Radit juga baik kak,," jawab Lia dari seberang panggilan
"akh iya, keluarga kamu juga bagaimana,,?" tanya Yussuf yang berhasil membuat Lia merasa bingung
"s,, semua nya juga baik kak, alhamdulillaah,, ngomong ngomong,, ada apa kak Yussuf telpon aku,,?" tanya Lia yang kini di buat penasaran oleh suami dari sahabat nya ini
"hhh,,, Lia,, apa kakak boleh bertanya sesuatu sama kamu,,?" tanya Yussuf pada akhir nya
"tentu saja boleh dong kak,, bertanya perihal apa,,?" jawab nya di akhiri dengan pertanyaan juga
"neng Zahra,," jawab Yussuf dengan singkat
"akh iya,, bagaimana kabar Khaliza kak, sudah lama aku tidak bertemu dengan nya, kapan dia ke sini lagi, semenjak menikah kata nya dia mau main lagi ke sini, tapi belum juga,,?" tanya Lia yang terdengar begitu bersemangat di kala mendengar nama sang sahabat
"alhamdulillaah,, istri kakak baik juga Li, kakak kurang tahu ya jika perihal itu,, karna kakak juga sibuk di sini, jadi belum menemukan waktu yang pas dan luang untuk mengantar kan neng Zahra,, kakak nggak mau biar kan neng Zahra pergi sendiri Li,," jawab Yussuf
"akh,, begitu kah,, iya kak nggak apa apa, aku tunggu kapan pun kedatangan kalian di sini ya,," tutur Lia
"hmm,, iya Li, insya Allah lain waktu kita sempat kan ke sana,," jawab Yussuf
"akh iya,, maaf kak,, aku banyak tanya,, tadi kakak mau tanya perihal Khaliza ya,, tanya apa kak,,?" tanya Lia kala mengingat sesuatu
"ehm,, tapi kakak mohon Li,, kakak harap,, kamu mau menjawab pertanyaan yang akan kakak tanyakan ini dengan jujur ya Li,,?" tutur Yussuf meminta persetujuan
"iya kak,, kakak tenang saja,, memang nya kapan si,, aku pernah nggak jujur sama kak Yussuf,,?" jawab Lia dengan tenang
"ya nggak pernah juga,, si,," jawab Yussuf membenarkan
"ya sudah iya, kakak mau tahu apa tentang sahabat ku itu,, siapa tahu aku bisa bantu kakak mengenal nya,,?" tanya Lia lagi
"Lia,, sebenar nya,, apa yang mungkin terjadi dengan neng Zahra,,?" tanya Yussuf pada akhir nya
"ma,, maksud kakak apa,,?" tanya Lia yang jelas saja merasa bingung,, mengapa Yussuf tiba tiba bertanya demikian
"ya,, kakak rasa,, akhir akhir ini neng Zahra selalu menghindar dari kakak,, apa lagi saat neng Zahra mendapat kan perlakuan dari kakak,, semenjak itu,, kakak rasa neng Zahra selalu berusaha menghindar dari kakak Lia,," tutur Yussuf yang mulai mengeluarkan rasa penasaran terhadap Lia
"emm,,, gi,, gimana ya kak, aku juga bingung,,?" jawab Lia
"bingung kenapa Li,,?" tanya Yussuf yang mulai merasa ada yang sedikit mengganjal pada kata kata Lia
"begini kak,, mungkin kakak nggak tahu apa yang telah di alami nya di masa lalu,, akh,, atau kah mungkin,, dia tidak pernah cerita juga sama kakak kali ya,,?" tutur Lia yang berhasil membuat Yussuf merasa penasaran
"ada apa Li,, apa yang telah di alami oleh istri kakak di mana lalu,,?" tanya Yussuf yang di buat semakin penasaran
"maaf kak,, a,, aku tidak bisa kasih tahu kakak jika perihal ini,, ini mungkin privasi nya kak, ini rahasia terbesar yang dia simpan rapat sejauh ini,," tutur Lia
"ada apa Li,, kakak mohon kamu cerita sama kakak,, saat ini kakak tengah bingung harus bagaimana,,?" tanya Yussuf yang mulai mendesak dan sedikit memaksa
"maaf kak,, tapi seperti nya nggak bisa,,?" jawab Lia yang terdengar begitu ragu
"kenapa nggak bisa Li,,?" tanya Yussuf dengan kening mengerut
"dia sudah menutup rapat hal ini, tidak sepantas nya aku membuka kartu dan membuka rahasia nya pada sembarang orang kak,," jawab Lia
