Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_...


..._Siapa Yang Salah_...


..."tak ingin mengeluh kan apa apa, tak ingin memaksa kan apa pun, tak ingin marah untuk kesalahan apa pun, atas semua yang terjadi, rumit,, sakit,, jatuh,, marah,, dan segala nya,, tak apa apa semua itu terjadi,, aku hanya ingin ketika aku ingin menangis aku ingin berada di tempat ternyaman ku,, bersama kesunyian,, sedikit rintik hujan,, dan hembusan angin,, selebih nya,, tak apa apa semua itu terjadi,,"...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...


malam ini, kedua nya tengah sama sama duduk di kursi makan, setelah diri nya memasak sebentar karena dengan cekatan, kini kedua nya bisa makan malam di rumah baru ini, makan dengan suasana hening, hanya dentingan sendok dan garpu yang mengiringi keheningan kedua nya


dengan diri nya yang terus tertunduk dalam diam di tengah setiap sendok nasi yang di suap kan nya juga dengan Yussuf yang terus memperhatikan setiap pergerakan nya dari seberang nya


kembali memakan masakan yang di masak oleh sang istri jujur saja,, itu adalah hal yang membuat Yussuf sendiri merasa senang dan terkesan, dengan apa yang di rasa kan,, sejak awal pernikahan,, masakan nya tidak pernah mengecewakan,, di satu sisi ada rasa ingin memuji masakan sang istri,, namun di sisi lain,, laki laki ini rupa nya cukup mengerti jika sang istri akan merasa semakin tak nyaman dengan pujian yang di lontar kan


"sudah selesai neng,, sini,, biar aa' yang cuci kan piring kotor nya?" tawar Yussuf seraya berdiri dan mengulur kan tangan ke arah nya


"ehm,, tidak apa ustadz,, piring nya biar saya yang cuci, namun,, di mana kah letak dapur nya?" tanya nya seraya memangku dua piring kotor bekas kedua nya makan


"hmm,, baiklah,, mari,, biar aa' antar neng ke sana?" jawab Yussuf dengan tersenyum dan membuat nya mengangguk dengan perlahan


kedua nya pun berada di dapur, dengan diri nya yang tengah berdiri dengan kedua tangan yang sedang mencuci di depan meja wastafel,, juga dengan Yussuf yang tak henti nya memperhatikan pergerakan nya dari meja pantry


melihat nya yang lincah saat mengerjakan pekerjaan rumah yang hanya memperlihatkan punggung nya saja,, itu sudah cukup membuat Yussuf sendiri terkesan, dalam hati laki laki itu masih merasa tidak percaya, jika dia sudah menghalalkan nya, kekasih dalam diam nya, sosok yang berhasil membuat pikiran nya di penuhi oleh nya seorang, hingga laki laki ini pun sedikit sulit jika harus mengalihkan pandangan dan pikiran dari diri nya barang sesaat


"maaf ustadz,, saya sudah selesai mencuci,, saya akan membawa segelas air putih,," tutur nya meminta izin


"iya neng,, neng mengetahui nya jika aa' akan meminum air di tengah malam?" tanya Yussuf


"iya ustadz,, sebelum ke sini Umi yang bercerita sama saya" jawab nya yang membuat Yussuf mengangguk faham


setelah menuntas kan aktivitas di dapur dan di ruang makan,, kini kedua nya pun memilih kembali ke kamar utama


"maaf ustadz,, saya,, saya izin mengganti pakaian,,?" ucap nya di kala melihat Yussuf terduduk di sofa kamar utama ini


"hmm,, iya neng,, boleh,, pakaian neng ada di lemari,, dan kamar kecil nya ada di sebelah sana,," jawab Yussuf seraya menunjukkan ke arah lemari kemudian menunjuk ke arah pintu dengan tangan kanan nya


mendapati hal itu, kini hanya membuat nya mengangguk patuh lantas berjalan mendekati lemari dan membuka nya


hingga tampilan banyak nya pakaian tidur berupa piyama tangan panjang itu menjadi objek pertama yang di lihat nya, jujur,, diri nya yang biasa nya tidur dengan mengenakan gamis panjang,, di suguh kan piyama seperti ini dengan tiba tiba itu berhasil membuat nya merasa tak nyaman,, namun diri nya sendiri pun seperti nya harus menghargai perasaan sang suami,, dan memakai salah satu pakaian tidur ini


