
..._Assalamualaikum Zahra_...
..._Haruskah Seperti Ini_...
..."jangan sibukkan diri mu demi pandangan orang lain, ingat lah yang terpenting adalah pandangan dari Allah kepada mu"...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...
"telepon dari siapa neng?" tanya Yussuf saat melihat nya selesai berbicara dan duduk di tempat semula
"dari Umi di asrama ustadz,," jawab nya yang kembali menyimpan ponsel nya dia atas meja nakas, kemudian kembali mendekati Yussuf dan kembali melanjut kan mengobati luka
"Umi nya Mukhlis ya,, apa kah ada hal yang penting?" tanya Yussuf lagi saat diri nya mulai kembali mengobati
"iya,, seperti nya saya harus segera menggambar desain gaun pengantin untuk bulan depan,," jawab nya tanpa menoleh ke arah Yussuf yang sejak tadi tak henti menatap nya
"begitu kah,, baiklah,, besok kita akan pergi,, setelah itu baru ke rumah Bunda ya?" tutur Yussuf yang hanya di angguki saja oleh nya
melihat tanggapan nya jujur, itu semakin membuat hati Yussuf semakin merasa bersalah, apa lagi diri nya yang harus mendapat kan omelan dari adik nya sendiri
"neng,, maaf kan aa' ya?" ucap Yussuf saat melihat nya tengah selesai mengobati dan mengganti perban, kemudian memberes kan kembali kotak obat dan menyimpan nya di dalam laci nakas
"maaf untuk apa ustadz?" Tanya nya yang hanya menunduk dalam dan memandangi lantai
"untuk setiap perkataan Ratih tadi,, aa',,, aa' nggak ada maksud untuk menyembunyikan semua luka aa'?" jawab Yussuf sambil terus memandangi wajah teduh nya
"bukan nya ustadz sendiri sudah mengucap kan maaf tadi,, tapi ini juga kesalahan saya, karena kecerobohan saya,, ustadz menjadi menahan luka itu sendiri,, untuk itu saya juga minta maaf,,?" jawab nya di akhiri dengan ucapan juga
"tidak neng,, neng nggak ada salah di sini,, aa' yang salah,, tidak seharus nya aa' menyembunyikan hal ini sehingga neng mendapat omelan dari Ratih,," imbuh Yussuf
"tidak apa ustadz,, Ratih masih remaja, emosi nya pasti tidak stabil tadi,, saya juga sering berada di posisi ustadz dengan Arsen,, namun jika saya boleh tahu,, mengapa ustadz dengan mudah memutus kan hal sebesar ini dengan menyembunyikan luka dan rasa sakit itu?" tutur nya yang berhasil membuat Yussuf sendiri tercekat dan tertegun akan apa yang di dengar
"e e,, aa' tidak ingin menambah beban di pikiran neng,, neng sudah cukup bersabar merawat aa' dengan baik,, aa' tidak ingin membuat neng semakin khawatir,," jawab Yussuf dengan menunduk
"maaf ustadz,, namun harus ustadz ketahui,, jika ustadz menikahi saya itu agar ustadz mendapat kan teman di kehidupan ustadz mendatang,, sudah seharus nya saya sebagai istri ustadz sendiri mencukupi kebutuhan ustadz,, bukan hanya sekedar teman hidup,, namun juga teman untuk berbagi,, entah itu senang,, atau kah sedih,, seharus nya ustadz sendiri berbicara mengenai hal ini dengan saya,," tutur nya dengan tidak habis pikir
"ma,, maaf neng,, aa' tahu aa' salah di sini?" ucap Yussuf lagi seraya menunduk dalam
"tidak apa,, saya mengerti hal ini,," jawab nya yang merasa harus terus bersikap lembut pada sosok di samping nya meski amarah tengah melanda hati nya
...*** ...