"Lia,, ayo lah,, sekarang kakak adalah suami nya,, bukan sembarang orang,, nggak ada salah nya jika kakak ingin tahu perihal istri kakak sendiri buka,,?" tanya Yussuf
"ya,, mungkin yang kakak bicarakan benar,, tapi,, tidak bisa di pungkiri kak,, aku takut,, aku takut mengecewakan nya, aku takut dia marah sama aku,," tutur Lia memperlihatkan ketakutan akan kehilangan sahabat
"untuk itu kamu tenang saja,, biar itu yang menjadi urusan kakak,, kakak akan berusaha menjelaskan dan memberi pengertian kepada istri kakak,, tapi kakak mohon Li,, kamu mau cerita sama kakak ya,, karna tidak mungkin jika kakak bertanya langsung pada nya,," tutur Yussuf
"hhh,,, baiklah kak,, tapi,, aku harap,, kakak berhasil meyakin kan nya nanti ya,, karna aku juga benar benar takut,, aku nggak mau kehilangan nya sebagai sahabat karib ku sejak dulu,,?" tutur Lia memperingati
"iya Li,, kamu tenang saja, kakak akan berusaha untuk tidak menghancurkan hubungan kalian,," jawab Yussuf dengan tersenyum
"baiklah kak,, tapi sebelum nya,, kakak harus berjanji terlebih dahulu jika kakak tidak akan memberi tahu siapa pun sekali pun itu keluarga nya,, atau bahkan bertanya langsung pada keluarga nya,, bagaimana,,?" tanya Lia lagi
"kenapa begitu Li,,?" tanya Yussuf yang merasa heran
"karna dia tidak ingin membuat seluruh keluarga nya khawatir dengan nya,, sudah lah,, jika kakak tidak mau berjanji,, maka aku juga tidak mau bercerita perihal ini,,!!" jawab Lia
"tunggu Li,, iya, kakak berjanji, kakak tidak akan memberi tahu siapa pun sekali pun itu keluarga besar kami,," jawab Yussuf dengan segera
"bagus lah,, kak,, kenapa aku meminta kakak berjanji,, karna aku sangat menyayangi dia sebagai sahabat karib ku,, aku dan Khanaya,, kita semua saling menyayangi satu sama lain,," tutur Lia
"iya Li,, tapi,, apa keluarga nya sendiri tidak mengetahui nya,, Bunda,, Ayah,, kak Nisa yang selalu tahu perihal nya,, Arsen adik kesayangan nya,, mereka semua tidak mengetahui nya,,?" tanya Yussuf yang sedikit merasa ragu
"hhhhh,, ya,, mereka semua kini tidak mengetahui nya,, ini rahasia kita bertiga di asrama,, di luar asrama hanya aku saja yang mengetahui nya kak,," jawab Lia
"iya Li,, dan,, apa yang ingin kamu cerita kan sama kakak,,?" tanya Yussuf yang sudah tidak sabaran
"hhh,,, sebenar nya,, ada kisah mistis,, di balik dia,, yang mempunyai kelebihan, dalam bidang bela diri taekwondo kak,," tutur Lia yang mulai bercerita
"kisah mistis,,, apa itu lia,,?" tanya Yussuf lagi
"yang sebenar nya dia tidak pernah mengikuti latihan taekwondo itu sebelum nya,, hingga saat kita bertiga duduk di bangku Aliah kelas 11,, sejak kecil,, bakat nya sudah terlihat jelas kak,, hingga kini kita duduk di bangku Aliah pun dia menjadi sosok begitu aktif,, bahkan lebih aktif dari pada aku dan Khanaya,, dan di antara kami bertiga,, dia satu satu nya sosok yang sangat berbakat dalam banyak bidang,, keaktifan nya itu kini berhasil membuat nya juga ikut aktif dalam organisasi OSIS di sekolah kala itu,,,
di sekolah akan di adakan acara Porseni kala itu,, aku masih ingat,, seberapa sibuk nya dia dalam acara ini,, dia menjadi salah satu panitia di acara ini,,
hingga di suatu hari,, aku dan Khanaya yang tidak terlalu aktif di dalam organisasi pun terpaksa pulang lebih dulu dari dia,, begitu pun dengan dia sendiri,, dia yang sangat aktif di dalam organisasi pun kini membuat dia mau tidak mau harus pulang petang,, bahkan larut kak,,
malam itu akhir nya dia memberanikan diri pulang sendiri,, karna sudah tidak ada bis atau angkutan kota pada malam hari,, maka dia pun terpaksa harus pulang dengan berjalan kaki sendiri,, awal nya dia cukup berani,,