terdapat banyak piyama di dalam lemari ini,, setelan nya pun bahkan lengkap,, karena di lengkapi oleh celana pendek dan juga sandal di setiap warna dan macam piyama yang di temukan nya,, berusaha mencari yang cocok,, hingga kini,, diri nya pun menemukan setelan piyama yang mungkin akan merasa nyaman saat di kenakan nya nanti, piyama dengan warna merah maroon itu yang menjadi pemenang nya malam ini, di lengkapi dengan kerudung dan niqab juga manset yang rupa nya sudah di atur sesuai motif dan warna nya hanya untuk diri nya, melihat tumpukan pakaian tidur dengan berupa piyama seperti ini,, itu berhasil membuat nya teringat pada kedua sahabat nya di Tangerang,, Lia dan Khanaya,, teringat kedua nya yang pernah menyaran kan diri nya sendiri untuk mengenakan pakaian tidur berupa piyama seperti ini,,


"saya izin ke kamar kecil ustadz?" ucap nya di saat melewati Yussuf yang tengah duduk di sofa dan mendapati anggukan ramah dari Yussuf sendiri


waktu demi waktu terus berlalu,, hingga kini,, diri nya pun telah selesai dengan rutinitas nya di dalam kamar kecil beberapa menit yang lalu


sekarang diri nya sedang duduk bersandar memangku buku harian nya dan dengan kepala yang setia di tundukkan nya


bukan tanpa alasan,, pasal nya Yussuf yang menyadari jika diri nya keluar dari dalam kamar kecil sejak tadi pun,, nyata nya kini tidak sedikit pun mengalih kan pandangan dari nya, membuat nya cukup merasa tak nyaman dengan situasi seperti ini, apa kah diri nya salah mengenakan pakaian tidur ini? namun diri nya merasa tidak ada yang salah,, di mulai dari kerudung instan, niqab, juga manset dengan warna yang senada,, akh,, atau kah mungkin ustadz melihat nya heran karena diri nya tidak mengenakan sandal tidur nya, tapi memang gadis ini tidak pernah terbiasa menggunakan sandal ketika hendak tertidur bukan?


"astaghfirullah,,"


"ya Allah ya Rabb,," sontak kedua nya bertutur di kala lampu kamar ini yang tiba tiba saja menjadi padam dan membuat kedua nya cukup terkejut


"tidak apa neng,, maaf,, di laci nakas ada lilin,, mungkin itu akan membantu menerangi kita malam ini,," tutur Yussuf yang sontak saja di turuti oleh nya dan mulai mencari nya juga menyalakan nya setelah menemukan benda yang di cari nya, kemudian menghampiri Yussuf yang tengah terduduk di sofa


"sini neng,, duduk dekat aa',, aa' di sini?" ajak Yussuf dengan menepuk sofa di samping nya dan membuat nya hanya menurut saja, terduduk di samping sang suami dengan hanya di temani oleh sebatang lilin yang menyala sebagai sarana penerangan di antara kedua nya


"neng,,?" panggil Yussuf dengan tiba tiba, seraya menyerong dengan posisi duduk, karena sedang berdampingan bersama dengan nya


"iya ustadz,,?" jawab nya dengan menyatu kan kedua lipatan tangan nya di tengah antara lutut nya, terus menunduk hanya dengan menatap lilin yang menyala di hadapan nya


"apa kah aa' boleh bertanya sesuatu sama neng,,?" tanya Yussuf dengan tatapan sendu di kala menatap ke arah nya


"boleh ustadz,, tanya apa?" jawab nya, di akhiri dengan pertanyaan juga


"tapi sebelum nya,, di sini,, aa' begitu membutuh kan kejujuran dari neng sendiri, jika neng sampai tidak menjawab nya atau bahkan berbohong sama aa', aa' nggak akan pernah merasa ikhlas,,?" tutur Yussuf memberitahu nya


"insya Allah ustadz,," tutur nya seraya semakin menunduk dalam "namun maaf ustadz,, jika saya boleh mengetahui nya,, perihal apa kah yang akan ustadz tanya kan pada saya?" lanjut nya yang merasa bingung, tidak biasa nya laki laki di samping nya ini meminta kejujuran nya dalam menjawab pertanyaan nya


"ini perihal perasaan neng sama aa',," jawab Yussuf singkat dan berhasil membuat nya mengerti namun hati nya mencelos di kala mendengar nya