pagi menyapa, kini keluarga itu tengah berkumpul untuk sarapan pagi bersama di ruang makan dengan hangat
"emm,, teh,, aku,, aku minta maaf ya untuk kejadian semalam, aku benar benar tanpa sadar mengatakan nya sama teteh,, aku benar benar menyesal setelah kembali ke kamar ku semalam?" ucap Ratih sambil menggenggam erat kedua tangan nya
"hmm,, iya Ratih,, nggak masalah kok, teteh juga akan melakukan hal yang sama jika teteh ada di posisi mu semalam,," jawab nya seraya balas menatap Ratih, membuat Yussuf sedikit iri karena belum merasa tatapan nya di balas oleh sang istri
"kenapa kamu meminta maaf sama teteh kamu Ratih,, apa yang kamu lakukan?" tanya Umi seraya memandangi Ratih
"semalam aku mengomeli teteh tanpa sadar Umi,, ini semua juga karena mas Yussuf,, gara gara mas aku jadi mengomeli teteh kesayangan ku ini,," jelas Ratih dengan mendelik tajam ke arah Yussuf
"mas kan juga sudah meminta maaf sama teteh,, lagi pula yang obati luka nya mas teteh kan,, kenapa kamu yang ribet?" tanya Yussuf yang nampak nya tidak mau kalah
"hmm,, sudah lah,, semua sudah berlalu,, tidak usah di bahas lagi,, Ratih,, teteh nggak apa apa kok,, teteh baik baik saja,, dan ustadz,, maaf sebelum nya,, namun,, tidak kah ustadz ingin mengalah,, tidak usah di perpanjang seakan masalah ini adalah masalah besar,,?" tutur nya yang berusaha melerai perdebatan antara kakak beradik ini
mendengar hal itu, kini berhasil membuat Abi tersenyum tipis, merasa keluarga nya semakin tenang semenjak kehadiran diri nya di rumah ini
"sudah sudah,, kalian dengar sendiri kan,, Ratih,, kamu malu sama teteh kamu dong,, seharus nya kamu memperlihat kan hubungan yang lebih harmonis dengan mas mu,, dan mas,, malu sama istri mas juga,, sudah sedewasa ini masih saja meladeni perdebatan dengan adik sendiri,," tutur Abi yang membuat nya merasa malu dan menunduk
"Khaliza,, kamu masih memanggil mas dengan panggilan ustadz nak,, dia kan suami mu,, bukan guru pondok mu,,?" tanya Abi lagi saat merasa ada yang mengganjal di kala diri nya memanggil anak sulung nya dengan sebutan ustadz
"maaf Abi,, Liza,, Liza belum terbiasa?" ucap nya di tengah tundukan kepala nya
"sudah lah Bi,, tidak usah di permasalahkan, mas juga tidak masalah dengan ini,, mungkin neng Zahra memang belum terbiasa,, jika sudah terbiasa juga nanti akan berubah panggilan nya,," tutur Yussuf
"hmm,, baiklah nak,, namun harus Abi tegas kan di sini,, memanggil suami dengan panggilan khusus itu Sunnah nak, apa lagi panggilan nya mesra,, seperti Abi sama Umi, iya kan Umi?" imbuh Abi seraya memandangi wajah Umi
"Abi apaan sih,, jadi Umi yang jadi sasaran?" ujar Umi yang padahal tidak ingin terlihat salah tingkah di depan anak anak nya
"Abi,, Umi,, mas izin pamit ya,, niat nya insya Allah hari ini mas akan mengajak neng Zahra pergi ke tempat yang sempat mas bicara kan sebelum pernikahan berlangsung,,?" pamit Yussuf yang memulai pembicaraan serius dan berhasil membuat Umi dan Abi tersenyum lembut
"hmm,, baiklah nak,, jika memang itu sudah menjadi keputusan mu, apa kah kamu mau kami mendampingi kalian ke sana?" tanya Umi dengan tersenyum
"terima kasih Umi,, tapi nggak usah,, nggak masalah,, kita bisa sendiri,, Umi sama Abi pasti merasa capek jika harus bolak balik ke sana,, selain itu,, Abi dan Umi juga baru pulang dari bandara belum istirahat sepenuh nya,, jadi nggak apa,," jawab Yussuf
"mas yakin kalian bisa sendiri,, mas tidak akan membutuh kan bantuan dari kami nak,,?" tanya Abi lagi
"tidak apa apa Abi,, insya Allah,, mas bisa sendiri" jawab Yussuf sambil tersenyum
...*** ...
kedua nya kini sudah sama sama terduduk di dalam sebuah mobil yang hendak di kendarai oleh Yussuf
"jangan lupa untuk selalu memasang seat belt ya neng?" tutur Yussuf dengan tersenyum saat melihat nya mulai memasang seat belt pada tubuh nya sendiri
"hmm,, iya ustadz,, maaf,, saya memang sedikit pelupa?" ucap nya seraya menunduk membuat Yussuf tersenyum melihat nya
"yaah,, tidak apa apa,, kalau pun lupa juga tidak masalah,, tidak ada hukum nya bagi orang yang lupa,, kalau neng lupa juga akan selalu aa' ingat kan,," jawab Yussuf sambil terus tersenyum namun semakin membuat nya merasa malu lantas menunduk dalam
_Assalamualaikum Zahra_
Jum'at, 25 Agustus 2022