tapi rasa takut pun mulai mengitari hati nya kala dia melalui tongkrongan jalanan anak berandalan seperti preman,, malam itu ada lima orang preman yang tengah menatap nya yang sedang berjalan sendirian,, salah satu preman di antara nya tersenyum jahat dan semua nya saling menatap dengan tatapan tragis,, preman yang tersenyum ke arah nya pun mulai menghampiri nya dan menggoda nya
Liza yang kala itu masih duduk di bangku sekolah Aliah dengan wajah yang penuh waspada kini berusaha setenang mungkin kala melalui ke lima preman tersebut
"hai cantik,, malam malam,, sendirian saja nih,, boleh dong,, main main dulu sama abang di sini,,?" goda preman itu sambil berusaha mengapit dagu nya
"eng,, enggak bang,, terima kasih,, saya harus pulang,, permisi,," ucap nya takut takut dan hendak pergi
namun na'as,, tangan kanan nya berhasil di tarik kasar oleh preman tersebut
"eh eh eh,, nggk bisa gitu dong,, kamu sudah cukup berani pulang lewat jalan sini,, kamu harus main dulu sama abang,, sebentar aja kok,, nggak bakalan lama,, paling paling juga sampai besok pagi kita dangdutan,,?" ujar preman itu tengil
"akh,, saya mohon,, lepas kan saya,," ucap nya yang mulai berderai air mata
"haha,, kamu nggak akan bisa selamat malam ini cantik,, paras kamu cantik sekali,, boleh kali abang lihat wajah nya,,?" bujuk preman ini lagi hendak membuka niqab yang tengah di kenakan nya
"enggak akh,, saya mohon bang,, jangan buka niqab saya,, hiks,, saya mohon,, biar kan saya pergi hiks,," sontak dia yang ketakutan menendang kuat perut preman itu hingga berhasil membuat preman itu tersungkur
"cih,, perempuan sekarang,, lagak nya saja yang sok lugu pake cadar segala,, tapi kelakuan buruk, tidak berpendidikan,,!" maki preman sontak maju dan membuat nya mundur dengan perlahan
"hiks,, hhhhhh,, saya mohon bang,, jangan lakukan apa yang saya takut kan,, hiks,, saya mohon a-akh,," tutur nya terbata kala preman itu langsung menjambak kasar niqab dan rok panjang yang tengah di kenakan nya malam itu,, untung saja kaki nya masih tertutupi dengan training nya yang selalu di kenakan nya
"hiks,, hiks,, tolong,," rintih nya
"haha,, berteriak lah sekencang kencang nya,, kamu tidak akan mendapat pertolongan malam ini,, karna jalan ini sangat sepi,, maka tidak akan ada orang yang bersedia menolong mu malam ini,," ucap preman ini dengan seringaian jahat nya,, merasa puas saat berhasil menindas nya
diri nya hanya mampu berjongkok dengan menelungkup kan kepala nya di antara kedua kaki nya dengan tangan yang memeluk kedua kaki nya dan mata yang menangis pilu,, bahkan tubuh nya ikut bergetar hebat saking ketakutan nya
"hiks,, tolooooooong, siapa pun tolong saya di sini, saya benar benar takut hiks,," teriak nya histeris,, dengan parau berteriak meminta pertolongan
dengan wajah jahat dan senyuman miring terukir di bibir,, merasa puas dan senang melihat ketakutan gadis di hadapan nya
preman itu pun mulai menghampiri nya dengan perlahan,, kedua tangan nya terangkat hendak menarik kedua tangan nya yang tengah memeluk erat lutut nya,,
pelukan tangan nya pada lutut nya kian juga mengerat,, semakin banyak langkah yang di ambil oleh preman itu,, pelukan nya juga akan semakin erat
"oh Allah,,, saya mohon,, bantu saya,, saya tidak ingin masa depan saya hancur,, tolong kirimkan seseorang untuk membantu dan menyelamat kan saya dari berandal ini,," batin nya penuh dengan rasa takut
bugh,,,!!!