"jika aa' boleh tahu,, bagaimana kah perasaan neng sama aa' saat ini,, jika aa' boleh tahu juga,, apa kah neng sudah mulai mencintai aa' sekarang?" tanya Yussuf dengan hati hati dan dengan intonasi yang sedikit pelan nyaris berbisik


"ehm,, maaf ustadz,, namun sebelum nya,, izin kan saya bertanya sesuatu juga,," tutur nya


"apa itu neng?" tanya Yussuf dengan kening mengerut bingung


"jika memang ustadz ingin saya menjawab dengan jujur, apa ustadz juga yakin, tidak akan merasa kecewa, di kala mendengar jawaban yang akan saya Utara kan ini?" tanya nya yang berhasil membuat hati Yussuf semakin sedikit ada yang mengganjal, namun berusaha di tepis kemudian berpikiran jernih


"tentu tidak neng,, insya Allah aa' tidak akan merasa kecewa, di kala mendengar jawaban dari neng, sekali pun itu akan membuat hati aa' kian merasa sesak" jawab Yussuf


"baiklah ustadz,, seperti hal nya yang saya tahu, mungkin kah ustadz sendiri juga mengetahui nya,, di satu sisi, ketika sepasang insan di satu kan dalam sebuah perjodohan, mungkin memang akan terasa sulit bagi kedua nya, untuk bisa berinteraksi dengan baik dan lancar, karena belum mengenal sesama pasangan,,


namun di sisi lain juga dengan saya dan ustadz sendiri, kini,, Ayah dan Abi telah mempersatukan saya dengan ustadz,, di dalam sebuah perjodohan, bahkan dalam sebuah ikatan suci pernikahan,, yang bersifat sakral, sehingga ingin terjadi hanya satu kali,, dalam seumur hidup,, entah itu untuk saya,, atau pun ustadz sendiri,,,


jika ustadz memang mengingin kan kejujuran dari saya di sini, baiklah,, di sini,, saya akan selalu berusaha untuk selalu berkata jujur,,


hhhhh,, selama ini saya memang selalu berusaha, untuk bisa selalu mencukupi kebutuhan ustadz, menyiap kan semua nya yang ustadz perlu kan, itu semata mata karena saya menghormati dan menghargai ustadz sebagai suami saya sekarang,,


dan perihal rasa cinta dan kasih sayang itu,, maaf,, saya memang belum memiliki rasa itu untuk ustadz,," suasana hening untuk sejenak, saling berusaha menetral kan detak jantung yang kian memompa lebih cepat, rasa yang berdesir itu tidak bisa di hindari lagi, baik untuk nya, atau bahkan dengan Yussuf sendiri


hingga pada akhir nya,,,


"tapi saya rasa,, saya juga harus mengatakan ini,,


untuk saat ini, saya memang belum mencintai ustadz, namun saya juga tidak tahu, untuk hari esok,, lusa,, dan seterus nya,,"


"hhh,, begini ustadz,, jika Allah saja mampu melelehkan sebuah lilin dengan panas nya api yang menjalar di sekitar nya,,


lantas mengapa Allah tidak bisa meluluhkan hati setiap insan dengan sikap, yang selalu ada untuk nya,,


terlebih lagi,, jika itu adalah saya sendiri,, insan biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan, noda, dan dosa,,


seiring berjalan nya waktu,, bahkan,, jika memang Allah sudah berkehendak,, maka saya sendiri pun tidak bisa berbuat lebih,, atau bahkan menentang takdir,, begitu juga dengan selembar daun pun,, namun jika Allah belum berkehendak,, ia tidak akan jatuh,, hingga Allah benar benar berkehendak,,


namun saya juga sedikit bingung terhadap sikap ustadz,," pengucapan nya kali ini lagi lagi berhasil membuat Yussuf penasaran


"bingung kenapa neng,,?" tanya Yussuf yang sudah merasa tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya lagi


"ustadz itu laki laki yang cukup baik, entah itu akhlak,, fisik,, atau apa pun itu, lebih tepat nya lagi,, banyak di idam idam kan oleh banyak nya kalangan kaum akhwat di luaran sana,, namun mengapa,,,


di antara banyak nya akhwat di luaran sana, mengapa yang ustadz pilih adalah saya,, insan biasa yang penuh dosa,,?"