tepat saat preman itu ingin menarik dan memeluk tubuh nya,, kini sebuah tangan terkepal berhasil melayang ke arah wajah preman tersebut,, hingga berhasil membuat preman itu jatuh tersungkur
"akh,, sial,, siapa sih lo,, sampai berani pukul gua hah,,?" sentak preman itu kala melihat sosok pria muda dengan gagah nya memukul nya tanpa sungkan
mendengar penuturan preman kini berhasil membuat nya mendongakkan kepala nya melihat siapa orang yang sudah berbaik hati menolong nya,, membuat nya terburu dengan menutupi seluruh wajah nya dengan kedua telapak tangan nya karna niqab nya tengah terlepas
melihat seseorang yang tengah di kenali nya berhasil membuat nya tertegun ternyata,,
"kak Andra,," gumam nya yang nyaris tak terdengar
Andra yang masih bisa mendengar gumaman nya kini hanya tersenyum tipis ke arah nya kemudian menunjukkan tatapan tajam pada preman
"cih,,, berani sama perempuan,, dasar laki laki br*ngs*k,, banci,,!!!" umpat andra sambil ber decih
"apa lo bilang,, heh,, gua bukan banci ya,, lagian lo masih kecil saja sudah berani lawan yang lebih tua,," sarkas preman itu saat sudah berdiri tegak, namun sedikit sempoyongan
"lalu,, apa nama nya berani main kasar sama perempuan kalau bukan banci bang,, lelaki murahan,,?" jawab Andra dengan wajah santai namun penuh penekanan
"gua memang masih lebih muda dari lo bang,, tapi,, kalau yang tua saja berani menindas kita yang lebih muda,, maka kita yang lebih muda juga berhak melawan dan menindas balik,," lanjut andra
"heh anak muda sok tahu,, memang lo siapa nya cewek ini sih,, sampe berani lawan gua,,?" ujar preman itu menyentak dengan sombong nya
"hah,, kakak kelas lo bilang,, baru jadi kakak kelas saja sudah bangga,, apa lagi jadi kakak nya,," elak preman itu mengalihkan pandangan nya
"dan gua akan jadi kakak nya lo paham,, jadi jangan dekati dia lagi,,!!" ujar Andra menggebu
ucapan andra berhasil membuat nya yang kini sudah menjauh cukup terkejut 'mengapa demikian?' gumam nya dalam hati
"halah,, bilang aja lo takut sama gua kan,,?" ungkap preman ini
"harus takut sama preman br*ngs*k kayak lo, cih, nggak sudi gua,, kalau lo cukup berani,, lawan gua lo,, jangan cuman berani sama perempuan doang br*ngs*k,," umpat andra sambil ber decih
dengan sekejap,, kini kedua orang itu pun terlibat dalam perkelahian,, dengan nya yang hanya menyaksikan,, namun dengan teman preman ikut serta dalam berkelahi,, karena melihat preman itu mulai kewalahan mengimbangi perkelahian Andra,, ada perasaan nya yang menggebu karna takut juga bercampur dengan khawatir,, namun tidak bisa memisahkan semua nya,,
hingga pada akhir nya kini preman itu jatuh terjerembab dengan luka di sebagian besar wajah nya,, hingga semua teman preman itu langsung membawa nya kabur melarikan diri,, karena merasa tak mampu melawan dan menghindari setiap serangan dari Andra
dengan perlahan,, Andra pun mulai menoleh melihat ke arah nya yang kini masih menutupi sebagian besar wajah nya dengan telapak tangan nya,, Andra pun mulai melangkah mengambil kan nya niqab yang tergeletak di atas aspal kemudian mulai menghampiri nya dan mengulurkan tangan nya untuk memberikan niqab nya
"te,, terima kasih kak Andra,,?" ucap nya yang langsung dengan secepat kilat memakai kembali niqab nya dan di tanggapi anggukan hangat dari Andra sendiri
"ayo duduk dulu,, kaki kamu pasti pegal jika harus terus terusan berjongkok di situ,," tutur Andra menepuk bata keramik yang mengelilingi pohon beringin di pinggir jalan itu
diri nya pun dengan perlahan duduk meski kini hati nya masih merasa takut dan syok
"sebentar ya Kha,, aku beliin minum dulu,, kamu tunggu di sini,, aku hanya ke toko seberang saja,,?" pamit Andra dan di angguki oleh nya
tak lama kemudian
"kamu minum dulu ya,, nih,, aku bantu buka kan,, minum nya pakai sedotan saja nggak apa apa,," tutur Andra seraya menyerahkan sebotol air mineral yang sudah terdapat sedotan di permukaan nya dan di terima oleh nya
'te,, terima kasih kak,,?" ucap nya menerima uluran sebotol air mineral itu dan di tanggapi anggukan dari Andra sendiri
"kamu nggak apa apa kan Kha,, apa ada yang luka pada tubuh mu,,?" tanya Andra dengan wajah yang menyiratkan rasa khawatir nya
"alhamdulillaah saya tidak apa apa kak,, tidak ada yang luka pada tubuh saya,," jawab nya saat sudah selesai minum
"hhh,, apa yang di lakukan gelandangan itu saat sebelum aku menemukan mu di sini Kha,, apa dia melakukan sesuatu yang membuat mu sakit atau panik,,?" tanya Andra lagi sambil terus menatap nya dari arah samping
"alhamdulillaah kak,, saya baik baik saja,, hanya saja,, dia memang berhasil membuat saya merasa panik yang berlebihan,," jawab nya
"hhhh,,, syukur lah,, kini aku lega mendengar nya,, tapi kamu jangan takut,, aku nggak akan menyakiti kamu,, atau bahkan,, membiar kan kamu di usik orang lain,, dan,, mengapa malam ini kamu baru pulang,,?" tanya Andra beruntun
"di sekolah ada acara kak,, jadi waktu saya sedikit padat,, tepat nya hari ini,, hingga membuat saya terpaksa harus pulang sedikit larut,," jawab nya yang mulai terbuka
"hhh,, bahkan se semangat itu kamu sekolah Kha,, hingga kamu nyaris dalam bahaya malam ini,,?" ucap Andra dengan rasa khawatir
"saya mohon kak Andra,, jangan sampai berita ini di dengar oleh santriwan dan santriwati di pondok,, s,, saya,,, saya tidak pernah siap untuk ini kak,,?" ucap nya semakin menunduk dalam
"ya,, aku akan menjaga dan menyimpan nya,, tapi,,, bagaimana dengan pak kyai dan bu haji ningsih,,?" tanya Andra hati hati
"entah lah kak,, seperti nya saya akan memberi tahu kedua nya,, namun saya juga tidak pernah siap untuk menceritakan ini kepada keluarga saya di jakarta,," ucap nya yang membuat Andra mengangguk mengerti
"aku mengerti apa yang sedang kamu rasa kan saat ini Khaliza,, dengan begitu aku saran kan,, kamu ikut kegiatan ekstrakurikuler bela diri di sekolah kamu ya,, agar kamu juga bisa menjaga diri kamu saat aku tidak di samping mu, hhh,, tidak bisa di pungkiri Kha,, jika ak,, aku,, aku benar benar khawatir sama kamu,,?" tutur Andra yang mulai serius
"taekwondo,, kakak ingin saya mengikuti nya,, tapi,, saya tidak minat,, karna saya takut di bilang tomboy,," jawab nya mengelak
"Khaliza,, nggak ada kata tidak minat,, jika itu memang untuk keselamatan kita,, entah apa kata orang,, tapi kamu harus mencoba untuk tidak mendengar kan mereka sekali pun kamu merasa tersinggung,, ini demi keselamatan kamu,, justru jika ilmu bela diri di kuasai oleh putri,, itu akan sangat terkesan bagus,, di zaman seperti ini,, tidak sedikit orang yang ingin menjatuhkan kita Kha,, tidak sedikit juga orang yang ingin berusaha mencelakai kita,, maka tidak ada salah nya jika kita merasa waspada,," penuturan Andra kali ini berhasil meluluhkan hati nya dengan kegiatan ekstrakurikuler bela diri itu
"hmm,, baiklah kak,, akan saya pikirkan hal ini matang matang,, lalu,, bagaimana kak Andra bisa tahu saya ada di jalan ini,,?" tanya nya