"neng,, dengar kan aa', setiap insan pasti pernah melakukan kesalahan,, sesungguh nya,, tidak ada insan yang benar benar sempurna di muka bumi ini,, sekali pun itu,, aa' sendiri,, mungkin kekurangan aa' memang tidak bisa di lihat secara nyata,, neng tidak boleh menyalah kan diri neng sendiri,, aa' akan merasa sedih mendengar nya,," tutur Yussuf mengingat kan


"maaf kan saya ustadz?" ucap nya seraya menunduk semakin dalam saja "saya harus mengakui semua nya,," lanjut nya lagi


"mengakui apa, apa neng melakukan kesalahan?" tanya Yussuf lagi


"selama ini,, saya selalu berusaha, untuk bisa mencukupi kebutuhan ustadz,, menyiap kan semua nya yang ustadz perlu kan, dan itu semata mata, karena saya tahu, saya sudah berganti status menjadi seorang istri, bukan karena saya memiliki rasa cinta, namun karena itu lah kewajiban saya sebagai seorang istri?" tutur nya yang tengah berusaha menyembunyikan air mata nya


namun rupa nya hal itu membuat Yussuf yang mendengar nya pun menggeleng tak setuju


"maaf kan saya ustadz,, seharusnya saya bisa menjaga rasa saya terhadap apa yang ada di sekitar saya, sehingga saya bisa mencintai ustadz sepenuh nya, seperti hal nya, akhwat di luaran sana,," tutur nya yang mulai mengerjapkan kedua mata nya


"terlebih lagi,, maaf kan saya jika selama ustadz melantun kan ijab Qabul dan surah Ar-Rahman untuk saya, selama itu, saya belum bisa, menjadi istri bagi ustadz yang sesungguh nya, atau bahkan, menunjuk kan diri saya yang sesungguh nya,,"


"kenapa??" tanya Yussuf


"selama ini saya selalu dihantui dengan rasa rasa bersalah itu ustadz, saya,,, saya benar benar minta maaf,," diri nya yang ber tutur demikian pun hanya bisa menangis tanpa suara dan menunduk semakin dalam


namun melihat hal itu kini berhasil membuat suami nya ikut merasa iba terhadap nya yang kemudian menggeleng tak setuju ke arah nya, Yussuf mengerti mengapa diri nya seperti itu, mungkin istri nya ini belum benar benar merasa siap,, sudah di terima dalam kehidupan nya saja,, Yussuf benar benar sangat bersyukur, sehingga diri nya mau menikah, melalui mengambil keputusan yang begitu di nanti


"tidak neng, di sini, neng tidak bersalah,,"


"karena yang seharus nya meminta maaf itu aa', aa' minta maaf ya neng, seandainya jika dulu, aa' mampu menolak atau bahkan membatal kan perjodohan ini, mungkin saat ini, neng masih tinggal di asrama, bersenang senang dengan teman teman nya neng, tanpa rasa malu,,


aa' minta maaf neng, kini aa' benar benar minta maaf, karena di usia neng yang masih terbilang cukup muda ini,, neng di harus kan mengenal,, apa yang nama nya kewajiban seorang istri,, yang seharus nya,, neng masih mengejar apa yang menjadi impian neng sendiri,, andai jika aa' mampu meminta agar hubungan yang di landasi dengan perjodohan ini di batal kan,, mungkin semua nya tidak akan pernah terjadi,," tutur Yussuf seraya menunduk


"tidak ustadz,, jangan menyalah kan diri ustadz sendiri di sini,, karena di dalam perjodohan ini,, di sini,, tidak ada yang salah,, entah itu Abi,, Ayah,, atau pun ustadz,, dan bukan kah Allah selalu memberikan alasan,, mengapa dua insan di persatu kan,,?" tutur nya dengan lembut


"ta,, tapi,, tapi apa kah neng menyesal dengan pernikahan yang sedang kita jalani ini?" tanya Yussuf lagi


"hmm,, tentu tidak ustadz,, sedikit pun saya tidak mempunyai rasa menyesal dengan perjodohan atau pernikahan ini, mungkin ini memang takdir saya, jalan hidup saya,, untuk bisa mengenal ustadz lebih jauh lagi,," tutur nya lagi yang berusaha untuk terus tersenyum dengan kepala yang kembali di angkat dengan perlahan


"lantas bagaimana dengan teman teman neng di asrama?" tanya Yussuf lagi yang merasa kurang yakin


"hmm,, seperti apa yang pernah saya cerita kan sama ustadz,, semua nya dapat mengerti dengan keadaan saya sekarang ustadz,," jawab nya lagi