"dari pondok,, aku melihat Khanaya sudah pulang,, bahkan mulai mengikuti kegiatan di asrama,, aku tanya Khanaya,, kata nya Lia juga sudah pulang,, tapi jawaban nya membuat aku ragu karna aku tidak melihat kamu bersama dengan dia,, saat dia bilang kalau kamu masih di sekolah aku segera bergegas ke sekolah kamu untuk menjemput mu,, tapi,, di sekolah sudah sepi,, pagar pun sudah di kunci,, hingga aku lebih memilih untuk pulang jalan kaki dan mendengar suara perempuan meminta tolong,, saat aku yakin itu adalah suara kamu,, aku segera mencari dengan jelas arah asal suara itu,, hingga kedua bola mata ku melihat pemandangan yang selama ini tidak pernah sanggup ku lihat,, kamu hampir di l*c*hk*n oleh gelandangan itu,, namun syukur jika kamu tidak apa apa,, mungkin jika aku datang sedikit terlambat,, sampai sesuatu terjadi dengan mu malam ini juga,, aku tidak akan pernah bisa memaaf kan diri ku sendiri,, karna tidak bisa menolong mu dari pria br*ngs*k itu Kha,," jelas Andra seraya menunduk
"jangan menyalah kan diri sendiri kak Andra,, saya sudah sangat bersyukur akhir nya masa depan saya tidak hancur malam ini juga,, kak Andra tepat datang,, terima kasih,, saya sangat berhutang budi dengan kak Andra,," ucap nya
"tidak perlu seperti itu juga Kha,, aku ikhlas menolong mu,, bahkan begitu senang,, dan bahkan akan sangat sangat ikhlas menolong mu,, jangan kamu pikir kan lagi hal ini,, jangan pernah takut Kha,,?" ucap andra menyemangati,, namun hal yang membuat nya mengangguk lesu
"baiklah Kha,, seperti nya kita harus pulang sekarang,, pak kyai kini sudah menunggu mu,, dan bu haji ningsih kini sangat mencemaskan mu,, apa kamu sudah merasa tenang sekarang,,?" tanya Andra
pertanyaan yang Andra lontar kan itu berhasil membuat nya mengangguk dan kedua nya pun memilih pulang melalui jalan pintas
"lalu,,, dari situ,,, apa yang terjadi pada neng zahra Li,,?" tanya yussuf dengan khawatir
"dia nggak masuk sekolah selama dua hari,, dia bahkan sampai sakit karna hal ini kak,, bu haji dan pak kyai juga tahu perihal ini,, selama dua hari itu,, tidak sampai membuat nya pulang ke Jakarta,, namun dia tinggal di rumah ndalem selama satu Ahad,, bukan tanpa alasan,, karna bu haji sendiri yang meminta nya,, beliau takut dia merasa kesepian,, mungkin hidup nya yang sudah bergantung pada Khaliza
ada perasaan aneh juga kenapa dia nggak ikut hadir di acara Porseni ini,, awal nya dia yang di penuhi dengan segala kesibukan,, bahkan seakan menjadi peran utama dalam pendirian kegiatan acara ini,, namun saat acara ini berlangsung,, dia tidak bisa hadir,, tidak sedikit juga yang bertanya perihal nya, guru guru yang sudah mengenal akrab dengan nya,, anggota OSIS di sekolah juga,, bahkan kak Satria dan kak Gilvan,, ketua dan wakil ketua OSIS pun kerap bertanya perihal nya,," jelas Lia
"apa yang terjadi setelah nya li,,?" tanya Yussuf lagi
"dari situ aku dan Khanaya sama sama penasaran,, aku jenguk dia di rumah ndalem bersama dengan Khanaya,, bu haji pun mempersilahkan aku dan Khanaya bertemu dengan nya,, dia yang mau bersikap terbuka sama aku dan Khanaya,, membuat aku dan Khanaya benar benar merasa,, dia benar benar menghargai kita sebagai sahabat nya kak,, dari situ aku nggak tinggal diam kak,, aku terus kasih dia motivasi dan semangat agar dia kembali bangkit,, aku juga kerap kali menemani nya latihan bela diri di sekolah,, bahkan Khanaya pun ikut serta menjadi anggota organisasi taekwondo karena ingin menemani nya,," jelas Lia lagi
"neng Zahra benar benar mengikuti nya,,?" tanya Yussuf
"ya,, dia mengikuti saran yang kak Andra berikan,, dari situ juga awal mula kedekatan kedua nya,, namun dia selalu berusaha menjaga dan membatasi jarak,, kala kedua nya bertemu,," jawab Lia
entah mengapa,, pembicaraan Lia kali ini,, sedikit membuat hati Yussuf merasakan cemburu dan sakit
"seperti itu kah Lia,,?" tanya Yussuf lagi
"iya kak,, jadi cerita nya seperti itu,," jawab Lia dari seberang panggilan
"kini aa' sudah mengetahui nya,,?" sontak pertanyaan itu menyadar kan Yussuf yang masih berbicara di dalam panggilan dengan Lia dan menoleh mendapati nya yang kini menatap nya dengan tatapan sendu nya
"e,, neng,,?" tanya Yussuf yang melihat nyata kesakitan yang ada pada hati nya
mendapati panggilan dengan nada ragu itu,, kini membuat nya menunduk kemudian membalik badan dan mulai berjalan kembali ke dalam rumah
"neng,, tunggu,, Lia panggilan nya kakak tutup dulu ya,, terima kasih sudah menjelas kan nya ya,," tanya Yussuf lagi yang menyadari belum memutus kan panggilan dari Lia
"iya kak,, tidak masalah kak,, itu kah Khaliza kak,, tolong bantu aku jelas kan pada nya ya kak,, aku mohon,, jangan biar kan hubungan persahabatan di antara kami hancur,,?" mohon Lia dengan sangat
"baiklah Li,, kakak akan menjelas kan nya, assalamualaikum,,?" ucap Yussuf seraya mengakhiri panggilan
"waalaikum salam warahmatullah,," jawab Lia yang masih bisa di dengar samar oleh Yussuf
"neng,, tunggu sebentar,," tutur Yussuf seraya mulai meraih tangan kanan nya dan berhasil membuat nya terdiam di tempat nya berdiri
"ada apa a',,?" tanya nya seraya menunduk menghadap ke arah Yussuf
"boleh aa' bertanya,,?" tanya Yussuf yang terus memandangi wajah sang istri
"ya,, aa' akan bertanya perihal itu bukan,, kini aa' sudah mengetahui semua nya,, jadi aa' tidak perlu lagi mencari tahu kebenaran nya,, neng memang sudah tidak g*dis lagi,," jawab nya
"bukan begitu neng,, bukan maksud aa' ingin mencari tahu nya tanpa berbicara terlebih dahulu dengan neng,," tutur Yussuf
"lalu apa a',, apa kah aa' sudah merasa puas sekarang,, oh ya,, aa' bisa m*nc*r*i kan neng sekarang,, karena aa' sudah mengetahui nya,," tutur nya dengan parau
"istighfar neng,, istighfar,, aa' bukan hanya melihat diri neng dari segi fisik mau pun psikis,, niat aa' menikahi neng adalah ibadah,, bukan karena syahwat,, atau bahkan hawa nafsu,, berhenti berbicara seperti itu,, aa' nggak suka mendengar nya,," tutur Yussuf yang mulai menarik nya,, membawa nya ke dalam pelukan hangat nya
"sakit a',, mengapa semua nya harus se menyakitkan ini hiks,," tutur nya yang pada akhir nya luruh juga di pelukan Yussuf
"iya,, aa' mengerti,, namun mengapa neng tidak pernah bercerita mengenai hal ini pada aa' sejak awal,, padahal aa' sudah menjadi suami nya neng,, aa' berhak tahu semua nya perihal neng,, entah itu penderitaan,, atau bahkan kebahagiaan yang pernah neng alami,,?" tutur Yussuf dengan mengecup singkat puncak kepala nya
"nggak a',, neng mohon,, jangan sampai keluarga kita mengetahui hal ini,, neng,," tutur nya dengan menggeleng di dalam pelukan yang mampu menghangat kan tubuh nya
"iya sayang,, kamu tidak usah mengkhawatir kan hal itu,, aku tidak akan memberitahu kan hal ini pada siapa pun,," jawab Yussuf seraya mengelus lembut kepala belakang nya
mendengar penuturan setiap penuturan dari sang istri,, bukan nya tak percaya,, namun mengingat Lia yang mengatakan diri nya yang hampir di l*c*h kan,, dan kini diri nya yang mudah mengklaim jika sudah tidak g*d*s,, membuat Yussuf harus menunjukkan pada sang istri,, karena bahkan,, Yussuf sendiri bahkan begitu percaya jika sang istri masih murni seorang g*d*s
satu satu nya cara agar laki laki ini membuktikan nya adalah,, dengan membuktikan nya sekarang,, bahkan malam ini juga,, dengan perlahan tapi pasti,, Yussuf,, laki laki itu terlihat mengangkat tubuh istri nya ala bridal style,, menggendong nya dengan penuh kelembutan,, juga tatapan mata yang tak lepas dari sang istri yang kini menatap nya dengan tatapan penuh tanya,, menggendong nya menaiki anak tangga satu persatu