"dan apa,, neng pernah menyukai seseorang,, sebelum akhir nya,, benar benar menikah dan mempunyai ikatan halal dengan aa'?" tanya Yussuf


"tidak ustadz,, seperti yang pernah saya tulis di dalam salah satu lembaran dalam buku harian saya,, selama ini, saya tidak pernah merasa kan, apa itu cinta yang sesungguh nya,,"


"hhh,, sekali lagi aa' minta maaf neng, sedikit pun aa' tidak mempunyai maksud untuk menghancur kan impian neng,,


seperti hal nya, teman teman neng yang lain masih bebas ke sana ke mari dalam mengejar impian masing masing,, namun neng tidak bisa pergi ke mana pun, tanpa persetujuan dan izin dari aa'?" ucap Yussuf lagi


"tak mengapa ustadz,, saya mengerti,, bahkan begitu mengerti,, jadi,, apa kah saya boleh meminta sesuatu?" tanya nya yang membuat Yussuf kembali menatap nya


"minta apa neng?" tanya Yussuf


"jangan banyak merasa bersalah seperti ini,, karena saya menganggap,, ini semua adalah takdir dan jalan hidup untuk saya jalani,, maka dari itu,, mari kita jalani kehidupan ini dengan hati yang ikhlas ustadz,,?" tutur nya yang membuat Yussuf tersenyum simpul


"hmm,, baiklah neng,, karena neng yang meminta nya,, maka tidak ada alasan bagi aa' untuk menolak nya,, aa' mau menjalani nya,," jawab Yussuf yang membuat nya mengangguk


"neng kan sudah meminta satu permintaan sama aa',, karena itu,, aa' juga boleh dong jika meminta permintaan sama neng?" bingung,, ini berhasil membuat nya bingung setengah mati bahkan sedikit takut dengan apa yang akan di dengar nya kemudian


"p,, permintaan apa ustadz,, apa saya bisa memberikan nya?" tanya nya dengan penuh rasa keraguan dalam diri nya


"aa' minta,, bisa kah neng memanggil aa' dengan sebutan aa' saja,, aa' bukan guru nya neng,, aa' adalah suami nya neng sekarang,, dan neng juga,, jangan memanggil diri neng dengan sebutan saya jika sama aa',, neng saja,,, jadi,, bisa kah neng memanggil aa' saja mulai sekarang?" tanya Yussuf yang berhasil membuat kedua pipi nya merona


"aa' saja bisa menuruti apa permintaan neng,, masa neng nggak bisa si?" desak Yussuf dengan menyentuh nyentuh kan kedua jari telunjuk nya mulai bersikap manja pada nya


"hmm,, baiklah ustadz,, eh,, maaf,, aa' maksud nya,, saya akan mencoba membiasakan nya mulai saat ini,," jawab nya yang membuat Yussuf tersenyum lagi


"hmm,, terima kasih neng,, biasakan lah mulai sekarang,, listrik nya masih belum menyala,, mungkin ada pemadaman listrik sebentar neng,, entah sampai kapan itu aa' juga tidak mengetahui nya,, tapi,, kita istirahat sekarang ya,, aa' sedikit lelah?" tutur Yussuf lagi yang menyadari jika diri nya sudah mulai terbuka pada nya


"baiklah ustadz eh, a',, namun,, apa aa' tidak akan mengganti pakaian,, tidur dengan seperti ini?" tanya nya yang melihat Yussuf masih mengenakan pakaian untuk beribadah


mendengar hal itu,, kini mata Yussuf pun mulai mengikuti arah pandang nya dan menyadari bahwa pakaian nya memang masih pakaian dengan pakaian muslim nya, kemudian tersenyum ke arah nya


"hehe,, aa' lupa neng,, saking semangat nya tadi menunjukkan pakaian sama neng,, aa' ganti pakaian dulu ya,, neng tidur saja nggak masalah,, nanti aa' menyusul?" jawab Yussuf


"ganti pakaian nya yang mana a',, harus kah saya,, akh,, harus kah neng yang menyiap kan nya?" tanya nya


"hmm,, tidak masalah neng,, aa' ganti pakaian di ruang ganti, neng sudah begitu kelelahan sejak tadi siang,, istirahat lah malam ini,," tutur Yussuf lagi yang membuat nya patuh


_Assalamualaikum Zahra_


Senin, 28 Agustus 2023