mulai mendudukkan tubuh sang istri di tepi tempat tidur dengan perlahan,, lantas berjongkok di hadapan nya,, menatap nya masih dengan tatapan penuh arti
"hhh,,, bismillah,, jika memang kamu merasa ragu akan kehormatan mu,, maka,, boleh kah aku meminta hak ku malam ini juga sayang,,?" tanya Yussuf
diri nya merasakan tubuh nya bergeming hebat,, pipi nya pun memanas dengan perlahan,, di kala mendengar permintaan dari sang suami,, diri nya masih membeku menatap Yussuf yang kini menatap nya dengan tatapan yang begitu dalam menunggu jawaban dari nya,, gugup di rasakan nya,, jantung nya pun ikut berdetak lebih cepat,, dari biasa nya,,
"neng Zahra,," diri nya memejamkan kedua mata nya,, lantas di beberapa detik kemudian,, anggukan kepala itu terlihat,, diri nya membuka kedua mata,, menatap Yussuf yang kini tersenyum tipis pada nya
bibir nya ikut tertarik membentuk senyuman,, kedua pipi nya semakin merona,,
dengan perlahan tapi pasti,, Yussuf beranjak dari posisi,, duduk di samping nya tanpa ada jarak sedikit pun,, terus menatap nya yang menunduk,, menarik tangan kiri nya untuk berbaring,, mulai menindih tubuh nya hingga tatapan kedua nya kembali bertemu
"boleh aa' buka niqab nya neng,,?" izin Yussuf di sertai dengan senyuman lembut
mendengar hal itu,, kini,, diri nya pun hanya bisa mengangguk pasrah dengan memejam kan kedua mata nya
"pabiayyi alaa irobbikuma tukazdiban,," gumam Yussuf tanpa sadar,, saat niqab sang istri sudah berhasil di buka dan di raih nya,, memperlihat kan kecantikan dan keanggunan yang luar biasa pada sang istri
lesung pipi yang selama ini selalu bersembunyi di balik niqab pun akhir nya dapat Yussuf lihat dengan jelas,, bibir tipis yang mungil,, hidung yang mancung dan kecil,, juga di malam ini Yussuf baru mengetahui,, jika sang istri mempunyai tahi lalat tepat,, di bawah ujung bibir nya,, kedua pipi yang sudah memerah karena menahan rasa malu,, membuat Yussuf tersenyum simpul
puas memandangi wajah teduh sang istri,, kini Yussuf pun beralih pada wajah teduh sang istri,, memandangi nya dengan tatapan lembut
"boleh aa' buka hijab nya neng,,?" izin Yussuf lagi saat kedua mata itu kembali terbuka,,
dan anggukan itu kembali terlihat,, membuat Yussuf tersenyum
"subhanallah,," gumam Yussuf lagi tanpa sadar,, saat Khimar nya sudah di tangan nya
rambut hitam yang tergerai sebatas pinggang itu kini dapat di lihat dengan jelas juga pada akhir nya,, hitam pekat yang membuat Yussuf seketika tersenyum,, bagus istri nya selalu menutupi nya dengan sempurna,, bahkan dengan suami nya ini pun mampu mengundang sy*hw*t
"boleh ya neng,,?" izin Yussuf satu kali lagi,,
mendengar hal itu,, kini diri nya pun memejamkan kedua mata nya kembali
'saya ikhlas ya Allah,, saya ikhlas,,' batin nya yang seraya mengangguk dengan pejaman mata erat
Malam ini akan menjadi saksi,, bagaimana terukir nya kisah cinta kedua nya,, kisah cinta yang berada di bawah Ridha-NYA,, kisah cinta yang mampu membuat hati dua insan ini kini terpaut karena cinta yang berlandaskan kecintaan kepada-NYA,,
perjalanan kisah memang tidak akan sama,, kisah yang di miliki perbedaan,, kisah yang tak jarang membawa badai hebat yang menerjang,, tapi satu yang pasti ketika bisa melewati nya,, maka sebesar apa pun kisah nya,, sebesar apa pun ujian nya,, maka kebahagiaan lah yang akan di dapat kan,,
_Assalamualaikum Zahra_
Selasa,, 10 Oktober 2023